
Setelah meninggalkan rumah, aku menenangkan diriku di pinggir danau yang tidak jauh dari rumah, aku duduk termenung dan menatap air yang tenang di depanku, teringat masa lalu membuatku bete bahkan aku tanpa sadar berteriak di depan anakku sendiri.
Tidak terasa aku menyendiri sudah dua hari lamanya, aku sama sekali tidak terasa lapar tapi aku merasakan rasa dendam dan sakit hati bahkan sampai saat ini. Aku tidak tahu dimana makam ayah dan juga ibu tiriku, aku juga masih belum tahu dimana San dan Samuel berada ditambah kenyataan yang mengatakan kalau ibu tiriku adalah ibunya Han dan juga Rina adalah adik kembarku. Jalan buntu...itulah yang aku hadapi sekarang.
Dua hari sebelumnya setelah aku pergi dari rumah itu, aku bertemu dengan Han di danau ini. Di sore yang tenang tiba-tiba ada seseorang yang memelukku dari belakang, aroma parfum yang sangat tidak asing bagiku. Aku melirik ke belakang dan melihat Han yang sedang memelukku.
"Apa yang kau inginkan!" gumamku dingin.
"Hanya merindukanmu, tidak lebih."
"Kenapa kamu bisa tahu kalau aku di Eropa?" tanyaku dingin.
"Aku masih suamimu, bagaimana aku bisa tidak tahu..." bisik Han pelan dan aku hanya terdiam menatap bayangan wajahku.
"AYAAH!!" teriak Satria di belakangku.
"Ohh... Satria juga ada ya..."gumam Han melepaskan pelukanku dan memeluk Satria, aku menatap ayah dan anak yang terlihat sangat rukun. Satria nampak seperti anak kecil yang bercerita dengan ayahnya sendiri, dia nampak berbeda jika bersama Sino atau Fiyoni.
"Han boleh aku tanya sesuatu?" tanyaku pelan.
"Boleh mau tanya apa?"
"Apa tuan X itu Hans?" tanyaku pelan.
"Hmmm, intinya...Kak Wan dan Hans yang melakukannya dan San, Samuel dan bersama dengan mafia penentang melakukan ini semua."
"Jadi Tuan X itu siapa?" tanyaku pelan.
"Tuan X itu...ayahku."
"Tapi kenapa kemarin Hans yang.."
"Ya intinya...ayahku yang menjadi Tuan X nya."
"Kenapa Tuan Li melakukan itu?"
__ADS_1
"Karena, ingin balas dendam kepada ibu dan ayahmu."
"I..ibu?"
"Ya...ibu tirimu itu adalah ibu kandungku. Ayah sangat membenci ibu karena dia meninggalkan ayah demi menikahi ayahmu dan membenci ayahmu karena ayahmu menerima ibuku. Ayah menganggapmu anak karena kamu dan Rina sangat mirip."
"Tunggu...Rina...kembaranku?" tanyaku terkejut.
"Ya, kalian berdua satu ibu berbeda ayah. Hasil tes DNA kamu keturunan keluarga Shin dan Rina keturunan keluarga Li."
"Mana bisa seperti itu! Kami tidak kembar!" protesku kesal.
"Apa kamu tidak menyadari kenapa Rina begitu membelamu dan sangat dekat denganmu? Itu karena dia tahu kamu kakak kembarnya."
"Ti...tidak mungkin...kalau aku dari rahim ibu tiri...jadi bisa dibilang..." desahku pelan.
"Ya, kita masih saudara tiri dan...Soni bukan kakak kandungmu tapi kakak tirimu juga..."
"Aku tidak percaya!!" teriakku kesal.
"Tanyakan kepada Fadil kalau tidak percaya." gumam Han menatap Fadil yang berdiri di bawah pohon.
"Ja...jadi...tidak mungkin!" teriakku berlari ke dalam rumah.
Kata - kata Han dan Fadil saat itu membuatku sangat terpuruk dan tidak percaya kalau Rina itu adik kembarku. Aku mencoba mencari berkas di seluruh rumah dan menemukan amplop yang berisi tes DNA milikku dan tes DNA milik Rina dan permintaan keluarga Li untuk menjadikan Rina salah satu keluarga Li.
"Tidak mungkin..." gerutuku menggenggam erat kertas itu.
"Kenapa bisa aku bisa berbeda ayah dengan Rina dianggap kembar?" gumamku membaca surat kelahiranku dan ternyata tanggal bahkan jam kami berdua hanya selisih sepuluh menit saja.
"Ya Tuhan kenapa bisa!!" teriakku masih tidak percaya, aku tidak percaya kalau tanpa di sadari aku termasuk ke dalam keluarga Li, lalu untuk apa perang mafia itu?
Mengetahui kebenaran yang sangat tidak masuk akal, aku sama sekali tidak bisa tidur dan tidak doyan makan sama sekali, Fadil mengajakku kembali ke Asia tapi aku menolaknya. Aku ingin sendirian, aku ingin merenungi diriku jadi selama 2 hari ini aku hanya terduduk sendiri di pinggir danau sedangkan Fadil dan dua bawahan Sino kembali ke Asia mengantarkan Satria pulang.
Disaat aku merenung sendiri, ada seseorang yang memelukku dari belakang, aroma parfum yang berbeda dengan milik Han, aku menoleh ke belakang dan melihat Sino yang memejamkan kedua matanya sambil terus memelukku erat.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak pulang istriku?" gumam Sino pelan.
"Kenapa kamu ada disini? Aku sudah bilang ke Fadil untuk tidak mengganggumu."
"Melihatmu tidak kembali ke rumah sebagai suamimu apa aku akan tinggal diam? Aku tidak ingin kamu kenapa-napa, Fadil menceritakan semuanya kepadaku.." gumam Sino pelan.
"Kak Sino...apa aku dan kak Soni tidak sekandung?" tanyaku pelan.
"Ya memang, tuan Shin merahasiakan darimu karena kamu anak perempuan yang di sayangi tuan Shin. Tuan Shin ingin memiliki anak perempuan tapi istri pertamanya mati dibunuh ibumu sendiri, karena ibumu bisa melahirkan anak perempuan yang hebat sepertimu membuat Tuan Shin mempertahankan ibumu dan melupakan istri pertamanya yang tidak lain ibunya Soni."
"Ta...tapi kak Sino!"
"Ya aku tau itu sangat mengagetkan bagimu tapi itu kenyataannya istriku, yang terpenting apapun yang terjadi...kamu tetap istriku." gumam Sino memelukku erat.
"Tapi kak Sino, aku...aku tidak terima, aku ..." protesku menatap Sino kesal, Sino memelukku erat dan mengusap rambutku lembut.
"Sudahlah, sekarang yang kita hadapi perang mafia sayang. Kalau tuan Li benar-benar Tuan X juga tidak masalah istriku, dia bukan ayah kandungmu jadi tidak masalah kalau dia menjadi musuhmu apalagi keluarga Li juga ikut membunuh ayah dan ibu kandungmu sendiri."
"Kak Sino, aku sangat sedih saat tahu ibu tiri itu ibu kandungku dan Rina...aku masih tidak percaya dia adik kembarku kak Sino. Aku...aku tidak tahu harus apa kak Sino, aku...aku bingung!!" tangisku keras, Sino memelukku erat dan terus mengusap rambutku yang membuat tangisku keras.
"Aku juga baru tahu dari Fadil dan Soni, ya awalnya aku kaget tapi memang itu kejadiannya. Soni kemarin bilang kalau dia mau minta maaf kepadamu karena dia tidak mengatakan yang sejujurnya kepadamu dari awal. Kalau ayahmu tidak melakukan kesalahan dengan ibumu pasti kamu atau Rina tidak akan lahir, tapi itu sudah terlanjur terjadi dan bagi Soni kamu tetap adik kandung yang dia sayangi...itu yang dikatakan Soni padaku." gumam Sino menghapus air mataku.
"Hmmm..." desahku membenamkan wajahku ke dada Sino, tangisku semakin lama semakin reda tapi pikiran dan kenangan yang bercampur aduk membuatku pusing.
"Kak Sino...aku pusing."
"Baiklah...mari kita pulang sayang,"
"Tidak bisa, aku mau ke markasku dulu."
"Baiklah kalau begitu...tapi kamu harus istirahat ..."
"Aku ingin tidur disini saja...dipelukanmu..." desahku menutup kedua mataku.
"Ya, tidurlah istriku. Setelah itu kita pulang ya."
__ADS_1
"Baik...lah.." desahku tertidur dipelukan Sino.
Beban ingatan yang aku pikirkan beberapa hari ini membuatku pusing, mumpung ada Sino di sini aku ingin tidur nyenyak di pelukan Sino kali ini.