
"Kenapa kamu sedari tadi memikirkan tentang kutukanku?" Tanya Lyraen yang membuatku terkejut.
"Aku hanya..." gumamku pelan tapi Lyraen langsung menekan kedua tanganku erat.
"Katakan... apa alasanmu yang membuatmu ingin membunuh suamimu sendiri?"
"Cemburu... hanya itu alasanku!" Ucapku dingin.
"Cemburu? Cemburu kenapa?"
"Kau menanggapi dia wanita di dekatmu dan dua wanita itu nampak menyukaimu bagaimana aku tidak cemburu!"
"Hanya karena itu?"
"Hanya karena itu? Enak kali kau berucap! Aku istrimu dan kau membunuhku karena wanita lain apa kau kira aku akan... astaga... lupakan saja..." gumamku pelan dan Lyraen mengusap pipiku lembut.
"Ternyata jiwa Raelyn yang dulu masih ada di tubuh ini ya, aku senang melihatnya."
"Apa maksudmu?"
"Yaah saat kau marah padaku warna bola matamu berubah seperti milik istriku dan terlihat jelas kalau kamu adalah Raelyn istriku..." gumam Lyraen pelan dan aku hanya terdiam.
"Maafkan aku istriku, aku tidak bermaksud menduakanmu aku hanya menjawab pertanyaan mereka dan tidak lebih. Kau milikku dan kau istriku jadi aku tidak akan mengkhianatimu lagi..." gumam Lyraen membuka kancing pakaianku.
"Tapikan Bunga Cantika masih ada dan..."
"Dia... sudah mati."
"Eehh benarkah?" tanyaku terkejut.
"Ya... wanita yang kau bunuh saat aku suruh itulah Bunga Cantika."
"Oh begitu ya, tapi... kenapa kau membuka pakaianku?" tanyaku terkejut.
"Aku suamimu, apa aku salah melakukannya?"
"Tapikan kita... mmmppphhh..."
"Sebelum kau menghukumku, aku yang akan menghukummu terlebih dahulu gadis kecilku..." gumam Lyraen pelan.
"Mana bisa begitu! Itu tidak... uuugghhhh..."
"Itu adil, aku suamimu dan kita belum pernah cerai walaupun di kehidupan lainnya jadi kau milikku."
"Kita belum menikah di kehidupan ini dan aku masih kecil!"
"Masih kecil ya? Kau sudah memiliki anak dengan pria tadi dan kau bilang masih kecil? Kau seperti wanita yang sangat kotor kau tahu!" Ucap Lyraen dingin dan aku hanya terdiam.
"Kenapa kau diam?"
"Tidak ada."
"Apa kata-kataku menyakitkanmu?"
"Tidak, itu yang kenyataannya dan untuk apa kau masih mengganggapku istrimu kalau aku saja wanita yang kotor?" ucapku pelan dan Lyraen terdiam memelukku erat.
"Bagiku kau masih istriku dan aku bersedia kau hukum tidak hanya karena aku membunuhmu di kehidupan yang lalu tapi... karena akulah membuatmu menderita, alasan aku mencarimu karena aku ingin meminta maaf padamu istriku..." gumam Lyraen menciumku lembut.
"Aku mencintaimu istriku, aku... tidak peduli seperti apa kamu... kamu istriku dan tetap menjadi istriku!" Ucap Lyraen kencang.
"Tapi kan aku... uugghhh..."
"Aku tidak peduli! Kau permaisuriku selamanya kau tetap permaisuriku..." desah Lyraen terjatuh diatasku dan kembali menciumku lembut.
"Apa kamu mengerti?" Tanya Lyraen pelan dan aku hanya menganggukkan kepalaku.
__ADS_1
"Baguslah..." Lyraen memelukku erat dan terus menciumku.
"Lyraen... kenapa kamu membunuh anakmu juga?" Tanya pelan.
"Apa kamu mengingatnya?"
"Tidak terlalu."
"Mmm yaah sebenarnya anak kita mati bukan aku yang membunuhnya, aku hanya membunuhmu."
"Lalu, kenapa kata kak Raesya aku mati saat menggendong anakku?"
"Memang tapi kamu menggendong mayat anak kita."
"Benarkah? Bagaimana ceritanya?" Tanya penasaran, aku terduduk di samping Lyraen dan Lyraen menarikku ke pelukannya.
"Pria yang tadilah yang membunuh anak kita, pria yang berdebat denganmu tadilah yang membunuh anak kita."
"Maksudmu si Alan atau nama samarannya Tyan itu?"
"Yups benar dan saat itu Bunga Cantik menghasutku dengan mengatakan kalau kamulah yang membunuh anak kita yang membuatku murka dan marah kepadamu makanya aku membunuhmu. Setelah aku sadar aku membunuh istriku sendiri mereka menusukku dan aku mati memelukmu dan memeluk anak kita."
"Benarkah? Pasti itu cerita karanganmu!" Protesku menatap Lyraen dingin, Lyraen menunjukkan bekas luka di dada kirinya.
"Ini bekas luka waktu itu, bekas ini tidak hilang karena mereka menggunakan senjata khusus untuk membunuhku."
"Oh begitu ya..." desahku memeluk Lyraen erat.
"Apa anak kita hidup di kehidupan ini?"
"Sepertinya tidak, dia memilih ke surga bersama Satria, anakmu dengan Han itu."
"Benarkah? Mmm siapa namanya dan seperti apa dia?"
"Oh benarkah?" desahku pelan.
"Ada apa istriku?"
"Yaah aku ingin bertemu dengan mereka."
"Itu tidak mungkin jika..."
"Tapi aku ingin bertemu Lyraen aku..."
"Hmmm mungkin saja kita akan bertemu dengan anak kita istriku... ini kehidupan karena ritual terlarang dan mungkin saja anak kita berinkarnasi menjadi orang lain, kalau Meylisa bersama dengan Satria pasti kita akan bisa bertemu dengan mereka apalagi Satria pasti hafal dengan ibuknya sendiri..."
"Yaah semoga saja..." desahku terduduk di perut Lyraen yang membuatnya terkejut.
"Ada apa sayang?"
"Tidak ada, aku hanya ingin..." gumamku pelan dan menggigit leher Lyraen.
"Uuugghh kamu nakal ya istriku..."
"Memang, aku sedang ingin menghukummu."
"Dengan menggigitku?"
"Tidak juga..." gumamku mempermainkan Lyraen.
"Uugghhh kamu memang nakal istriku kamu... mmmppphhh..."
"Kamu sangat bawel suamiku..." gumamku membungkam bibir Lyraen dan terus mempermainkannya.
"Lyraen!! Lyraen!!" Teriak seorang pria di luar kamar tapi aku tidak memperdulikannya, Lyraen melepaskan tanganku dan menatapku serius.
__ADS_1
"Sayang, ada wakilku tahu nanti uuugghhh..."
"Apa peduliku?"
"Tapi kan..."
"Aku tidak peduli!" Ucapku kesal.
"Lyraen buka pintumu!" Protes pria di depan kamar dengan kesal.
"T-tunggu sebentar aku sedang... mmmpphhh..." teriak Lyraen kencang dan aku segera membungkam bibirnya.
"Sedang apa? Katakan dengan jelas!" Protes pria itu dengan kesal.
"Bisa tidak kau diam! Berisik kali!" Gerutuku kesal.
"Suara wanita? Heei! siapa kau! kenapa kau berada di kamar Lyraen!!!" Protes pria itu mengetuk pintu kamar kencang.
"Heeii buka!!" Protes pria itu kesal.
"Berisik sekali wakilmu!" gerutuku kesal dan Lyraen langsung mendorongku dan menatapku dingin.
"Haish kamu memang nakal ya istriku..." gumam Lyraen mempermainkanku.
"Uugghhh kenapa kamu yang mmmpphhh..."
"Kamu yang memancingku melakukannya lagi jadi lakukan hukumanmu di lain waktu ya istriku..." gumam Lyraen memelukku erat dan terjatuh di atas tubuhku.
"Aku akan mendobrak pintu ini Lyraen!" Teriak pria itu kesal dan Lyraen langsung menutupi tubuh kami berdua dengan selimut, tidak lama kemudian pintu terbuka dan datang beberapa orang berjubah dengan seorang pria tampan di tengah-tengah mereka.
"Lyraen kau tidak apa?" Tanya pria itu dengan khawatir.
"Ada apa?" Ucap Lyraen dingin.
"Mana wanita tadi? Mana?"
"Haish... wanita yang mana?"
"Yang tadi ada di dalam kamar dan... tunggu dulu... kenapa kamu tidak memakai pakaian bersama dengan siapa itu?"
"Aku sedang berduaan dengan istriku... pergilah sebelum kubunuh kalian!" Gerutu Lyraen dingin dan banyak pria yang berjubah itu langsung meninggalkan kamar.
"Astaga istri yang mana lagi?" tanya pria itu kesal.
"Tutuplah pintu itu bodoh!" Gerutu Lyraen dan pria itu langsung menutup pintu kamar.
"Jadi... istri yang mana?"
"Istriku hanya satu dan kau tahu sendiri."
"Dia kan sudah lama mati dan... tunggu... jangan bilang wanita tadi istrimu?" Ucap pria itu terkejut.
"Memang..." Ucap Lyraen dingin
"Astaga... eeehh mmm maaf permaisuri, aku kira kalau musuh yang ingin menggoda tuan muda."
"Tidak apa..." gumamku pelan.
"Jadi kamu pagi buta menggangguku kenapa?"
"Pakailah pakaianmu dahulu, aku akan membuatkanmu dan permaisuri sebuah teh..." gumam pria itu berjalan kesebuah dapur kecil di dalam kamar dan Lyraen segera memakai pakaiannya sedangkan aku juga pergi ke kamar mandi.
"Ada pakaian wanita yang sudah aku siapkan."
"Ya baiklah..." gumamku segera mandi dan berganti pakaian dengan pakaian yang ada di dalam ruang ganti, entah kenapa tapi setelah aku berduaan dengan Lyraen bola matalu sedikit berubah dan tidak berwarna merah darah lagi tapi berwarna merah keunguan yang membuatku sangat bingung.
__ADS_1