
Di sepanjang jalan Fadil terus menceramahiku tanpa henti, aku yang sibuk membaca situasi hanya terdiam dan menatap sekitarku. Di sekitarku ini aku mencoba mendengar pembicaraan orang-orang yang bermacam-macam.
"Dengar tidak kalau ada pertarungan di hutan terlarang loh!" Ucap seorang wanita di sekitarku.
"Pertarungan di hutan terlarang?"
"Ya benar, dua ketua organisasi itu benar-benar tidak menghentikan pertarungan itu!"
"Benarkah? Sudah beberapa hari loh kenapa tidak segera menghentikannya sih! Padahal sudah banyak korban jiwa loh!"
"Entahlah, tapi jangan di urusi masalah itu. Nanti bisa bahaya kita!" Ucap wanita itu menarik tangan temannya.
"Di hutan terlarang ya..." gumamku pelan.
"Hei! Kau mengerti tidak Raelyn!" Ucap Fadil menatapku kesal.
"Yaah aku tahu kok..." gumamku melepaskan tangan Fadil dan berlari menjauh.
"Eeehh astaga kau mau kemana!!" teriak Fadil di belakangku.
"Bentar!!" teriakku berlari kencang, di depan aku melihat pria bertopeng itu lagi dan tanpa mengatakan apapun aku langsung berlari melewatinya.
"Sani! Kau jangan melakukan hal bodoh! Kau masih sakit tahu!" Teriak Fadil kencang tapi aku sama sekali tidak memperdulikannya dan terus berlari, di pagar pembatas hutan terlarang aku langsung melompatinya dan kembali berlari masuk ke dalam hutan terlarang itu.
Ditengah-tengah hutan terlarang aku melihat sebuah pertarungan antara Raechan dan Rhys yang sangat sengit. Karena demi permintaan Revaro untuk melerai mereka membuatku harus melakukannya saat ini. Aku langsung berlari kearah mereka berdua dan menahan senjata mereka yang membuat mereka terkejut.
"Kau kenapa kemari?" ucap dua orang itu bersamaan.
"Kenapa kalian bertarung?" Tanyaku serius.
"Ini bukan urusanmu!" Ucap Rhys menepis senjataku yang membuatku terjatuh dan mereka berdua kembali bertarung.
"Heeeii kalian berdua bisa berhenti gak sih!" Gerutu kesal, aku berlari diantara dua pria itu dan tanpa diduga senjata mereka mengenaiku dan akupun terluka.
"Sani!!!" Teriak Fadil berlari kearahku tapi belum sampai Fadil di depanku, tiba-tiba ada seorang yang langsung menangkap tubuhku dan memelukku erat, aku mengangkat wajahku dan melihat pria bertopeng hitam yang dari tadi mengikutilah yang menangkap tubuhku.
"Beraninya kalian melukai wanitaku!" Ucap pria itu dengan nada yang menakutkan, mendengarnya saja sudah membuatku ketakutan yang membuatku langsung menyembunyikan wajahku di pakaiannya. "Pakaiannya... benar-benar harum..." gumamku pelan.
"Wanitamu? Dia istriku!" Teriak Raechan dan Rhys dingin.
"Heeh istri kalian ya? Dia wanitaku dan tidak akan aku biarkan siapapun menyentuhnya!" Ucap pria itu dingin.
__ADS_1
"Kau memang pria yang menyebalkan! Terimalah seranganku!" Teriak Raechan dan Rhys tapi dengan cepat seorang pria dan wanita berdiri di depan kami dan menahan serangan Raechan dan Rhys
"Beraninya kalian melukai permaisuri kami!" Protes mereka dan menyerang Raechan dan Rhys Mendengarkan hal itu membuatku terkejut, aku menatap pria itu dan pria itu hanya tersenyum manis kearahku.
"P-permaisu... mmmmpphhh..." pria itu menciumku yang membuatku terkejut tapi saat dicium pria asing ini leherku tidak terasa sakit lagi dan gelang di tanganku terlepas dengan sendirinya.
"Beraninya kau mencium istriku!!" teriak Rhys kesal dan wanita di depannya langsung menyerang Rhys yang membuat Rhys terjatuh.
"Kalian berdua atasi mereka, aku akan mengobati lukanya.." ucap pria itu langusung menggendongku pergi.
"Sani!!" Teriak Fadil berusaha menyusulku. Melihat Fadil ingin menyusulku, pria itu langsung memegang senjatanya tapi aku berusaha menghentikannya.
"Jangan lakukan, dia wakilku..." gumamku pelan dan pria itu hanya menghela nafas panjangnya sambil meneruskan langkah kakinya.
"Siapa kamu sebenarnya?" Tanyaku pelan, pria itu menghentikan langkahnya dan menurunkanku di atas sebuah pohon tumbang.
"Aku hanya pria yang mengagumimu saja..." gumam pria itu mengobati lukaku dengan perban.
"Benarkah? Namamu siapa?"
"Kamu tidak perlu tahu aku siapa."
"Kenapa tidak perlu tahu?" Tanyaku kesal.
"Wanita yang imut dan polos?" Tanyaku bingung, aku ingat ada yang pernah mengucapkan itu tapi aku sama sekali tidak ingat.
"Heeei kau! Kenapa kau selalu mengincar Raelyn? Apa yang kau cari Saputra?" Teriak Fadil mengagetkanku, aku ingat pria yang dulu gagal aku selamatkan namanya Saputra. Mendengar teriakan Fadil membuat pria itu berusaha lari tapi aku dengan cepat menggenggam tangannya dan menatapnya dengan tatapan sedih.
"Jangan tinggalkan aku..." ucapku berakting sedih, pria itu hanya menghela nafasnya dan memelukku erat.
"Ada apa?"
"Jangan tinggalkan aku, aku takut sendiri..." gumamku pelan.
Aku ingat kelemahan Saputra adalah aku, dia tidak bisa menentang apapun keinginanku dan selalu menurutinya sama seperti saat kami bertemu di saat perang mafia dulu.
"Kenapa kamu takut? Kan ada wakilmu disana dan..."
"Aku takut... aku takut orang-orang membullyku, aku takut orang-orang mengejekku. aku takut banyak pria yang mempermainkanku lagi, aku wanita yang kotor maka bunuhlah aku..." rengekku pelan.
"Membunuhmu? Aku tidak mau melakukan itu!"
__ADS_1
"Tapi aku wanita yang..."
"Dengarkan aku Raelyn..." gumam pria itu memotong ucapanku dan menatapku serius.
"Tidak peduli bagaimana masa lalumu aku akan tetap mencintaimu, aku tahu kamu melalui kehidupan sendiri tanpa siapapun yang ada disisimu selain wakilmu jadi aku tidak mempersalahkannya."
"M-mencintaiku?" Tanyaku terkejut. "Astaga kenapa dia mengatakan hal itu?" Gumamku dalam hati.
"Yaah dan aku berterimakasih karena kamu mau menyelamatkanku waktu itu."
"Tapi aku tidak melakukan apapun!!" teriakku kencang, pria itu membungkukkan badannya dan mendekatkan wajahnya di telingaku.
"Kau melakukannya, darahmu menyelamatkanku dan aku berterimakasih akan hal itu."
"Darahku?"
"Ya begitulah. Ya sudah aku harus pergi..." ucap pria itu pelan dan berusaha pergi dariku tapi dengan cepat aku menggenggam tangannya dan menahan langkahnya.
"Aku ikut!"
"Ikut?"
"Ya aku ikut!"
"Tidak boleh. nanti kamu..."
"Aku bilang ikut ya ikut!!" rengekku kencang, pria itu langsung menggendongku dan memelukku erat.
"Baiklah kalau begitu..." gumam pria itu pelan.
"Hei mau kau bawa kemana dia!!" Teriak Fadil kencang.
"Kau boleh ikut juga Fadil..." ucap pria itu pelan dan berjalan pergi. "Astaga dia benar-benar penurut jika denganku ya..." gumamku pelan.
"Ada apa?"
"Mmm t-tidak ada, ngomong-ngomong kenapa kamu memakai topeng?" Tanyaku penasaran.
"Hanya ingin."
"Kalau boleh bukalah!" Ucapku mencoba membuka topeng itu tapi dengan cepat tanganku ditepisnya.
__ADS_1
"Kalau kau ingin ikut denganku, jangan membuka topengku!" Ucap pria itu dingin yang membuatku takut, aku terdiam dan menatap benang merah di tanganku yang hanya terhubung dengan benang merah milik pria ini saja. "Kenapa bisa hanya dengan dia saja? Lalu bagaimana dengan dua pria lainnya?" gumamku dalam hati bingung.