Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 115 : Bertaruh Dengan Vincent


__ADS_3

Selama semalaman, aku sama sekali tidak tertidur hanya memejamkan kedua mataku dan berpura-pura tertidur. Bukannya aku takut kalau tiba-tiba Vincent membunuhku tapi aku hanya penasaran saja apa Vincent berani membunuhku atau tidak. Selama aku berpura-pura tertidur, Vincent selalu terbangun dan sesekali mengusap pipiku lembut.


"Kamu benar-benar sangat cantik Sani..." gumam Vincent pelan sambil terus mengusap pipiku lembut, walaupun aku sedikit risih tapi aku berusaha bersikap kalau aku masih tertidur bahkan Vincent sampai menjelang pagipun ia masih terjaga.


Disaat suara burung berkicau di luar kamar dan Vincent sedang asik menatapku terus menerus, tiba-tiba terdengar suara pintu yang terketuk dengan kencang, Vincent segera pergi dan membuka pintu itu sedangkan aku mencoba melirik Vincent. Di depan Vincent aku melihat seorang wanita berjubah dengan tatapan dinginnya menatapku.


"Apa kau mendapatkannya?" tanya wanita itu dingin.


"Ya."


"Apa kau yakin akan menerima dia?"


"Tentu saja."


"Dia sudah memiliki anak, kau tahu!" Gerutu wanita itu kesal.


"Aku tahu, tapi aku mencintainya."


"Jadi kau memilih untuk membunuhnya atau kau..."


"Aku tidak bisa membunuhnya."


"Apa kau gila?" Protes wanita itu kesal.


"Dia memintaku untuk membunuhnya tapi.... aku tidak bisa melakukannya..."


"Kau harus melakukannya! Dia sudah mengkhianati janji suci dan janji pernikahannya!"


"Tapi aku tidak bisa..."


"Dia sedang tidur bukan? Jadi bunuh dia!"


"Tapi..."


"Kalau kau tidak bisa membunuhnya, sampai kapanpun aku tidak akan mau menerima dia sebagai istrimu!" Ucap wanita itu kesal dan berjalan pergi dari kamar.


"Haish menyebalkan!" gerutu Vincent kesal, Vincent mengeluarkan senjatanya dan berjalan kearahku. Vincent mengangkat senjatanya dan mengayunkannya tepat di dadaku tapi disaat senjata itu hampir mengenai dadaku, Vincent membuang senjatanya ke lantai dan mengambil wine yang ada di atas meja dan meminumnya.


"Apa kau masih tetap berpura-pura tertidur? Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu..." gumam Vincent dingin dan aku membuka kedua mataku sambil menatap dinding depanku.


"Bagaimana kamu tahu aku tidak tidur?"


"Aku lebih mengetahuimu dari pada siapapun bagaimana aku tidak tahu apapun tentangmu?"


"Benarkah? Apa yang kau ketahui dariku?" Tanyaku dingin, aku terduduk di tempat tidurku dan menatap Vincent serius.

__ADS_1


"Apa aku harus menjelaskan semuanya?" Tanya Vincent menunjukkan beberapa fotoku di semua kegiatan yang aku lakukan selama ini bahkan di makam Satriapun juga ada diantara foto itu.


"K-kamu... bagaimana bisa... apa kau mengikutiku?" Tanyaku serius saat melihat semua foto-fotoku.


"Menurutmu?"


"Bahkan saat aku tidur?" Tanyaku terkejut.


"Menurutmu?"


"Kenapa kau mengikuti aku setiap hari?" Tanyaku serius, Vincent meletakkan botol winenya dan berjalan kearahku.


"Menurutmu?" Tanya Vincent mengangkat daguku tinggi dan menatapku serius.


"Kalau kau tidak memberitahukanku, bagaimana aku tahu!" Protesku kesal.


"Kebanyakan wanita lebih mengerti kode dari pada pria, apa kamu tidak mengerti maksudku?"


"Tidak!" Ucapku serius, tangan Vincent menggenggam erat daguku dan menatapku serius.


"Aku suamimu dan aku di jodohkan denganmu, bagaimana aku tidak tahu tentangmu!" Ucap Vincent menatapku dingin.


"Aku selama ini mengikutimu dan mengawasimu bahkan aaat kau terluka parah kau kira siapa yang membantu mengobatimu sebelum Fadil menemukanmu?" Tanya Vincent menatapku serius.


"Apa itu kamu? Disaat aku hampir mati juga?"


"Tapi kenapa saat itu kau memberiku bubuk racun khusus?" tanyaku dingin.


"Alasannya... aku memang ingin membunuhmu, tapi akhirnya aku memutuskan memberimu penawarnga kepada Fadil yang membuatmu hidup kembali."


"Benarkah? Kenapa kamu ingin aku kembali hidup? Padahal aku sudah mati loh saat itu dan selangkah lagi aku berada di surga."


"Benarkah? Kenapa wajahmu terlihat sangat senang? Apa kau benar-benar ingin mati?" Tanya Vincent serius.


"Tentu saja, aku sudah lama hidup menderita. Aku ingin sekali mengakhiri semua, memang rencanaku dengan Fadil dari dulu membalas dendam lalu mmengakhiri semuanya tanpa sisa!" Ucapku serius.


"Kau berencana mati?"


"Ya bisa dikatakan seperti itu..."


"Kalau begitu... mari kita mati bersama, aku akan menyetujui keinginanmu." Vincent memberikan senjata miliknya kepadaku.


"Mati bersama?" tanyaku terkejut.


"Ya."

__ADS_1


"Kenapa? Kenapa kamu mau melakukan itu?" Tanyaku serius.


"Aku suamimu dan aku harus ikut denganmu apapun yang kamu lakukan dan apapun yang terjadi!"


"Oh benarkah? Hmmm aku mengerti..." gumamku membuang senjata itu dan mendorong Vincent yang membuatnya terbaring di bawahku.


"Kau mau ikut denganku apapun yang terjadi kan? Mari bertaruh, jika aku menang pada perang mafia ini kau harus mengiklaskanku dengan pria lain jika kau yang menang aku bersedia menikah denganmu. Bagaimana?" Tanyaku serius.


"Tidak mau! Itu tidak adil!" Protes Vincent kesal.


"Kenapa kau..." Vincent kembali mendorongku dan menatapku dingin.


"Aku bukan anak kecil yang bisa kau permainkan Sani, bilang saja kau masih ingin dengan Ray... benarkan?"


"Apa kau kira hanya Ray saja? Han juga masih menginginkanku, Fiyoni, Sino, bahkan Samuel juga dan semua pria yang menginginkanku juga banyak, kau kira aku hanya memberatkan Ray saja? Tidak!" Protesku kesal.


"Kalau begitu... aku terima tantanganmu tapi... saat perang nantinya hanya kau dan aku... hanya pertarungan kita yang menjadi penilaiannya apakah aku atau kamu yang menang..." gumam Vincent dingin.


"Baik aku setuju!" Ucapku menatap Vincent dingin.


"Sani! Apa kau gila bertaruh dengan dia?" Protes seorang pria menatap kami serius, aku menoleh dan melihat Fadil yang berjalan kearahku.


"K-kak Fadil?"


"Apa kau gila bertaruh dengan dia? Dia lebih licik darimu bahkan aku yakin taruhan kalian bukan benar-benar bertarung, benarkan Vincent?" Ucap Fadil serius.


"Aaahhh kau masih mengerti tentang aku saja Fadil..."


"T-tunggu, apa maksudnya?" Tanyaku terkejut.


"Kau istrinya, pasti kau tahu apa artinya."


"Tunggu dulu, kak Fadil tahu masalah perjodohanku dengan Vincent?"


"Tentu saja."


"Bagaimana kamu tahu kak Fadil? Padahal kan..."


"Dia sepupuku bagaimana dia tidak tahu?" Ucap Vincent menatapku dingin.


"Se...sepupu? Kenapa kak Fadil tidak mengatakannya sejak dulu!" Protesku kesal.


"Aku baru bertemu dia saat aku meminta penawar racunnya, bagaimana aku memberitahukanmu sejak dulu?" Ucap Fadil santai.


"Be-benarkah? Lalu apa maksud dari taruhan Vincent?" Tanyaku serius.

__ADS_1


"Lihatlah sendiri, ya sudahlah nikmatin taruhan kalian berdua ya... aku mau istirahat dulu..." gumam Fadil berjalan pergi meninggalkan kami berdua, aku terdiam menatap tatapan Vincent yang sedang menatapku dingin, bingung? Ya aku memang bingung apalagi aku bertaruh dengan Vincent dan aku tidak tahu taruhan apa yang akan kami lakukan sebenarnya dan seberapa licikkah Vincent sebenarnya.


__ADS_2