Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 173 : Siapa Pria Itu?


__ADS_3

Setelah beberapa menit Ravaro menghalangi tubuh Raelan dan akhirnya Ravaro terduduk di depan Raelan yang membuatku melihat sebuah tanda kutukan seperti Saputra yang berada di tubuhnya. Tanda itu sangat berbeda dengan Saputra apalagi tanda milik Raelan yang awalnya berwarna hitam tiba-tiba memerah tapi kembali ke warna hitam lagi.


"Sudah lihat kan?" Tanya Fadil pelan dan aku menghela nafas panjang.


"Ya, apa itu sangat sakit?" Tanyaku pelan.


"Lihatlah ekspresi wajahnya, menurutmu bagaimana?" tanya Fadil serius, aku menatap wajah Raelan dan terlihat wajah menahan sakit yang luar biasa terpancar di wajahnya.


"Oh ya aku mengerti kak Fadil..." gumamku pelan.


"Rasa sakitnya itulah Ravaro selalu memarahinya, Ravaro tidak tega melihat wajah kesakitan itu."


"Apa darahku bisa menyembuhkannya?"


"Entah, tapi jangan pernah mencoba memberikan darahmu untuknya. Raelan lebih ganas dari pada Saputra takutnya kau akan mati dalam hitungan detik!" Ucap Fadil dingin dan aku berjalan masuk ke dalam kamar.


"Heeiii! Kau dengar tidak!!" Gerutu Fadil kesal.


"Yaah aku mengerti kok... untuk saat ini..." gumamku kembali membaca catatan milik Raelan.


"Jangan bilang kau akan melakukannya?"


"Itu... tergantung kondisinya lagi pula apa kak Fadil percaya kalau Raelan itu ayah kandungku?" Tanyaku serius.


"Ya, aku percaya... bukti dari Ravaro yang membuatku sangat percaya. Apa kamu masih tidak percaya?"


"Tidak, aku tidak mempercayai siapapun sampai aku menemukan bukti yang kuat. Kak Fadil tahu kan sudah berapa lama aku mencari jati diriku dan aku selalu terjatuh ke lubang penderitaan musuh-musuhku yang membuatku memilih untuk mati di sepanjang hidupku? Hidupku kali ini hanya aku anggap sebagai keberuntungan, jadi kehidupanku saat ini hanyalah tempat aku akan membalas dendam atas penderitaanku yang lalu saja."


"Tapi kan dikehidupanmu kali ini kau bertemu orang yang dulu tidak kau temui Sani?"


"Memang, tapi entah keluarga atau ayahku sendiri aku tidak bisa mempercayainya. semua menginginkan aku mati dan bahkan di kehidupanku saat ini juga jadi sama seperti keinginanku yang lalu... jika semua sudah selesai maka aku akan memilih untuk mati saja."


"Tapi apa kau yakin?"


"Ya, tidak ada yang aku pertahankan di kehidupanku saat ini. Satria memilih untuk mati dari pada hidup denganku dan aku..."


"Tidak akan membiarkanmu mati sia-sia lagi adikku!" Ucap Ravaro berjalan kearahku.


"Eehh k-kakak? Kenapa kakak disini?" Tanyaku terkejut.


"Lalu? Kenapa kau memilih untuk mati adikku?"


"A-aku hanya..."


"Hanya apa? Hanya karena banyak yang menginginkanmu mati saja? Kau lihat kan penderitaan Raelan seperti apa? Dia dari kecil sudah menderita ditambah penyakitnya dan lagi kau memenjarakannya di lembah kematian dengan hukuman yang sangat parah... sekarang penyakitnya semakin menyakitkan kau tahu!" Ucap Ravaro dingin yang membuatku terdiam.

__ADS_1


"Dia ayahmu, ayah kandungmu dan kau sebagai anaknya juga menyiksa dia sangat kejam Raelyn? Apa kau akan seperti ibu yang tidak tahu diri?" Gerutu Ravaro dingin dan aku hanya menatap Ravaro sedih.


"Aku sudah meminta maaf masalah itu kak dan aku..."


"Kau kira maaf bisa menyembuhkannya? Kau kira dengan dia memaafkanmu membuat dia senang karena bertemu anaknya? Dia juga memiliki keinginan untuk mati tapi karena tujuannya untuk bertemu kamu di kehidupan yang lalu tidak terwujud maka dia memintaku untuk melakukan ritual terlarang agar dia bisa bertemu denganmu!"


"Tunggu, jadi itu keinginannya?"


"Ya benar sekali, sini aku beritahu kamu..." Gumam Ravaro menarik tanganku ke arah balkon dan aku melihat Raelan yang bermain senjata miliknya dan sesekali mengarahkannya kelehernya.


"Astaga ayah dan anak sama saja!" Gerutu Fadil pelan.


"Kenapa dia lakukan itu?"


"Tujuan dia sudah tercapai, dia sudah bertemu denganmu bahkan keinginannya untuk tidur bersama anak kandungnya juga sudah terlaksana jadi dia kembali memiliki niatan untuk bunuh diri."


"Hanya alasan itu?" tanyaku terkejut.


"Yaah, penderitaannya sangat menyakitkan dan dia sudah lelah untuk bertahan apalagi penyakitnya yang sangat menyakitkan, kau sudah lihat kan bagaimana penyakitnya?"


"Mmm kakak apa darahku bisa menyembuhkannya?" Tanyaku pelan.


"Kalau dulu bisa tapi kalau sekarang tidak mungkin bisa."


"Kenapa?" tanyaku serius.


"Lalu obat apa yang kakak berikan tadi?"


"Darah langka dari tahanan yang memiliki darah langka type B."


"Tunggu type B? Bagaimana kalian bisa mendapatkannya?"


"Ya dia musuh yang aku tangkap dan itu tidak banyak membantu."


"Oh begitu ya..." desahku turun dari balkon dan berjalan kearah Raelan yang sedari tadi mengarahkan senjatanya ke tubuhnya, tanpa mengatakan apapun aku terduduk di depan Raelan yang membuat Raelan terkejut.


"Eehh.. Raelyn... mmm kenapa kamu tidak tidur anakku?" tanya Raelan menyembunyikan senjatanya dengan cepat.


"Tidak ingin."


"Kau harus tidur, semalam kamu tidak tidur kan dan..."


"Ayah... kalau ayah mati apa boleh aku juga mati?" Tanyaku memotong pembicaraan Raelan.


"T-tunggu apa maksudmu?"

__ADS_1


"Yaah hanya bertanya saja bagaimana pendapat ayah tentang hal itu?"


"Tidak boleh kamu harus terus hidup dan..."


"Dan ayah ingin membuat aku kembali menderita di kehidupanku yang kejam ini? Ayah memiliki keinginan dan saat keinginanmu sudah terwujud ayah memilih untuk mati? Lalu ayah akan kembali meninggalkanku merasakan kehidupan yang kejam ini sendirian?" Tanyaku serius dan Raelan hanya menghela nafas panjang.


"Apa Ravaro menceritakannya padamu?"


"Katakan ayah? Apa ayah ingin aku kembali menjalani kehidupan yang kejam sendirian? Aku ingin mati sejak dulu hidupku benar-benar tidak berguna dan ayah ingin aku menderita lagi? Kenapa ayah sejahat itu?" Teriakku kesal.


"Jawab pertanyaan ayah. Apa Ravaro yang..."


"Ayah kenapa egois, ayah kenapa seperti ayahku yang lain hanya ingin aku menderita, kenapa tidak kalian bunuh saja aku dari pada aku merasakan penderitaan lagi? Kenapa kalian membiarkan aku terus hidup di lubang penderitaan ini? Kenapa? Kenapa!!!" teriakku memotong ucapan Raelan.


"Tidak seperti itu anakku, ayah hanya..."


"Aku benci kalian semua!!! Aku benci!!!" Teriakku kencang dan berlari pergi.


"Raelyn tunggu!!" teriak Raelan kencang tapi aku tidak memperdulikannya. Banyak bawahan dan penjaga kerajaan yang mencoba menahanku dan mengejarku atas perintah Raelan tapi mereka gagal menahanku sehingga aku pergi dari kerajaan Arsy dengan mudah.


"Huuuhh... hhuuhhh..." desahku dengan nafas yang terengah-engah dan terduduk di bawah pohon. Disaat aku mencoba menikmati suasana hutan yang hening tiba-tiba di depan ku berdiri seorang pria berjubah hitam yang sangat misterius.


"Siapa kamu?" Tanyaku dingin dan pria itu hanya terdiam.


"Terserahlah, kalau ingin membunuhku ya sudah bunuhlah!" Ucapku dingin tapi pria itu terus saja terdiam.


"Haish terserah kau sajalah..." gumamku pelan dan memejamkan kedua mataku.


"Apa kau Raelyn?" Tanya pria itu dingin yang membuatku terkejut.


"Ya, ada apa kau... uuugghhh...." rintihku pelan saat pria itu menggenggam erat leherku, aku mengambil lencana di dalam jubahnya dan menyembunyikannya di dalam sakuku.


"Akhirnya aku bisa menemukanmu gadis kecil!"


"A-Apa maksudmu?" Tanyaku terkejut.


"Kau adalah orang yang..."


"Raelyn!!!" Teriak Raelan memotong ucapan pria itu


"Lepaskan tangan kotormu dari anakku!!!" Ucap Raelan menyerang pria itu dan pria itu langsung mundur ke belakang.


"Ya sudahlah, semoga kita bertemu kembali gadis kecilku!" Ucap pria itu dingin dan aku hanya terdiam.


"Anakku, apa kau terluka? Apa ada yang terluka?" Tanya Raelan khawatir tapi aku hanya terdiam sambil menggelengkan kepalaku.

__ADS_1


"Diluar sangat berbahaya, kamu jangan pergi kemanapun tanpa ada yang menemani!" Ucap Raelan dingin dan segera menggendongku pergi sedangkan aku terus saja terdiam.


Siapa pria itu dan kenapa dia bisa tahu aku ada di tempat itu dengan tiba-tiba membuatku penasaran. Aku benar-benar ingin tahu siapa pria itu apalagi lencana miliknya berada di tanganku saat ini.


__ADS_2