
Suara burung terdengar keras di telingaku, aku membuka mataku dan menatap wajah Sanjaya yang menatapku sambil tersenyum manis. Sanjaya mengusap pipiku lembut dan mencium keningku lembut.
"Selamat pagi istriku."
"Mmm pagi juga..." gumamku tersenyum manis.
"Hmmm kamu benar-benar cantik istriku."
"Benarkah? Padahal aku tidur jelek loh."
"Kamu cantik, dan benar-benar sangat cantik."
"Hmmm kamu juga tampan sayang, oh ya kapan kita berangkat?"
"Kita tunggu Fadil, dia sedang perjalanan dengan Alvaro, Elvaro dan Vica."
"Eeehh kenapa kakakku ikut?" Tanyaku terkejut.
"Yaaah biasalah kakakmu pasti penasaran apa kamu bisa melakukannya, dia tidak pernah tahu kamu melakukan tugasmu."
"Ohh mmm apa pria di foto itu berbahaya?"
"Tidak juga, hanya saja banyak orang-orang kuat yang menjaganya jadi kamu harus hati-hati dan buktikan kepada kakakmu kalau kamu mampu melakukannya."
"Oh baiklah..."
"Oh ya ada satu lagi tugas untukmu!"
"Tugas? Tugas apa?" tanyaku terkejut.
"Tugas mengambil beberapa barang di kapal pesiar itu nanti, jadi jangan sampai kamu melupakan satu barang..." gumam Sanjaya memberikanku sebuah kertas.
"Oh baiklah, tapi nanti jangan ganggu aku sama sekali saat melakukan tugasku."
"Aku hanya mengawasimu lagi pula... nanti ada Han dan Ray juga."
"Ciiihh kenapa ada mereka sih!" gerutuku kesal, aku menggigit bibirku kuat yang membuat bibirku berdarah.
"Ckckck memangnya kau sangat membenci mereka ya?" Gumam Sanjaya mengusap bibirku lembut.
"Tentu saja dan aku... sangat kesal!" Gerutuku kesal, Sanjaya mendekatkan wajahnya dan berbicara pelan.
"Apa kau kesal karena kau tidak dianggap istri mereka?"
"Mana ada! Aku hanya..."
"Kau tidak bisa membohongiku istriku."
"Aku tidak berbohong tahu! Aku kesal karena ada alasannya, Han... dia membunuh anakku dan Ray... dia bekerja sama dengan kakak tiriku untuk membunuhku dan kau... kau juga membunuh anakku Sanjaya!" Gerutuku menatap Sanjaya kesal. Tiba-tiba pintu kamar terbuka, kedua kakakku, Vica, dan Fadil menatapku dengan tatapan terkejut tapi aku dan Sanjaya tidak memperdulikan mereka.
"Lalu... kau ingin balas dendam juga?"
"Kau kira, aku takut padamu!" Gerutuku menatap Sanjaya dingin.
"Kau kira aku juga takut padamu?" Ucap Sanjaya dingin.
"Kalau begitu mari bertarung!" gerutuku mengambil senjataku dan Sanjaya mengambil senjatanya.
"Heeii heeii astaga bisa tidak kalian tidak bertengkar seperti itu!!" Ucap Fadil mencoba melerai kami.
__ADS_1
"Apa kau!" Teriakku dan Sanjaya bersamaan, aku mengarahkan senjataku kearah leher Sanjaya dan Sanjaya juga mengarahkan senjatanya di leherku.
"Heeii kalian ini astaga..." desah Fadil menarik telingaku dan membisikkan sesuatu padaku.
"Aku dapat informasi bagus Sani..." gumam Fadil pelan.
"Apa?" tanyaku dingin, Fadil membisikkan sesuatu yang membuatku terkejut dan menghela nafas panjang.
"Oh begitu ya..." desahku pelan, aku menarik selimut itu dan langsung membalutkannya di tubuhku.
"Aku mau mandi..." gumamku dingin dan segera mandi.
"Apa yang kau bisikan padanya?" tanya Elvaro serius.
"Hanya masalah kecil saja..." gumam Fadil santai, walaupun bagi Fadil itu masalah kecil tapi bagiku adalah masalah besar apalagi menyangkut balas dendam.
Setelah selesai mandi aku segera memakai pakaian yang aku bawa dan keluar dari kamar ganti dengan tatapan kesal.
"Sani... kau serius mau memakai pakaian seperti itu?" Tanya Elvaro terkejut.
"Ya, memangnya kenapa?" tanyaku dingin.
"Astaga tapi itu pakaian yang terbuka dan..." gumam Elvaro serius, Sanjaya berjalan kearahku dan mendekatkan wajahnya kearahku.
"Kenapa kau memakai pakaian seperti itu?" Tanya Sanjaya dingin.
"Apa itu salah?"
"Tentu saja, kau mau menggoda siapa?"
"Aku tidak melakukan hal bodoh macam itu!" gerutuku kesal.
"Haish sudahlah Sanjaya... Sani memakai pakaian juga ada alasannya, lagi pula orang yang menjadi target kalian itu sangat berbahaya, kalau Sani memakai pakaian yg panjang pasti dia tidak bisa bergerak dengan mudah dan akhirnya dia akan terluka seperti saat dihutan dulu..." gumam Fadil dingin yang membuat Sanjaya terdiam.
"Huuffttt baiklah, awas saja kalau kau menggoda pria lain..." gumam Sanjaya dingin.
"Kau boleh menghukumku jika aku melakukan hal lain..." gumamku dingin dan berjalan pergi.
Di depan rumah aku memikirkan suatu rencana untuk masalah ini, Fadil tadi memberitahukanku kalau Alan atau Tian juga ada di kapal pesiar itu bahkan beberapa orang yang menjadi musuhku juga akan ada di kapal pesiar itu.
"Kau masih memikirkannya?" tanya Fadil berjalan kearahku.
"Hanya sebuah rencana aja..." desahku pelan.
"Tenang saja jangan khawatir..." gumam Fadil menarikku masuk ke dalam mobil dan diikuti kedua kakakku, Vica dan juga Sanjaya. Selama perjalanan aku terus menggertakkan gigiku dan sesekali menggigit bibirku.
"Sani, apa yang kau pikirkan?" Tanya Alvaro menatapku serius.
"Rencana... oh ya kak Fadil, kau dapat informasi lainnya tidak?" tanyaku pelan.
"Tidak, di kapal pesiar itu akan datang beberapa orang panting bahkan musuh mafia kita jadi agak susah untuk memata-matainya."
"Tapi kak Fadil tidak... uuhhhuukkk...uuuhhhuukkk..." gumamku terbatuk-batuk.
"Adikku kau kenapa?" Tanya Alvaro terkejut.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Sanjaya menatapku khawatir.
"Eehh kamu batuk berdarah loh..." gumam Elvaro terkejut.
__ADS_1
"Hilih gitu aja pada panik!" gerutu Vica dingin.
"Diam kau Vica!" gerutu Alvaro kesal.
"A... aku tidak apa kok..." desahku mengatur nafasku.
"Fadil dia kenapa?" tanya Sanjaya serius.
"Penyakitnya kambuh, dia berpikir terlalu keras jadi pemyakitnya kambuh..." gumam Fadil memberikanku sebuah obat.
"Tidak perlu, aku tidak apa..." gumamku pelan.
"Haish wajahmu pucat kau harus minum obat!"
"Tidak mau! Obat itu terasa pahit!"
"Kalau begitu minum aja darah Sanjaya."
"Tidak mau!"
"Astaga kau ini bandel ya Sani! Nanti kau pingsan lagi tahu! Kau ingin mati apa!" Gerutu Fadil kesal.
"Itu yang aku inginkan..." desahku pelan.
"Kamu mau minum sayang?" Tanya Sanjaya pelan.
"Tidak, aku tidak ingin!" gerutuku menatap Sanjaya serius, Sanjaya menggigit bibirnya kuat dan langsung menciumku dengan paksa.
"Oh astaga benar-benar pemandangan yang menyakiti hatiku yang jomblo ini..." gumam Elvaro sedih.
"Yaah makanya nanti kau cari pacar, jangan asik menjomblo terus!" Sindir Fadil dingin.
"Ciih emang kau punya pacar?" Tanya Elvaro kesal.
"Dia punya banyak pacar bahkan semua pacarnya adalah mata-mata..." gumam Vica dingin.
"Eehh astaga kau memang pemain Fadil!" teriak Elvaro terkejut.
"Pastinya lah, kau harus cari sana hahaha!" Tawa Fadil kencang dan Elvaro langsung berdebat dengan tatapan kesal. Sanjaya melepaskan ciumannya dan mengusap pipiku lembut.
"Sayang jangan terlalu dipikirkan, ada aku... aku suamimu jadi aku akan membantumu dan lagi kamu membutuhkan darahku apalagi aku meminum banyak darahmu saat di hutan kemarin jadi jangan ragu meminta darahku, apa kamu mengerti?" Ucap Sanjaya pelan dan aku hanya terdiam.
"Kamu mengerti atau tidak?"
"Tapi..."
"Sayang, aku suamimu... kamu melihat kan benang merah di tangan kita terhubung jadi kenapa kamu ragu denganku?"
"K-kamu melihatnya juga?" Tanyaku terkejut.
"Tentu saja, aku juga pernah mati sekali tapi Fadil yang menyelamatkanku dengan memberikanku darahmu."
"Benarkah? Tapi kenapa kita bisa melihatnya?"
"Karena pernah mati suri jadi bisa melihatnya apalagi rasa penasaranku dan penasaranmu tentang hubungan ini sangat besar. Aku sangat mencintaimu istriku, walaupun semua tugas yang kamu lakukan itu akulah yang memberikannya tapi aku juga memikirkan keselamatanmu, jadi jangan khawatir sayang ada aku..." gumam Sanjaya menatapku serius.
"Hmmm terimakasih tetua dewan..." gumamku menganggukkan kepalaku pelan.
"Aku lebih suka kamu memanggilku dengan panggilan romantis dari pada formal seperti itu..." gerutu Sanjaya kesal tapi aku hanya tertawa pelan dan Sanjaya ikut tertawa denganku. Aku menggenggam erat tangan Sanjaya dan menatap Sanjaya dengan senang bahkan Sanjaya juga menatapku senang.
__ADS_1