Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 134 : Pergi ke Wilayah Organisasi Kegelapan


__ADS_3

Aku teringat bagaimana kembaranku terbunuh di depan mataku, saat itu aku terlambat menyelamatkannya disaat Rhys dengan cepat membunuh Lani dengan senjatanya.


"LANI!!" teriak Rina dan Alvaro kencang.


"LA...LANI..." Gumamku terkejut saat aku melihat Lani tergeletak bersimbah darah di depan mataku.


Sebelumnya aku dan Elvaro pergi karena ayah menyuruh kami membeli beberapa barang dan makanan karena ayah dan ibu sesang ada tugas di luar kota sehingga aku dan Elvaro yang pergi berbelanja, tapi saat pulang ke rumah aku melihat Rhys membunuh Lani tepat di depan mataku.


"Lani... Lani bangun Lani!" Teriakku berusaha membangunkan Lani tapi ternyata Lani sudah meninggal karena kehabisan darah.


"Ciihh hanya gitu aja sudah mati? Heeeh lemah!" Ucap Rhys dingin yang membuatku kesal, aku membaringkan Lani kembali dan menatap Rhys dengan kesal.


"Rhys! Apa-apaan kau membunuh kembaranku!" Teriakku kencang.


"Aku? Dia lemah dan memang pantas untuk mati!"


"Lemah? Apa maksudmu dia lemah? Dia tidak selemah itu!" Protesku kesal.


"Lalu kenapa? Kau ingin bertarung denganku?"


"Menurutmu aku takut denganmu!" Teriakku menyerang Rhys dengan sangat kesal, Alvaro dan Elvaro berusaha membantuku tapi mereka berdua malah terluka parah karena senjata Rhys.


"Kakak... Rani minta maaf... Rani..." ucap Rani kencang dan berlari pergi, aku yang saat itu fokus dengan Rhys tidak memperdulikan Rani dan ternyata Rani menghilang sampai sekarang. Mengingat masa itu membuatku sangat sakit, setelah kepergian Rani, Alvaro, dan Elvaro membuatku juga pergi menghilang dan tinggal dengan saudara ayah dan juga ibu tapi ternyata aku diberi obat yang membuatku lupa semuanya bahkan hanya kejadian pembunuhan Lani saja yang masih aku ingat walaupun hanya sedikit.


"Sani!"


"Sani!!!" Teriak Fadil yang mengagetkanku, aku menatap air hujan yang turun sangat deras membasahi tubuhku.


"Sani, hujan tahu! Cepat masuk!" Teriak Fadil menarikku masuk ke dalam kamar.


"Apa yang kamu lamunkan adikku?" tanya Alvaro pelan.


"Hanya teringat sesuatu yang selama ini terlupa saja."


"Apa kau teringat Lani?"


"Yaah begitulah..." gumamku pelan.


"Hmmm ya sudahlah, bajumu basah cepat ganti baju lalu kita pergi."


"Pergi? Pergi kemana?" Tanyaku terkejut.

__ADS_1


"Ke pertemuan organisasi, kaukan harus menyelesaikan tugasmu kan?"


"Eehh dimana Sanjaya?"


"Dia sudah pergi bersama Vica setelah pertemuan ini aku langsung menyusul mereka."


"Oh begitu ya..." gumamku pelan.


"Kamu gantilah baju dan temui kami di atas kapal Raelyn..." gumam tetua Ben berjalan pergi, Fadil memberikanku pakaian berwarna hitam dan aku segera berganti pakaian, aku mempersiapkan semua senjataku dan segera menyembunyikannya. Aku menatap wajahku di cermin dan mengurai rambutku, aku berdandan seperti diriku yang dulu, entah Rhys mengingatnya atau tidak tapi aku akan melakukan perhitungan dengan Rhys.


"Sani sudah belum!!" teriak Fadil di luar kamar mandi, aku berjalan membereskan semua barangku dan berjalan keluar.


"Tumben kau sangat lama Sani?"


"Mmmm hanya mempersiapkan sesuatu..." gumamku berjalan pergi keatas atap dan masuk ke dalam sebuah helikopter di depanku.


"Eehh... kalau tampilanmu seperti itu terlihat kau benar-benar Raelyn adikku..." gumam Alvaro menatapku terkejut.


"Raelyn hanya nama samaranku di mafia kakak..." gumamku pelan, aku terduduk di sebelah Alvaro dan membuka buku catatanku kembali.


"Mmm apa kau Raelyn?" Tanya pria berjubah dan bertopeng di depanku.


"Ya saya Raelyn."


"Salam kenal juga tuan..." gumamku pelan san kembali menulis sesuatu di bukuku.


"Apa yang kau tulis adikku?" tanya Alvaro menatapku serius.


"Hanya sebuah rencana..." gumamku pelan.


"Rencana melawan Rhys?" Tanya Alvaro serius.


"Tidak... rencana... bunuh diri lebih cepat saja..." gumamku dingin, Alvaro menarik bukuku dan membaca semua tulisanku.


"Astaga kau gila-gilanya ya Sani! Ku kira kau menulis rencana mafia dibukumu ini!" Protes Alvaro kesal.


"Rencana tertulis di otak bukan di buku, kalau dibuku pasti banyak yang tahu termasuk musuhku yang membuatku kalah, apa kakak mengerti?" Ucapku merebut bukuku dan menatap Alvaro kesal.


"Jadi... kau menulis rencana bunuh diri seperti untuk apa?" Tanya Alvaro serius.


"Hanya ingin..." gumamku kembali menulis.

__ADS_1


"Hanya ingin? Kau..."


"Sudahlah Alvaro, itu sudah kebiasaan Sani. Beban yang di bebankan padanya membuatnya selalu berusaha bunuh diri tapi karena aku melarangnya memakai senjata akhirmya aku berikan buku itu agar dia menuliskan rencana gilanya dan tidak melukai dirinya..." gumam Fadil serius yang membuat Alvaro menghela nafas pelan.


"Haish ya sudahlah..." desah Alvaro mengalah.


Selama perjalanan aku terus menulis di buku kecilku, perjalanan yang membosankan dan lama benar-benar membuatku benar-benar bosan.


"Apa kita masih lama?" Tanyaku menutup buku milikku.


"Itu di kota itu!" Ucap Tuan Ben menunjuk sebuah kita besar di tengah hutan yang sangat lebat dibawah kami.


"Kota? Aku baru tahu ada kota di tengah hutan Amerika?" ucapku terkejut.


"Yaah tidak ada yang tahu, kamu harus melewat gunung dan bukut yang penuh dengan perangkap jika menyusup ke dalam."


"Lalu apa dengan helikopter ini kita aman?"


"Tidak juga tapi karena ada pertemuan penting membuat hanya helikopter khusus yang boleh masuk."


"Helikopter khusus?" Tanyaku bingung.


"Ya benar, pertemuan ini hanya dilakukan sehari tapi karena mafiamu termasuk organisasi kegelapan jadi kamu akan melakukan tugasmu sampai selesai."


"Oh mmm baik tetua..." gumamku pelan.


"Fadil sudah mempeesiapkan semua pakaian san perlengkapanmu jadi jangan khawatir akan apapun."


"Baik tetua, aku lakukan sebisaku tetua..." gumamku pelan.


Setelah helikopter turun di sebuah lapangan yang luas, kami semua segera turun dari helikopter dan berjalan pergi. Alvaro, Fadil, Frey dan kedua tetua itu berjalan mendahuluiku sedangkan aku berjalan santai untuk menikmati dan mengamati sekitarku.


Lokasi landasan helikoper ini berada di atas sebuah bukit dan di bawahku terdapat pemandangan kota yang sangat indah, aku yang tinggal selama bertahun-tahun baru tahu tentang wilayah organisasi kegelapan apalagi dahulu yang aku tahu organisasi kegelapan adalah organisasi hebat yang selalu berpindah-pindah tempat.


Tidak jauh aku melangkah, aku melihat Rhys yang sedang berjalan bersama seorang pria dan wanita di sampingnya. Dalam pikiranku mungkin wanita itu adalah kekasih Rhys tapi saat aku melihat benang merah di tanganku, ternyata benang merah milikku terhubung dengan benang merah di tangan Rhys yang membuatku terkejut.


"K-kenapa bisa... kenapa bisa aku memiliki dua jodoh?" ucapku terkejut. Aku menatap benang merahku dengan tatapan tidak percaya, aku berusaha menghalangi dengan tanganku tapi tetap tidak bisa.


"Haish memang Sani bodoh, ini kan gaib tidak mungkin bisa!" gerutuku kesal.


"Haish sebenarnya... apa hubunganku dengan Rhys? Kenapa benang jodoh kami saling terhubung?" gumamku pelan.

__ADS_1


Aku terus menerus bergumam tidak jelas selama aku melangkahkan kakiku, bingung... hanya itu yang ada di pikiranku tapi aku harus mencari tahu secepatnya.


__ADS_2