Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 78 : Makan Bersama


__ADS_3

Aku terus mengusap rambut Ray dengan lembut, melihat Ray benar-benar sedih membuatku merasakan rasa sedih yang di rasakan Ray. Beberapa kali aku mencium Ray dan Ray hanya terdiam dan terus memejamkan kedua matanya, dan terus meneteskan air matanya.


"Oh ya kakak, kenapa kakak masih ada disini? tanyaku pelan.


"Kau kira aku akan lengah adikku, kalau Ray benar-benar menggila kau pasti mati ditangan Ray!"


"Aku tidak apa kakak, kakak kembalilah di kamar!"


"Tidak ya tidak, aku akan menunggu disini sampai Ray tenang. Dia bisa saja menggila kalau kamu menyinggung perasaannya!"


"Kalau aku mati ditangan kak Ray tidak masalah kakak, ya anggap saja aku yang bersalah karena telah melukai hati suamiku sendiri..." gumamku pelan.


"Haish kau juga jangan ikut-ikut gila Sani!" gerutu Soni meminum wine di atas meja.


Aku menatap wajah Ray yang memucat dan badannya terasa sangat dingin. Walaupun Ray hanya memejamkan matanya sambil sesenggukan tapi dia berusaha terlihat baik-baik saja.


"Kak Ray ingin darah?"


"Tidak...aku ingin mencoba menahan diriku untuk tidak meminum darah."


"Kak Ray itu penyakitmu okay, jangan menyiksa dirimu seperti itu. Aku tidak masalah kamu meminum darahku asalkan kamu tidak menderita, aku tidak ingin kamu menderita kak Ray..." gumamku serius.


"Ta...tapi..."


"Tidak masalah, aku istrimu kan jadi turuti kata-kataku!"


"Mmm ba...baiklah..." gumam Ray mengigit leherku dan meminum darahku.


"Kalau dilihat-lihat kalian memang cocok jika dinikahkan. Benar saling membutuhkan..." gumam Soni pelan.


"Ya mungkin sih kak tapi aku tidak keberatan kok."


"Apa kamu yakin Sani?" tanya Soni serius.


"Aku yakin, bisa memiliki suami yang hebat seperti kak Ray aku sangat senang kok. Kalau ayah masih hidup aku juga tidak akan meminta ayah membatalkan kontrak ini." gumamku mengusap lembut rambut Ray.


"Masalah itu terserah kamu Sani, kakak tidak memiliki hak mengaturmu. Asalkan kamu bisa bertanggung jawab atas semua keputusanmu!"


"Ya kakak, Sani mengerti kok..." gumamku pelan.


"Ya sudahlah, aku mau tidur sebentar. Nanti ada yang ingin aku bicarakan denganmu Ray!" gumam Soni berbaring di sofa, Ray menjentikkan tangannya dan Sofa itu berubah menjadi tempat tidur kecil untuk Soni.


"Tumben kamu peka.." gumam Soni memejamkan kedua matanya sedangkan Ray hanya terdiam sambil terus meminum darahku.


Tiiinnnggg


Terdengar suara handhoneku berbunyi karena pesan masuk, aku membaca pesan dari bawahanku kalau mereka masih berusaha mencari penjara bawah tanah di seluruh dunia.


"Ohh hmmm..." desahku pelan.


"Ada apa istriku?" tanya Ray pelan.


"Eeh tidak ada apa-apa, hanya bawahanku yang mengirimiku pesan..." gumamku menunjukakn pesan itu.


"Oh..." gumam Ray kembali memelukku erat.


"Ada apa sayang? Apa kamu masih bersedih?" tanyaku pelan.


"Tidak... terimakasih istriku..." gumam Ray melepaskan gigitannya dan merebahkanku di tempat tidur.


"Tidurlah, kamu belum tidur semalaman kan...jangan sampai kamu tidak tidur lagi istriku!" gumam Ray pelan.

__ADS_1


"Aku tidak mengantuk kak Ray."


"Sayang kamu harus banyak istirahat tahu!" gumam Ray serius.


"Hmmm..." desahku memainkan kancing pakaian Ray.


"Ada apa sayang?"


"Tidak ada...hanya mencoba untuk tidur saja."


"Hmmm apa kamu lapar?"


"Tidak, nanti saja..." gumamku menggelengkan kepalaku.


"Lalu kamu mau apa sayang?"


"Aku mau kamu seorang kak Ray..." gumamku pelan, Ray tersenyum ke arahku dan menciumku lembut.


"Aku akan selalu ada di pelukanmu istriku tersayang..."


"Mmm terimakasih kak Ray.." gumamku memejamkan kedua mataku, suasana pagi yang sangat sepi membuatku tertidur di pelukan Ray. Disaat aku benar-benar tertidur, aku terkejut mendengar suara perut yang kelaparan.


Krrruuucccccuukkk...


Aku membuka mataku dan melihat Ray yang tertawa pelan di depanku.


"Kamu lapar?" tanyaku serius.


"Eeeh mmm i..iya, apa suara perutku membuatmu terbangun?"


"Iya sedikit..." gumamku terduduk di samping Ray.


"Ti...tidak perlu, kamu tidurlah lagi..."


Krrruuccuukkk...kkrruuccuukkk...


Terdengar suara perut Ray kembali, tanpa menjawab pertanyaan Ray aku segera ke dapur mini yang ada di pojokan kamar. Aku membuka lemari dan lemari pendingin untuk mengambil bahan makanan yang bisa aku gunakan untuk memasak sarapan di pagi ini.


"Tidak perlu syaang, kita bisa sarapan di bawah nanti..."


"Tidak apa, aku tidak suka makan di pesta dan kamu tahu itu kak Ray..." gumamku memotong sayuran.


"Mmm baiklah kalau begitu aku bantu ya.." gumam Ray membuat bumbu untuk daging ayam fillet yang ada di atas meja.


Saat Ray membuat bumbu dan memasak daging ayam itu dengan santai, dia memasukkan daging dan bumbu tanpa takut terkena minyak panas yang ada di wajan, benar-benar seperti sudah terbiasa masak sendiri.


"Mmm kak Ray kenapa bisa masak dan masakan kak Ray sangat enak?" tanyaku penasaran.


"Aku sudah terbiasa masak sendiri, aku dulu menghidupi kebutuhanku sendiri sejak kecil. Aku tidak pernah makan makanan keluarga Khun bahkan sampai sekarang. Semua orang menganggap apapun makanan yang aku buat atau jika makan denganku akan mati karena penyakit di tubuhku. Ya bisa dibilang aku adalah pembawa sial...dan aku tidak menyangka kamu bisa dengan santai memakan makanan buatanku saat aku pertama kali memasakan makanan untukmu..." gumam Ray mengaduk makanan dengan pelan.


"Aku tidak masalah, makanan buatanmu lebih enak dari pada buatanku kak Ray. Dan aku suka masakan buatanmu..." gumamku menarik kerah pakaian Ray dan menciumnya.


"Terimakasih istriku..."


"Mmmm bau apa ini terasa sangat enak!" gumam Soni terduduk di sofa sambil mengusap kedua matanya.


"Itu adikmu yang membuatkan makanan untukmu..." gumam Ray memberikan mangkuk yang berisi daging ayam buatan Ray.


"Ti...tidak, kak Ray yang membuatnya. Aku hanya membuat sayur saja..." ucapku terkejut.


"Tumben Sani bisa memasak makanan yang selezat ini.." gumam Soni mengambil sepotong daging dan memakannya.

__ADS_1


"Ini buatan Ray..." gumam Soni kembali memakan daging itu.


"Kan aku sudah bilang kak Ray yang membuatnya dan bukan aku!" protesku kesal.


"Ya anggap saja Sani yang membuatnya..." gumam Ray terduduk di meja makan.


"Tidak, makanan kalian berbeda. Makananmu selalu enak sedangkan Sani...dia selalu lupa menaruh garam..." gumam Soni menaburkan garam di atas sayur buatanku.


"Iiihh kakak!" gerutuku kesal.


"Itu kenyataannya..." gumam Soni berjalan ke arah pintu dan membuka pintu itu.


"Astaga kenapa lama sih!" gerutu Fadil kesal.


"Tuh ketuamu sedang memasak."


"Tumben, kebetulan aku sangat lapar..." gumam Fadil masuk ke dalam kamar dan memakan daging buatan Ray.


"Kemana yang lain?" tanya Soni terduduk di sebelahku.


"Biasalah, jam segini pasti tidur. Kan kau tahu sendiri semalaman mereka bermain kartu."


"Ya sudah biarkah, kalau lapar biar makan di bawah..." gumam Soni melahap makanannya.


"Oh ya Soni apa yang ingin kau katakan kepadaku?"


"Untuk pertemuan nanti.." gumam Soni memberikan Ray setumpuk kertas.


"Oh ya Sani, ini yang harus kamu lihat untuk pertemuan nanti..." gumam Fadil memberikanku setumpuk kertas yang sama dengan Ray.


"Ooohhh...biar ketua yang menggantikanku. Aku sedang malas..." gumamku mengembalikan kertas itu.


"Kau ketuanya Sani astaga..."


"Kau ingin aku berdebat lagi Fadil?"


"Tapi kalau Victory yang melakukannya kamu juga yang akan berdebat."


"Aku tahu.." desahku memakan makananku.


"Berdebat dengan siapa?" tanya Soni bingung.


"Biasalah yang kemarin berdebat dengan Sani, siapa lagi..." gumam Fadil santai.


"Wili dan Hans?"


"Ya itulah... siapa lagi..." gumam Fadil pelan.


"Oh mmm ya sudah setelah makan ini kita harus bertemu dengan Viu membahas masalah pertemuan itu dan kamu Sani harus ikut juga." gumam Soni menatapku serius.


"Tidak mau, aku pengen tidur.." gumamku meletakkan alat makanku dan menarik Ray ke tempat tidur.


"Tapi Sani!" protes Soni kesal.


"Tidak apa, disini saja. Dia tidak tidur semalaman..." gumam Ray mengusap lembut rambutku.


"Haish baiklah...Fadil setelah makan panggil mereka kemari ya..." gumam Soni pelan.


"Ya tenang saja, aku habiskan ya ayamnya!" teriak Fadil melahap semua makanan di atas meja.


Mengetahui akan ada pertemuan mafia dan aku bertemu dengan musuhku membuatku kesal apalagi harus melayani berdebatan dengan Wili atau Hans yang membuatku muak jadi aku malas melakukan pertemuan itu.

__ADS_1


__ADS_2