Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 140 : Mencoba Menikmati Malam


__ADS_3

Hampir tiga jam lamanya Rhys meminum darahku, walaupun badanlu benar-benar lemas tapi aku sama sekali tidak menghentikan Rhys apalagi dia pasti sangat membutuhkan darahku.


"Sani kita ada... Sebastian! Kau mau membunuh sani apa!!!" Teriak Fadil mengagetkan kami berdua, Rhys melepaskan gigitanmya dan menatapku terkejut.


"Astaga..." desah Rhys menatapku terkejut, mata yang berwarna merah darah berubah menjadi merah keungun kembali.


"Kau memang benar-benar ya Sebastian!" Gerutu Fadil memukul tubuh Rhys kencang.


"Hentikan kak Fadil!" Teriakku pelan.


"Tapi dia mau membunuhmu tahu!"


"Aku yang memaksanya meminum darahku."


"Tapi kau tahu sendiri, dia kalau melihat darahmu pasti ingin.."


"Tidak masalah kalaupun aku mati karena dia, lagi pula... dia sudah menggantikan hukumanku selama delapan tahun..." gumamku memberikan surat pengadilan dari sesepuh organisasi tertinggi.


"Tapi tidak seperti itu juga Sani! Astaga kau selalu saja bersikap bodoh!" Gerutu Fadil memberikanku sebuah kertas tugas padaku.


"Kau memiliki tugas lainnya setelah tugasmu disini selesai nantinya..." gumam Fadil dingin, aku membaca kertas tugas itu dan ternyata tugas masuk ke dalam wilayah organisasi perbatasan.


"Organisasi perbatasan ya..." gumamku pelan, Rhys merebut kertas tugas milikku dan membacanya.


"Heeii sudah ku bilang jangan membaca tugas Sani!" Protes Fadil merebut kertas tugas itu kembali.


"Organisasi itu berada di pedalaman, tidak ada siapapun yang bisa masuk ke dalam wilayah itu!" Ucap Rhys dingin.


"Kau tahu tentang organisasi mereka?" tanya Fadil terkejut.


"Tentu saja, tapi tidak tahu lebih jauh karena organisasi kegelapan tidak pernah berteman baik dengan mereka dan juga mereka tidak pernah ikut dalam pertemuan organisasi tertinggi..." gumam Rhys menyembunyikan wajahnya di leherku.


"Oh... aku akan mencoba mencari tahu, kau... awas saja kalau sampai membunuh Sani karena penyakitmu!" Gerutu Fadil berjalan pergi.


"Hmmm kan sudah aku bilang jangan memberikanku darahmu! Tapi kenapa kamu bandel!" Gerutu Rhys menatapku dingin.


"Aku hanya tidak mau kamu terus menderita karena penyakitmu Sebastian, kamu sudah menggantikanku menerima hukuman itu jadi aku hanya bisa memberikan darahku sebagai penggantinya."


"Kau selalu ada untukku saja sudah cukup Sani!"


"Tidak, itu tidak cukup! Kau harus meminum darahku walaupun seteguk kau tahu!"


"Tidak mau! Aku..."


"Kalau kau tidak mau maka... jangan pernah mencariku lagi..." gerutuku mendorong Rhys tapi Rhys menekan tubuhku kuat.


"Tidak! Tidak!! Tidak boleh!!!! Kamu tidak boleh pergi dariku! Tidak boleh!!!" Teriak Rhys memelukku erat.


"Kalau begitu kau harus mengikuti kata-kataku!"


"Tapi kalau kau mati kehabisan darah bagaimana?"


"Hanya seteguk tidak akan mematikanku Rhys!" Ucapku serius.


"Oh mmm baiklah aku akan melakukannya..." gumam Rhys pelan.


"Kamu mau jadi mengajakku pergi ke markasmu?"

__ADS_1


"Kamu ingin kesana?"


"Tentu saja aku ingin."


"Baiklah, bersiaplah kita pergi malam ini."


"Apa tidak masalah pergi malam ini?"


"Tidak, saat ini masih ada acara ulang tahun sesepuh jadi jalanan masih sangat ramai lagi pula kau belum tahu kan wilayahku. Aku akan menunjukkannya padamu."


"Benarkah? Apa jalanan banyak pesta?"


"Tentu ini musim semi jadi banyak pesta musim semi di jalanan."


"Benarkah? Aku ingin ikut!"


"Baiklah, siap-siap sana dulu."


"Baik!!" Ucapku segera masuk ke dalam kamar mandi.


Di dalam kamar mandi aku menatap leherku yang masih mengeluarkan darah dan aku segera mengobatinya.


"Ciihhh...." gerutuku kesal.


"Demi informasi kenapa bisa selalu seperti ini sih!" gerutuku memukul wastafel di depanku.


Krriiinnggg...


Tiba-tiba teleponku berbunyi dengan keras aku menatap layar ponselku ternyata nomor baru yang sedang meneleponku.


"Halo..." gumamku dingin.


"Siapa kau?"


"Apa kau tidak mengenal suaraku?"


"Tidak, siapa kau?"


"Ckckck dasar ya kau selalu seperti itu..."


"Biasalah dia kan udah tua!" Sindir seorang wanita di belakangnya, suara wanita itu seperti suara Rani dan sama sekali tidak berubah.


"Tunggu... wanita itu... Rani?" Tanyaku terkejut.


"Oh kau mengingat gadis itu dari pada aku? Sungguh keterlaluan kau Sani."


"Jangan panggil dia nama itu, panggil saja wanita murahan!" Ucap wanita itu dingin.


"Kau... jaga mulutmu!" Teriakku kesal.


"Lalu kenapa kau memang wanita yang tidak tahu diri, lalu kau marah? Apa kau tidak punya kaca buat ngaca?" Ucap wanita itu terus menerus mengindirku, aku hanya diam karena aku benar-benar kesal dengannya.


Hari ini aku malas untuk berdebat jadi aku tidak ingin meladeninya, tapi tiba-tiba ponselku direbut seseorang yang membuatku terkejut, aku menatap sampingku dan ternyata Rhys yang merebut ponselku. Aku segera mengganti pakaianku dan kembali ke dalam kaamr mandi.


"Kalau kau seorang pria, tunjukkan saja...jangan jadi seorang pengecut!" Ucap Rhys dingin dan mematikan teleponnya.


"Kenapa dia meneleponmu?" tanya Rhys menatapku dingin.

__ADS_1


"Mana aku tahu! Aku saja tidak mengenalnya!"


"Apa kau benar-benar tidak mengenalnya?"


"Aku hanya mengingat suara wanita itu tapi kalau yang pria... aku sama sekali tidak tahu..."


"Oh hmmm ya sudah jangan angkat nomor baru lagi!"


"Apa kamu mengenal mereka?"


"Ya, wanita itu memang Rani dan pria itu adalah mantan kekasihmu yang meninggalkanmu sebelum kamu diangkat ketua."


"Mantan kekasih ya... aku sama sekali tidak ingat..." gumamku merebut ponselku dan mengurai rambutku.


"Benarkah? Pria yang benar-benar kau cintai itu, kamu tidak ingat?" tanya Rhys menatapku serius, "Bisa tidak kalau kau tidak membahas masalah pria itu!" Gerutuku dalam hati kesal.


"Tidak."


"Apa kau serius kalau..."


"Apa kau ingin aku mengingat semua itu dan kembali ke pria itu?" Tanyaku serius.


"Tidak boleh!"


"Kalau tidak boleh ya sudah jangan dibahas!" Ucapku dingin dan berjalan pergi.


"Janganlah marah istriku!" Ucap Rhys mencoba menggangguku tapi aku hanya diam tidak memperdulikannya.


"Sayang!" Ucap Rhys menahan tanganku.


"Apa?"


"Kenapa kau dari tadi diam?"


"Malas!"


"Hanya karena aku membahas pria itu?"


"Tentu saja, aku sangat..mmmpphhh..."


"Baik-baik aku minta maaf."


"Haish baiklah..." gumamku pelan.


"Mari kita pergi sayang..." gumam Rhys menggandeng tanganku erat, Rhys mengajakku ke beberapa kedai makanan yang ada di sekitar jalanan yang ramai. Suasana jalanan saat ini benar-benar sangat terasa meriah, banyak kedai makanan dan banyak pengunjung yang berlalu lalang di jalanan. Rhys nnampak sangat senang menikmati malah denganku tapi pengunjung sekitar kami yang terlihat sangat takut bahkan sering menundukkan badan mereka seolah-olah mereka terlihat sangat menghormati Rhys.


"Tambahlah lagi sayang..." gumam Rhys meletakkan sepirinh makanan di depanku.


"Haish kau makan dengan sangat lahap ya."


"Tentu saja, makan di pesta musim semi membuatku teringat masa lalu kita."


"Benarkah? Kamu mengingatnya?"


"Tentu saja, walaupun aku dulu menolakmu tapi bukan berarti aku tidak menikmati kebersamaan kita."


"Emang kamu menikmatinya?"

__ADS_1


"Ya, aku menikmati masa kecil kita Sani. Kamu dulu gadis yang periang dan terus menerus tersenyum yang membuatku terasa nyaman jika bersamamu, tapi... kenapa aku merasa kamu nampak berubah sejak malam itu?" ucap Rhys menatapku serius.


"Malam itu ya... yaahh entahlah..." desahku pelan, aku memainkan steak daging di depanku dan terdiam sambil melamun.


__ADS_2