
Selama perjalanan aku hanya terdiam dan termenung menatap ramainya lalu lintas di Asia ini, walaupun kepalaku masih pusing dan badanku masih lemas tapi kalau keinginan para guru itu tidak diturutin malah membuat mereka murka yang membuatku kesal.
Aku menggenggam erat tanganku dan rasa hangat genggaman Han masih terasa sampai sekarang, aku tidak tahu kenapa perasaanku kepada Han masih ada padahal dia sering membuatku sakit hati terlebih lagi kita sama-sama sudah memiliki pasangan.
"Sani kita sudah sampai!" ucap Fadil di depanku tapi aku terus melamun sendiri.
"Woy Sani kita sudah sampai tahu!" teriak Fadil mengagetkanku.
"Astaga pelanlah dikit, jangan teriak-teriak! Kau membuatku jantungan tahu!" gerutuku kesal.
"Ya abis kau di panggil pelan tidak merespon Sani."
"Tapi gak teriak kenceng seperti itu kak Fadil!" gerutuku turun dari mobil dan berjalan ke lobi sebuah gedung pertemuan di depanku.
"Ya...ya maaf! Dasar wanita marah-marah mulu kerjaannya!" gumam Fadil berjalan mengikutiku.
"Hmmm..." desahku melepas jarum infusku dan memberikan alat infus itu kepada Fadil.
"Kenapa kau lepas?" protes Fadil menatapku dingin.
"Malas aja, kayak orang sakit beneran aja."
"Emang kau sakit beneran Sani!"
"Nanti aja ku pakai lagi, ini gedung pertemuan masa aku harus menggunakan infus kan malu!" gerutuku menekan tombol lift pelan.
"Darahmu keluar tuh, kamu gak mengobatinya?" gumam Soni menatap tanganku.
"Nanti saja."
Saat pintu lift terbuka, aku melihat Ray, tetua, guru Rendi dan seorang pria tampan tengah duduk di santai di kursi. Aku menatap pria di sampingnya dan ternyata dia adalah Wahyu ketua mafia rahasia.
"Aaah akhirnya kau datang juga murid kesayanganku!" teriak guru Rendi senang.
"Astaga kakek bisa biasa aja gak!" gerutuku dingin.
"Tidak, apapun yang terjadi kau tetap murid kesayanganku dan cucu kesayanganku!"
"Baik-baik, jadi kenapa guru dan tetua ingin bertemu denganku??" tanyaku pelan.
"Katanya kamu baru sadar? Kenapa kamu tidak memakai infus?" tanya tetua serius.
"Aku lepas, jadi kenapa?" tanyaku serius.
"Sini duduklah, kami ingin berbicara serius denganmu!" ucap Tetua serius.
"Hmmm..." desah Ray menarik tanganku dan merangkulku lembut.
"Kamu emang bandel banget ya istriku..." gumam Ray menghirup nafas dalam dan menjilat tanganku yang berdarah.
"Bandel kenapa...uuggghhhh.."
"Apa aku harus menjelaskannya?" gerutu Ray meminum darahku sambil menatapku dingin.
"Kalau kamu tidak mengatakannya bagaimana aku bisa tahu!"
"Hmmm..." desah Ray mendorongku dan menatapku dingin.
"Kenapa kamu bertemu dengan Han disaat tidak bersamaku?" tanya Ray pelan di telingaku, suaranya benar-benar seperti sangat marah, aku memutar bola mataku dan benar-benar tidak berani menatapnya.
"Ke...kenapa kamu tahu?"
"Aku suamimu, bagaimana aku tidak tahu bagaimana aroma parfum Han dan aroma parfummu, bahkan aku saja hafal bagaimana rasa keringatmu tahu!" gumam Ray mengangkat tanganku yang tadi digenggam oleh Han.
"A...aku..."
__ADS_1
"Sudahlah, Sani tidak melakukan apapun. Tadi hanya aku yang sengaja bertemu dengan Han..." gumam Soni memberikan buku tebal yang di berikan oleh Han tadi di rumah sakit.
"Apa dengan dia memegang dan memeluk istriku yang membuat kamu mendapatkan buku itu?" tanya Ray dingin.
"Tidak, dia hanya duduk di samping Sani dan bersalaman dengan Sani saja tidak lebih..." ucap Soni pelan. Mendengar ucapan Soni membuatku terkejut, aku menatap wajah Soni dan aku langsung paham kalau kakakku sedang melindungiku.
"Oh begitu ya, hampir saja dia membuatku cemburu..." desah Ray menarik tanganku dan merangkulku erat.
"Dia istrimu Ray, buat apa kamu cemburu seperti itu?" tanya tetua serius.
"Aku tahu, tapi banyak pria yang menginginkannya jadi aku akan sangat sensitif tentang hal itu."
"Hmmm dasar kamu kayak anak kecil saja Ray..." desah tetua menggelengkan kepalanya.
"Biarlah suka-suka aku!" gerutu Ray kembali meminum darahku.
"Oh ya Wahyu ini muridku yang selalu aku panggil cucuku..." gumam Guru Rendi menunjukkan dengan senang.
"Ya saya sudah kenal tetua, yaah aku akui kalau dia gadis yang sangat hebat."
"Oh kalian sudah mengenal?"
"Ya guru kami sudah saling mengenal, dia ketua mafia rahasia," gumamku pelan.
"Oh baguslah, jadi begini Sani...mmm tapi kamu apa bisa fokus kalau Ray memelukmu erat seperti itu?" tanya guru Rendi serius.
"Tidak apa, aku sudah terbiasa kok kakek."
"Haish dasar anak muda. Baiklah...kan kamu tahu tentang perang mafia nantinya kan?"
"Tahu tapi tidak terlalu peduli, aku hanya fokus menyelamatkan ayah!"
"Apa kamu yakin ayahmu masih hidup?"
"Aku yakin!"
"Ya, Han dan Samuel berkata seperti jika ayah masih hidup kakek!"
"Kau tahu kan Han sering menyakitimu dan Samuel adalah perencana yang handal, kalau itu hanya pancingannya dia bagaimana?"
"Tidak mungkin, ayah pasti..."
"Sani dengar sampai sekarang kita tidak tahu dimana ayahmu dan lagi ayahmu menghilang juga sudah bertahun-tahun yang lalu. Dalam perang ini kamulah yang menjadi targetnya dan apa kamu masih yakin kalau ayahmu masih hidup?" tanya guru Rendi serius.
"Tapi kakek...aku...aku masih yakin ayah hidup, hanya saja aku...masih belum tahu maksudnya ayah berada di bawah laut itu bawah laut di negara mana, aku berencana akan mengintograsi Samuel setelah aku keluar dari rumah sakit."
"Apa kamu yakin Samuel akan mengatakan sejujurnya padamu?"
"Tidak, tapi aku akan melakukan semampuku kakek. Aku ingin bertemu ayah loh kakek, aku mohon!" ucapku menatap guru Rendi dengan tatapan sedih.
"Astaga, baiklah kalau cucuku yang memintanya. Aku akan membantumu mencari ayahmu tapi jangan terlalu berharap, apa kamu mengerti!"
"Baik Sani mengerti kakek."
"Kau masih saja memanjakannya Rendi!" gerutu tetua mafia kesal.
"Tidak apa, kau tahu kan aku tidak memiliki anak jadi Sani dan Fadil kita rawat sejak kecil, apalagi tidak hanya aku tapi kamu juga menganggapnya cucumu benarkan?" gumam guru Rendi meminum wine di depanku
"Benar, aku mengaggap Sani cucuku bahkan aku menganggapnya anakku sendiri..."
"Tapi dia adik kecilku tetua..." gumam Soni santai.
"Ya untungnya kamu bisa menjaganya sebagai gadis cantik dan hebat seperti ini kalau tidak pasti kamu akan merasa rugi Soni."
"Eeh kita yang menjaganya Rendi, Soni tidak melakukan apapun loh!" ucap Tetua mafia serius.
__ADS_1
"Oh ya benar juga...hahaha!" tawa guru Rendi diikuti semua orang di ruangan ini sedangkan Soni hanya terlihat kesal.
"Kakek... apa yang ingin kakek bicarakan kepada Sani?" tanyaku serius.
"Oh ya hampir lupa, jadi gini cucuku... ini akan ada perang dan berhubung Wahyu adalah ketua kelompok mafia dan dia wakil dari Ray pasti mereka akan bekerjasama. Jadi aku ingin bertanya padamu Sani...apa kamu mengijinkan mereka bekerjasama?" tanya guru Rendi serius.
"Mau bekerjasama atau tidak itu keputusan kak Ray, aku tidak berhak memberikan keputusan itu."
"Kamu istrinya Sani, jadi kamu juga harus memutuskan!" ucap Wahyu serius.
"Aku ya..." desahku mengusap lembut rambut Ray.
"Kalau kak Ray menginginkannya, aku ijinkan kok. Aku tidak akan melarang kak Ray bekerja sama dengan siapapun."
"Benarkah? Apa kau bercanda?" tanya Wahyu terkejut.
"Ya, memangnya kenapa?" tanyaku bingung.
"Ya kerja sama ini sama saja melanggar peraturan perang, kan dalam peraturan perang tidak bisa bekerjasama apalagi kamu orang yang benar-benar taat peraturan!" jelas Wahyu serius.
"Ya itu tergantung kalian saja, keputusan apapun ada di tangan kalian. Aku dan kak Fadil memiliki rencana tersendiri jadi buat apa mengikuti peraturan kalau mereka saja juga melanggar peraturan?" gumamku santai.
"Rencana? Rencana apa istriku?" tanya Ray serius.
"Rencana yang rahasia."
"Kenapa kamu tidak mau memberitahukan kepadaku?" gerutu Ray dingin.
"Ya karena...aku ingin saja, lagi pula kamu tidak menjelaskan apa rencanamu padaku."
"Apa kamu ingin tahu rencananya? Biar aku saja yang memberitahukan!" ucap Soni serius.
"Eeehh NOOO TIDAK BOLEH!" protes Fadil serius.
"Apaan sih aku tanya Sani kok!"
"Gak boleh lah, rencana kami ya rencana kami sedangkan rencana kalian ya rencana kalian!" protes Fadil serius.
"Dia adikku jadi dia harus memberitahukannya padaku!"
"Aku tidak peduli, yang penting tidak ya tidak! Lakukan saja rencana kalian yang penting kami tidak ikut-ikutan!"
"Hei mana bisa seperti itu!" protes Soni kesal.
"Ya bisalah!"
"Haish diamlah kalian berdua biar Sani sendiri yang memutuskan!" ucap guru Rendi menggelengkan kepalanya.
"Bagaimana Sani? Apa kamu mau memberitahukan apa rencanamu?" tanya guru Rendi menatapku serius.
"Maaf kakek, Sani tidak bisa. Itu rencana Sani dari dulu jadi tidak bisa di beritahukan kepada siapapun."
"Oh mmm jadi kamu tidak akan membela siapapun?" tanya Guru Rendi serius.
"Ya guru, aku ingin melakukannya sendiri. Aku tidak mau melibatkan kak Ray."
"Aku suamimu, kenapa kamu tidak mau aku terlibat!" gerutu Ray serius.
"Maaf kak Ray aku...aku tidak ingin merepotkanmu saja..." gumamku pelan.
"Tapi kan..."
"Ya sudah, kakek terima semua keputusanmu cucuku. Tapi kakek meminta tolong tanggapi rencana mereka, apa rencana mereka sudah sesuai atau belum...bentar aku mau ke toilet sebentar..." gumam guru Rendi berjalan pergi.
"Mmm baik kakek..." desahku pelan.
__ADS_1
Aku terus mengusap rambut Ray, ya walaupun aku ingin memberitahukannya tapi aku tidak mau melibatkan siapapun. Aku sebenarnya antara yakin atau tidak masalah ayah tapi aku harus melakukan pencarian dan pembalasan dendam apapun yang terjadi!