
Hari ini cuaca sangat cerah, matahari bersinar dengan terang di atasku dan burung-burung berkicau dengan keras di sekitar hutan ini. Hari ini tepat beberapa pelaksanaan prtarungan mafia yang telah di rencanakan oleh beberapa mafia, aku memang tidak memiliki informasi yang banyak tapi saat aku sedang berburu di hutan, aku menemukqn beberapa mayat anggota beberapa mafia yang bergeletak di sekitar hutan dan bahkan saat aku sedang berburu saat ini, aku menemukan banyak orang yang mati tergeletak di tanah. Aku memeriksa semua mayat tersebut dan ternyata mereka berasal dari beberapa mafia yang aku kenal.
"Mafia tertinggi?" gumamku membaca salah satu lencana di tubuh mayat didepanku.
"Hmmm mereka tidak membawa sesuatu yang berharga sih sayangnya..." gumamku berjalan pergi sambil emmbawa hasil buruanku.
Tidak jauh dari lokasi itu aku bertemu dengan seseorang yang darahnya memenuhi wajah dan tubuhnya, aku mendekatinya dan melihat benang merah di tangannya yang terhubung dengan benar merah di tanganku. Aku mengecek denyut nadinya dan nafasnya ternyata dia masih hidup.
"Dia masih hidup ya... tapi... masa aku harsu membawanya juga..." gumamku menatap sekelilingku tapi tidak ada siapapun dan hanya terdapat mayat yang tergeletak di tanah.
"Ya sudahlah, biarkan saja..." gumamku beranjak berdiri tapi belum sempat aku melangkahkan kakiku, pria itu menggenggam erat kakiku yang membuatku tidak bergerak.
"Kau sudah hampir mati tapi masih kuat menggenggam lakiku ya..." gumamku dingin, pria itu menggerakkan bibirnya pelan dan saat aku mengamatinya ternyata dia hanya berkata "Tolong aku!"
"Haish baiklah aku akan menolongmu semoga kau lupa tentangku... Vincent..." gumamku berusaha menggendong pria itu yang tidak lain adalah Vincent menuju ke rumah pondok kecilku.
Sampai di rumah aku membaringkan dia di papan kayu yang aku jadikan alas tidurku dan segera mengambil air untuk membersihkan lukanya.
"Hmmm aku tidak memiliki obat sama sekali sih, tapi coba aku lihat apa yang kau bawa itu..." gumamku mengecek jubah Vincent dan melihat sebuah kotak obat kecil di balik jubahnya.
"Kau ternyata memiliki kotak obat ya..." desahku pelan, aku segera membalut lukanya dengan perban sampai perban yang dia bawa benar-benar habis.
__ADS_1
"Kau terlihat sangat menyedihkan ya, apa musuhmu snagat kuat sehingga membuatmu terluka parah seperti ini?" gumamku pelan dan beranjak pergi.
"Aahh aku lapar, masak beberapa rusa hasil buruanku tadi aja deh..." gumamku membuat api unggun dan membakar hasil buruanku untuk aku santap di malam hari ini. Karena adanya peperangan membuat hasil buruanku menipis jadi aku hanya membakar satu ekor rusa dan sisanya aku simpan untuk makan keesokan harinya.
Selama semalaman aku terjaga, aku takut kalau ada musuh yang sampai di rumah pondok kecilku ini. Apalagi saat ini aku merawat Vincent di rumah, aku takut ada yang mengetahui kehadirannya dan datang ke rumah pondok ini.
Merawat Vincent yang sedang sakit benar-benar membuatku sangat kecapekan ditambah aku tidak tidur dan hanya tidur beberapa jam saja setiap harinya yang membuat jariku tersayat pisau dan berdarah karena aku tidak memiliki kotak obat.
Di keesokan paginya aku kembali berburu dan kembali mendapatkan beberapa barang yang berharga dari mayat-mayat yang ada disekitar tempatku berburu dan seperti biasa aku hanya mengelap tubuh Vincent dengan air dan kembali melalukan rutinitasku seperti biasanya. Disaat aku selesai mengelap tubuh Vincent tiba-tiba bibirnya bergerak lagi dan mengatakan kalau dia sangat haus.
"Haus ya? Sebentar aku bawakan air dulu..." gumamku segera mengambil segelas air dan meminumkannya tapi Vincent tiba-tiba muntah darah dan menolak meminumnya lagi.
"Astaga kamu harus minum tahu! Kau tidak mau makan sama minum sana sekali!" gerutuku kesal, Vincent menggenggam tanganku dan menatap jariku yang mengeluarkan darah karena tersayat kemarin, Vincent menatapku dan menanyakan kenapa jari tanganku bisa terluka.
"Kamu membutuhkan darah ya... kenapa kamu tidak mengatakannya padaku..." gumamku melukai lenganku dan Vincent langsung meminum darahku seperti seseorang yang samgat kehausan.
"Jangan cepat-cepat nanti kamu tersedak loh..." gumamku pelan.
Setelah Vincent meminum banyak darahku, tiba-tiba dia tertidur pulas di malam ini yang membuatku hanya menghela nafas panjang dan kembali membuat makananku di malam ini.
Keesokan harinya sama seperti hari-hari biasanya, Vincent tidak mau makan dan minum hanya meminum darahku saja sampai wajahnya sedikit kembali segar tapi dia hanya menggunakan isyarat bibir saja saat berbicara padaku.
__ADS_1
Hari ini aku pulang dengan cepat karena hujan deras tiba-tiba datang membasahi area hutan ini, karena aku pulang cepat membuatku hanya membawa satu hewan buruan yang bisa aku santap di malam ini.
"Huuuffftt kan jadi basah semua..." gumamku meletakkan hasil buruanku di dalam rumah, Vincent membuka matanya dan menatapku sedih.
"Ada apa? Kenapa wajahmu sedih?" Tanyaku dingin dan Vincent menggerakkan bibirnya pelan.
"Diluar hujan deras, jadi aku terpaksa hujan-hujanan..." gumamku mengganti pakaianku dan segera membuat perapian. Aku memang awalnya tidak memiliki pakaian sama sekali tapi hasil pertarungan di akhir-akhir ini membuatku mendapatkan pakaian gratis yang bisa aku pakai.
"Aku mau membuat makanan, apa kamu haus?" tanyaku pelan dan Vincent menganggukkan kepalanya pelan.
"Ya tunggu sebentar..." gumamku pelan dan segera memasak hasil buruanku. Setelah masakanku matang, aku meletakkan masakanku di atas daun pisang dan aku letakkan di samping Vincent, Vincent menggerakkan bibirnya dan aku hanya terdiam menyayat lenganku.
"Jangan memikirkanku dan minumlah, aku bisa memakannya nanti..." gumamku pelan dan Vincent langsung meminum darahku, tidak lama terdengar suara perutku yang berbunyi kencang yang membuat Vincent melepaskan tanganku dan menyuruhku untuk segera makan.
"Oh baiklah aku akan memakannya..." gumamku pelan dan langsung memakan makananku.
Selama aku makan, Vincent terus menerus menatapku dan sedikit tersenyum kepadaku sedangkan aku tanpa memperdulikannya hanya terdiam melahap makananku.
"Kalau kau mengantuk tidurlah, aku akan menjaga rumah..." gumamku pelan, Vincent menggerakkan bibirnya dan menatapku serius.
"Tidak apa, tenang saja... aku tidak apa-apa kok..." gumamku duduk di depan perapian dan menatap api di depanku.
__ADS_1
Beberapa hari merawat Vincent benar-benar sangat melelahkan apalagi darahku terus menerus di minum oleh Vincent yang membuatku sama sekali tidak mau menunjukkan rasa lelahku padanya karena aku tidak mau dia tahu kalau istrinya yang merawatnya selama ini.