
Bisa mendapatkan racun langka sangat sulit apalagi di kehidupan yang lalu Alan yang memilikinya dan Alan selalu menyakitiku dengan racun-racun tingkat tinggi sehingga tubuhku kurus kering karena tidak kuat melawan racun-racun dari Alan dan dari musuh.
Jika mengingat tubuhku yang seperti itu membuatku ingin tertawa sekarang, bagaimana bisa aku bertahan selama bertahun-tahun dengan hidupku yang mengkhawatirkan itu.
"Sani, apa yang kamu pikirkan?" Tanya Fadil mengagetkanku, aku menatap Fadil berjalan dengan Raelan dan Ravaro sambil membawa beberapa senjata di tangan mereka.
"Eehh mmm tidak ada kok..." gumamku pelan.
"Haish jangan bilang kau merencanakan bunuh diri lagi!"
"Tidak kok."
"Lalu?"
"Aku hanya tertawa saja jika mengingat kehidupanku yang lalu."
"Tertawa? Kenapa?" Tanya Fadil serius.
"Yaah kak Fadil tahulah apa yang aku alami di saat itu dan aku masih tidak menyangka saja bisa bertahan hidup bertahun-tahun lamanya..."
"Oh mmm ya seharusnya kau bersyukur, kau selalu saja ingin bunuh diri tapi untunglah kau tidak bisa mati dengan mudah."
"Tapi kan aku masih ingin untuk..."
"Husstt kamu tidak boleh berkata seperti itu!" Ucap Raelan membungkam bibirku dengan tangannya.
"Kamu anak ayah, kamu anak dari raja tertinggi di antara semua raja mafia jadi kamu harus terus hidup menemani ayahmu ini, apa kamu mengerti?" Ucap Raelan dingin dan aku menganggukkan kepalaku pelan.
"Baguslah kalau kamu mengerti..." desah Raelan melepaskan bungkamannya dan terduduk di sampingku.
"Haish untung kamu anaknya Raelyn, kalau tidak pasti kau mati di tangannya..." gumam Fadil pelan.
"Emangnya kenapa?" Tanyaku serius.
"Raelan salah satu raja yang terkuat dan terkejam, kalau bukan anaknya sendiri yang memenjarakannya pasti kamu sudah dibunuh sejak dulu Raelyn."
"Benarkah? Memangnya siapa saja raja terkuat dan terkejam itu?" Tanyaku penasaran.
"Untuk apa kamu bertanya?" Tanya Raelan menatapku serius.
"Aku hanya ingin tahu ayah."
"Nanti kamu akan tahu sendiri, sudah waktunya pesta kelulusan jadi cepatlah bersiap-siap..."
"Tidak, aku tidak mau."
"Kenapa kamu tidak mau?" Tanya Raelan serius.
"Tidak mau ayah. Aku disini saja."
"Kenapa?"
"Aku... tidak ingin bertemu siapapun."
__ADS_1
"Tapi kan ini pesta kelulusanmu anakku."
"Aku tidak tertarik dengan pesta ayah."
"Eehh kata kamu kemarin kamu ingin..." gumam Fadil menatapku serius.
"Aku hanya ingin pergi ke wilayah utama saja."
"Untuk apa kau pergi ke wilayah utama?" tanya Raelan serius.
"Apa alasanku kurang jelas... ayah!" Ucapku menatap Raelan dingin dan Raelan hanya menghela nafasnya panjang.
"Yaah ayah mengerti anakku. Ayah terima maafmu anakku..."
"Walaupun kamu anak ayah dan kamu sekarang di wilayah utama, ayah tidak akan mengekangmu melakukan apapun malah... ayah akan mengajakmu pergi ke semua pertemuan ataupun pesta yang ada di wilayah utama..." gumam Raelan memberikanku sebuah catatan.
"Itu semua jadwal ayah, karena kamu anak ayah jadi kamu bisa menggantikan ayah melakukan aktifitas itu semua."
"Benarkah ayah?" Tanyaku serius.
"Tentu saja, ayah tidak akan melarangmu melakukan apapun. Walaupun begitu ayah akan terus mengawasimu dimanapun kamu berada."
"Eehhh mmm lebih baik ayah mencari istri baru saja dari pada harus mengawasiku."
"Bagi ayah seorang istri itu tidak penting hanya seorang anak yang penting bagi ayah."
"Kenapa? Kenapa ayah berpikiran seperti itu?"
"Yaah ayah trauma dengan wanita, karena seorang wanita itulah sejak kecil ayah hidup menderita dan sampai sekarang ayah membenci wanita."
"Dan kamu berbeda, kamu anak ayah dan kamu darah daging ayah jadi ayah tidak akan membencimu."
"Ohh mmm..." desahku menundukkan kepalaku dan membaca beberapa agenda yang tertulis di buku catatan itu. "Pertemuan dengan seluruh ketua mafia wilayah utama?" gumamku dalam hati.
"Ayah, di pertemuan ini aku ikut ya?" Ucapku serius.
"Itu pertemuan penting, kamu tidak bisa ikut."
"Tapi kata ayah aku boleh ikut apapun!"
"Ya tapi kecuali pertemuan itu. Apa bisa kamu memberikan sebuah keputusan yang tepat?" Tanya Ravaro serius.
"Bisa."
"Keputusan mengenai..."
"Sudahlah Ravaro, dia memang ahli dalam memikirkan rencana dan keputusan serta senjata sedangkan aku ahli di senjata saja..." gumam Fadil serius.
"Benarkah? Anak ayah sehebat itu?" Tanya Raelan terkejut, tangan kanannya mengambil sebuah berkas di tangan Ravaro dan memberikannya padaku.
"Menurutmu? Keputusan apa yang harus ayah ambil?" Tanya Raelan serius, aku membaca berkas itu dan langsung menutupnya. Berkas itu tertulis sebuah perjanjian yang sama seperti berkas yang aku dapatkan saat aku bersama Ray dahulu.
"Tolak!"
__ADS_1
"Tolak? Itu kan penawaran bagus yang..."
"Ini hanyalah sebuah trik untuk membunuh ayah dan menjatuhkan kerajaan Arsy, di berkas ini tertulis kata-kata yang jika di hilangkan beberapa katanya akan berbunyi..." gumamku menutup beberapa kata dengan kelima jariku.
"Bunuh raja Arsy dan kuasai seluruh mafia?" Tanya Raelan terkejut.
"Yups benar sekali."
"Bagaimana kamu bisa menyimpulkan seperti itu adikku?"
"Kalimat ini sangat ambigu dan aneh jika di banding kalimat lainnya, lagi pula perjanjian itu yang tanda tangan perorangan bukan suatu organisasi."
"Oh mmm benar juga ya, astaga tidak aku sangka anakku sangat cerdas!!" Ucap Raelan senang.
"Tidak juga, aku hanya mmmpphhh..." Tiba-tiba Raelan menciumku yang membuatku terkejut, aku tahu Raelan itu ayah kandungku tapi entah kenapa disaat Raelan menciumiku aku benar-benar sangat tenang dan tanpa beban sama sekali sehingga aku tidak melawan Raelan.
"Ayah benar-benar bangga padamu anakku dan melihat kemampuanmu itu ayah percaya kamu bisa melindungi ayah, nanti di setiap pertemuan tidak hanya Ravaro tapi kamu juga yang akan memberikan keputusan kepada ayah jadi jangan protes!" Ucap Raelan serius.
"Mmmm... melindungi ayah? Apa maksudnya?" Tanyaku penasaran.
"Masalah itu mengenai..." ucap Ravaro pelan dan Raelan segera mengangkat tangannya.
"Tidak ada kok anakku... jangan di pikirkan, besok pagi ada pertemuan jadi kita harus pergi nanti malam, istirahatlah dulu...." gumam Raelan berdiri dan menarik Ravaro pergi dari kamarku.
"Mmm b-baik ayah..." gumamku pelan dan Fadil terduduk di sampingku.
"Sani, kamu tidak protes saat dia menciummu?" Tanya Fadil dingin.
"Dia ayahku, bagaimana aku mau memprotes?"
"Tapi kan aneh jika seorang ayah dan anak berciuman dan..."
"Awalnya aku protes tapi dia keluarga Kim asli kak Fadil, kak Fadil tahu kan kalau keturunan Kim asli harus menikah dengan keturunan Kim asli juga."
"Tapi kan kau percampuran darah dari keluarga lain Sani!"
"Aku tahu tapi hasil DNAku lebih besar di keluarga Kim dari pada di keluarga lain... dia terlihat sangat misterius tapi kedua matanya tidak pernah berbohong, dari kedua matanya terlihat dia menutupi luka masa lalunya."
"Yaah aku pernah mendengar dia dulunya sangat tersiksa, mungkin lebih tersiksa dari pada kamu dan saat jadi rajapun dia juga merasakan siksaan yang paling kejam loh di lembah kematian..." gumam Fadil menarikku menuju ke balkon. Di taman kerajaan aku melihat Ravaro yang memarahi Raelan habis-habisan sambil terlihat sedang mengobati tubuh Raelan.
"Kenapa kakak memarahinya?"
"Raelan lebih keras kepala darimu dan dia juga sama-sama berpenyakitan sepertimu. Dia dan Saputra itu sama memiliki kutukan yang ada di tubuhnya tapi kutukan Saputra tidak separah Raelan, sikap dinginnya dan menyebalkannya itu ditujukan karena dia ingin menutupi rasa sakitnya itu."
"Kutukan? Apa berbentuk seperti Saputra?"
"Berbeda, lihatlah sendiri..." gumam Fadil pelan dan aku terus menatap Ravaro dan Raelan dari balkon kamar.
"Iihhh kenapa kakak tidak segera pergi sih!" gerutuku kesal.
"Mengobatinya membutuhkan waktu yang lama, Ravaro memarahi ayahmu karena ayahmu melarang kamu untuk tahu penyakitnya."
"Kenapa?"
__ADS_1
"Kalau kamu sudah melihat penyakitnya kamu akan tahu apa alasannya..." gumam Fadil pelan dan aku kembali mengamati kedua pria di taman itu.
Penyakit? Penyakit seperti apa yang dimaksudkan? Dan lagi apa penyakitnya seperti Saputra yang harus membutuhkan darahku atau dengan obat yang lainnya? Aku tidak tahu dan aku benar-benar sangat penasaran.