Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 80 : Melihat Kegembiraan Pangeran


__ADS_3

Sesuai dengan ucapan Ray, selama berbulan-bulan aku tidak bisa melakukan apapun dan hanya beraktifitas di dalam markas Ray. Sebosan apapun aku, Ray hanya mengajakku di taman bunga di belakang markas dan kembali ke dalam markas saja. Walaupun aku tidak boleh kemanapun Ray juga tidak pergi kemana-mana, Ray benar-benar membatalkan seluruh aktifitasnya dan hanya fokus menemaniku.


Setelah menunggu beberapa bulan kemudian aku melahirkan seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan lucu benar-benar mirip Ray, anak laki-laki kami kami beri nama Pangeran Khun. Mengetahui anak laki-lakinya lahir sehat membuat Ray sangat senang dan kemanapun Ray pergi tidak akan mengalihkan pandangannya dari Pangeran.


Aku masih ingat bagaimana Ray benar-benar terlihat khawatir saat proses kelahiran, Ray benar-benar menemaniku walaupun dilarang oleh dokter tapi dia terus memaksa untuk menemaniku bahkan dia dengan ragu-ragu menggendong anak kami dengan hati-hati sampai Ray keringat dingin. Jika aku teringat wajah panik dan khawatir Ray aku selalu tersenyum sendiri.


"Kenapa kamu senyum-senyum sendiri sayang?" tanya Ray berjalan kearahku sambil menggendong Pangeran.


"Eehh ti..tidak ada kok sayang..." gumamku tersenyum sambil melihat dua pria yang saat ini hadir dihidupku. Waktu terus berlalu, anakku sekarang sudah berumur tujuh tahun. Walaupun masih anak-anak tapi Ray sudah mengajari Pangeran untuk berlatih sejak kecil.


"Ibu...tadi Pangeran bisa menembak dengan tepat sasaran!" gumam Pangeran senang.


"Oh benarkah? Hebat dong.."


"Ya dan kata ayah, Pangeran hebat ibu!"


"Ya Pangeran sangat hebat kok..." gumamku tersenyum senang.


"Pangeran tuh paman Fadil sudah menunggumu, kesanalah nanti paman Han menunggumu loh!"


"Baik ayah..." gumam Pangeran berlari kearah Han yang sedang memegang bola.


"Hmmm tidak aku sangka Pangeran sudah besar ya..." gumamku pelan.


"Ya dia sekarang semakin berat..." gumam Ray terduduk di sampingku.


"Hmmm ini pertama kalinya aku menemani anakku dari bayi sampai anak-anak biasanya aku pasti sudah pergi melakukan tugas."


"Aku memang sengaja membatalkan semua tugasmu sayang, agar kamu fokus mengurus anak kita."


"Dan kamu membatalkan semua aktifitasmu tidak ada yang protes gitu?"


"Aku mafia bayangan dan hanya salah satu petinggi elite, siapa yang berani memprotesku?"


"Aku yang memprotesmu! Kenapa kamu bisa menjadi petinggi elite dan melakukan sesuka hatimu?"


"Kan kamu sudah dianggap petinggi elite sayang, kamu sudah memiliki kekuasaan istimewa artinya kamu petinggi elite secara tidak langsung."


"Oh benarkah? Aku sangat terkejut mendengarnya."


"Oh ya ngomong-ngomong kenapa kamu menginginkan hal yang tidak biasa kepada tetua petinggi elite? Biasanya orang akan meminta kekuasaan atau jabatan tinggi jika bertemu dengan tetua petinggi elite."


"Ada alasan kami tersendiri..." gumamku pelan.

__ADS_1


"Apa alasanmu sayang?"


"Kenapa kak Ray ingin tau?"


"Aku suamimu tahu jadi aku harus tahu!" protes Ray kesal.


"Karena aku dan kak Fadil ingin kami bisa melakukan semua hal sesuka hati kami, aku sudah pernah dihukum oleh Han dengan alasan yang tidak masuk akal dan tanpa kekuasaan istimewa itu aku tidak bisa melakukan sesuka hati kami lagi. Dihukum dewan tertinggi dengan hukuman yang diatur musuh untuk melenyapkanku...itu membuatku tidak berdaya, andaikan dulu kak Fadil tidak menyelamatkanku pasti aku masih di penjara seumur hidupku."


"Kamu pernah di hukum? Dan kamu bisa kabur tanpa pengejaran lagi?" tanya Ray terkejut.


"Ya namanya untuk melenyapkanku, bukan seratus persen aku salah. Aku dihukum karena membantai seluruh orang saat di perang mafia. Namanya perang ya bunuh atau membunuh kan tapi Han menghukumku dan berusaha membuatku menjadi gadis biasa..." gumamku pelan.


"Han...mantan suamimu?"


"Dia denganku hanya kontrak bukan suami betulan..." gumamku menatap Pangeran yang sedang asik bermain dengan Fadil.


"Tapi dia sama saja..."


"Aku bilang tidak ya tidak! Aku sama sekali tidak mengharapkan Han menjadi suamiku. Dia membunuh anakku yang membuatku sangat kesal!" gerutuku kesal.


"Oh mmm ngomong-ngomong kenapa kamu dulu meninggalkan Satria saat kecil?" tanya Ray pelan.


"Aku terikat kontrak dengan Han hanya untuk menjadi alat saja, keluarga Li sangat kesulitan memiliki keturunan karena ketiga anaknya tidak ingin menikah sama sekali. Saat tahu aku hanya dijadikan alat, akhirnya aku pergi meninggalkan Satria karena rasa kecewa. Satria dari kecil di siksa oleh Han ataupun musuh yang membuatku sangat murka tapi Satria sama sekali tidak dendam dengan Han dan saat aku ingin membunuh Han, Satria benar-benar menghalangiku dan menangis di depanku agar aku tidak membunuh Han..." gumamku mengusap air mataku yang dari tadi mengalir di pipiku.


"Hmmm aku mengerti sayang, tapi keselamatan hidupmu yang benar-benar aku utamakan," gumam Ray mengusap air mataku.


"Aku tahu, aku sudah memikirkan semua itu kak Ray. Aku dan kak Fadil sudah memikirkan semuanya, ajakan kakek sudah bertahun-tahun yang lalu tapi baru saat itulah kakek memintaku menemuinya..." gumamku pelan.


"Hmmm iya sayang, walaupun begitu aku juga akan menjaga kalian berdua, permata hatiku yang sangat aku cintai. Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai kalian berdua..." gumam Ray mencium keningku dan tersenyum kearahku.


"Terimakasih suamiku..." gumamku menyandarkan kepalaku di bahu Ray.


"Ayaah ...Aayaaah... Pangeran tadi menang banyak dari paman Fadil!" teriak Pangeran berlari ke arah kami.


"Oh benarkah? Pangeran hebat dong!" gumam Ray senang.


"Ya kan ayah mengajarkan Pangeran jadi hebat."


"Benar, oh ya waktunya berlatih dengan paman Fadil. Habis itu ayah belikan es krim mau?"


"Mau ayah!" teriak Pangeran senang dan kembali berlari ke arah Han.


"Kamu sangat memanjakan Pangeran ya suamiku."

__ADS_1


"Ya, dia anakku jadi aku harus memanjakannya. Apa kamu cemburu?" gumam Ray tersenyum dingin kepadaku.


"Eeh ti...tidak mana ada..." gumamku menyembunyikan wajahku.


"Tenang saja, aku akan memanjakanmu nanti kalau sudah waktunya."


"Jangan bilang kamu..."


"Ya aku ingin punya anak lagi lah, agar Pangeran punya rasa tanggung jawab kepada adiknya."


"Ohh mmmm terserah kamu sayang." desahku pelan.


"Jadi, kapan kamu akan melakukan sisa tugasmu?"


"Tergantung, apa kamu mau mengawasi Pangeran?"


"Ya selalu, walaupun di pertemuan dia selalu aku bawa dan kamu tahu akan hal itu."


"Tapi kalau pertemuan tertutup?"


"Aku akan tetap membawanya, agar dia mengerti kejamnya dunia mafia."


"Kalau begitu lusa mungkin aku akan melakukannya kebetulan ada agenda juga.."


"Agenda apa?"


"Entah, kak Fadil yang mengetahuinya. Dia hanya bilang ada agenda saja."


"Oh ya sudah hati-hati, kalau begitu nanti Pangeran aku ajak pertemuan organisasi mafiaku kalau begitu."


"Terserah, yang penting kamu bisa menjaga Pangeran saja. Awas saja sampai Pangeran terluka!" gelumamku menatap Ray dingin.


"Tenang saja, dia anakku jadi aku akan menjaganya dan jika ada yang berani melukainya aku akan membalasnya!" gumam Ray menggenggam tanganku erat.


"Eeehh mmm baiklah aku percaya padamu suamiku..." gumamku pelan.


"Apa kamu khawatir?"


"Ya aku trauma, aku takut anakku terluka lagi..."


"Tenang saja sayang, aku aja menjaganya. Memiliki anak hebat dan tampan seperti itu aku sangat senang jadi tidak akan aku sia-siakan darah dagingku sendiri..." gumam Ray menciumku pelan.


"Hmmm..." desahku bersandar di bahu Ray kembali.

__ADS_1


Aku berfikir apa aku bisa percaya dengan pria yang dingin dan menyebalkan di sampingku ini, tapi mau baagimanapun dia suamiku dan dia ayah dari anakku jadi aku mencoba percaya dengan Ray, walaupun dia kejam dan misterius tapi dia lembut dan terlihat bertanggung jawab atas keputusannya apalagi melihat kegembiraan Pangeran saat bersama dengan Ray membuatku yakin Ray bisa menjaga Pangeran.


__ADS_2