Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 168 : Bertemu Raelan dan Ravaro


__ADS_3

Dinginnya malam dan sedikit rasa sakit di pergelangan tanganku karena aku lukai sendiri membuatku sesekali memejamkan mata dan sesekali ketiduran di bawah pohon. Disaat aku benar-benar ketiduran, aku merasa ada seseorang yang mencium bibirku lembut. Ciuman lembut itu mengingatkanku akan ciumannya Raelan di kehidupanku sebelumnya dimasa aku kecil dahulu yang aku lupakan itu.


Saat aku membuka mataku, aku melihat topeng wajah hitam dengan gigi yang taring dan mata berwarna merah keunguan tepat di depan kedua mataku. Melihat aku terbangun pria itu terkejut dan berusaha pergi tapi dengan cepat aku menggenggam tangannya dan menahan tangannya yang membuatnya terdiam kaku.


"Siapa kau?" Tanyaku pura-pura tidak mengenalnya tapi pria itu terdiam sambil terus berusaha melepaskan tangannya.


"Siapa kamu? Jawab!" Teriakku kencang tapi pria itu tetap terdiam, aku menarik pria itu yang membuatnya terjatuh dan aku segera terduduk di atasnya.


"Beritahu aku... siapa namamu?" Tanyaku dingin.


"Apa itu penting bagimu?" Tanya pria itu dingin, suara pria itu pertama kali aku dengar apalagi suaranya bernada yang berat dan dalam berbeda dengan pria lain yang kukenal.


"Tentu saja."


"Kau tidak perlu tahu!" Ucap pria itu dingin, pria itu berusaha mendorongku tapi aku langsung menggenggam tangannya dan mendekatkan wajahku di wajahnya.


"Tidak perlu tahu ya? Heeh! Apa kau takut aku akan memenjarakan pria yang menciumku secara diam-diam lagi?" Tanyaku dingin yang membuat ekspresi wajahnya berubah.


"Kenapa? Apa kau terkejut kalau aku masih ingat kehidupan sebelumnya? Lagi pula... aku tidak mau menunggu sampai pesta kelulusan tiba jadi aku datang sendiri ke wilayah utama."


"Untuk apa kau pergi ke wilayah utama?" Tanya pria itu dingin, aku melepaskan genggamanku dan membuka topeng wajah itu, wajah yang tampan dan ini kali pertamanya melihat wajahku versi laki-laki secara nyata.


"Aku... hanya ingin bertemu dengan pria yang bernama Raelan."


"Untuk apa kau ingin bertemu dengannya?"


"Aku hanya ingin meminta maaf saja."


"Minta maaf?"


"Ya bisa dibilang begitu, aku boleh minta tolong padamu...kalau kau bertemu dengan Raelan katakan kalau aku Raelyn ingin meminta maaf padanya karena kesalahanku memenjarakannya dan dia merasakan penderitaan yang menyakitkan selama masa tahanannya."


"Untuk apa kau minta maaf?"


"Yaah aku hanya merasa bersalah saja."


"Merasa bersalah? Hal itu..."


"Sudahlah... aku hanya ingin menyampaikan itu, aku tahu masuk ke wilayah utama tidak semudah itu walaupun aku tahu semua saudaraku ada disana termasuk kak Ravaro, lagi pula aku hanya buronan wilayah utama sejak kehidupanku yang lalu sampai kehidupanku yang sekarang... haish kenapa aku tidak mati sih!" gerutuku kesal dan terbangun dari tubuh pria itu.


"Seingin apapun aku mati entah kenapa tidak ada yang bersedia membunuhku, saat aku akan benar-benar mati malah kembaranku melakukan ritual terlarang yang membuatku kembali hidup dengan kehidupan yang kelam lagi!" Gerutuku kesal.


"Ya sudah ya, aku titip salam saja... terimakasih sebelumnya..." gumamku berjalan pergi tapi pria itu kembali menarikku dan memelukku erat.


"Kenapa kau memelukku?" Tanyaku terkejut.


"Tidak ada."

__ADS_1


"Tidak ada?"


"Ya tidak ada alasannya."


"Mana mungkin kau tidak punya alasan yang mmmppphhh..."


"Raelan!!! Raelan!!" Teriak seorang pria kencang, aku berusaha melepaskan ciuman pria itu tapi dia tidak memperdulikannya sama sekali.


"Raelan!!! Astaga kau malah disini!" Teriak pria lain menatap kami dengan kesal, melihat tatapannya aku terkejut kalau wajahnya benar-benar mirip dengan Revaro hanya letak antingnya yang berbeda.


"Apaan sih!"


"Apaan? Astaga kau malah... haish wanita mana lagi yang kau peluk itu!"


"Wanita yang itu..."


"Yang itu? Maksudmu Raelyn?" Tanya pria itu terkejut.


"Ya..."


"Benarkah?" Ucap pria itu senang dan mendorong pria yang dari tadi memelukku dengan kencang.


"Astaga akhirnya aku bisa bertemu denganmu adik kecilku!!" teriak pria itu kencang.


"Mmm k-kamu kak Ravaro?"


"A...aduh kakak... aku susah bernafas tahu!!" Rintihku pelan dan Ravaro melepaskan pelukannya.


"Eehh maaf, aku sangat senang melihatmu kembali. Untung Raesya dan Raetya berhasil melakukannya."


"Melakukan apa?" Tanyaku terkejut.


"Ritual terlarang, walaupun tidak sempurna bagiku tidak apa asalkan kamu masih hidup."


"Jadi kakak yang menyuruh mereka? Kenapa kakak lakukan?"


"Demi kamu, kakak ingin kamu bahagia, kakak..."


"Kalau kakak ingin aku bahagia, seharusnya kakak biarkan aku mati saja!!"


"Tidak, aku tidak akan melakukan hal itu! Penderitaanmu sejak kecil kakak tidak akan membiarkan kau mati sia-sia!"


"Tapi kakak malah membuat penderitaanku aku rasakan kembali! Aku sudah muak dengan kehidupan ini kakak!"


"Kakak tahu, tapi melihatmu menderita disaat aku tidak bisa membantumu ataupun melakukan apapun lebih sakit! Melihatmu dipermainkan, disiksa, dimanfaatkan membuat hatiku sangat sakit! Aku merasa tidak pantas menjadi kakak kandungmu, aku tidak bisa menjagamu,kau punya banyak kakak kandung atau tiri tapi mereka tidak bisa menjagamu yang membuatku sangat kesal."


"Kakak aku sudah biasa hidup sendiri dan..."

__ADS_1


"Dan kau kira aku akan membiarkan hal itu? Awalnya aku berpikir untuk memaklumi karena itu hidupmu tapi saat Satria menceritakan kehidupanmu selama kau menjadi seorang ibu membuatku sangat sedih, memang dia ingin menjagamu juga tapi dia tidak ingin inkarnasi sebagai Satria lagi, dia tidak ingin melihatmu menderita!" Ucap Ravaro yang membuatku sedih.


"Satria sampai meminta tolong padaku untuk menjagamu dan menjaga Han ayahnya tapi aku berkata aku bersedia menjagamu tapi tidak bersedia menjaga Han, awalnya dia sangat sedih tapi setelah aku jelaskan dia mulai mengerti dan tetap memintaku untuk menjagamu. Semua orang menginginkanmu mati Raelyn! Tapi kau selalu berusaha menjemput kematian itu yang membuatku sangat sedih melihatnya, kau kira aku sebagai kakak akan diam saja?" Ucap Raelan serius sedangkan aku hanya terdiam menundukkan kepalaku.


"Hei, lebih lembutlah kepada wanita!" Protes Raelan dingin.


"Kau tidak tahu bagaimana dia Raelan! Dia sangat keras kepala!"


"Ya aku tahu, tapi dia masih kecil dan..."


"Aku tahu kok, tapi kakak punya dua adik yang lain kan? Jadi untuk apa kakak mempertahankanku?" Tanyaku pelan dan Ravaro menghela nafasnya pelan.


"Kau juga adikku, aku tidak masalah kehilangan kembaranku tapi aku tidak ingin kehilangan adik kecilku. Aku merasa bersalah padamu karena kematianku membuatmu tidak pernah merasakan dan mendapatkan kasih sayang keluarga apalagi kau selalu disiksa selama kecilmu oleh paman dan keluarga, semua saudaramu membenci ayah karena keputusan ayah mengganti namamu menjadi Sani yang membuatmu harus merasakan penderitaan seperti itu, walaupun kami tahu dia ayah kandung tapi kami tidak akan memaafkan dengan mudah walaupun di kehidupan lainnya!" Ucap Ravaro kesal, aku menatap wajahnya dan wajahnya benar-benar dingin menakutkan.


"Apa itu alasannya kalian membenci ayah?"


"Itu salah satu dari beberapa alasannya."


"Apa alasan yang lain?" Tanyaku penasaran.


"Yang lain tidak penting, yang penting..."


"Itu penting! Kalau kakak menginginkanku hidup kakak harus menceritakan semua termasuk kehidupan yang lalu dan saat ini. kalau kakak tidak mau memberitahukanku lebih baik aku mati aja!" Protesku kesal dan Ravaro hanya menghela napas panjang. Tiba-tiba Raelan menggendongku dengan cepat yang membuatku terkejut, aku menatap Raelan yang kembali memakai topeng wajahnya.


"Hari sudah malam kau harus pulang... daerah perbatasan sangat rawan."


"Enggak mau! Beri tahu aku dulu!" protesku kesal.


"Tidak! Anak kecil tidak boleh keluyuran malam-malam!" Ucap Raelan dingin, aku melihat sebuah senjata di balik jubahnya dan langsung mengambilnya.


"Kalau begitu aku mati saja!"


"Heeeh! Jangan memainkan senjataku! Astaga ini anak!" Ucap Raelan terkejut.


"Beritahu aku atau enggak!!" Protesku kesal.


"Sudah aku bilang kau jangan..."


"Bodo amat! Aku tidak peduli!" Ucapku dingin.


"Sudah aku bilang kan dia sangat keras kepala Raelan!" Ucap Ravaro pelan.


"Haish... baik-baik di kerajaanku saja biar Ravaro yang menceritakannya jangan di wilayah perbatasan ini!"


"Astaga aku tidak mau menceritakan hal itu padanya!" Ucap Ravaro dingin.


"Sudahlah Ravaro, dia adikmu jadi dia juga berhak tahu..." gumam Raelan merebut senjata yang aku pegang dan berjalan pergi.

__ADS_1


"Haish kau juga menyebalkan Raelan!" Gerutu Ravaro kesal dan mengikuti Raelan dari belakang. Melihat cara berjalannya Raelan benar-benar terlihat dia adalah seorang raja yang menakutkan tapi gendongannya dan pelukannya benar-benar membuatku nyaman.


__ADS_2