Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 69 : Rapat Ketua Umum


__ADS_3

Sesuai keinginan Ray, kami berdua berangkat bersama dengan kendaraan yang berbeda. Karena tempatnya berada di wilayah kekuasaan Ray jadi aku menjemput Victory dan Chen di bandara jadi kami berpisah jalan yang membuat Ray berjalan terlebih dahulu.


Di bandara saat menjemput Victory, dia memberikanku informasi yang akan terjadi di pertemuan nanti. Walaupun seperti dugaan tapi aku juga harus mempersiapkan bawahanku nantinya jika benar-benar ada pertarungan.


Bahkan yang dikatakan Victory tadi masalah pemberian hukuman kepada organisasi milik Hans tidak jadi dilakukan karena hari ini hanya membahas masalah perang dan juga makan malam bersama yang membuatku memikirkan rencananya.


"Sani, are you okay?" tanya Victory menatapku bingung.


"Ya, memang aku terlihat tidak baik ya?"


"Ya begitulah."


"Aku terkejut kalau Wili dan Hans ingin mengelabuhi tetua mafia demi menggulingkan kita!" gerutuku kesal.


"Ya itulah kenapa aku tidak mau berpura-pura menjadi ketua umum Sani, dan nanti tetua mafia juga akan memintamu menjadi ketuanya."


"Hmmm..." aku menghela nafas dan mencoba memikirkan rencana.


"Apa yang kamu pikirkan Sani?" tanya Victory menatapku serius.


"Aku hanya memikirkan rencana saja."


"Jangan berfikir masalah rencana terus Sani, kamu harus menjaga dirimu."


"Ya tahu, jangan khawatir..." desahku menutup dokumen yang diberikan oleh Victory dan memejamkan kedua mataku, aku tidak tidur sebelumnya jadi aku mencoba untuk tidur saat ini.


Tidak lama kemudian, Fadil membangunkanku karena kami sampai di tempat pertemuan. Aku menggunakan jubah dan topengku, saat ini yang mereka tahu kalau ketua umumnya adalah Victory jadi aku meminta Victory menggantikan aku, sedangkan aku mengamati mereka.


Saat kami sampai di ruang pertemuan san akan duduk di tempat duduk, tetua mafia menatapku dan menghentikanku.


"Tunggu, seharusnya kamu duduk di kursimu!" ucap tetua serius.


"Tapi tetua..."


"Tidak ada tapi!" protes tetua mafia yang membuatku mengalah.


"Baiklah..." desahku pelan.


Karena banyak ketua umum organisasi lainnya yang datang jadi walaupun para tetua yang memaksaku duduk di kursi ketua umum yang membuatku mau tidak mau duduk di kursi ketua umum. Di ruang pertemuan aku melihat para ketua umum duduk di tempatnya masing-masing tanpa melakukan apapun.


"Hmmm, malam ini kami tetua mafia secara khusus mengundang para ketua umum untuk mengajak berdiskusi perihal rencana perang yang akan terjadi. Sebelumnya saya ingin tahu alasan kalian para ketua umum mengadakan perang mafia kembali?" tanya tetua mafia serius.


"Alasannya? Yaaah tidak ada alasannya untuk itu..." gumam Hans dingin.

__ADS_1


"Kalau tidak ada alasannya apa tidak bisa kah kalian meniadakan perang itu?"


"Tetua, kami berasal dari beberapa kemampuan yang berbeda, keinginan dan tujuan kami juga berbeda, adanya perang juga tidak akan mungkin bisa dihentikan kalau keinginan dan tujuan kita semua berbeda..." gumam Viu santai.


"Kalau kalian berperang tapi masing-masing kalian bekerjasama lalu untuk apa perang itu dilakukan?" tanya tetua mafia serius.


"Bekerja sama ya?" gumam Viu menahan tawanya.


"Bekerja sama? Heeh sejak kapan diantara kami bekerja sama? Seperti ketua yang tidak becus saja!" protes Hans kesal.


"Oh benarkah? Dalam dunia mafia bermain di dalam lorong tikus memang tidak di ragukan lagi ye kan sampai dia merasa aman untuk tidak ketahuan apa yang telah dia perbuat dan bisa dengan mudah melakukan apapun?" sindirku dingin


"Siapa maksudmu?" gerutu Hans kesal.


"Mmm siapa ya? Bagi yang merasa saja lah."


"Apa kamu punya bukti untuk mengatakan hal itu?" tanya Hans menatapku dingin seolah-olah dia tidak salah.


"Ya mana aku tahu ya...coba tanyakan pada diri kalian masing-masing, ada tidak diantara kalian yang melakukannya?" sindirku menatap Hans dingin.


"Ka...kamu!!" gerutu Hans kesal.


"Sudahlah, wanita itu ribet dan ingin menang sendiri jadi biarkan saja, tidak perlu ditanggapi wanita yang seperti itu..." gumam Wili memakan permen yang dibawanya.


"Oh benarkah? Memang ya semua pria itu menyebalkan ya, menganggap wanita itu semua sama saja dan sering merendahkan wanita!" gumamku menatap Wili kesal.


"Hmmm... oh begitukah? Tapi kebanyakan pria itu memiliki harga diri yang sangat rendah ya sampai-sampai banyak pria yang mau saja di jadikan pelampiasan perasaan wanita lalu ditinggalkan dengan pria lainnya... heeeh sungguh kasihan..." gumamku menatap Wili dingin. Aku ingat seperti apa Wili berdasarkan dokumen yang aku dapatkan dari kapal pesiar itu.


"Siapa pria yang kamu maksud itu?" tanya Wili dingin.


"Entah ya, tapi ada juga pria yang mencintai seorang wanita yang sudah terikat dengan pria lain sampai sekarang berniat untuk merebut wanita itu, aduuuhh kasihan juga ya kan..." sindirku tersenyum dingin sedangkan Wili hanya menatapku dingin.


"Kamu suka ya menghina pria!" protes Hans kesal.


"Menghina pria ya? Kalian juga senang banget ya merendahkan wanita!" gerutuku menunjukkan dokumen perjanjian antara Hans dan Wili bahkan perjanjian antara Viu dan Ray yang membuat mereka terkejut.


"Apa itu?" tanya tetua umum terkejut.


"Ya hanya dua lembar perjanjian kerja sama saja, ya sudah aku katakan dunia mafia apapun akan dilakukan yang penting bisa menang benarkan?" sindirku yang membuat pria di depanku terkejut.


"Coba aku mau lihat..." gumam tetua mafia membaca perjanjian kerja sama itu.


"Sudah kuduga..." desah tetua mafia mengembalikan kertas itu.

__ADS_1


"Oh ya...aku kenal dengan semua ketua mafia disini, tapi aku tidak mengenalmu. Siapa kamu?" tanya Wili menatapku dingin.


"Kamu tidak tahu aku siapa?"


"Tidak, yang aku tahu ketua umum organisasi mafia tertinggi adalah pria di sebelahmu, lalu kenapa kamu yang menduduki kursi ketua umum?" tanya Wili serius.


"Apa kamu ketua umum yang masih baru? Kalau tidak tahu baguslah. Kamu tidak perlu tahu aku siapa!"


"Kalau kamu bukan ketua umum seharusnya kamu tidak perlu duduk si kursi itu!" protes Wili dingin, aku tahu Wili berupaya untuk mengusirku apalagi aku menjadi beban untuknya mengelabuhi tetua mafia.


"Ohhh baiklah aku akan pergi dari sini lagi pula aku juga tidak mau ada disini..." gumamku beranjak pergi.


"Sani...Kembali!" ucap tetua mafia serius.


"Disitu kan udah ada ketua umumnya jadi aku tidak di perlukanlah..." gumamku santai.


"Sani! Cepatlah!!" gerutu tetua mafia serius.


"Bagaimana sih!" gerutuku kembali terduduk di kursiku.


"Haish, tuan Wili dia itu ketua umumnya. Sani seharusnya kamu memperkenalkan dirimu dahulu."


"Memperkenalkan diri ya...baiklah. Salam kenal...ketua umum organisasi mafia tertinggi...Sani Shin..." gumamku membuka topengku yang membuat Wili dan Hans terkejut.


"Kamu ketua umumnya? Kamu kira aku akan..." protes Wili kesal.


Aku menunjukkan lencana ketua umumku dan membuat Wili terkejut.Wili melangkahkan kakinya ke arahku dan mengangkat daguku tinggi.


"Tidak aku sangka kamu sangat licik wanitaku..." bisik Wili serius.


"Wanitamu ya sejak kapan aku wanitamu?" gumamku santai.


"Aku tidak peduli, kau tetap wanitaku!" gumam Wili serius.


"Oh kamu lucu juga ya? Aku sama sekali tidak kenal kamu untuk apa kamu mengaku kalau aku wanitamu? Wanitamu dari mana coba?" tanyaku dingin.


"Lihat saja nanti kau terjebak ke dalam genggamanku wanitaku" gumam Wili tersenyum dingin dan kembali ke tempat duduknya.


"Hmmm sudahlah kalian! Aku mengundang kalian karena karena ingin mengajak kalian membahas tentang mafia X!" ucap tetua serius.


"Mafia X? Jangan bilang yang dia mengaku mafia misterius itu?" ucap Wili serius.


"Ya benar, aku meminta pendapat kalian untuk melawannya apalagi mereka sudah meresahkan dunia mafia kita!" gerutu tetua mafia kesal.

__ADS_1


"Mafia X yang mengaku mafia misterius ya?" gumamku pelan. Aku mengirimkan pesan kepada bawahanku yang aku percaya untuk mencari identitas mafia itu.


Satu masalah belum selesai dan sekarang muncul masalah baru, terlalu banyak tugas yang bisa membuatku gila tapi saat aku ingin pensiun tapi tidak diperbolehkan mana Wili benar-benar mengakui aku wanitanya lagi! menyebalkan!


__ADS_2