
"Bagaimana? Apa pintu Raelyn sudah terkunci?" Tanya Fadil serius.
"Sudah, dia sepertinya sudah tidur!" Ucap wanita di depan Fadil serius.
"Oh syukurlah, jadi apa yang biasa kalian lakukan?" Tanya Fadil serius, tanpa mengatakan apapun pria di sebelah Fadil langsung mendorong seseorang pria kearah Saputra dan dengan cepat Saputra menggigitnya sampai pria itu meninggal.
"Hei apa yang kau lakukan!" Protes Fadil kencang.
"Itu yang biasa kami lakukan."
"Itu adalah hal paling gila yang pernah aku temui!"
"Mau bagaimana lagi, dia akan seperti itu sampai matahari muncul!"
"Ciihh kurang beberapa jam lagi!" gerutu Fadil menatap jam tangannya.
"Apa kau punya rencana lainnya?" Tanya wanita di depan Fadil serius.
"Aku bukan perencana tahu! Yang bisa memiliki rencana hanya Raelyn!"
"Kalau begitu kenapa tidak meminta bantuannya?"
"Apa kau gila? Dia tidak boleh tahu apapun!" gerutu Fadil dingin dan mereka semua berusaha menenangkan Saputra.
"Haish..." desahku mengambil jarum biusku dan mengenai mereka semua bahkan Saputra juga.
"Eeehhh k-kenapa kakiku tidak bisa bergerak?" Teriak wanita itu terkejut.
"K-kakiku juga!"
"Ini pasti... Sani! Kenapa kau masih belum tidur!" Protes Fadil menatapku dingin.
"Yaaahh ketahuan ya..." gumamku dingin.
"Kau... cepat kembali ke kamar!" teriak Fadil serius.
"Kalau aku menolak kenapa?" gumamku turun dari pohon yang membuat semua orang terkejut.
"Ba-bagaimana bisa dia keluar?"
"Alasannya simpel, kalian tidak mengunci balkon jadi mudah untukku melarikan diri..." gumamku merebut senjata Fadil.
"Heeeii apa yang kau lakukan?" Protes Fadil kesal.
"Hanya ingin bermain-main dengan teman lama kok..." gumamku menggoreskan lenganku dan darahku mengalir deras.
"Hei! Apa kau tidak menginginkan darahku Redgar..." gumamku meneteskan darahku di bibir Saputra.
"Sani!! Apa kau gila? Nanti dia..." teriak Fadil kencang dan tidak memerlukan waktu lama Saputra berhasil mengalahkan obat biusku itu dan mendorongku ke tanah. Saputra langsung menggigitku yang membuat semua orang terkejut.
"Hmmm..." desahku memeluk Saputra dan mengusap lembut rambutnya.
Selama beberapa jam Saputra meminum darahku sedangkan aku hanya terdiam di bawahnya. Saputra melepaskan gigitannya dan menatapku dengan air mata yang mengalir di sudut matanya.
"Ada apa?" Tanyaku pelan.
"Kenapa kamu lakukan itu?" Tanya Saputra pelan.
"Tidak ada alasannya."
"Kau ingin mati apa?"
"Tidak juga, aku hanya ingin membantumu saja."
"Kamu menyelamatku lagi dan aku..."
"Tidak perlu dipikirkan dan lagi..." gumamku membuka topeng hitam di wajahnya.
__ADS_1
"Wajahmu sangat tampan yang mulia, jangan tutupi lagi wajah tampanmu... apa kamu mengerti?" gumamku pelan dan Saputra hanya terdiam sambil terus meneteskan air matanya.
"Apa kamu mengerti?" Tanyaku serius dan Saputra berusaha tersenyum kearahku sambil menganggukkan kepalanya.
"Baguslah... kamu tidak mau lagi?"
"Tidak, aku sudah kenyang... ngomong-ngomong... kenapa mereka terdiam seperti patung begitu?" Tanya saputra bingung.
"Oh ya aku lupa..." gumamku menjentikkan tanganku dan semua orang dapat menggerakkan kembali kaki mereka.
"Aaahhh akhirnya bisa digerakan lagi!" Teriak bawahan Saputra senang sedangkan Fadil menarik telingaku dengan kuat.
"Aaauu s-sakit kak Fadil!" rintihku kesakitan.
"Kau benar-benar bandel ya Sani! Kau selalu melakukan hal bodoh yang..."
"Hei! Lepaskan tanganmu dari istriku!" protes Saputra menepis tangan Fadil dan memelukku erat.
"Kau masih saja memanjakannya Redgar!!!" Protes Fadil kesal, Redgar adalah nama samaran mafia dari Saputra dan jika Fadil kesal pasti dia akan memanggil nama samaran mafia orang lain dari pada nama aslinya.
"Biarlah, dia istriku!" Gerutu Saputra dingin dan mereka berdua terus berdebat dengan nada tinggi mereka.
"Hmmm istri ya?" gumamku mengusap tanda kutukan di pipi Saputra lembut.
"Ada apa?"
"Kenapa kamu menyebutku istrimu?" Tanyaku pelan.
"Karena... kamu milikku."
"Tapi kan..."
"Aku tidak peduli masa lalumu sedangkan aku sendiri memiliki masa laluku yang kelam sendiri."
"Oh hmmm apa kamu memiliki anak?" tanyaku pelan.
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
"Ada apa? Apa kamu malu?"
"Tidak, aku juga memiliki anak. Salah satu anakku meninggal dan anakku yang lain tidak tahu kemana."
"Kenapa kamu tidak tahu?"
"Mereka ikut ayahnya dan tidak ikut denganku."
"Oh begitu ya...." desah Saputra menggendongku kembali ke dalam kamarku.
"Mmm maaf ya aku mengganggu malammu..." gumam Saputra pelan.
"Tidak kok."
"Baiklah tidurlah dulu sebelum matahari terbit istriku..." gumam Saputra pelan dan berjalan pergi tapi aku langsung menggenggam tangannya dan menahan tangannya.
"Temani aku."
"Tapi kan..."
"Kalau kau menganggapku istrimu kamu harus menemaniku!" Ucapku dingin.
"Hmmm baiklah..." desah Saputra pelan dan berbaring di sampingku.
Wajah Saputra sangat tampan, walaupun terdapat tanda di wajahnya tapi wajah tampannya masih saja terlihat. Aku mengusap lembut pipi Saputra sedangkan Saputra tidak bereaksi sama sekali karena Saputra sudah tertidur pulas di sampingku.
"Apa darahku membuatnya tertidur pulas seperti ini ya?" Gumamku bingung.
"Sa... eeehh kenapa dia disini?" Ucap Fadil terkejut.
__ADS_1
"Huusstt, jangan membangunkan dia kak Fadil. Ada apa?" Tanyaku pelan.
"Itu... ada kabar dari tetua..." gumam Fadil memberikanku selembar kertas.
"Ohhh aku dapat cuti ya?" Gumamku pelan.
"Ya, jadi jangan pikirkan tugas tetua yang terakhir untuk saat ini..." gumam Fadil pelan.
"Baiklah tapi... ada sesuatu yang masih menggangguku..." gumamku beranjak dari tempat tidur dan terduduk di sofa.
"Apa itu?" Tanya Fadil bingung.
"Tanda di leherku menghilang dan gelang tahanan dari Rhys langsung terlepas dari tanganku setelah Saputra menciumku, aku bingung kenapa bisa seperti itu, apa kak Fadil tahu?"
"Oh benarkah? Kalau seperti itu baguslah."
"Apa kak Fadil mengetahui tentang hal itu?"
"Entah, aku tidak tahu. Tidak perlu kamu pikirkan, lebih baik kau istirahat saja..." gumam Fadil berjalan pergi.
"Lebih baik kau yang istirahat kak Fadil..." gumamku pelan. Aku mengambil buku catatanku dan kembali menulis beberapa rencanaku.
"Kau masih saja suka menulis rencana bunuh dirimu ya istriku..." ucap Saputra didepanku, aku mengangkat wajahku dan terkejut melihat Saputra yang menatapku sangat dekat.
"Eeehh astaga kau membuatku terkejut tahu!" protesku kesal tapi Saputra hanya tersenyum manis kearahku.
"Kenapa kamu tidak tidur sayang?" Tanya Saputra terduduk di sampingku.
"Aku memang jarang tidur dan kamu tahu akan hal itu."
"Apa kamu tidak mengantuk?"
"Tidak, aku hanya... uuhhuukk..uuhhhuukk..."
"Eehh kenapa kamu terbatuk-batuk?" Tanya Saputra khawatir.
"T-tidak apa kok, aku hanya sedikit lelah saja..." gumamku pelan sambil terus terbatuk-batuk.
"Eehhh darah? Eehh kamu batuk berdarah sayang!" Ucap Saputra terkejut, Saputra langsung pergi mengambil tisu dan mengusap hidungku lembut.
"Hei Fadil!" Teriak Saputra kencang dan Fadil berjalan kedalam kamar dengan seorang wanita.
"Ada apa?"
"Kau bawa obat dia? Dia terus saja batuk berdarah..."
"Hmmm pasti dia tidak tidur dari tadi! Dia seperti itu jika dia kecapekan, tidak tidur, telat makan, atau dia sedang berpikir pasti penyakitnya akan kambuh apalagi semalam kau minum banyak darah Sani pasti penyakitnya kambuh."
"Apa tidak ada obatnya?"
"Ada tapi hanya sementara dan pasti akan kambuh lagi, dia hanya membutuhkan darah khusus saja."
"Darah khusus?"
"Yaah mungkin darahmu bisa menyembuhkannya, baiklah jaga dia ya... aku ada urusan dengan adikmu ini..." gumam Fadil berjalan pergi.
"J-jangan lakukan padaku!"
"Kenapa?"
"Aku tidak apa, jadi jangan lakukan!" Ucapku serius.
"Tapi kamu harus meminum darahku Raelyn!"
"Aku tidak... mmmpphhh..." Saputra langsung menciumku dengan cepat, aku mencoba memberontak tapi pelukannya sangat kuat yang membuatku tidak bisa melawannya.
"Aku mohon padamu, minumlah darahku. Kamu berulang kali menyelamatkan nyawaku! Aku hanya ingin melakukan hal yang sama padamu, tolong menurutlah denganku..." ucap Saputra pelan, tatapannya terlihat sangat sedih aku menghela nafas panjang dan mengigit leher Saputra dan meminum darahnya.
__ADS_1
Darah Saputra sangat terasa manis bagiku bahkan lebih nikmat dari darah pria yang memiliki darah langka lainnya. Seperti sedang menahan sakit aku merasa kalau bibir dan tangan Saputra bergetar hebat, saat aku berusaha melepaskan pelukan Saputra tapi Saputra malah memelukku erat, tapi lama kelamaan tubuhku kembali santai dan aku tidak merasakan sakit lagi sekarang.