
Hari menjelang petang, Valentino membangunkanku yang sedang tidur nyenyak agar aku segera bersiap-siap untuk merayakan pesta pernikahan kami berdua. Pesta pernikahan kami di gelar terbuka jadi walaupun dilakukan di wilayah bayangan tapi pernikahan kami disiarkan langsung di siaran televisi.
Sore hari beberapa orang bertopeng sedang sibuk mempersiapkan pernikahanku dengan Valentino, beberapa wanita merias wajahku di depan meja rias dan yang lainnya mempersiapkan gaunku. Pernikahan yang mendadak membuatku masih tidak percaya kalau aku memilih menikah dengan Valentino di umur sangat muda ini padahal aku tidak memiliki rencana menikah sangat muda seperti ini.
"Sudah nona muda, silahkan pakai gaunnya nona..." gumam wanita bertopeng itu pelan dan memakaikanku gaun berwarna putih itu serta topeng hitam di wajahku.
"Waahh kamu sangat cantik Sani..." gumam Fadil masuk ke daa ruangan.
"Oh mmm benarkah?" gumamku pelan dan Fadil mendekatkan wajahnya di telingaku.
"Sani apa kau yakin akan menikah dengannya? Tetua memang datang tapi masih terlihat tidak percaya."
"Ya, aku yakin."
"Tapi kau tidak takut kalau ini pernikahan jebakan?"
"Jika ini pernikahan jebakan memang kak Fadil kira aku tidak memiliki rencanaku sendiri?"
"Eehh haish ternyata kamu juga sama saja."
"Kak Fadil pasti mengerti tentang aku kan? Jadi jangan khawatir..." gumamku pelan dan Fadil menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku harap ini pernikahan terkahirmu Sani, aku kasihan padamu jika terus di permainkan pria..." gumam Fadil berjalan keluar kamar dan aku wajahku di cermin.
"Yaah semoga saja kak Fadil..." desahku pelan.
"Nona muda, mari acara pernikahan anda akan segera dimulai."
"Oh mmm baiklah..." desahku pelan dan kedua orang itu menuntunku perlahan-lahan keluar dari kerajaan.
Pernikahanku berada di altar yang tidak jauh dari kerajaan karena Valentino tidak ingin siapapun mengetahui tentang kerajaannya ataupun mafianya yang terkenal misterius dan menakutkan itu.
Di ujung karpet merah itu aku melihat ada dua orang yang berdiri di tengah panggung, yang satu seorang laki - laki paruh baya dengan memakai jas abu - abu ya mungkin itu penghulu pernikahan kami ini. Dan seorang lagi laki – laki yang berpakaian jas hitam rapi dan mewah di depanku. Tiba – tiba laki – laki itu berbalik menghadapku dengan tersenyum
“Raelyn” ucap Valentino tersenyum senang yang membuat para tamu terkejut melihat senyuman itu apalagi Valentino terkenal tidak pernah menunjukkan muka senangnya
Saat aku berjalan kearah Valentino dan berdiri di sebelah Valentino dan seketika Valentino menggenggam tanganku erat, tangannya bergemetar seakan Valentino sangat senang bisa menikah denganku
“Baiklah saya mulai ya..” gumam penghulu di depanku
“Tuan Valentino, Apakah kamu bersedia menikahi nona Kim Raelyn Valentina Shin dan menjadi suaminya? Baik dalam kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, selalu mendampingi di sisinya untuk selamanya, mencintai, melindunginya apapun yang terjadi tidak akan meninggalkan dia untuk selamanya?
“Saya bersedia” ucap Valentino serius sambil menatapku senang
“Nona Raelyn, apakah kamu bersedia menikahi Tuan Kim Valentino Permata dan menjadi istrinya. Baik dalam kaya maupun miskin, sehat maupun sakit, selalu mendampingi di sisinya untuk selamanya, percaya padanya, mendukungnya, tidak akan meninggalkan dia untuk selamanya?”
“Saya bersedia..” ucapku serius dan menatap Valentino dengan bahagia.
“Syukurlah, kalian sekarang menjadi suami istri yang sah mulai sekarang.” ucap penghulu senang dan tamu undanganpun bertepuk tangan saat aku dan Valentino menciumku dengan lembut.
__ADS_1
"Akhirnya Raelyn, aku memilikimu seutuhnya..." gumam Valentino tersenyum senang dan aku membalas semyumannya.
"Baiklah para tamu undangan silahkan menikmati pesta pernikahan ini!" Ucap pembawa acara senang dan para tamu undangan mengangkat gelas berisi wine dan meminumnya bersama-sama, Valentino menggenggam kedua tanganku dan sesekali mencium pipiku senang.
"Raelyn anakku..." ucap Raelan di depanku yang membuatku terkejut.
"Eehh mmm ayah..." gumamku pelan dan menatap wajah Raelan yang sangat bahagia.
"Maaf Raelyn yang..."
"Tidak apa ayah merestui pernikahan kalian asalkan Valentino bisa menjagamu dengan baik Raelyn."
"Mmm terimakasih ayah..." gumamku pelan.
"Valentino, jaga anakku yang keras kepala ini sesuai dengan janjimu!" Ucap Raelan dingin dan Valentino menganggukkan kepalanya pelan.
"Baik ayah, aku akan menjaganya dengan sepenuh hatiku. Nikmatilah pesta ini ayah..." gumam Valentino pelan dan Raelan berjalan pergi bersama Ravaro.
"Kamu memanggil ayahku dengan sebutan ayah?"
"Ya. memangnya kenapa?"
"Tidak ada, hanya sedikit aneh..." gumamku pelan.
"Ayahmu itu adalah kembaranku."
"Eehh tunggu apa? Gimana? Tunggu aku tidak mengerti!" Ucapku terkejut.
"Tunggu, bukannya Naechan dan Daechan itu kembarannya?"
"Bukan, Daechan dan Naechan itu memang kembar tapi kembaran Raelan itu adalah aku, nama kami sama hanya berbeda nama tengah saja."
"Kim Raelan Permata... Kim Valentino Permata... Tunggu!! Benar, nama kalian sama..." gumamku terkejut.
"Kan aku sudah mengatakannya tadi."
"Oh mmm pantas saja kamu mirip dengan ayah."
"Tidak juga. Kami berbeda."
"Sifat kalian sama dan mmm bagiku semua sama Valentino!" Ucapku kesal dan Valentino memelukku erat.
"Ya terserah apa kata kamu saja, sekarang kamu sudah tahu kan... Jangan beritahu siapapun jika kau ingin ayahmu tetap hidup."
"Eeh kenapa?" Tanyaku terkejut.
"Kelemahanku sama seperti Raelan, jika semua orang tahu apa kelemahanku dengan Raelan maka kami akan dibunuh dengan mudah."
"Sama seperti dulu?"
__ADS_1
"Ya benar, jadi simpanlah untuk dirimu sendiri, apa kamu mengerti?" Ucap Valentino serius dan aku menganggukkan kepalaku pelan
"Valentino, beritahu aku siapa musuhku dan musuh ayah yang sebenarnya."
"Untuk apa?" Tanya Valentino pelan.
"Aku ingin balas dendam saja."
"Oh mmm nanti aku akan memberitahukanmu."
"Eehh benarkah?"
"Tentu, aku kan sudah bilang kalau aku akan membantumu."
"Oh mmm terimakasih Valentino!" Ucapku senang dan memeluk Valentino erat.
Tatapan dan perilaku Valentino jika bersamaku saja benar-benar berbeda jika ada orang lain di sekitar kami. Tatapannya sangat menakutkan terlihat di kedua matanya walaupun para tamu terlihat takut dengannya tapi mereka berusaha menikmati pesta pernikahan kami.
"Heeii Valentino!" Ucap seorang pria di depan kami dengan santai seperti tidak takut padanya.
"Ya."
"Selamat ya akhirnya kau menikah setelah berabad-abad sendiri hahaha."
"Ya terimakasih."
"Ngomong-ngomong Raelyn? Mmm aku pernah mendengarnya di wilayah lain ya, apa dia berasal dari wilayah lain?"
"Ya benar."
"Eehh serius? Jadi kabar yang mengatakan kau menikah dengan psikopat cantik dari organisasi tersembunyi itu benar?" Tanya pria itu terkejut.
"Ya."
"Oh astaga hebat, semoga pernikahan kalian harmonis Valentino."
"Ya, terimakasih."
"Oh ya, besok lusa ada pertemuan di seluruh wilayah jadi kamu harus hadir ya, awas kalau tidak!" Ucap pria itu dingin dan pergi menikmati pesta.
"Pertemuan apa?" Tanyaku bingung.
"Pertemuan seluruh organisasi."
"Benarkah? Kenapa aku tidak tahu..."
"Kamu sudah membaca pesan dari tetuamu belum?"
"Pesan? Ponselku saja habis baterainya."
__ADS_1
"Astaga... Hmmm ya nanti setelah pesta aku beritahu kamu istriku, untuk saat ini nikmati saja pestanya..." gumam Valentino pelan dan aku meminum segelas wine dan memikirkan sesuatu.
Pertemuan? Pertemuan mengenai masalah apa dan juga kenapa Valentino hadir bukannya ketua organisasi ada pada Ryraen ya? Lalu... Hmmm aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih saat ini.