Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 63 : Mencoba Menerima Ray


__ADS_3

Disebelahku Ray terus mencium dan tidak melepaskan pelukannya padahal dia sedang mengobrol dengan ketiga kakka tiriku.


"Kak Ray, sebenarnya... Putri itu anak siapa?" tanyaku pelan.


"Dia anak Sina dengan Fiyoni."


"Lalu Rafaela itu?"


"Halah dia hanya mengaku-ngaku suami Fiyoni."


"Oh begitu ya, mmm kak Ray apa kamu tadi mengikatku dengan janji jiwa istimewa?" tanyaku pelan.


"Ya, sebelumnya kamu hanya terikat janji jiwa biasa dengan Sino dan Fiyoni karena mereka sudah terikat janji jiwa istimewa dengan istri mereka."


"Be...benarkah?" tanyaku terkejut.


"Apa kamu tidak menyadari kalau tanda di leher kalian berbeda?"


"Mmmm aku... tidak, aku tidak menyadarinya."


"Ya sudah tenanglah istriku, kamu sekarang milikku kalau butuh apapun bilanglah kepadaku apa kamu mengerti?"


"Ya aku mengerti kak Ray." gumamku pelan dan kembali melamun.


"Oh ya jadi Sani... bagaimana dengan penawaranku?" tanya Viu serius.


"Eeehh mmm gimana kak?" tanyaku terbata-bata.


"Haish, jangan bilang otakmu jadi ngeblank karena mendengar apa yang terjadi?"


"Mmm maaf aku masih benar-benar terkejut..." desahku pelan.


"Tidak apa sayang, seharusnya Soni memberitahukanmu saat kamu masih anak-anak tapi dia terus beralasan tidak berani cerita kepadamu!" gerutu Ray kesal.


"Sudahlah kak Ray, bukan salah kak Soni. Aku yang selama ini tidak memperhatikan sekitarku saja..." gumamku pelan dan beranjak berdiri.


"Masalah aku mau bekerjasama atau tidak, aku akan memikirkannya nanti..." gumamku beranjak dari tempat dudukku.


"Waktu hampir malam, aku ingin makan di aula sekarang."


"Kamu harus memberikanku kepastian besok Sani!" ucap Viu serius.


"Ya, besok aku akan memutuskannya..." gumamku menutup pintu ruang VVIP itu.


Aku melangkahkan kakiku menuju ke bar yang pintunya tidak jauh dari ruang VVIP itu, aku memesan wine dan duduk di pojok ruangan sambil mengamati sekitarku.


"Huuuhhh..." desahku memejam mataku dan meneguk minumanku.


"Kamu ternyata suka wine ya istriku?" gumam Ray terduduk di depanku.


"Ya begitulah, kenapa kamu bisa tahu aku ada disini?" tanyaku terkejut dan Ray hanya menunjuk cincin yang dia gunakan.


"Lalu apa hubungannya?"


"Cincin itu dibuat khusus oleh ayah, jika sudah benar terikat maka aku bisa mengawasimu dimanapun kamu berada."


"Buat apa kamu mengawasiku? Memangnya aku penjahat ya?" gumamku meneguk kembali munumanku.


"Ya, kamu penjahat...penjahat cinta yang membuatku jatuh hati kepadamu, padahal dulu aku pernah protes karena aku dijodohkan dengan wanita lemah yang tidak aku inginkan. Tapi ternyata kedua adikku yang bodoh itu menginginkanmu dan membuatku penasaran sebenarnya siapa dirimu. Setelah dewasa aku mencari tahu tentang dirimu ternyata kamu tidak selemah yang aku kira bahkan kamu setara denganku..." gumam Ray meminum minuman wiski di depannya.


"Kamu suka wiski ya?"


"Ya, dari pada wine aku lebih suka wiski."


"Tapi kadar alkoholnya 30 persen, bisa membuatmu mabuk tahu."


"Tidak juga, wine dengan kadang alkohol 35 persen itu hampir sama dengan wiski yang beralkohol 30 persen."


"Aku sudah terbiasa." gumamku pelan.


"Oh ya kenapa kamu berada dipojokan?"

__ADS_1


"Tidak apa hanya ingin saja."


"Kamu tidak ke ruang sebelah?"


"Ruang sebelah? Ruang apa itu?" tanyaku pelan.


"Tempat judi."


"Aku tidak tertarik."


"Aku mau main, kamu mau ikut?"


"Kalau ingin main, mainlah dengan orang lain jangan mengajak aku. Aku tidak bisa."


"Aku akan mengajarimu."


"Tidak mau, aku tidak mau aku terjebak olehmu."


"Menjebak istri sendiri? Tidaklah, aku hanya ingin mengajarimu balas dendam. Kamu ingin tahu kan siapa yang bermain judi dengan ayahmu dan menjebaknya?" gumam Ray tersenyum dingin ke arahku.


"Memangnya dia ada disana?" tanyaku terkejut.


"Ya, dia dikenal dengan sebutan raja judi. Tapi kalau bermain denganku dia selalu kalah dan tidak ingin bermain lagi."


"Tapi...tidak ah terimakasih, kalau kamu benar suamiku kamu seharusnya bisa membawakan apa yang dia punya dan bawa dia untukku sebagai bentuk balas dendam istrimu yang lemah ini." gumamku pelan.


"Tidak masalah, tapi aku harus mendapatkan imbalan akan hal itu."


"Apa imbalan yang kamu inginkan?" gumamku dingin. "Haish masih saja suka meminta imbalan gerutuku kesal salam hati.


"Tenang saja bukan uang kok, hanya menginginkanmu malam ini bagaimana?"


"Maksudnya?" tanyaku terkejut.


"Kamu istriku, kamu harus tidur denganku tahu, aku bosan tidur sendiri mulu!" gerutu Ray kesal.


"Tapi...baiklah, dalam waktu satu jam." gumamku pelan.


"Astaga ternyata dia lebih polos dari pada aku, gitu dia bilang lebih polos aku dari pada dia.." gumamku menuangkan minumannya ke gelasku dan mencobanya.


"Ternyata manis juga rasanya.." gumamku pelan.


Aku membuka catatanku dan menulis di buku catatanku tentang hasil yang aku dapatkan hari ini. Sambil menunggu Ray aku kembali meminum minumanku sampai aku habis empat botol wine.


Tepat sesuai perjanjian, Ray membawa pria tua ke bar dan mendudukkannya di kursi depanku.


"Aku sudah katakan aku akan menang darinya..." gumam Ray dingin.


"Baguslah, kalau begitu mana barangnya?" tanyaku menatap pria tua itu dingin.


"Ba...barang apa nona?"


"Barang yang kau ambil dari musuh mainmu sepuluh tahun yang lalu."


"Si...siapa yang anda maksud."


"Haish, tuan Shin... yang kalah main dengan anda dan juga yang anda bunuh tuan Nam Li..."


"Kenapa kamu tahu namaku?"


"Menurut anda siapa lagi yang membawa pedang terdapat gantungan logo keluarga Li yang tidak sengaja jatuh di rumah keluarga Shin dan sempat-sempatnya mengambil barang berharga milik Shin!" gerutuku kesal, pria itu berusaha melarikan diri tapi Ray menghalanginya.


"Mumpung disini sepi, aku bisa loh membunuh anda sekarang jika anda macam-macam..." gumamku dingin.


"A...apa yang kamu inginkan?"


"Hanya ingin anda mengembalikan barang yang anda curi itu sebelum pedangku yang berbicara." gumamku menunjukkan pedang baruku.


"Pe...pedang itu..."


"Cepat berikan sebelum aku..."

__ADS_1


"Baik-baik aku akan memberikannya!" ucap pria itu melepaskan seluruh barang milik ayah dan ibuku dari tubuhnya.


"Sudahkan? Jadi biarkan aku pergi!" gumam pria itu berusaha berdiri.


"Eeh aku lupa bukannya anda juga ikut membunuh ayah dan keluargaku ya? Mmmm bolehlah aku sedikit berbalas dendam..." gumamku tersenyum dingin.


"Ti...tidak, jangan lakukan..." teriak pria itu terkejut, sebelum mengundang kerumunan aku mengayunkan pedangku dan beranjak pergi.


"Ka...kamu membunuhnya tanpa rasa bersalah sama sekali?" tanya Ray terkejut.


"Ya, lalu kenapa?" gumamku dingin.


"Tidak ada, memang aku akui kamu sangat hebat istriku."


"Tidak juga, aku ingin istirahat di kamarku. Kalau kamu ingin meminta imbalannya datang saja ke kamarku.." gumamku menutup pintu bar dan berjalan ke arah aula lantai dansa.


Di depan aku melihat Sino dan Fiyoni berdiri dengan tatapan benar-benar terkejut, disampingnya aku melihat Rina dan wanita cantik dengan wajah yang hampir mirip dengan ayah berdiri di samping dua pria itu.Tanpa berkata apapun aku hanya melewatinya dan berjalan cepat meninggalkan mereka.


"Sa...Sani, a...aku...bisa menjelaskannya.." gumam Sino mencoba menahan tanganku yang membuat langkahku terhenti.


"Apa!" teriakku kesal.


"Aku bisa menjelaskannya padamu."


"Tidak perlu, aku tidak butuh. Aku sudah tahu..." gerutuku mencoba melepaskan tanganku.


"Sani..."


"Apa lagi? Aku sedang sibuk..." gumamku mencoba berjalan cepat tapi Sino terus saja mengejarku. Tiba-tiba ada yang menarik tanganku dan memelukku erat.


"Kenapa kalian masih saja ingin merebut istriku adikku yang bodoh?" gerutu Ray dingin.


"Ke...kenapa kakak ada disini?" gumam Sino terkejut.


"Benar, bukannya kakak tidak suka pesta dan lebih mementingkan mafia misteriusmu itu?" sindir Fiyoni dingin.


"Mendengar istriku datang ke pesta sendiri pastinya aku akan datang juga, apalagi sudah waktuku mengambil balik istriku. Sesuai perjanjian kalian kan, di umur 24 tahun Sani akan menjadi milikku dan kalian berdua...urus istri kalian sendiri." gerutu Ray menggendongku pergi dari aula pesta dansa.


"Kak Ray, perjanjian apa maksudnya?" tanyaku penasaran.


"Ya, mereka pernah cerita kalau mereka bertemu denganmu tapi kamu terlihat lemah dan menyebalkan apalagi mereka tahu aku tidak suka wanita yang lemah dariku. Mereka berbohong padaku kalau kamu benar-benar lemah dan tidak pantas menjadi istriku, setelah itu Soni dan Xiao Min mengatakan kepadaku kalau sekarang kamu kembali aktif di mafia dan kamu menjadi ketua umum organisasi mafia tertinggi. kedua adik bodohku itu tidak tahu kalau kakakmu adalah wakilku jadi saat kamu bertarung dengan musuh Soni mengajakku datang dan melihatnya langsung, melihatmu bertarung dengan menakutkan yang membuatku benar-benar jatuh cinta kepadamu dan mengatakan kepada adikku itu kalau nanti diumurmu ke 24 tahun aku akan merebutmu kembali."


"Kenapa harus menunggu sampai aku umur 24 tahun?" tanyaku pelan.


"Karena melakukan janji jiwa istimewa harus di umur kurang dari 25 tahun, jadi aku merebutmu nantinya saat bertemu dengamu. Tapi tidak aku sangka aku bisa bertemu denganmu secara langsung..." desah Ray merebahkan tubuhku dan menekan kedua tanganku kembali.


"Kamu benar-benar sangat cantik dan kuat istriku, tidak sia-sia aku memaksakan diriku melakukan pernikahan awal denganmu..." gumam Ray menciumku lembut.


"Pernikahan awal maksudmu kita...sudah menikah?" tanyaku terkejut.


"Ya benar, saat kamu kecil kamu sudah menikah denganku Sani. Kamu pernah melihat foto ini kan?" tanya Ray menunjukkan walpaper handphonenya foto anak laki-laki memakai jas hitam dan anak perempuan menggunakan gaun pernikahan berdiri di halaman.


"Aku sepertinya pernah melihatnya, apa itu kita?" tanyaku pelan.


"Ya, itu aku dan kamu diwaktu kecil."


"Bukannya dia Sino?"


"Bukan, wajah kami bertiga hampir mirip dan hanya aku dengan Sino yang hampir mirip terkadang membuat siapapun melihatnya itu merasa kami kembar bahkan salah memanggil nama kami berdua."


"Oh begitu ya, apa ada foto pernikahan kedua adikmu?"


"Ada, ini foto Sino dengan Rina dan Fiyoni dengan Sina." gumam Ray menunjukkan foto anak laki-laki yang wajahnya benar-benar mirip Sino dan Fiyoni.


"Apa kamu percaya istriku?" gumam Ray serius, melihat bukti yang ditunjukkan Ray membuatku pasrah, aku mulai percaya kalau aku benar-benar terikat dengan pria tampan di atasku ini.


"Ya aku percaya suamiku..." gumamku pelan.


"Suami? Aku suka dengan panggilanmu istriku jadi aku akan memanjakanmu malam ini istriku. Selamanya kamu adalah milikku tidak akan aku lepaskan kamu dari genggamanku lagi malaikat tak bersayapku..." gumam Ray kembali menciumku dan mempermainkanku.


Disaat ini aku benar-benar terikat dengan Ray, walaupun wajahnya tampak dingin dan menakutkan tapi disaat denganku wajahnya berubah menjadi pria manis yang sangat manja. Padahal dia sedang mempermainkanku tapi terkadang dia suka sekali genit dan manja kepadaku, sama sepertiku yang selalu manja.

__ADS_1


Sebenarnya aku ingin sekali menolak, tapi melihat bukti yang ada dan aku benar-benar terikat dengan Ray membuatku hanya pasrah. Kalau benar Ray dan Sino sering tertukar jika orang lain memanggil mereka jadi surat perjanjian yang aku temukan itu ditujukan kepada Ray bukan kepada Sino.


__ADS_2