
Setelah mandi dan makan aku, Ray, Pangeran, Fadil dan ketiga kakakku ikut kami ke makam Satria dan kedua anakku. Aku tidak tahu dimana Satria dimakamkan hanya Fadil yang melakukannya sesuai permintaan Satria sebelum terjadi penyerangan, mungkin sebuah firasat jadi Satria memberitahukan keinginannya kepada Fadil.
Aku terus menatap keluar jendela pesawat dan terus berandai-andai, andai saja aku dulu tidak terluka, andai saja dulu aku lebih hati-hati, andai saja aku dulu tidak terpancing emosi, andai saja...
"Ibu..." gumam Pangeran di depanku yang membuat aku tersadar dari lamunanku.
"Eehh... mmm i..iya sayang..." gumamku mengusap air mataku.
"Ibu kenapa ibu menangis?" tanya Pangeran pelan.
"Eee... mmm..." gumamku menatap Ray yang sedang bermain handphone.
"Tuh ayahmu semalam memarahi ibu..." gumamku berbohong.
"Eeehh kenapa bisa aku yang disalahkan?" gumam Ray terkejut.
"Ayah! Kenapa ayah memarahi ibu? Nanti Pangeran marah kepada ayah kalau ayah jahat kepada ibu!" protes Pangeran di depan Ray.
Melihat Pangeran memarahi Ray membuatku kembali meneteskan air mataku, aku teringat Satria kembali. Andaikan Satria tidak sangat menyayangi Han dan Satria berani memarahi Han pasti dia tidak meninggal sekarang.
"Ibu...ibu kenapa menangis lagi?" tanya Pangeran menatapku serius.
"Ee...mmm tidak ada...ibu ke toilet sebentar ya sayang..." gumamku segera berjalan pergi dan masuk ke dalam toilet.
Aku menatap wajahku di depan kaca dan kembali menangis sekencang-kencangnya. Di luar aku mendengar suara pintu terketuk keras, aku segera membukanya dan melihat Soni yang berdiri di depan pintu dengan wajah khawatir.
"Ada apa adikku?" tanya Soni pelan dan aku segera memeluk Soni dan kembali menangis.
"Kamu teringat Satria?" tanya Soni pelan dan aku menganggukkan kepalaku.
"Hmmm...aku tahu perasaanmu Sani, tapi..."
__ADS_1
"Kakak... aku sangat bersalah atas kematian Satria, aku begitu ceroboh yang membuat Satria terluka, apalagi semenjak kematian Satria, aku tidak pernah ke makamnya, aku tidak pernah...peduli dengan Satria...aku sangat bodoh kakak!" tangisku keras.
"Hmmm sudahlah, jangan berpikir seperti itu. Kamu dulu sibuk dan pasti Satria mengerti, apalagi Fadil berkata kalau Satria sudah tahu kalau ayahnya akan membunuhnya suatu saat nanti karena perintah seseorang. Dan Satria sudah siap akan hal itu demi kamu, jadi jangan salahkan dirimu sendiri adikku!"
"Tapi kak..."
"Kita sudah sampai lebih baik kita turun dulu. Jangan buat Pangeran bersedih paham!"
"Hmmm baiklah."
"Baguslah, mari kita turun..." gumam Soni menarikku turun dari pesawat dan masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Pangeran tanpa berkata apapun hanya menyandar padaku seakan-akan Pangeran tahu apa yang membuatku menangis, walau aku ingin sendiri tapi aku tidak mungkin mengusir Pangeran jadi aku hanya terdiam sambil mengusap lembut rambutnya. Langit berwarna hitam seperti benar-benar akan ada badai, tapi aku tidak peduli, aku harus pergi ke makam Satria apapun yang terjadi.
Setelah beberapa jam kami berkendara, akhirnya mobil kami berhenti di ujung hutan dan kami semua turun dari mobil lalu berjalan melewati jalan setapak. Di tengah jalan setapak, aku melihat Caca dan Cici menungguku kami, mereka membungkukkan badan ke arahku dan aku menepuk lembut bahu mereka.
"Caca Cici terimakasih..." gumamku dengan suara serak.
"Eee mmm ka...kami tunjukan jalannya nona muda..." gumam Caca pelan dan aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.
"Nona muda, sudah sam...pai... tunggu siapa dia?" gumam Caca terkejut.
Di depan sebuah makam yang terletak diatas tebing aku melihat seorang pria yang berjongkok sambil terus mengusap air matanya. Melihat ada pria asing yang ada di depan makam Satria, dengan cepat Caca dan Cici mengeluarkan senjatanya. Aku segera melarang bawahanku melukai pria itu karena pria itu adalah Han.
"Tunggu saja disini..." gumamku pelan dan berjalan ke arah makam Satria, aku segera terduduk di sebelah Han dan berdoa untuk Satria. Aku tahu Han menatapku dengan tatapan terkejutnya tapi aku hanya terdiam sambil terus berdoa.
"Hmmm..." desahku menatap Han yang dari tadi menatapku.
"Kenapa dari tadi kamu menatapku?" tanyaku pelan.
"Tidak ada..." gumam Han membuang mukanya.
__ADS_1
"Mmm tidak aku sangka kamu akan berziarah juga Han."
"Dia anakku, jadi aku juga berziarah."
"Kata kamu...kamu tidak akan sempat berziarah?"
"Ya...Alan terluka parah, jadi aku sedikit bebas dari pengawasannya."
"Oh benarkah?" gumamku menaburkan bunga ke atas makam Satria.
"Ya begitulah, oh ya tumben kamu datang beramai-ramai?"
"Sebenarnya tidak, cuma mereka ingin ikut ya sudah Ray mengajaknya sekalian..." gumamku mengusap nisan di depanku sambil kembali meneteskan air mataku.
"Kamu menangis?" tanya Han terkejut.
"Tidak, aku...hanya sedih saja..." gumamku pelan, aku menghela nafas panjang dan menatap makam Satria.
"Satria... seperti keinginanmu, ibu dan ayah datang menjengukmu, apa kamu senang sayang? Ma...maaf...maaf ibu tidak bisa menjagamu dengan baik...maaf ibu belum bisa jadi ibu yang baik, maaf ibu selalu mementingkan kepentingan ibu dari pada mementingkanmu nak. Andaikan waktu bisa diputar... ibu akan berhenti jadi mafia dan menjagamu...Satria...apa Satria senang di surga? Apa Satria kesepian di surga? Apa dua adikmu nakal disana? Ja...jadilah kakak yang baik ya... jangan berantem dengan kedua adikmu ya... Ibu menyayangimu anakku...Tunggu ibu ya anakku..." tangisku kencang.
"Hmmm..." desah Han mengusap lembut punggungku.
"Satria... maaf... maaf kalau ayah juga tidak bisa menjadi ayah yang bisa melindungimu anakku. Maaf kalau ayah yang tidak berguna, maaf kalau ayah tidak bisa menjagamu dan menjaga ibumu, maaf kalau ayah benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Ayah minta maaf kepadamu Satria... ayah tidak ingin membunuhmu tapi...tapi kenapa kamu tidak mendengarkan kata-kata ayah dan malah membunuh dirimu sendiri... seharusnya... seharusnya kamu yang membunuh ayah Satria... seharusnya ayah yang pantas mati..." teriak Han kencang, saat Han berteriak tiba-tiba angin berhembus kencang, walaupun angin terus berhembus mengenai tubuh kami tapi kami tidak memperdulikannya dan kami terus menangis di depan makam Satria.
"Satria... ayah akan melakukan semua keinginanmu, ayah...ayah akan menjaga ibumu... ayah berjanji ayah tidak akan menyakiti ibumu lagi... ayah...ayah... ayah mencintaimu anakku. Ayah ingin melihatmu lagi...ayah...ayah ingin memelukmu lagi...ayah ingin berlatih denganmu lagi...ayah... ayah ingin bersama denganmu dan dengan ibu lagi seperti dulu... ayah rindu Satria... ayah benar-benar rindu!!" tangis Han berusaha memeluk makam Satria. Melihat Han yang terus menangis membuatku merasa kasihan dengannya, aku berusaha menarik tangan Han tapi Han tidak mau melepaskan tanah yang digenggamnya.
"Han sudahlah."
"Sani... bunuh aku saja...aku tidak sanggup melihat ini semua..."
"Aku tahu Han aku juga sama, tapi..." gumamku pelan.
__ADS_1
"Satria...ayah rindu Satria!!" teriak Han kencang. Melihat Han terus menangis membuatku tidak bisa melakukan apapun, aku juga sangat sedih, walau aku dendam dengan Han karena kesalahan Han tapi aku juga mengakui aku bersalah dengan Satria yang membuatku terus menangis.
Memang benar penyesalan datang terlambat dan itulah yang aku rasakan, rasa menyesal telah kehilangan anak pertamaku untuk selamanya, rasa menyesal telah kehilangan dua anak kembarku juga, aku ingin menyudahi rasa bersalah ini tapi masih saja rasa menyesal terus datang padaku yang membuatku benar-benar terpuruk.