
Di pagi ini seperti biasa aku bersiap-siap untuk berburu, hujan rintik-rintik masih turun membasahi hutan ini. Aku merapikan perapian dan bersiap pergi, Vincent menggenggam kakiku dan menggerakkan bibirnya pelan.
"Tenang saja, bentar lagi juga terang kok..." gumamku pelan, dan vincent melepaskan genggamannya.
"Baiklah, aku pergi dulu ya..." gumamku pelan dan berjalan pergi.
Hujan seharian benar-benar membuat tanah yang ku lalui becek dan licin, cuaca yang sangat dingin benar-benar tidak aku hiraukan sama sekali. Disaat aku berjalan mengelilingi area hutan ini sambil membawa buruanku, tiba-tiba di depanku berdiri seorang pria yang bukan lain adalah Ray.
"Aaahh lama tidak bertemu denganmu wanita murahan!" Ucap Ray menatapku dingin.
"Ciiiih menyebalkan!" Gerutuku kesal, aku mencoba berjalan pergi tapi Ray terus menerus menghalangiku.
"Urusan kita belum selesai kau tahu!"
"Urusan apa?"
"Urusan... membunuhmu..." gumam Ray menyerangku yang membuat aku terpaksa meladeni Ray.
"Kau ternyata masih saja lemah ya Sani..." gumam Ray dingin.
"Diam kau!" Gerutuku kesal.
"Oh ya aku dengar Vincent terluka parah beberapa hari yang lalu di hutan ini... yah mungkin dia sudah mati saat ini..."
"Oh benarkah? Siapa yang melakukannya?" Gumamku pelan.
"Buat apa kau ingin tahu?"
"Hanya penasaran saja dan tidak lebih."
"Benarkah? Apa kamu tidak dendam?"
"Dendam? Dendam buat apa?" Tanyaku dingin.
"Kematian jodohmu, apa kau tidak dendam?"
"Tidak juga, lagi pula aku tidak pantas untuk siapapun..." gumamku pelan.
"Apa? Kau emang benar-benar gila Sani!"
"Aku? Emang aku gila dan aku memang tidak pantas di jodohkan dengan siapapun apalagi denganmu jadi untuk apa aku balas dendam, lagi pula... aku punya acaraku sendiri jadi jangan ganggu aku!" gerutuku kesal dan berusaha mengambil sebuah kertas di balik jubahnya dan juga berusaha melukai Ray tapi tidak aku sangka Ray sangat hebat yang membuatku terluka.
"Kau ternyata tidak ada perubahan Sani, lebih baik aku bunuh saja kau saat ini!" Ucap Ray berusaha menyerangku tapi aku berusaha menahannya dan menghindarinya.
__ADS_1
"Kenapa Sani? Kau benar-benar tampak lemah, apa kau ketakutan sampai-sampai harus menghindar seperti itu?" ucap Ray terus mengejarku.
"Dia gila ya? Astaga..." desahku terus menghindari Ray.
Saat aku berusaha menghindar, aku salah untuk memijak yang akhirnya membuatku terjatuh ke sebuah jurang dan tubuhku penuh dengan luka. Dengan nafas yang terengah-engah aku bersembunyi di bawah tebing menghindari Ray.
"Sani! Pergi kemana kau!!" Teriak Ray kencang tapi aku hanya terdiam sambil menahan nafasku.
"Hei Ray ayo pergi!" Teriak seorang pria kencang.
"Ciih kehilangan jejak lagi!" gerutu Ray kesal dan berjalan pergi.
"Haaahh... Hhaaahhh..." desahku mengatur nafasku dan memejamkan kedua mataku. Hujan kembali turun dengan deras yang membuatku terkejut.
"Oh astaga, hujan lagi..." desahku pelan dan berjalan pelan menyusuri jalanan yang becek dan licin di depanku.
Tepat di depan rumah, aku melihat Vincent yang sedang terduduk melamun menatap hujan. Melihatku datang dengan penuh luka membuat Vincent terkejut dan terus menerus menggerakkan bibirnya seperti dia berusaha mengucapkan sesuatu denganku.
"Tenang saja aku tidak apa, hanya terpeleset sedikit tadi..." gumamku meletakkan hasil buruanku ke lantai dan segera mengganti pakaianku.
Vincent merangkak pelan kearahku dan menarik pakaianku, aku menatap Vincent dan dia menggerakkan bibirnya pelan.
"Aku tidak apa, besok lukanya juga bakal kering kok..." gumamku pelan, Vincent menggerakan bibirnya pelan denga. tatapan dinginnya.
"Sudah aku katakan kan aku tidak apa-apa jangan khawatir, lagi pula aku... juga lelah, apa kamu haus?" tanyaku pelan dan Vincent menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya ingin beristirahat sebentar, nanti aku bersihkan lukaku sendiri. Aku hanya lelah..." gumamku memejamkan kedua mataku, walaupun aku memejamkan kedua mataku tapi aku masih sadar dan aku benar-benar menahan tangisku, aku mengangkat tangan kananku dan menutup kedua mataku dengan lenganku agar aku tidak terlihat menangis di depan Vincent.
Disaat aku meneteskan air mataku, aku merasa kalau Vincent berbaring di sebelahku dan berusaha menghiburku. Sesekali aku melirik Vincent dan ternyata Vincent tertidur di sampingku seperti anak kecil yang sedang tertidur dengan pulas.
"Dia tertidur ya..." gumamku pelan dan memejamkan kedua mataku, disaat aku benar-benar tertidur tiba-tiba aku mendengar ada seseorang yang berteriak memanggilku.
"Sani!! Sani!!" Teriak seorang pria dengan kencang, aku membuka mataku dan melihat Vincent kecil yang sedang menatapku serius.
"Sani, kenapa kau tertidur disini?" Tanya Vincent serius, tanpa berkata apapun aku terduduk dan menatap sekitarku.
"Mmm ini dimana?" tanyaku pelan.
"Haish ayo kita kesana lagi!" teriak Vincent menarikku pergi.
Tangan yang hangat dan lembut menggenggam erat tanganku, suasana yang awalnya aku bingung ada dimana tapi melihat suasana ini aku teringat sesuatu hal tapi aku lupa kejadiannya kapan.
"Sani, pakai ini!" Ucap Vincent memakaikanku sebuah cincin dan kalung kristal di leherku.
__ADS_1
"Apa ini?"
"Ini bukti janji suciku padamu, aku benar-benar mencintaimu istriku."
"Janji suci?"
"Benar, aku akan mencintaimu sampai mati dan aku akan terus mencintaimu istriku..." gumam Vincent senang dan kembali menarikku pergi. Tiba-tiba suasana di sekitarku berubah dan berganti di sebuah rumah milik keluarga Shin waktu itu.
"Aku tidak terima dan tidak akan terima Sania kau bunuh!" Ucap ayah kencang.
"Lalu? Apa itu masalah buatmu? Tidak seharusnya dia melakukan hal itu dengan saudaranya sendiri!" Ucap ibu kesal.
"Kalau begitu... aku akan membuat Sani menjadi Sania dan anggap saja Sani itu mati!" gerutu ayah pergi dari ruangan itu sambil membawa sebuah botol berwarna hitam di tangannya
"Kalau begitu... aku anggap Sani sebagai musuh keluarga Li!" gerutu ibu dingin.
Melihat perdebatan itu membuatku terkejut, jadi awal dari semua itu hidupku benar-benar hancur dan aku baru tahu kalau ternyata ayah yang membuatku melupakan apapun bahkan melupakan Vincent.
Tiba-tiba lingkungan sekitarku berubah ke tempat gedung pertemuan beberapa tahun yang lalu. Kau melihat Vica benar-benar marah dan kesal dengan Vincent.
"Dia pergi! Sudah aku katakan kan!"
"Kakak kan yang mengusirnya saat aku tidak sadar!""
"Mengusirnya? Buat apa aku lakukan itu coba!"
"Aku tidak mau tahu, aku akan mencarinya!" gerutu Vincent kesal.
"Percuma saja, lebih baik kau menikah dengan wanita lain Vincent!"
"Tidak kak! Aku tidak mau!"
"Mau atau tidak! Itu harus kau lakukan, demi kak Vica... dia kalah judi jadi dia harus memberikanmu kepada wanita lain..." ucap Vera pelan.
"Apa kakak jadikan taruhanmu?" tanya Vincent terkejut.
"Ya dan kau harus melakukannya Vincent!" Ucap Vica berjalan pergi dan Vincent terlihat sangat kesal.
Tiba-tiba sekitarku berubah ke sebuah ruangan di sebuah rumah yang besar, di depanku aku melihat wanita cantik dan anak kecil yang pernah aku temui di hutan saat itu.
"Ayah... Varah berangkat sekolah dulu ya..." gumam anak kecil itu senang dan Vincent mengangguk pelan sambil tersenyum manis.
"Dia... hmmm..." desahku pelan dan kembali meneteskan air mataku.
__ADS_1
"Sudah cukup aku tidak tahan melihat ini semua! Aku tidak tahan!!" teriakku kencang dan terbangun dari tidurku. Di sebelahku aku melihat Vincent yang menatapku bingung sedangkan aku hanya terdiam dan membalikkan tubuhku membelakangi Vincent.
"Hmmm... lebih baik aku mati saja, kenapa aku melarikan diri tadi..." gumamku kembali memejamkan kedua mataku, di sebelahku Vincent terus menarik pakaianku tapi aku tidak menghiraukannya dan hanya menangis pelan saat teringat apa yang barusan aku lihat.