
Aku dan rombongan kembali menaiki mobil dan mobil berjalan kencang melewati hutan yang rimbun, di ujung hutan berdiri sebuah bangunan besar yang terlihat mewah, mobil langsung parkir di depan bangunan itu dan kami semua langsung turun dari mobil.
"Sepertinya pertemuan akan dimulai!" Ucap tetua agung melangkahkan kakinya cepat, aku menghentikan langkahku yang membuat Ray terkejut.
"Ada apa?"
"Ray topeng!" Ucapku dingin dan Ray memasangkan topeng wajahku dan kembali menciumku lembut.
"Kamu sangat cantik..." gumam Ray pelan dan kembali melangkahkan kaki kami mengikuti tetua agung.
"Sani, kau harus menjaga Ray. Di pertemuan ini pasti ada mata-mata jadi kamu harus menjaganya apalagi dia tetua agung yang baru!" Ucap tetua agung serius.
"Baik tetua agung..." gumamku pelan dan kami masuk ke dalam sebuah ruangan yang dipenuhi oleh tetua di seluruh organisasi.
"Tetua agung datang!" Teriak seorang pria kencang, para tetua duduk di kursinya sedangkan aku berdiri di samping Ray dan tetua agung.
"Baiklah pertemuan akan dimulai!" Ucap seorang pria serius dan pertemuan dilakukan.
Di depanku aku melihat Valentino sedang berbisik dengan Raesya dan Raestya sedangkan Cakra berdiri dibelakang Valentino, di sebelahnya aku melihat Raelan mengikuti pertemuan di temani oleh Ravaro. Selama kepergianku Valentino lebih nyaman dengan Raesya dan Raetya dari pada denganku. Aku sedikit menunduk di sela-sela Ray dan tetua agung yang membuat keduanya sedikit mendekatkan kepalanya kearahku.
"Tetua agung bisakah aku mengganti nama samaranku?" Bisikku pelan.
"Kenapa?"
"Karena... Aku sudah bosan nama Sani."
"Lalu kamu akan memakai nama apa?"
"Mungkin Valentine saja."
"Nama Ray?"
"Ya mungkin, tapi saya memakai namaku sendiri Valentina tetua agung."
"Jangan menggunakan nama asli!" Gerutu tetua agung dingin.
"Lalu saya harus mengganti nama ke nama siapa tetua agung?" Tanyaku pelan.
"Pakai saja nama Valen nanti aku akan mengganti namaku juga Vale..." gumam Ray pelan
"Eehh kenapa kamu juga?" Tanyaku terkejut.
"Hanya ingin."
"Ya sudah nama Valen bagus, pakai saja nama itu..." gumam tetua agung pelan.
"Oh mm baik tetua agung." aku kembali berdiri dan melihat sekitarku.
Tidak lama muncul beberapa orang yang pernah aku temui di kehidupan lalu sehingga aku tahu kelemahan mereka apa saja. Di atas atap aku melihat beberapa orang yang sedang bersembunyi, aku mencolek bahu Ray yang membuatnya terkejut menatapku.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Ada musuh."
"Ya sudah pancinglah salah satunya agar dia terjatuh di depanku!" Ucap Ray dingin, aku melempar salah satu jarumku yang membuat salah satu orang terjatuh yang membuat beberapa tetua terkejut, Fadil langsung menggeledah pria itu dan menemukan sebuah lencana di saku jubahnya.
"Mafia musuh ya..." gumamku saat Fadil memberikan lencana milik bawahan Alan.
Plookkk... Ploookk.. Plloookkk
Tiba-tiba terdengar suara tepukan tangan seseorang dan muncul Alan yang berjalan ke arah kami dengan tatapan dinginnya.
"Haish kau masih saja hebat padahal sebelum-sebelumnya kau sangat lemah karena terlalu nyaman bermain dengan pria-pria itu, hmmm ternyata mudah juga ya menjebakmu..." gumam Alan menatapku dingin sedangkan aku tidak memperdulikannya.
"Haish kau masih saja tidak peduli kalau ada orang yang sedang mengobrol denganmu membuatku ingin segera menyiksamu loh Sani Shin!" Ucap Alan dingin yang membuat semua tetua terkejut.
"Sani Shin ya? Seingatku tidak ada nama itu..." gumamku terduduk di depan Ray dan menatapnya dingin.
"Oh ya aku lupa, saat ini tidak ada yang bernama Sani Shin tapi yang ada hanya Raelyn..." Ucap Alan dingin.
"R-Raelyn? Anakku?" Ucap Raelan terkejut tapi aku mencoba tidak memperdulikannya.
"Raelyn ya? Siapa itu Raelyn?"
"Kau masih saja suka mengganti-ganti nama ya?"
"Tidak juga, Sani ataupun Raelyn itu sudah mati!" Ucapku dingin yang membuat Raelan kesal.
"Tidak! Anakku hebat tidak mungkin dia mati begitu mudah!" Protes Raelan kesal tapi aku tidak memperdulikannya.
"Ya benar."
"Apa dia ayah yang dimaksud Sani?"
"Ya tetua agung..." gumam Ray pelan sedangkan aku hanya terdiam.
"Hahahaha lihat Raelan saja tidak terima anaknya mati padahal siapa sih yang tidak mengenal seorang ketua mafia kegelapan yang suka bermain dengan banyak pria!" Tawa Alan kencang yang membuatku kesal, aku menggenggam erat pinggiran meja dan Ray memegang tanganku pelan yang membuatku hanya menghela nafas pelan.
"Untuk apa kau mencari dia?" Tanyaku dingin.
"Yaahh hanya ingin bertanya apa yang dia inginkan saja."
"Maksudnya?"
"Ya dia bisa menyembuhkan Raelan yang seharusnya mati saat itu, ternyata dia hebat juga ya..." gumam Alan terduduk di meja depanku.
"Lalu, apa maumu?"
"Yaah itu katakan padaku apa yang kau inginkan?" Ucap Alan dingin yang membuatku tersenyum dingin kearahnya.
"Mmm apa ya... Mmm kalau begitu beritahu aku siapa orang yang ada di belakangmu Alan!" Ucapku dingin.
"Hanya itu?"
__ADS_1
"Yaah hanya itu, kenapa? Kamu tidak sanggup?" Tanyaku dingin yang membuat Alan tertawa kencang.
"Kebetulan sekali tuan muda ingin bertemu denganmu."
"Ya sudah tunjukkanlah!" Ucapku dingin. Alan menjentikkan jari tangannya dan muncul dua orang yang memiliki mata merah darah menyala di depanku dengan senyum dinginnya.
Siapa dia? Batinku.
"Lama tidak berjumpa denganmu Sani Shin!" Ucap pria itu dingin, aku mencoba mengingat siapa pemilik suara itu tapi aku sama sekali tidak ingat. Melihat pria itu Ray langsung terduduk di sampingku dan merangkulku erat.
"Lama tidak bertemu denganmu Ran..." ucap Ray dingin yang membuatku bingung.
"Ran? Siapa Ran?" Tanyaku penasaran tapi Ray hanya terdiam di sebelahku.
"Oohh kau ternyata bisa menaklukkan wanita dingin itu ya."
"Tentu saja dia milikku sampai kapanpun. Lagi pula tidak akan aku biarkan kau menyakiti dia mulai hari ini dan seterusnya!" Ucap Ray dingin, melihat Ray dan pria itu nampak akrab membuatku sangat penasaran.
"Kau siapa?" Tanyaku bingung.
"Apa kau tidak mengenalku?"
"Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu tidak menunjukkan wajahmu?"
"Baiklah aku akan menunjukkan wajahku tapi kamu harus menunjukkan wajah cantikmu padaku."
"Tidak masalah..." gumamku memegang topengku dan pria itu juga memegang tudung jubahnya lalu kami berdua menunjukkan wajah kami tapi pria itu dengan cepat mengembalikan tudumh jubahnya kembali ke kepalanya.
"Kamu masih saja cantik ya Sani..." gumam pria itu dingin sedangkan aku benar-benar terkejut kalau pria yang membuatku menderita selama hidupku adalah seorang pria yang dulunya sering mengatakan cinta padaku tapi aku selalu menolaknya.
"Jadi kamu... Randy Shu?" Ucapku terkejut.
"Ya begitulah."
"Kenapa kau lakukan semua ini padaku?" Protesku kesal, pria itu berjalan kedepanku dan mendekatkan wajahnya di telingaku.
"Apa kau tidak ingat apa yang aku ucapkan dulu?"
"Tidak, memang apa yang kau..."
"Aku akan membuatmu menderita karena telah menolakku saat itu Sani Shin..." bisik Ran pelan.
"Hanya karena itu kau..."
"Benar, jadi nikmatilah penderitaan dariku..." bisik Ran dan dengan cepat Ray menarikku dalam pelukannya.
"Kau tidak usah mendekati wanitaku!" Ucap Ray dingin dan Ran hanya tersenyum dingin kearahku.
"Nikmatilah penyiksaan yang tiada henti itu Sani Shin!" Ucap Ran pelan dan menghilang bersama Alan bagaikan tiupan angin badai.
"Ciihhh!!" Gerutuku berjalan pergi dari ruang pertemuan, Tetua Agung menahan tanganku tapi tanpa mengatakan apapun aku menepisnya dan berjalan pergi.
__ADS_1
Mengetahui dalang dibalik penderitaanku adalah Randy membuatku terkejut ditambah lagi banyak pertanyaan yang muncul di pikiranku setelah mengetahui ini semua bisa terjadi padaku.