Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 121 : Perasaan Sedih


__ADS_3

Suara burung berkicau dengan kencang dan sinar matahari yang menyilaukan kedua mataku yang membuatku terkejut, aku membuka kedua mataku dan melihat Vincent yang mengompres dahiku dengan kain yang di basahi dengan air hangat. Vincent tersenyum manis membuatku kesal, aku membalikkan tubuhku dan kembali membelakangi Vincent kembali.


"Kau sudah sehat kan? Pergilah!" Ucapku dingin dan Vincent menarik lenganku kuat dan menatapku dingin.


"Apa? Kau ingin apa sebenarnya! Pergilah! Pasti istrimu akan khawatir denganmu!" Ucapku dingin, Vincent berusaha mengatakan sesuatu padaku tapi suaranya masih saja hilang.


"Kalau kau tidak bisa bicara lebih baik kau diam dan tidak perlu memaksakannya, lagi pula kau sudah sehat lebih baik kau kembalilah ke keluargamu, tidak perlu memikirkan aku, aku hanya orang yang tidak sengaja menemukanmu dan merawatmu saja..." gumamku dingin, Vincent menarik kerah pakaianku dan menggerakkan bibirnya.


"Apa? Aku memang tidak mengenalmu dan sama sekali tidak mengenalmu jadi pergilah!" Ucapku dingin.


Melihatku mengusirnya membuat kedua mata Vincent memerah, dia manggenggam erat kerah pakaianku dan menangis di depanku, Vincent menggerakkan bibirnya cepat yang membuatku bingung.


"Hmmm kamu kenapa sih sebenarnya? Aku benar-benar tidak mengerti..." gumamku mengambil gelas di dekatku dan menggoreskan lenganku di atas gelas itu.


"Ini minumlah dan pergilah nanti keluargamu dan istrimu mengkhawatirkanmu..." gumamku meneteskan darahku di gelas itu, tiba-tiba Vincent membuang gelas itu dan memelukku sangat erat.


Tangisannya yang awalnya tidak terdengar lama-lama terdengar pelan di telingaku bahkan ucapannya yang sedari tidak bersuara lama kelamaan terdengar lirih di telingaku.


"Tidak! Kau mencintaimu! Aku tidak mau kehilanganmu lagi! Aku benar-benar depresi kehilanganmu... aku mohon... jangan usir aku, jangan usir aku..." bisik Vincent pelan, walaupun sangat pelan tapi bisikan Vincent membuatku terdiam dan hanya menghela nafas pelan.


"Udah ah, aku pusing... kalau kau haus minumlah aku ingin istirahat..." gumamku melepaskan pelukan Vincent dan kembali berbaring di lantai.


"Kalau kau punya banyak waktu... kau boleh membunuhku..." gumamku pelan dan memejamkan kedua mataku pelan, Vincent memelukku erat sambil terus berbisik di telingaku, walaupun sangat menggangguku tapi aku hanya terdiam dan pura-pura tidak mendengar ucapannya.


Selama beberapa jam aku benar-benar kembali tertidur, badanku terasa panas dan terasa sangat sakit semua membuatku hanya menahannya dengan terus tertidur agar tidak terlihat kalau aku sedang kesakitan di mata Vincent.


Saat aku membuka kedua mataku aku tidak melihat Vincent sama sekali yang membuatku sangat lega dan berpikir kalau Vincent pergi meninggalkanku tapi ternyata pikiranku salah, pintu rumah pondok kecilku terbuka dan aku melihat Vincent melamun menatap bintang dan bulan di atasnya, suara isakan tangis masih terdengar di telingaku.


"Kenapa... aku masih saja tidak berguna... kenapa aku sanfat bodoh... kenapa aku tidak bisa menjadi suami yang baik... maafkan aku Sani... tapi aku benar-benar mencintaimu, andaikan aku dulu mampu membawamu pergi dari keluarga Shin pastinya semua ini tidak akan terjadi..." gumam Vincent pelan.


"Dia sudah bisa berbicara ya..." gumamku pelan dan berusaha terduduk tapi aku benar-benar kesulitan.


"Sani?" Ucap Vincent merangkak kearahku dan menatapku terkejut.


"Kamu istirahatlah, lukamu sangat parah jadi jangan paksakan bergerak..." gumam Vincent membantuku kembali terbaring.


"Aku ambilkan makanan untukmu ya..." gumam Vincent pelan dan merangkak menuju dapur, aku membaringkan tubuhku dan melihat Vincent yang sedang memasak hasil buruanku kemarin dan langsung membawanya kepadaku.


"Makanlah, wajahmu sangat pucat..." gumam Vincent meletakkan makanan yang beralaskan daun pisang di sampingku.


"Aku sudah kenyang, makanlah, aku tidak berselera."


"Tapi aku harus makan Sani!" Ucap Vincent serius tapi aku tetap terdiam dan berpura-pura tidak mendengar ucapannya, aku mengambil kertas yang berhasil aku ambil dari jubah Ray dan membacanya.


"Sani makanlah! Sani makan!" Ucap Vincent terus menggerakkan lenganku kuat.

__ADS_1


"Aku bilang aku sudah kenyang!" gerutuku kesal dan Vincent terdiam di sampingku. Di kertas itu aku melihat semua rencana yang tertulis bahkan rencana menghabisi Vincent dan menghabisiku juga ada di kertas itu.


"Ohh mmm..." desahku kembali memejamkan kedua mataku dan menggenggam erat kertas itu, tiba-tiba Vincent merebut kertas di tanganku dan membacanya dengan serius.


"Itu hanya kertas yang aku temukan dan itu tidak penting..." gumamku pelan.


"Jadi pria itu yang melukaimu? Aku akan membalasnya!" Gerutu Vincent pelan, aku menatap Vincent dan tertawa kencang.


"Kau mau membalasnya? Hahaha!!! Kau aja hampir mati di bunuhnya kok jadi kau tidak perlu melakukan itu lagi pula aku bukan siapa-siapamu..." gumamku pelan.


"Kau mendengar ucapanku?" Tanya Vincent pelan.


"intinya sekarang adalah... aku bukan siapa-siapamu, aku hanya membantumu saat itu dan aku tidak akan meminta balas jasa yang pernah kau lakukan sebelumnya, tapi aku hanya punya satu permintaan... kembalilah kepada keluarga kecilmu dan jangan pernah kembali... hanya itu..." gumamku pelan dan kembali memejamkan kedua mataku.


"Apa maksudmu? Sudah aku katakan kan aku tidak mau!"


"Pergi enggak!!" Kalau kau tidak pergi maka aku akan membunuh diriku sendiri!" ucapku dingin sambil memegang senjataku erat.


"Tapi..."


"Pergi!!" teriakku kencang yang membuat Vincent terdiam dan merangkak pergi di pagi buta ini.


"Haaah dia akhirnya pergi juga..." desahku kembali memejamkan kedua mataku dan meneteskan air mataku pelan.


"Maafkan aku yang mengusirmu Vincent, aku hanya tidak mau mengganggu hubunganmu dengan istri barumu apalagi aku tidak mau orang lain menganggapku wanita murahan lagi, aku sudah muak mendengarnya... aku lebih baik mati dari pada membuat diriku dan siapapun menderita, maafkan aku..." gumamku pelan dan kembali menangis pelan.


"Yaaah semoga kau bahagia dengan keluarga kecilmu Vincent..." gumamku pelan dan kembali tertidur di lantai yang dingin ini.


Hembusan angin yang sepoi-sepoi terasa di tubuhku dan aroma harum bunga menusuk hidungku, aku membuka kedua mataku dan bertemu dengan Sania kembali di tempat yang sama seperti dulu.


"Aahhh kita bertemu lagi Sani..." gumam Sania pelan.


"Ohh mmm ya, kau masih disini..." gumamku menatap langit di atasku.


"Tentu saja, aku menunggu Ray. Oh ya kau dilukai Ray ya?"


"Ya."


"Dan kau mengusir Vincent dari persembunyianmu?"


"Ya begitulah..."


"Astaga apa yang kau pikirkan?"


"Hanya kematian yang aku pikirkan."

__ADS_1


"Apa kau kira Vincent akan menerima kematianmu?"


"Aku tidak peduli."


"Tidak peduli? Astaga Vincent pasti datang membawamu pergi dari situ tahu apalagi Vincent sudah benar-benar sehat!"


"Benarkah? Lagi pula aku disini kan berarti aku sudah mati..." desahku tersenyum pelan.


"Astaga kau memang gila-gilanya menyukai kematian Sani!"


"Lalu apalagi? Aku sudah capek, aku lelah, banyak yang menargetkanku dan menginginkan aku mati jadi lebih baik aku mati saja dari pada dibunuh terlihat banget aku mati dengan tidak terhormat..." gumamku pelan.


"Astaga hmmm tapi Sani... Vincent nampaknya juga mengincar Ray karena Ray melukaimu loh."


"Benarkah? Kau mau marah padaku?"


"Tentu saja tidak, aku sangat senang lagi pula kalau Ray mati... aku bisa bertemu dengan Ray."


"Oh mmm begitu ya..." desahku menatap benang merah di tanganku.


"Kenapa kau sangat sedih?"


"Vincent sudah menikah dengan wanita lain ya?" tanyaku pelan.


"Ya, kakak kembarnya yang memaksanya menikah."


"Oh begitu ya..."


"Kenapa? Apa kau sedih? Lagi pula itu hukuman yang setimpal buatmu."


"Sedih ya? Tidak juga hanya... sakit... tapi... aku senang dia bisa bahagia dengan wanita lain..." gumamku pelan.


"Tapi wajahmu tidak mengatakan hal itu, kamu benar-benar sakit kan sampai-sampai kamu mengusir Vincent keluar dari persembunyianmu, benarkan?" Tanya Sania serius.


"Ya aku mengusirnya tapi alasanku mengusirnya karena... aku tidak mau kalau aku menjadi pengganggu hubungan orang lain saja."


"Astaga hmmm kau takut seperti ibu ya?"


"Ya benar."


"Tapi kau sebentar lagi hidup Sani."


"Hidup? Bagaimana bisa?" Tanyaku terkejut.


"Kan aku sudah bilang kalau Vincent tidak akan membiarkan kau mati dengan mudah."

__ADS_1


"Haaaahh hmmm aku benar-benar sangat membenci kehidupanku..." gumamku pelan dan memejamkan kedua mataku pelan.


"Kau harus semangat hidup Sani, musuh utamamu bukan Ray tapi seorang yang benar-benar membencimu dan juga orang itu berencana akan menghancurkan seluruh hidupmu!" Ucap Sania serius tapi aku hanya terdiam memejamkan kedua mataku. Seseorang yang berencana menghancurkan hidupku? Siapa dia dan Seluruh hidupku? Apa kakakku dan ayah akan terkena rencananya itu? Hanya itu yang aku pikirkan saat ini.


__ADS_2