
Saat sampai di gedung pertemuan, aku dan Fadil mengikuti pertemuan tertutup itu sedangkan bawahanku mencari barang yang harus kami cari untuk memenuhi kewajiban kami mendapatkan kekuasaan istimewa itu. Seperti dugaan kalau aku akan bertemu dengan Han di pertemuan kali ini apalagi Lia juga hadir dalam pertemuan itu, mereka berdua duduk tepat di depanku dengan romantisnya mereka berciuman di depan mataku. Melihat keuwuan itu membuatku benar-benar kesal, belum juga aku mengambil senjataku Fadil sudah menggenggam erat tanganku dan menggelengkan kepalanya.
"Tapi kak Fadil..."
"Kamu mau rencanamu berantakan?"
"Haish baik-baiklah!" gerutuku menatap alat pelacakku dan seperti informasi bawahanku kalau Ray melakukan pertemuan di gedung pertemuan ini juga.
"Ketua mafia tertinggi bagaimana pendapat anda?" tanya tetua mafia menatapku serius.
"Mmm kak Fadil yang akan menjawabnya."
"Eeh kok aku!"
"Sudahlah, tinggal jawab saja!" gumamku memainkan alat pelacak di tanganku sambil mendengarkan apa yang dibicarakan dalam pertemuan yang dihadiri Ray itu, ya walaupun ada sedikit suara wanita yang sangat mengganggu telingaku tapi aku menangkap apa yang dibahas saat ini.
"Haish jangan bilang kamu tidak memperhatikannya Sani!" gerutu Fadil beranjak dari tempat duduknya.
"Yaa...memang..." gumamku terus memainkan alat pelacakku.
Sebenarnya aku mendengarkan seluruh pertemuan itu, hanya saja aku malas menjadi perhatian dari Han itu. Aku menatap ke tengah dan melihat Fadil yang sedang menjelaskan rencana yang sudah aku beritahukan olehnya, bukan rencana yang akan aku lakukan sih. Hanya rancangan dari rencanaku saja.
"...Ya begitulah penjelasan kami dari mafia tertinggi!" ucap Fadil kembali terduduk.
"Kalau begitu...bagaimana menurutmu ketua mafia keadilan dan ketua mafia penentang?" tanya tetua mafia serius.
"Bagaimana menurutmu suamiku..." gumam Lia manja.
"Mmm...apapun rencananya terserah mafia lainnya. Aku hanya bertugas menghukum dan menegakkan keadilan saja!" ucap Han santai, melihat keromantisan itu membuatku benar-benar muak. "Astaga sungguh menjijikkan!" getutuku dalam hati sambil menatap mereka dingin.
"Oh ada apa kona mafia tertinggi? dari tadi menatap kami kesal?" tanya Han terdenyum dingin kearahku sedangkan aku tanpa berbicara apapun hanya membuang mukaku.
"Ohh ehem...ba...baiklah, waktu sudah hampir tengah malam. Kita teruskan besok pagi lagi, kasihan ketua mafia kesehatan dari tadi menguap terus..." ucap tetua mafia menatap Boy yang terus menguap.
"Maaf, saya sangat lelah. Banyak mafia yang datang ke rumah sakit mafia untuk berobat."
"Berobat?" tanya tetua mafia terkejut.
"Bemar tetua, akhir-akhir ini ada banyak penyerangan misterius dan banyak mafia yang terluka parah yang membuat kami sangat lelah melakukan pengobatannya."
"Apa karena mafia misterius yang kamu ceritakan waktu itu Sani?" tanya tetua mafia menatapku serius.
"Entahlah...coba tanyakan ketua mafia keadilan itu, dia ketua mafia keadilan kan? Jadi seharusnya dia tahu apa yang terjadi apalagi tugasnya bukan hanya menghukum saja tapi...mencari tahu kebenarannya juga!" ucapku dingin.
"Heei kau tidak sopan dengan tetua!" protes Lia dingin.
"Lalu kenapa? Apa ada hubungannya denganmu?"
"Ciiiihh!"
"Sudahlah, hmmm bagaimana ketua mafia keadilan?" tanya tetua mafia serius
"Saat ini...kami belum dapat menemukannya tetua."
"Halah alasan banget, kalau kau tidak bisa menemukannya turun saja dari mafia keadilan! Tidak ada gunanya juga!" sindirku dingin.
"Heei kau sangat tidak sopan ya dengan Tuan Han!" gerutu Lia kesal.
"Lalu apa itu masalah buatmu? Oh ya...jangan lupa kau menjadi target ketua mafia penentang loh!" sindirku dingin.
"Heeh ketua mafia penentang? Apa aku takut akan hal itu! Lagi pula kau harus dihukum Sani Shin!" gerutu Lia dingin.
"Oh benarkah?" gumamku membuka handphoneku dan menelepon Viu.
__ADS_1
"Halo...ada apa kau meneleponku saat rapat?" gerutu Viu dingin.
"Su...suara ini..." gumam Lia ketakutan.
"Ohh tidak ada, hanya menyampaikan pesan dari bawahanmu yang bersekongkol dengan musuhmu loh..." gumamku dingin.
"Pesan apa?"
"Katanya...tangkap saja kalau bisa, aku tidak takut dengan ketua mafia penentang...gitu!" gumamku santai.
"Ka..kamu!" teriak Lia ketakutan.
"Oh benarkah? Awasi dia, jangan sampai lolos. Buktikan kalau kau jadi adik yang berguna bagiku!" gerutu Viu mematikan teleponnya.
"A...adik?" tanya Lia terkejut.
"Ya...aku adik tirinya, kalau tidak percaya tanya tuh Rina atau Sina tuh!" gumamku santai.
"Benar... Kak Viu adalah kakak tiri kami..." gumam Sina dan Rina bersamaan.
"Apa?" teriak Lia terkejut.
"Ya. Kak Sani itu...kakak kembarku..." gumam Rina pelan
"Tunggu, jadi Sani itu... bermarga Li?" tanya Lia terkejut.
"Aku tidak akan menganggap Li sebagai keluargaku!" gerutuku beranjak dari kursiku.
"Mmm eee Sani jangan lupa besok ada pertemuan lagi ya, jangan lupa juga bawa catatanmu!" teriak tetua mafia keras.
"Hmmm..." desahku menutup pintu ruang rapat.
Walaupun aku tidak peduli disini dan walaupun aku tidak peduli dengan tetua mafia ataupun berani dengan siapapun, tidak ada yang berani menghukumku bahkan mafia keadilan juga tidak berani melakukannya karena aku dan Fadil memiliki kekuasaan istimewa jadi semarah apapun mereka tidak akan bisa menghukum kami.
"Sani tunggu Sani!" teriak Fadil mengejarku.
"Haish untung kita punya kekuasaan istimewa kalau tidak pasti kau sudah di kurung Han sekarang!"
"Biarlah, dia tidak berhak mengurungku!" gerutuku melanjutkan langkah kakiku.
"Kamu mau kemana?" tanya Fadil penasaran.
"Hanya ingin mengecek sesuatu saja..." gumamku membuka kamera alat pelacak di pakaian Ray.
"Tunggu...itu bukannya..."
"Ya mereka mafia elite. Jadi kita harus ikut pertemuan itu juga..." gumamku memanggil bawahanku dan bawahanku berdiri di depan lift dengan cepat.
"Tunggu, mana bisa? Kita kan..."
"Kita juga mafia elite kak Fadil... tenang saja...." gumamku mengambil barang yang di bawa bawahanku lalu mengambil lencana mafia eliteku dan memencet tombol lift.
"Oh iya kita punya lencananya juga ya hahaha aku lupa..." tawa Fadil kencang.
"Kak Fadil pakai topengmu!" ucapku memakai topengku dan verjalan keluar lift.
"Oh ya lupa, bentar..." gumam Fadil mengikutiku dari belakang.
Di depan sebuah ruang bawah tanah kami berdua di halangi oleh dua orang berbadan besar dan bermata tajam yang terlihat sangat menakutkan.
"Lencana!" ucap salah satu pria itu dingin, aku menunjukkan lencanaku dan kedua pria itu membukakan pintu untuk kami.
Di dalam ruang pertemuan, aku melihat Ray dan Soni yang sedang terduduk di sebelah Viu dan Xiao Min, sedangkan di tengah-tengah mereka aku melihat seorang wanita putih dan cantik yang terus menggoda Ray, ya walaupun Ray tidak peduli tapi kelakuan wanita itu membuatku benar-benar kesal.
__ADS_1
"Ohhh kalian datang?" teriak guru Rendy kencang.
"Haish, kenapa dia selalu menyadarinya sih!" gerutuku memberikan guru Rendi kode dan dia hanya tertawa kencang.
"Hahaha baiklah, terserah kalian. Tapi setelah ini berikan aku hasil kalian berdua! Duduklah di manapun kalian suka!" tawa guru Rendi kencang.
"Mmmm tuan ngomong-ngomong mereka...siapa?" tanya seirang pria yang berdiri di depan kami.
"Nanti kamu akan tahu sendiri..oh ya hanya itu yang kamu dapatkan?" tanya guru Rendi serius.
"I...iya tuan."
"Oh mmm baiklah... selanjutnya..." gumam guru Rendi dan maju seorang pria menjelaskan apa yang dia dapatkan, sedangkan aku hanya terdiam membaca hasil mata -mata yang didapatkan oleh bawahanku dan hasil dari penyampaian beberapa mafia elite yang aku dengar barusan.
"Bagus sekali!!" teriak guru Rendi mengagetkanku.
"Haish dia selalu saja ngomong kencang banget!" gerutuku menutup kertas itu dan mendengarkan seluruh ucapan mafia elite yang sedang berdiri di tengah-tengah pertemuan tertutup ini.
"Baiklah...silahkan Tuan Ray menanggapi semuanya!" ucap guru Rendi serius.
"Baiklah.." desah Ray berjalan ke depan dan tanpa kuduga wanita itu juga ikut maju di depan bersama dengan Ray.
"Sabar Sani sabar janngan marah..." bisik Fadil pelan.
"Aku tahu kok...aku punya rencanaku sendiri..." gumamku meremas kertas yang aku pegang. Di depan aku melihat Ray menoleh ke kiri dan ke kanan seperti orang yang sedang kebingungan dan menghela nafas panjang.
"Baiklah...menurut saya, kita kurang bukti apakah pria yang bernama X itu benar-benar mafia misterius yang membuat banyak pertarungan di dunia mafia saat ini. Lagi pula kami memiliki rencana kami sendiri!" ucap Ray dingin.
"Rencana? Apa rencana kalian?" tanya guru Rendi serius.
"Hmmm...rencana kami... melakukan penyusupan ke markas lawan dan menyerang mereka saat mereka lengah."
"Lalu apa yang akan kalian lakukan saat menyerang markas mereka?"
"Kami akan menggunakan panah beracun, pedang beracun, dan senjata yang beracun untuk melakukannya."
"Racun? Racun tipe apa yang akan kalian gunakan?" tanya guru Rendi bingung.
"Dia akan menggunakan racun milik saya tuan, racun tipe A ditambah racun tipe X yang dimiliki dia jadi kita bisa melakukannya dengan baik tuan... benarkan sayang!" ucap Wanita itu manja sedangkan Ray hanya terdiam dan tidak peduli.
"Sisil bisa tidak kau tidak seperti itu, dia sudah memiliki istri tahu!" protes Soni kesal.
"Bodo amat, apa kau kira aku takut dengan istrinya!" gerutu wanita itu dingin.
"Dia lebih kuat dari pada kamu tahu!"
"Aku pengguna racun apa yang aku takuti! Pasti aku bisa membunuhnya dan merebut Ray hahaha!" tawa wanita itu kencang.
"Haish rencana bodoh, apa mafia elite itu benar-benar bodoh?" ucapku berdiri dari tempat dudukku.
"Oh kau punya pendapat lain ya? Bagus naiklah! Oh ya terimakasih tuan Ray!" ucap guru Rendi senang dan Ray kembali duduk dengan wanita yang bagiku sangat menyebalkan itu.
"Apa kau gila Sani!" protes Fadil dan aku hanya tersenyum dingin berjalan ke tengah pertemuan.
"Baiklah bagaimana?" tanya guru Rendi serius, aku membungkukkan badanku dan terdiam sejenak.
"Hmmm apa aku boleh menunjukkannya sekarang?" tanyaku pelan.
"Tunggu, suara wanita?" tanya beberap mafia elite terkejut, mungkin karena hanya ada beberapa orang yang tahu aku saat pertemuan mafia elite saat itu apalagi mafia elite ada banyak jumlahnya."
"Yaa...aku menantikannya!!" teriak guru Rendi senang.
"Mmmm tuan tolong jangan seperti anak kecil!" gerutu tetua mafia elite disebelahnya.
__ADS_1
"Eheem baiklah, mana barangnya..." gumam guru Rendi serius, aku mengeluarkan kotak senjata itu yang membuat mafia elite terkejut.
Aku melihat guru Rendi turun dari kursinya dan menerima kotak senjata itu, dia benar-benar terlihat terkejut saat melihat kotak itu dengan serius. Ya walaupun yang mengambil barang itu bawahanku kali ini tapi aku senang saja bisa sedikit menggugurkan tanggungjawabku.