Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 154 : Kebingungan


__ADS_3

Setelah aku mengetahui semua kejadian yang aku alami adalah mimpi membuatku sangat berhati-hati dalam melangkah, walaupun mimpiku tidak terlalu buruk tapi aku harus berhati-hati saat melakukan apapun untuk saat ini.


Awalnya aku mengira aku tidak sadar saat aku dilukai Rhys tapi ternyata aku salah. Saat menonton televisi di rumah sakit, aku terkejut saat melihat berita tentang pertemuan organisasi disaat setelah aku kehilangan Satria beberapa tahun lalu.


"Tunggu... a-apa? Pertemuan organisasi itu? Bukan organisasi..." gumamku terkejut, aku segera mengambil ponselku kembali untuk melihat kalender yang sesungguhnya dan terkejut kalau aku kembali ke masa lalu di mana aku kembali ke beberapa minggu setelah kematian Satria.


"Sani? Ada apa?" Tanya Fadil menatapku khawatir.


"Kak Fadil, aku sekarang umur berapa?" Tanyaku terkejut.


"Kamu masih berumur... mmm menurutmu kamu berumur berapa?"


"Aku tidak tahu makanya aku bertanya!"


"Oh mmm ya kamu masih umur delapan belas tahun."


"Tu-tunggu delapan belas tahun?" Tanyaku terkejut. "Astaga ini benar-benar tepat setelah kematian Satria!" Ucapku dalam hati.


"Ya benar, Han terus mencarimu dan..."


"Kak Fadil... temani aku!"


"Eehh temani kemana?"


"Ke ayahku, aku ingin pergi kesana!"


"Ayahmu? Kan tuan Shin..."


"Bukan tuan Shinnya tapi ayahku kandung... Valo Shin!" Ucapku serius.


"Eehh b-bagaimana kamu bisa tahu tentang tuan Valo Shin?"


"Sudahlah nanti saja kuceritakan, aku ingin bertemu dengan ayah dan kakak!"


"Oh b-baiklah, aku akan menelepon Alvaro dulu...." gumam Fadil mengambil ponselnya dan berjalan menjauh.


"Kalau Rhys dan Raechan pernah bertarung di saat aku umur dua puluh tahun berarti di umurku delapan belas tahun ini mereka juga pernah bertarung ya? Apa pertarungan nantinya adalah kelanjutan dari pertarungan mereka yang tertunda saat ini ya?" Gumamku mengambil bukuku dan saat aku akan menulis, aku terkejut ternyata catatanku di sepanjang umurku sampai umur dua puluh tahun masih ada di buku catatanku.


"Eehhh... k-kenapa masih ada catatan ini? Sebenarnya... aku berada di tahun kapan sih!" Gerutuku pelan.


"Sani, kata Alvaro nanti mereka akan datang kemari."


"Oh begitu ya..." gumamku menutup buku catatanku.


"Jadi, bagaimana kamu bisa tahu tentang ayah kandungmu?" tanya Fadil serius.


"Aku.... hanya menebaknya saja."

__ADS_1


"Tidak mungkin kalau hanya menebak dan..."


"Aku berkata serius kak Fadil!"


"Haish kaulah yang susah di tebak Sani!" Ucap Fadil terduduk di depanku


"Tidak juga, tapi hidupku yang susah di tebak..." desahku memejamkan kedua mataku.


"Sani? Anakku!!!" Teriak seorang pria kencang, aku membuka kedua mataku dan melihat seorang pria paruh baya memelukku erat.


"A...ayah?"


"Ya aku ayahmu nak, astaga kenapa kamu bisa sakit seperti ini?" Tanya ayah khawatir. Aku terdiam dan sedikit sesenggukan, aku tidak menyangka kalau kejadian itu bukan seratus persen mimpi. Entah aku yang kembali ke masa lalu atau memang selama hidupku ini hanya mimpi aku sama sekali tidak tahu dan aku sama sekali tidak mengerti.


"Dia baru sadar tuan."


"Baru sadar?" Tanya Alvaro serius.


"Ya, ceritanya dimulai saat kami melakukan pertemuan organisasi tertutup. Biasanya Sani akan menolak tapi karena keharusan membuat Sani harus ikut pertemuan, di pertemuan tiba-tiba semua terkena racun kecuali Sani karena hanya sani yang tidak bergejala. Setelah itu Sani pergi dari pertemuan karena dia tidak mau bertemu mantan suaminya. Disaat aku sembuh dari racun itu aku mencari Sani kemana-mana, eehh ternyata dia tergeletak di lantai benar-benar tanpa nafas sama sekali seperti orang mati..."


"Benarkah? Siapa pelakunya?" Tanya Alvaro serius.


"Entah, dia saja ditanya tidak ingat malah ingat kalau dia bertemu dengan kalian dan banyak pria yang mempermainkannya. Bahkan dia berulang kali di ikat oleh para pria yang membuatnya mendapatkan hukuman di berbagai organisasi, tapi dia di bebaskan oleh Redgar yang kata dia raja Kerajaan Arre..." gumam Fadil mengangkat kedua bahunya.


"Oh begitu ya..." Desah ayah menjentikkan dahiku yang membuat kepalaku pusing.


"Adduuuhh sakit ayah..." rengekku pelan.


"Melihat masa depannya sendiri?" Ucap Fadil dan kedua kakakku bersamaan.


"Ya, dia bukan tidak sadar karena kritis tapi dia memang mati. Tapi mungkin ibunya tidak terima anak kesayangannya mati membuatnya kembali ke tubuhnya dan yang membuat otaknya bermasalah."


"B-bagaimana ayah bisa beranggapan seperti itu?" Tanyaku serius.


"Ayah selain ketua mafia tapi ayah juga seorang dokter, yaah kakak pertamamu dulu pernah mengalami hal yang sama denganmu dan membuatnya pergi menghilang sampai sekarang."


"Kakak pertama?"


"Ya, namanya Revaro... banyak yang bilang kalau Revaro sudah mati tapi ayah yakin Revaro masih hidup."


"Tapi... Sani bertemu kak Revaro di alam sana dengan ibu ayah dan..."


"Itu memang masa depan anakku bukan saat ini!" Ucap ayah memotong ucapanku yang membuatku terdiam.


"Revaro tahu kalau masa depannya akan meninggal, dia berkata seperti itu pada ayah tapi Revaro tidak ingin meninggal dengan mudah seperti itu jadi dia pergi menghilang untuk mengasah kemampuannya lagi."


"Jadi ayah tahu dimana kakak berada?" Tanya Elvaro serius.

__ADS_1


"Tidak, dia menghilang dan kembali datang saat berusaha menyelamatkan ibumu. Kalau saja saat itu Sani tidak datang pasti Revaro sudah meninggal."


"Aku... kenapa aku?"


"Revaro sangat menyayangimu, dia memilih bersamamu dengan ibu karena dia menyayangimu. Tapi saat dia mengetahui masa depannya membuat dia menemui ayah dan menghilang sampai saat ini."


"Ayah, aku ingin bertanya sesuatu pada ayah..."


"Tanya apa anakku?"


"Kenapa ayah memberikanku kepada saudaranya ayah?" Tanyaku pelan.


"Itu keinginan ibumu, kami bertengkar hebat dan ibumu dulu suka bermain dengan banyak pria jadi jangan terkejut kalau kamu punya banyak saudara tiri. Jadi saat kamu dan adik kembarmu masih kecil kami bertengkar hebat dan memilih berpisah tempat untuk sementara waktu, karena ibumu membawamu membuat Revaro memilih bersama ibumu daripada bersamaku."


"Kalau begitu... kenapa ayah tidak merebutku dari mereka? Kenapa ayah meninggalkanku bersama mereka? Kenapa ayah tidak kasihan denganku?" Teriakku kesal.


"Apa maksudmu?" Tanya Alvaro menatapku dingin.


"Aku hidup menderita, saudara ayah memberikanku obat penghilang ingatan setelah anaknya yang bernama Sania itu meninggal... aku selalu dihukum dan disiksa... kalau saja aku tidak kuat pasti aku mendapatkan hukuman dan siksaan yang lebih berat... dan aku... aku benar-benar menderita... ayah bunuh saja aku..." gumamku pelan dan ayah langsung memelukku erat.


"Tidak, ayah tidak mungkin bisa membunuhmu. Ayah tidak bisa... maafkan ayah anakku... ayah kira kamu hidup bahagia selama dengan Shin tapi ternyata..."


"Aku menderita ayah! Hidupku kacau! Ditambah kehilangan anakku... aku benar-benar sangat menderita...."


"Tunggu... anak katamu?" Tanya ayah dan kedua kakakku terkejut dan aku hanya terdiam.


"Apa maksudmu? Kau masih kecil Sani!" Protes Alvaro kesal.


"Dia dijebak seseorang yang membuatnya melakukan hal itu."


"Dengan siapa?" tanya ayah serius dengan wajahnya terlihat sangat marah.


"Dengan Han dan saat itu saya tidak tahu kalau..."


"Kau wakilnya kau bersumpah untuk menjaga Sani! Kau seharusnya menjaga dia dan..."


"Ayah sudahlah!" Teriakku kesal.


"Itu bukan kesalahan kak Fadil! Itu kesalahanku! Seharusnya aku tidak perlu dilahirkan saja dulu!" Teriakku kesal.


"Maafkan ayah... ini bukan kesalahanmu. Ini kesalahan ayah, ayah seharusnya merebutmu dari ibumu...maafkan ayah.." gumam ayah memelukku erat.


"Fadil maafkan paman ya kalau paman membentakmu, paman..."


"Mmm t-tidak apa paman, Fadil juga yang salah... Fadil tidak menjaga Sani dengan baik dan..."


"Tidak, kamu sudah melakukan yang terbaik... terimakasih Fadil..." ucap ayah menepuk bahu Fadil pelan.

__ADS_1


"S-Saya kan... mmm baik paman saya akan berusaha lagi paman..." gumam Fadil sedikit membungkukkan badannya.


Aku menghela nafas panjang dan menundukkan kepalaku, aku memainkan kedua jariku dan aku bingung apa yang harus aku lakukan setelah keluar dari rumah sakit ini apalagi... aku masih belum tahu tentang kehidupanku yang sesungguhnya.


__ADS_2