Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 219 : Melepaskan Cincin Ikatan


__ADS_3

"Raelyn"


"Raelyn!!" Teriak Ray dari belakangku tapi aku terus melangkahkan kakiku menjauh, Ray memegang bahuku yang membuatku terdiam.


"Apa!" Teriakku kencang.


"Kamu mau kemana?"


"Aku kesal, aku ingin balas dendam!"


"Kamu belum cukup kuat melawannya."


"Tapi Ray..."


"Dengar Raelyn, dia sehebat aku jadi tidak mungkin kamu bisa melawannya!"


"Tapikan Ray..."


"Dengar Raelyn kamu milikku jadi aku tidak akan membiarkanmu melakukannya sendiri!" Ucap Ray serius.


"Tapi Ray aku mmpphhh..."


"Percayalah padaku Raelyn...." gumam Ray pelan dan memelukku erat.


"Aku akan membantu membalas dendam atas penderitaanmu selama ini..." bisik Ray pelan.


"Terimakasih Ray."


"Panggil aku Vale, namaku sekarang Vale dan kamu Valen."


"Baiklah."


"Mari kembali ke pertemuan."


"Tapi..."


"Tidak apa ada aku."


"Hmmm..." desahku menghela nafas pelan dan mengikuti Ray dari belakang. Saat kami sampai di pertemuan, Raelan terus menatapku senang membuatku harus menemuinya setelah pertemuan selesai.


Pertemuan kembali di lakukan, aku berdiri di belakang Ray dan memikirkan rencanaku nantinya. Di depanku aku melihat Valentino terus menatap wajahku, aku mengambil topeng wajah di atas meja dan menggunakannya kembali.


"Ada apa?" Tanya Ray pelan.


"Tidak ada." Aku menatap Valentino dingin yang sedari tadi menatapku. Di tangan Valentino terdapat sebuah cincin berwarna emas di atas cincin pernikahan kami sedangkan tangan Raesya terdapat cincin yang mirip dengan cincin yang di pakek Valentino.


Jadi mereka mengikat janji ya? Batinku.


Ray menggenggam tanganku yang membuatku terkejut tapi aku berusaha untuk bersikap biasa saja. Aku menatap tangan halus Ray dan berpikir apakah Ray akan bisa menjadi pendamping hidupku yang sesungguhnya atau Ray seperti pria lain yang melakukan tugas agar aku lemah dan mudah dipermainkan.


"Raelyn kamu menangis?" Ucap Ray pelan dan aku langsung mengusap mataku.


"Mmm T-tidak."


Aku menundukkan kepalaku di sepanjang pertemuan, aku menangis bukan karena sakit hati dengan Valentino hanya saja aku sedih dengan hidupku saat ini. Walaupun Ran kembali mengatakam cinta padaku tapi pastinya kami tidak bisa bersama dan aku akan diberi hukuman yang lebih sakit lagi nantinya.


"Baiklah pertemuan kita tunda dan besok siang kita lakukan kembali pertemuan ini..." gumam seorang pria serius yang membuatku mengusap pipiku dan bertindak seolah biasa saja.


"Valen mari istirahat..." ucap tetua agung pelan dan aku menganggukkan kepalaku pelan lalu mengikuti para tetua agung pergi.


Selama berjalan aku melihat sebuah jembatan di tengah danau melalui jendela bangunan, aku menatap bulan indah di atas jembatan itu dan tersenyum menikmati keindahan bulan itu.


"Valen jangan lupa untuk tidur!" Ucap tetua agung masuk ke dalam kamar dan aku sedikit membungkukkan badanku.


"Jika mau menemui Raelan... Pergilah!" Ucap Ray pelan dan masuk ke dalam sebuah kamar.


"Baiklah." Aku berjalan pergi mencari kamar Raelan, pintu kamar yang mengelilingiku berbentuk sama semua sehingga aku sulit menemukannya jadi aku memutuskan melihat balkon kamar dari luar bangunan.


Disalah satu balkon kamar aku melihat Raelan dan Ravaro berdebat dengan sengit dan Ravaro meninggalkan Raelan diluar kamar membuatku memutuskan untuk pergi ke kamar Raelan dari balkon kamar.


Di atas balkon kamar, aku melihat Raelan yang sedih. Aku memberikannya barang yang dia berikan padaku kemarin. Raelan mengangkat wajahnya dan langsung memelukku erat


"Raelyn!!" Teriak Raelan senang.


"Hai ayah."


"Aku kira kamu mati Raelyn ayah sangat khawatir!" Ucapku serius.


"Jangan khawatir ayah, Raelyn baik-baik saja."

__ADS_1


"Ya ayah percaya anak ayah tidak akan mati dengan mudah!"


"Tentu saja, Raelyn harus hebat agar bisa membantu menjaga ayah."


"Hmmm kamu memang anak terbaik ayah. Oh ya nampaknya nama mafiamu ganti lagi kah?"


"Mmm iya ayah."


"Kenapa memutuskan ganti?"


"Mmm Raelyn ingin mencoba hidup baru apalagi nama Sani ataupun Raelyn sudah di cap jelek oleh mafia di organisasi luar jadi aku membuat nama yang baru."


"Lalu nama mafiamu apa?"


"Mmm aku Valen dan Ray Vale ayah"


"Oh ya ngomong-ngomong kenapa Ray terlihat sangat mencintaimu? Apa dia..."


"Ayah boleh aku bertanya sesuatu?" Tanyaku memotong ucapan Raelan


"Apa yang ingin kamu tanyakan?"


"Ayah, apakah Valentino dan kakak bertunangan?" tanyaku pelan.


"Mereka.. Sudah menikah setelah peraturan mafia terbaru di sahkan tetua agung."


"Ayah apa mereka saling mencintai?" Tanyaku pelan


"Sejujurnya iya, mereka saling mencintai."


"Oh begitu ya...." desahku pelan.


"Ada apa Raelyn? Apa kamu..."


"Eehh mmm tidak ada ayah, oh ya kenapa ayah disini?"


"Aku menunggumu nak, kamu berada di organisasi yang bertentangan denganku membuatku sulit bertemu denganmu nak dan..."


"Ayah dengar, walaupun organisasi kita berbeda tapi aku masih bisa menemuimu kan jadi ayah jangan khawatir soal itu..." gumamku pelan dan Raelan tersenyum senang.


"Benar, lebih sering bertemu denganku ya nak!"


"Ya aku usahakan ayah."


"Ayah turunlah nanti ayah jatuh!" Protesku kesal dan Raelan turun dari meja perlahan.


"Ayah senang nak!"


"Hmmm iya ayah, oh ya itu danau apa ayah?" Tanyaku pelan.


"Itu danau kutukan."


"Danau kutukan?"


"Danau kutukan adalah danau yang luas dan memiliki tujuan untuk melepaskan semua ikatan mafia."


"Ikatan mafia?"


"Ya seperti kawin kontrak mafia yang telah lama dan pernikahan yang tidak diharapkan, jika berdiri di atas jembatan maka semua cincin ikatan itu akan terlepas."


"Oh begitu ya. Ya sudah ayah. Ini sudah malam jadi ayah cepat tidur!" Ucapku mencium pipi Raelan yang membuat Raelan senang.


"Jangan lupakan pesan ayah ya!" Ucap Raelan berjalan pergi.


"Oh mmm ayah satu hal... Apapun keputusan Raelyn, Raelyn mohon tolong ayah merestuinya ya..." gumamku pelan dan Raelan menganggukkan kepalanya lalu pergi masuk ke dalam kamar.


"Jadi begitu ya?" gumamku pelan dan turun menuju jembatan diatas danau itu, aku menikmati malam yang sunyi sambil menatap indah bulan di atasku.


"Kenapa kau disini?" Ucapku pelan.


"Raelyn aku... Minta maaf..." gumam Valentino pelan.


"Maaf? Untuk apa kamu mengatakan maaf kepadaku?" Ucapku pelan.


"Aku mencintai dua wanita yang aku sayang." Aku menatap Valentino yang membuatnya terkejut.


"Tapi maaf saja aku tidak bisa menerimanya."


"Tapi Raelyn..." Desah Valentino sedih, aku melepaskan cincin pernikahan di tanganku yang sedikit membuatku terkejut ternyata danau ini bisa melepaskan cincin di tanganku.

__ADS_1


"R-Raelyn jangan lakukan!" Ucap Valentino terkejut.


"Maaf tapi lebih baik kita akhiri saja ini semua..." Gumamku melempar cincin itu di danau terkutuk.


"Raelyn apa yang kau lakukan!!" Protes Valentino berlari ke arahku dan Valentino tidak sengaja mendorongku masuk ke dalam danau.


Byuuurrrr


Suara air danau terdengar kencang saat tubuhku mengenai air danau, air yang sangat dingin terasa sampai ke tulang. Sebenarnya aku bisa saja berenang tapi aku berpikir mati di dalam air lebih baik dari pada mati dibunuh musuh.


Tidak bernafas dalam waktu yang cukup lama membuat dadaku terasa sangat sakit, aku menatap cincin ikatan Han dan melepaskannya dengan mudah dari tanganku. Tanpa nafas membuat kepala terasa sedikit pusing dan tubuhku terasa sangat lemas aku berpikir lebih baik aku mati saja di danau ini.


Saat aku sudah setengah kehilangan kesadaran aku merasa ada seseorang yang memelukku dan menciumku yang membuatku membuka kedua mataku, wajah Ray yang tampan muncul di depanku membuatku terkejut, bagaimana dia bisa tahu? Batinku. Ray mendorong air dengan kedua kakinya dan kami naik ke atas permukaan air danau.


"Haahh... Haaah..." desahku mengatur nafasku yang tinggal sedikit. Ray mengangkat daguku dan tersenyum manis kearahku.


"Untung kamu tidak apa-apa." Ray menatapku senang dan disekitarku aku melihat banyak tetua yang berkerumun menatap kami berdua. Ray melepaskan jaketnya dan memakaikannya kepadaku lalu memggendongku pergi.


"Aku akan membawanya istirahat tetua agung..." gumam Ray menundukkan badannya sedikit dan berjalan pergi.


"Ray... Kenapa kamu menyelamatkanku?" Tanyaku pelan.


"Kamu wanitaku tidak mungkin aku membiarkan kamu mati di dalam danau!"


"Bagaimana kamu tahu aku di dalam danau?"


"Suara air danau yang keras ditambah..." gumam Ray mengangkat tangannya yang membuat terlihat cincin yang melingkar di jari tangannya.


"C-Cincin?" Tanyaku terkejut.


"Ya tiba-tiba muncul cincin ditanganku dan banyaknya para tetua yang ada di pinggir danau membuatku segera menceburkan diriku ke danau."


"Kalau yang ada di dalam air bukan aku pastinya kan kamu..."


"Aku yakin kalau yang di dalam danau itu kamu karena Valentino terlihat sangat sedih dan merasa bersalah."


"Seharusnya kamu membiarkan aku tenggelam."


"Tidak akan!!" Gerutu Ray kesal dan menggigit bibirku kuat, entah kenapa saat bibirku di gigit kuat tubuhku terasa sangat sakit.


"Selamanya kau milikku Raelyn!" Ucap Ray mendudukkan tubuhku didalam bathtub. Wajah Ray memerah sambil menatap tubuhku dari tadi.


"Astaga!!" Ucapku menutupi tubuhku yang sangat menerawang, tanpa berkata apapun Ray menciumku lembut sambil meraba tubuhku pelan.


"R-Ray..."


"Iya istriku." Ray membuka kancing pakaianku perlahan sambil terus menciumku.


"R-Ray aku mmmpphhh..."


"Terimakasih ya Raelyn." Ray duduk di depanku dan mengangkat tubuhku sambil terus menatapku.


"Terimakasih untuk ap uuugghhh..." rintihku pelan, Ray kembali mempermainkanku dan mencium dadaku lembut.


"R-Ray aku..." aku menekat kepala Ray kuat.


"Iya ada apa sayang?"


"Aakkhh Ray aku sangat mencintaimu."


"Benarkah? Aku juga sangat mencintaimu Raelyn, tubuhmu sangatlah nikmat Raelyn."


"Ray aku uugghhh..."


"Sekarang kamu milikku seutuhnya Raelyn, semua cincin telah kamu lepaskan membuat cincin ikatan kita muncul dengan sendirinya."


"Cincin ikatan? Apa kamu mengikatku?" Tanyaku terkejut, Ray menekan tubuhku yang membuat tubuhku menggelinjang.


"Aaakkhhh Ray..."


"Tentu saja aku telah mengikatmu dengan setengah ikatan dan kini aku akan menyempurnakannya istriku..." bisik Ray menggigit leherku yang membuatku kesakitan.


"Ray s-sakit..." rintihku pelan, Ray terus menggigit leherku sambil terus mempermainkanku.


"Ray sakit dan uugghhh a...aku..." rintihku pelan, antara kesakitan dan kenikmatan membuatku sulit membedakannya.


"Raelyn selamanya kau milikku!"


"Uugghhh Ray aku mencintaimu..." desahku pelan dan Ray kembali menciumku lembut.

__ADS_1


"Raelyn sekarang kau seutuhnya milikku."


"Kamu juga seutuhnya milikku Ray." Ray menciumku lembut dan kami terus menerus saling berpandangan, tidak aku sangka cincin yang telah lama melingkar di tanganku bisa terlepas dengan mudah bahkan kini melingkar cincin baru di tanganku, aku hanya berharap Ray tidak seperti pria-pria yang lain hanya memanfaatkan aku saja.


__ADS_2