
Aku terus terjaga dan tidak bisa tidur lagi setelah terbangun dari tidurku, memikirkan apa yang harus aku lakukan membuatku tidak bisa tertidur lagi. Aku terduduk di sofa dan menulis sesuatu di buku pribadiku, sebenarnya pesta kelulusan tidak penting bagiku hanya mencari tahu kebenaran dan siapa ayah kandungku yang sebenarnya.
"Kenapa kamu duduk disini?" Tanya Raelan dingin yang membuatku terkejut.
"Mmm a-aku tidak bisa tidur ayah..." gumamku pelan, Raelan merebut bukuku dan membacanya lembar perlembar.
"Haish kenapa bukumu isinya seperti ini semua?"
"Iiihh ayah tidak perlu tahu!" Protesku merebut bukuku dan menyembunyikannya di pakaianku.
"Aku ayahmu jadi aku... haish..." desah Raelan terduduk di sampingku dan mengusap kepalaku lembut.
"Maafkan ayah ya, gara-gara ayah kamu hidup dengan penderitaan. Kalau ayah tahu penderitaanmu seperti ini dengan mata kepala ayah sendiri pasti ayah akan membunuh siapapun yang telah menyakiti gadis kecilku, katakan siapa saja yang menyakiti gadis kecilku?" Tanya Raelan serius dan aku hanya terdiam dan menundukkan kepalaku.
"Katakan pada ayah anakku..." ucap Raelan serius tapi aku masih saja terdiam.
"Sani!! Astaga kau malah keluyuran disini!" Protes Fadil berjalan kearahku.
"Kak Fadil?" Gumamku terkejut menatap Fadil. Raelan berdiri di depanku dan berusaha melindungiku.
"Siapa kamu?" Tanya Raelan dingin
"Sudahlah Raelan, dia wakil mafia Raelyn namanya Fadil..." gumam Ravaro memberikan beberapa berkas milik Fadil.
"Oh begitu ya..." desah Raelan pelan.
"Nah sebenarnya Fadil lupa dengan kejadian di masa lalu tapi aku sudah membukakannya untukmu..." gumam Ravaro dingin.
"Oh begitu ya, kalau begitu beritahu aku siapa saja yang menyakiti gadis kecilku?" Ucap Raelan dingin dan Fadil memberikan kertas yang aku tulis beberapa hari yang lalu.
"Selain itu ada lagi pria ataupun wanita lain yang menyakitinya dan beberapa orang yang membuatnya selalu ingin bunuh diri."
"Ada..."
"Benarkah?" Ucap Raelan serius dan Fadil memberikan selembar kertas yang lain kepada Raelan.
"Oh jadi mereka yang membuat gadis kecilku menderita ya, Ravaro selidiki mereka semua!" Ucap Raelan dingin.
"Sudah di selidiki Cay, Day, dan Way."
"Oh baguslah, terus pantau perkembangannya..." gumam Raelan pelan.
"Sebentar aku ambilkan beberapa minuman untuknya, kau duduklah Fadil..." gumam Ravaro berjalan pergi dan Fadil terduduk di kursi depanku dan memberikan beberapa lembar kertas untukku.
"Itu beberapa tugas dari organisasi."
"Tugas?"
"Ya, tugas dari organisasi mafia tertinggi! Bagaimana menurutmu?" Ucap Fadil serius dan aku langsung membacanya tapi belum sampai selesai aku membacanya tiba-tiba Raelan merebut kertas itu dan membacanya.
"Tidak!! Tidak akan aku ijinkan!!!" Ucap Raelan menatap Fadil dingin.
"Heei seharusnya dia yang..."
__ADS_1
"Aku ayah kandungnya, apapun yang membahayakan nyawa anakku tidak aku ijinkan!"
"Tapi kan..." protes Fadil kesal.
"Tidak apa kak Fadil, aku juga tidak ingin melakukan tugas itu kak Fadil..." gumamku pelan.
"Eehh kenapa?"
"Kak Fadil ingat kehidupan lalu kan? Pastinya kak Fadil tahu apa alasanku."
"Mmm jadi kamu malas bertemu dengan Ray?"
"Tidak juga, tapi dengan kak Putra, Kak Patra dan Kak Soni. Yaah intinya aku malas bertemu dengan mereka."
"Yaah terserah sih, itu keputusanmu sih Sani."
"Dia Raelyn bukan Sani!" Protes Raelan kesal.
"Tapi kan..."
"Tidak apa ayah, jangan marahi dia. Dia wakilku yang setia..."
"Apakah sesetia itu? Pasti dia juga ingin melukaimu!"
"Tidak ayah, percaya pada pilihanku."
"Haish baiklah, apapun keputusanmu ayah percaya tapi kalau ada yang menyakiti gadis kecilku, ayah tidak akan membiarkannya!" Ucap Raelan dingin.
"Terimakasih ayah..." ucapku sedikit manja.
"Pria kecil? Yang mana?"
"Pria kecil yang masih hidup di tengah pembantaian itu."
"Oh... benarkah?" Tanya Raelan menatap Fadil serius.
"Siapa nama aslimu?" Tanya Raelan serius.
"Aku Fadil Permana Wind, aku asli keluarga Wind dan mmm terimakasih sudah menyelamatkanku..." gumam Fadil menundukkan kepalanya.
"Oh tidak masalah, bagaimana kamu bisa bertemu gadis kecilku?"
"Yaah saat itu saya mencari tahu tentang anda dan ternyata anda memiliki anak yang membuat saya mencari Sani dan membawanya pergi dari keluarga Shin."
"Oh begitu ya, mmm bagaimana perilaku mereka terhadap Raelyn?"
"Sangat menyedihkan tuan, meyakinkan keluarga Shin dan Claudia tidak mudah. Kalau saja Raelyn tidak hebat saat itu pasti dia terus terusan di siksa."
"Siksa? Apa Valo Shin itu yang..."
"Bukan tuan, tapi saudaranya tuan Valo Shin."
"Oh mmm tapi dia sudah mati."
__ADS_1
"Dia belum mati tuan, kan kehidupan ini kembali dimana Sani waktu kecil dan kematian tuan Shin itu saat Sani berumur dua puluh tahun keatas tuan."
"Oh mmm benar juga, Ravaro selidiki semuanya secepatnya!" Ucap Raelan serius.
"Baiklah jangan khawatir."
"Bagaimana aku tidak khawatir kalau anakku menderita!"
"Yaah aku tahu Raelan, dia adikku jadi aku juga merasakan hal yang sama denganmu." Ravaro memberikanku sebuah kotak besar berwarna hitam.
"Apa ini kak?" Tanyaku penasaran.
"Jarum beracun milik kakak beserta beberapa botol racun langka yang bisa kau gunakan."
"Tapi kan..."
"Udah buka aja dulu..." gumam Ravaro serius, aku membukanya dan terkejut.
"I-ini kan barang langka? Bagaimana kakak mendapatkannya?" Tanyaku terkejut.
"Itu jarum milikku, dulu setelah kematianku jarumku itu di lelang musuh."
"Oh begitu ya, mmm kenapa barang ini kakak berikan padaku?"
"Yaah kamu hebat dalam racun dan penggunaan jarum beracun, memberikan senjataku padamu agar kamu bisa semakin hebat adikku."
"Eehh apa kakak yakin akan memberikannya padaku?"
"Tentu saja, aku tidak seahli kamu apalagi kakak sudah nyaman dengan senjata lainnya jadi pakai saja."
"Baiklah terimakasih kakak!" Ucapku senang dan memainkan botol-botol racun itu.
"Hati-hati, racun miliknya sangat berbahaya loh!" Ucap Raelan khawatir dan aku menganggukkan kepalaku pelan.
"Iihh hati-hati!"
"Ihh sudah ayah bilang hati-hati!" Ucap Raelan menggenggam tanganku erat.
"Iya ayah! Aku tahu kok!" Ucapku kesal dan kembali memainkan racun milik Ravaro.
"Haish kenapa kau nampak sangat khawatir? Dia sangat ahli dalam hal racun."
"Walaupun begitu dia pernah terkena racun sampai beberapa kali tidak sadar! Bagaimana aku tidak khawatir?" Ucap Raelan serius.
"Ayah, aku tahu apa yang aku lakukan kok, ayah tenang saja..." gumamku pelan.
"Ayah tahu, tapi kamu anak ayah jadi ayah khawatir denganmu adalah adalah hal yang wajar!"
"Ya ayah, aku tahu kok..." gumamku pelan dan memainkan racun itu kembali. Tiba-tiba ponsel Raelan berbunyi dan Raelan mengangkat telpon itu dengan wajah serius.
"Oh mmm baiklah terimakasih... Ravaro... Fadil ikut aku sebentar!" Ucap Raelan serius.
"Baiklah!" Ucap Ravaro beranjak dari tempat duduuknya.
__ADS_1
"Anakku, kamu disini ya dan segera siap-siap nanti ayah akan mengantarkanmu ke pesta!" Ucap Raelan serius dan berjalan pergi bersama Ravaro dan Fadil sedangkan aku masih asik dengan botol racun-racun itu.