
Dengan semua rencana dadakanku, aku dan Fadil berangkat menuju pertemuan itu. Letak pertemuan itu sangat jauh dan benar-benar sangat melelahkan. Setelah beberapa jam berkendara akhirnya aku dan Fadil sampai di sebuah gedung yang letaknya di tengah hutan. Gedung pertemuan itu terlihat besar dan mewah namun penjagaan digedung ini benar-benar sangat ketat.
"Tunjukan lencana!" Ucap seorang penjaga di depan kami, aku menunjukkan lencana ayah dan penjaga itu membukakan pintu untuk kami.
"Apa rencanamu Sani?" Tanya Fadil serius.
"Aku ada beberapa rencana tapi... kak Fadil fokus sama di pertemuan..." gumamku membuka sebuah pintu di ujung lorong dan berjalan masuk ke dalam ruangan itu.
Di dalam ruangan aku melihat banyak sekali orang-orang yang sama sekali tidak aku kenali, aku mencoba mencari Vincent tapi aku bingung yang mana orangnya.
"Sani, itu tempat duduk kita!" Ucap Fadil menunjuk ke sebuah kursi yang tertulis nama ayah. Aku terduduk di kursi dan mengamati orang-orang di sekitarku mencoba mencari Vincent tapi aku belum menemukannya.
"... baiklah apa ada yang menanggapinya?" Ucap seorang pria serius, tiba-tiba pria berjubah di depanku mengangkat tangannya yang membuat semua orang terdiam.
"Silahkan Tuan Vincent!" Ucap pria di depanku yang membuatku terkejut, pria berjubah itu menurunkan tudung kepalanya dan aku melihat wajah yang sangat tampan mirip dengan pria yang aku lihat di danau saat itu.
"Aku setuju, jika melakukan seperti itu akan banyak orang yang mati!" ucap Vincent dingin, suara yang dalam, dingin, dan menakutkan benar-benar sangat terasa. Aku terus menatapnya dan benar-benar kagum dengan pemikirannya. Disaat aku menatapnya tiba-tiba Vincent menatapku yang membuatku terkejut dan segera membuang mukaku.
"Baiklah, ada tanggapan yang lain?"
"Qku tidam setuju!" teriak seorang pria kencang.
"Baiklah apa alasanmu?"
"Kita ketua mafia, untuk apa memikirkan bawahan yang seharusnya takdir mereka mati untuk melindungi kita!" Protes pria itu serius, mendengar ucapan pria itu membuatku geram, aku mengangkat tanganku dan menatap pria itu serius.
"Mmm silahkan nona muda..."
"Aku tersinggung dengan ucapannya, walaupun bawahan bersumpah setia pada kita ketua mafia tapi kita ketua mafia harus berusaha menjaga bawahan kita!" Protesku kesal.
"Untuk apa menjaga mereka kalau mereka..."
"Tanpa bawahan dan anggota mafia, apa artinya seorang ketua!" Ucapku dingin yang membuat semua orang terdiam.
"Hei kau anak kecil, siapa kau? Beraninya kau mengikuti pertemuan rahasia ini! Kalau kau mata-mata akan ku bunuh kau!" Protes pria itu kesal.
"Oh ya aku belum memperkenalkan diri..." gumamku membuka kaca mataku dan mengurai rambutku.
"Namaku Sani Shin, aku anak dari tuan Shin dan aku ketua mafia menguasa kegelapan..." ucapku dingin, aku menunjukkan lencanaku yang membuat semua orang terkejut.
"Tunggu, kamu bukannya wanita yang di juluki psikopat cantik itu?" Tanya seorang wanita serius.
"Ya begitulah, jadi... apa aku terlihat seperti mata-mata?" tanyaku dingin dan mereka semua hanya terdiam menggelengkan kepalanya.
"Mmm oh ya nona, kemana tuan Shin?"
"Ayah ada dirumah dan tidak enak badan jadi ayah memintaku mewakilinya di pertemuan karena tidak enak kalau ayah tidak hadir."
"Haish memang ayahmu keras kepala, sudah berumur masih saja aktif di mafia... hmmm ya sudah kita lanjutkan lagi pertemuan ini!" Ucap pria itu pelan.
__ADS_1
Aku kembali terduduk dan bertingkah biasa saja, di depanku aku melihat Vincent yang terus menatapku dingin dan tanpa aku pedulikan aku hanya terdiam sambil membalas tatapan Vincent itu.
"Sani, pertemuan ini berlangsung beberapa hari."
"Tidak apa, kak Fadil urusi urusan dari tetua mafia."
"Tunggu dulu, urusan yang mana?" Tanya Fadil serius, aku memberikan sebuah kertas dan Fadil hanya menghela nafas pelan.
"Haish masih saja ada tugas dari tetua!"
"Ya itu tugas lama dan kita harus segera menyelesaikannya."
"Baik-baik, kau jaga dirimu Sani..."
"Yaah aku tahu kok..." desahku pelan dan aku mengikuti pertemuan itu sampai selesai.
"Baiklah pertemuan kali ini kita akhiri dan kita mulai besok pagi dan nona muda... ini kunci kamar anda dan wakil anda!" gumam pria di depanku memberikan dua buah kunci.
"Baiklah, terimakasih tuan..." gumamku pelan.
"Ya sudah istirahatlah. kalau ingin makan di bawah ada restoran."
"Baik tuan..." gumamku memberikan satu buah kunci kepada Fadil dan berjalan pergi.
"Kamu mau kemana?" Tanya Fadil serius.
"Aku ingin istirahat dulu kak Fadil, jadi istirahatlah!" Ucapku pelan berjalan meninggalkan ruangan pertemuan menuju ke sebuah lorong di lantai atas.
"Apa yang kau inginkan?" Tanyaku pelan, tiba-tiba orang itu menarik tanganku dan mendorongku ke dinding lorong.
"Menurutmu?" Ucap seorang pria di depanku, aku membuka mataku dan melihat mata yang berwanra merah darah dengan anting panjang di telinga kanannya yang tidak lain adalah Vincent.
"Apa kau ingin membunuhku?"
"Sudah aku katakan bukan, aku lebih senang membuatmu menderita dari pada membunuhmu!" Bisik Vincent pelan.
"Menderita? Apa maksudmu?" tanyaku dingin, tiba-tiba ada beberapa orang yang menatap kami dengan tatapan teekejut, Vincent tanpa berbicara apapun hanya menatap mereka semua yang membuat mereka langsung pergi dari lorong ini.
"Kau tidak perlu tahu apa alasanku."
"Kalau kau tidak memberitahukanku bagaimana aku tahu apa salahku padamu, apalagi aku tidak mengenalmu..."
"K-kau!!" gerutu Vincent menggenggam kuat tanganku dan langsung melepaskannya.
"Lupakan saja..." gumam Vincent berjalan pergi, melihat Vincent pergi aku membuka pintu kamarku dan menariknya masuk ke dalam kamar lalu mendorongnya ke pintu yang membuatnya terkejut.
"Kamu kira aku takut dengan semua gertakanmu ya?" Bisikku pelan dan tersenyum dingin kearah Vincent.
"Kalau kau ingin membunuhku... ya bunuh saja, lagi pula... aku juga yang salah kok, suamiku..." bisikku pelan yang membuat Vincent terkejut.
__ADS_1
"Aku memang dari awal tidak tahu kalau kamu dijodohkan denganku karena aku tinggal dengan saudara ayah dan baru ketemu ayah kandungku kemarin, kalau saja ayah tidak menceritakannya padaku tentangmu pasti aku... tidak tahu kalau kamu dijodohkan denganku vincent..." gumamku mencium Vincent dan menatapnya kembali.
"Aku wanita yang tidak pernah mengucapkan kata maaf sama sekali tapi karena ini kesalahanku maka... aku minta maaf padamu karena selama ini aku telah menyakitimu, jadi kalau kamu tidak menerima maafku maka bunuhlah aku..." gumamku memberikan senjataku pada Vincent dan aku berdiri di depannya sambil tersenyum manis. Vincent yang terlihat masih bingung dan terkejut hanya terdiam menatapku dan menatap senjataku yang ada di tangannya.
"Ayo cepat bunuh aku kalau kamu masih kesal dan dendam padaku!" ucapku serius, tapi Vincent langsung membuang senjataku dan mendorongku ke tempat tidur sambil memelukku erat.
"Ada apa? Kenapa kamu tidak membunuhku?" Tanyaku dingin dan Vincent hanya terdiam dengan tangan yang sedikit bergetar.
"Tidak, aku tidak bisa membunuhmu."
"Kenapa?"
"Aku mencintaimu dan itu alasanku..." gumam Vincent pelan.
"Benarkah? Lalu kenapa kamu terus membuatku menderita?"
"Aku hanya ingin menyadarkanmu kalau kamu adalah milikku tapi kamu sama sekali tidak sadar membuatku gila dan membuatku sangat sedih."
"Benarkah?" Tanyaku pelan, Vincent melepaskan pelukannya dan menatapku serius.
"Apa kata-kataku terlihat hanya bualan saja di matamu?" Tanya Vincent serius, kedua matanya memerah dan terlihat sangat marah padaku, aku menghela nafasku pelan dan memeluk Vincent pelan.
"Ya aku percaya kok."
"Hmmm..." desah Vincent memelukku erat.
"Aku sangat senang ternyata usahaku tidak sia-sia untuk menyadarkanmu."
"Hmmm kalau kamu hanya ingin menyadarkanku kamu seharusnya mengayakannya langsung padaku bukannya melakukan kode yang tidak aku mengerti."
"Jadi... apa selama ini kamu tidak mengerti apapun?" Tanya Vincent serius.
"Tidak, yang ada aku malah membencimu karena membunuh dua anakku!" Ucapku dingin.
"Oh mmm anak yang mana?"
"Anak pertamaku meninggal, anak keduaku terluka, dan aku baru saja keguguran karena bubuk milikmu!"
"Anak ya..." gumam Vincent menekan kedua tanganku dengan kuat.
"Aku sama sekali tidak bermain dengan wanita dan kau dengan mudahnya bermain dengan beberapa pria sampai memiliki anak? Padahal kau milikku sani!" Protes Vincent kesal, kedua matanya benar-benar memerah dan berkaca-kaca.
"Kan aku sudah mengakui kalau aku salah dan memintamu membunuhku karena aku menyakitimu dan menyakiti hatimu tapi kamu tidak mau membunuhku..." gumamku pelan tapi Vincent hanya terdiam dan menarikku yang membuatku terbaring di tempat tidurku.
"Aku lelah, aku ingin istirahat..." gumam Vincent memejamkan kedua matanya sambil memelukku erat.
"Hmmm..." desahku memainkan kancing pakaian Vincent.
"Kalau saja dulu aku bertemu denganmu sebelum kematian ibuku dan kesalahanku dengan Han pasti aku tidak akan menyakitimu seperti ini Vincent, aku tidak tahu apakah kamu benar-benar memaafkanku tapi aku benar-benar tulus mengatakan maaf padamu. Tapi kalau kamu tidak memaafkanku kamu boleh membunuhku saat aku tidur tapi aku ingin mati saat aku sedang tertidur di pelukanmu..." gumamku pelan dan menyembunyikan wajahku di dada bidanh Vincent tapi Vincent sama sekali tidak menggerakkan tubuhnya mungkin dia sudah benar-benar tertidur.
__ADS_1
Yang ada dipikiranku saat ini, siapa pria yang sebenarnya aku cinta... Ray atau Vincent? Aku tidak tahu apa yang aku pikirkan bahkan aku bingung harus berbuat apa memiliki dua pilihan yang sangat berat seperti ini.