
Aku terus membenturkan kepalaku dengan keras di kaca jendela yang sangat tebal itu, walaupun darah menetes di kepalaku benar-benar tidak aku rasakan hanya rasa sakit atas penyesalanku yang masih ada di hati dan pikiranku.
"Sayang...apa yang kamu lakukan?" tanya Ray menatapku terkejut.
"Eeh mmm ti...tidak ada kok kak Ray. Kenapa kak Ray balik lagi?"
"Melihatmu tidak turun juga membuatku kembali ke parkiran. Kenapa kamu tidak turun?"
"Aku...aku tidak berselera kak Ray..." gumamku pelan.
"Kenapa kamu membenturkan kepalamu sayang?"
"Tidak ada kok kak Ray..." gumamku menundukkan kepalaku.
"Hmmm..." desah Ray naik ke atas mobil dan memelukku erat.
"Sudahlah, jangan terus bersedih sayang. Sekarang kan ada aku dan ada Pangeran, apalagi Satria sudah tenang di surga jadi jangan dipikirkan lagi."
"Aku tahu kak Ray, tapi.."
"Husst sudahlah tidak ada tapi-tapi... kamu sudah tahu kan siapa dalang dibalik ini semua jadi kita fokus balas dendam oke."
"Hmmm..." desahku mengangguk pelan.
"Jangan menyiksa dirimu tahu, kalau berdarah seperti ini nanti kamu bisa sakit bagaimana?"
"Aku tidak masalah kak Ray, aku tidak masalah sakit...aku..."
"Husst kamu tidak boleh sakit, kalau kamu sakit nanti Pangeran dan Satria bersedih bagaimana?"
"Bersedih?" gumamku pelan.
"Ya, pasti ibu yang mereka sayang jatuh sakit kan nanti mereka akan bersedih istriku."
"Hmmm..." desahku kembali menangis.
"Haish, kamu masih saja cengeng ya istriku..." desah Ray mengobati kepalaku dan memelukku erat.
"Hmmm sudahlah sayang, jangan menangis terus nanti aku juga benar-benar menangis nih!"
"Men..Menangis?" tanyaku terus sesenggukan.
"Kamu kira aku tidak bisa menangis ya? aku pernah menangis juga tahu..." desah Ray menggigit leherku.
"Uugghh be...benarkah?"
"Ya, aku juga pernah menangis. Hanya Soni yang tahu bagaimana aku menangis."
"Kenapa?"
"Aku tidak ingin siapapun tahu bagaimana aku menangis dan bagaimana aku marah, aku tidak bisa melakukannya. Jika aku menangis aku akan mengunci diri di kamar dan Soni pasti selalu mendobrak kamarku lalu menenangkanku sedangkan jika aku marah aku pasti akan membunuh orang dan Soni yang menenangkanku yang membuatku menangis juga."
"Kalau kamu marah kamu langsung menangis?"
"Ya, kemarahanku hanya awal dari kesedihanku dan membunuh hanya pelampiasan dari kesedihanku. Walaupun aku dulu pernah marah padamu tapi, tanpa kamu sadari kalau aku sebenarnya menangis Sani. Aku...aku sedih milikku diambil oleh orang lain walaupun hanya sekedar cium tapi aku tidak menerimanya!" gerutu Ray menggenggam erat tanganku.
"Hmmm...a...aku mengerti kak Ray... maaf..." desahku pelan.
"Tidak apa, itu bukan salahmu kok. Walaupun kamu mencium Han juga aku tidak menyalahkanmu. Aku hanya...mmpphhh..." desah Ray pelan, aku segera menciumnya sambil memeluknya erat.
"Aku mencintaimu kak Ray, maaf kalau aku selalu membuatmu sedih tanpa aku tahu..."
__ADS_1
"Tidak apa, asalkan kamu tetap milikku aku tidak akan menyalahkanmu istriku.." gumam Ray tersenyum kearahku.
"Kak Ray... kenapa Putri itu memanggilku ibu?"
"Kenapa kamu tadi tidak bertanya kepadanya?"
"Aku sudah bertanya dan jawabnya kalau aku lebih baik dari pada Lia. Padahal kan...aku pertama kali bertemu dengan Putri itu. Tidak hanya Putri Li tapi Putri Khun dulu juga memanggilku ibu juga."
"Mmm entahlah, mungkin insting seorang anak kuat sayang."
"Mmm ya mungkin saja, tapi aku tidak pantas dipanggil seperti itu. Aku belum bisa menjaga anakku sendiri tapi malah menjaga anak orang lain, aku tidak pantas di panggil ibu kak Ray..." desahku pelan.
"Huussttt tidak boleh bicara seperti itu, kamu pantas sayang. Kalau tidak pantas pasti Pangeran bahkan Satria tidak bangga memiliki ibu sepertimu."
"Tapi kak Ray..."
"Sudahlah, jangan dipikirkan nanti penyakitmu kambuh tahu... oh ya kamu belum makan dan minum obat tahu."
"Aku tidak selera makan kak Ray."
"Sayang, kamu tidak ingin Satria sedih kan? Jadi makanlah."
"Tapi..."
"Walaupun Satria sudah tiada tapi Satria ada di dalam hatimu, kalau Satria tahu kamu tidak suka makan dan kamu sakit-sakitan nanti Satria sedih bagaimana?" gumam Ray terus membujukku.
"Mmm baiklah... beberapa suap saja..." gumamku pelan.
"Ya... tidak masalah..." gumam Ray menyuapiku dan sesekali mencium keningku.
"Kak Ray ada disini lalu Pangeran dengan siapa?" tanyaku pelan.
"Dia dengan ketiga kakakmu, Pangeran bilang kalau wajahmu begitu pucat dan memintaku untuk menjagamu jadi ya aku disini menemanimu."
"Membenturkan kepalamu seperti itu, kalau kamu kehabisan darah bagaimana coba!"
"Tapi kan..."
"Udah tidak ada tapi-tapian, kamu istriku jadi aku harus menjagamu. Aku tahu Han masih mencintaimu padahal dia adalah kakak tirimu tapi aku tidak akan membiarkan siapapun memilikimu apa kamu mengerti!"
"Eeh kok jadi bahas Han?" tanyaku terkejut.
"Kau kira aku tidak cemburu saat kamu..."
"Suamiku, dia hanya ayah dari Satria dan tidak lebih. Melihat dia adalah kakak tiriku membuatku tidak berselera menikah dengannya lagi, lagi pula sekarang...aku milikmu dan kamu milikku."
"Walaupun begitu Han masih mencintaimu Sani!"
"Aku tahu kak Ray, Han juga mengatakan yang sama kepadaku. Walaupun Han disuruh oleh Alan tapi dendamku masih ada padanya, dia sebagai seorang ayah harusnya menjaga anaknya bukan malah membiarkan anaknya mati jadi aku juga akan membunuhnya suatu saat nanti. Jadi...bantulah aku agar aku bisa melakukannya ya..." gumamku pelan.
"Hmmm baiklah, aku akan membantumu sayang. Tapi berjanjilah untuk tidak kembali kepelukannya lagi!"
"Kalau begitu, kita menikah resmi bagaimana? Kamu bisa mengikatku seutuhnya?"
"Baiklah...setelah anak kedua kita lahir dan tumbuh dewasa kita menikah bagaimana?"
"Ya...baiklah suamiku..." gumamku memeluk Ray erat. "Hmmm kalau aku terikat seutuhnya dengan Ray...aku pasti benar-benar jadi Nyonya Khun dan aku tidak bisa bebas melakukan apapun walaupun aku memiliki kekuasaan istimewa tapi kalau tidak menikah dengannya, Ray akan terus cemburu...oh astaga apa yang harus aku lakukan..." desahku dalam hati.
"Ada apa sayang?"
"Eeeh mmm tidak ada, hanya sudah kenyang saja..." gumamku melepaskan pelukanku.
__ADS_1
"Masih beberapa sendok loh kamu sudah kenyang?"
"Ya aku sudah kenyang kak Ray.."
"Hmmm baiklah, minum obatmu..." gumam Ray memberikanku beberapa obat dan aku langsung meminumnya.
"Wajahmu pucat, kamu ingin istirahat?"
"Mmm nanti saja.." desahku kembali memeluk Ray.
"Ada apa sayang? Apa kamu tidak enak badan?"
"Tidak kok, hanya ingin seperti ini saja."
"Hmmm kamu ini ya sangat manja istriku."
"Ya, aku ingin bermanja denganmu kak Ray..." gumamku mencium Ray dan Ray membalas ciumanku.
"Eheemm... kalian ini ya, yang capek kami kalian malah bermesraan disini!" gerutu Soni menggendong Pangeran yang sedang tertidur.
"Dia tidur? Kenapa bisa di tidur?" tanya Ray terkejut.
"Kau kira dia tidak capek apa, dia mengajak kami menaiki semua wahana tahu! Umur kami sudah tua, dia saja tertidur karena kecapekan apalagi kami yang sudah tua ini!" gerutu Viu kesal.
"Oh aku kira dia kenapa, ya sesekali lah belajar membahagiakan anak kecil. Ya manatahu kalian sebentar lagi menikah kan..." gumam Ray menggendong Pangeran di pelukannya.
"Haish, kau masih saja menyindir halus Ray, oh ya ngomong-ngomong kenapa kepala Sani terbalut perban?" tanya Viu serius.
"Yaah dia membenturkan kepalanya, untung aku datang kalau tidak pasti dia pingsan karena kehabisan darah." desah Ray merangkulku lembut.
"Haish ini juga, jangan bikin ketiga kakakmu dalam masalah Sani. Kalau kamu terluka dan benar-benar mati, kami yang akan menjadi sasaran kemarahannya tahu!" gerutu Soni terduduk di tempat duduknya.
"Mmm..." desahku pelan.
"Oh ya Ray, nanti malam ada pesta dan rapat. Bagaimana dengan istri dan anakmu?"
"Tidak masalah, mereka aku ajak sekalian."
"Apa kau yakin? Nanti..."
"Tidak masalah, biar wanita-wanita itu tahu kalau aku memiliki istri dan anak. Apalagi sebentar lagi kami akan menikah resmi."
"MENIKAH RESMI LAGI?" teriak ketiga kakakku terkejut.
"Eeehh... mmm aku dimana..." gumam Pangeran terbangun dari tidurnya.
"Dimobil sayang, tidurlah lagi anakku..." gumam Ray dan Pangeran kembali tertidur.
"Astaga kalian membuat Pangeran terbangun tuh..." gumam Fadil memakan gula-gula kapas yang ada di tangannya.
"Yaah bagaimana kami tidak kaget, mereka kan sudah menikah jadi buat apa menikah lagi?" gerutu Soni dingin.
"Hanya ingin saja kok, apa tidak boleh?"
"Haish terserah kamu sajalah, aku ingin tidur. Mengikuti kemauan Pangeran membuatku sangat capek..." desah Soni tertidur di kursi sedangkan kedua kakakku yang lain juga sudah tertidur sebelumnya.
"Sayang kamu juga harus tidur ya, kamu belum tidur loh."
"Tapi kamu... juga tidur."
"Ya...aku akan tidur kok.." gumam Ray memelukku erat.
__ADS_1
"Mmm ba...baiklah..." desahku menyandarkan kepalaku di bahu Ray dan tertidur pulas.
Ya walaupun aku kehilangan Satria dan dua anak kembarku tapi benar kata Ray, aku sekarang memiliki Ray dan Pangeran. Aku harus terus berjuang untuk terus hidup dan harus terus bangkit, aku harus melakukan semua rencana yang aku lakukan dan memikirkan rencana ulang untuk membalas dendam dan menyelamatkan ayah.