
Selama seharian aku dan Ray bercinta yang membuat tubuhku terasa sakit semua dan juga lemas, Ray juga seharian tidak melakukan apapun dan hanya berbaring menemaniku, saat aku sedang tidak ingin melakukan apapun ponsel Ray berdering keras yang membuatku terbangun dari tidurku.
"Oohh begitu, lanjutkan mencari informasinya!" Ucap Ray dingin dan mematikan telepon itu.
"Siapa itu?" Tanyaku pelan.
"Ren."
"Ren? Kan Ren sedang mengawasi ayah!"
"Memang, beberapa kali bawahan dari musuh mendatangi kerajaanmu."
"Benarkah?" Ucapku terkejut dan aku langsung mencari ponselku. Aku menghidupkan ponselku dan melihat banyak pesan dari Raelan, aku membaca satu persatu pesan itu dan sedikit tenang karena Raelan tidak mengetahui apa yang terjadi.
"Ada apa?" Tanya Ray serius.
"Mmm tidak ada, ayah tidak tahu apapuj yang terjadi. Ayah bercerita tentang yang dialami dirinya beberapa bulan ini dan... Ternyata ayah ikut pertemuan tetua ya?"
"Ya, Raelan menemani Valentino yang merupakan tetua organisasi Tersembunyi."
"Oh begitu ya, Ray boleh tidak aku ikut denganmu di pertemuan nantinya?" Ucapku polos.
"Boleh, kamu malah di wajibkan ikut oleh tetua agung yang lain."
"Benarkah? Kenapa begitu?"
"Karena kamu kamu harta terindah yang kami punya."
"Tapi sekarang aku lemah dan..."
"Kamu tidak lemah, mari aku ajari kamu dan latih kamu kembali!" Ucap Ray memakaikan pakaianku dan menarikku pergi.
"Melatihku? Apapun?"
"Tentu, aku akan ajarkan kamu teknik pengelakan teknik terlarang."
"Apa teknik itu mirip dengan Valentino?"
"Teknik Valentino adalah teknik dasar sedangkan aku akan mengajarkanmu teknik lanjutan agar kamu bisa menguasai semua teknik mafia."
"Apa kamu satu-satunya orang yang bisa pengelakan teknik terlarang?" Tanyaku serius.
"Ya, itulah kenapa aku bisa menjadi tetua agung walaupun aku cuma wakil mafiamu."
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
__ADS_1
"Ya, baiklah mari aku akan mengajarkanmu semua teknik untuk mengembalikan jati dirimu!" Ucap Ray serius dan Ray langsung mengajariku semua teknik yang ia kuasai.
Berbulan-bulan lamanya Ray mengajariku semua teknik yang dia kuasai, tanpa mengeluh sama sekali Ray mengajariku sampai akhirnya aku bisa menguasai satu persatu teknik yang belum pernah aku pelajari sama sekali.
"Bagus lanjutkan!" Ucap Ray terus mengajariku semua teknik yang ia bisa.
"Haahhh capek Ray!" Desahku menjatuhkan diriku dan Ray langsung menahan tubuhku.
"Ya sudah kita istirahat dulu..." gumam Ray mengelus lembut perutku.
"kamu harus menjaga dirimu tahu, aku tidak ingin kau dan anak kita terluka..." gumam Ray mencium keningku dan tersenyum manis kearahku.
"Yaahh baiklah, oh ya kapan kamu akan pergi ke pertemuan?"
"Nanti hari ini, mari kita bersiap-siap!" Ucap Ray menarik tanganku pergi ke ruang latihan.
"Mmm Ray nanti aku ingin bertemu ayah dulu, boleh kan?" Tanyaku pelan dan Ray mengangguk pelan.
"Boleh tapi sebelum pertemuan aku akan menemanimu."
"Eehh mmm tidak perlu, kamu tetua agung jadi tidak mungkin aku mengajak tetua agung bersamaku lagi pula aku hanya ingin bertemu ayah saja."
"Oh mmm baiklah aku akan mengawasimu dari jauh..." desah Ray pelan.
"Ya jangan khawatir Ray!" Ucapku serius Ray mendorongku ke dinding dan menatapku serius.
"Kau boleh menghukumku dengan 5000 cambukan jika aku melakukan itu!" Ucapku serius.
"Hmmm baiklah." Ray menarikku masuk ke dalam kamar dan kami segera bersiap-siap. Saat semua tahu kawin kontrakku dengan Ray dan juga seluruh organisasi pusat tahu aku sedang hamil anak Ray membuat mereka menganggap kami berdua menjadi pasangan suami istri apalagi Ray memiliki posisi tertinggi dariku.
"Ray Valentine! Apa kau belum selesai?" Teriak seorang di deluar kamar dengan kencang. Ray membuka pintu kamar dan muncul tetua agung yang sedang berdiri dengan tatapan kesal.
"Saya sudah siap tetua agung..." gumam Ray menarik tanganku keluar kamar.
"Tunggu Ray! Fadil mana?"
"Dia sudah berada di mobil."
"Oh hmmm baiklah tetua agung."
"Sani, sebelum pertemuan kau harus tetap di wilayah pusat jika kau bermain ke wilayah musuh maka aku akan mencambukmu 1000 kali!" Ucap tetua agung dingin.
"Tapi tetua..." Ray menggenggam erat tanganku yang membuatku terdiam.
"Jika sebelum pasti kau akan dimanfaatkan apalagi kau pernah menjadi anggota mereka jadi kau tidak boleh menemuinya sebelum pertemuan dimulai apa kau mengerti!" Ucap tetua mafia serius.
__ADS_1
"B-baik tetua agung..." gumamku mengikuti tetua agung menaiki mobil dan mobilpun jalan dengan kencang.
Tidak berapa lama kami berkendara, kami berpindah ke sebuah pesawat yang besar dan mewah dan mobil langsung parkir di dalam pesawat besar itu.
Sepanjang perjalanan Fadil berbincang dengan tetua agung dan tetua wakil sedangkan Ray terus berdua bersamaku dan sesekali tangan jahilnya meraba tubuhku di balik pakaian yang aku kenakan.
"Ray j-jangan aku nanti..." gumamku pelan tapi Ray mencium leherku yang membuatku geli.
"Ray kamu benar-benar membuatku sangat nafsu, aku..." gumamku pelan Ray mendudukanku di depannya sedikit membuka resleting celanannya.
"R-Ray jang uugghhh..." rintihku menutup bibirku dengan tanganku.
"Sani ada apa?" Tanya tetua agung menatapku bingung dan tetua lain juga menatapku bingung, melihat mereka menatapku aneh aku langsung menahan desahanku dan mencoba tidak terjadi apa-apa.
"Ehhh ee t-tidak ada apa-apa tetua agung..." gumamku pelan dan mereka kembali membahas hal yang lain.
"Raayy akkhh hentikan nanti uugghhh..." rintihku pelan dan Ray menghentakku kuat sambil memegang dadaku kuat. Tubuhku langsung lemas dan Ray terus memelukku dari belakang.
"Kalau hamil kamu sangat nikmat ya istriku..." bisik Ray pelan dan Ray kembali menciumku.
"Ray celanaku basah."
"Benarkah?" Gumam Ray menarikku ke toilet dan kembali mempermainkanku, tiba-tiba pesawat goyang dengan kencang karena terjadinya turbulensi, aku memegang dinding toilet dan Ray terus mempermainkanku.
"Aaakkhh Ray Aku mmmpphhh..." Ray membungkam bibirku dengan tangannya.
"Sani! Kau didalam? Sebaiknya kembalilah duduk sedang terjadi turbulensi!" Teriak tetua agung kencang.
"Pergilah! Uuugghh..." rintih Ray kencang.
"Ohh mmm kalau sudah selesai segera kembali Ray!" Ucap tetua agung pelan.
"Ray tadi ada tetua agung tahu dan uugghh..."
"Apa peduliku?" Ray terus mempermainkanku sampai akhirnya terdengar suara dari pengeras suara kalau kami sampai di kota tujuan.
"Aakkkhh haaah haaahh..." desah Ray dan aku bersamaan. Ray memakaikan pakaian untukku dan kembali menciumku.
"Terimakasih istriku..." gumam Ray pelan dan menarikku keluar dari toilet.
"Astaga kalian lama sekali apa yang kalian... Oh ya sudahlah..." desah tetua menatapku dan berjalan mendahuluiku.
"Sani jangan bilang kau dari tadi bermain dengan Ray?" Tanya Fadil serius.
"Ya begitulah."
__ADS_1
"Setiap hari kalian bercinta apa tidak lelah?"
"Yaah mau bagaimana lagi..." desahku pelan dan turun mengikuti orang-orang di depanku. Mengetahui jarakku dengan Ray jauh membuat Ray menggenggam tanganku sambil terus berjalan, genggaman tangan halusnya benar-benar tidak di lepaskannya dari tanganku.