
Walaupun Raelan itu ayah kandungku diantara ayah kandungku yang lain tapi ayah terlihat seperti seorang kakak yang berusaha menjaga adiknya. Di umur yang masih muda dan memiliki satu anak yang umurnya hanya selisih beberapa tahun membuatnya tidak terlihat kalau memiliki anak.
Di dalam kerajaan ini aku melihat banyak foto-foto kerajaan yang tertempel di dinding, di antara foto-foto itu aku melihat sebuah foto yang terlihat aneh. Diantara foto keluarga itu hanya Raelan yang berdiri berada di paling ujung dan di belakangnya nampak kerajaan Arre yang megah.
"Raelyn, kenapa kamu disini?" Tanya Raelan di belakangku yang membuatku terkejut.
"Mmm a-aku... aku hanya melihat foto ini ayah."
"Oh yaah ini foto keluarga."
"Tapi kenapa di depan kerajaan Arre dan ayah berdiri di ujung?" Tanyaku penasaran.
"Yaah kerajaan Arre adalah kerajaan milik keluarga Kim terbesar di masa lalu... masa kecil ayah sama mirip dengan masa kecilmu, tidak hanya karena penyakit tapi karena kesalahan ayah menghamili orang yang bukan keturunan Kim asli yang membuat ayah dicampakkan."
"Lalu ayah?" Tanyaku penasaran.
"Yaah diumur ayah ke lima belas tahun ayah pergi dari kerajaan Arre dan membuat kerajaanku sendiri. Hanya dengan bantuan Ravaro dan tiga wakilku akhirnya aku bisa membangun kerajaan Arsy ini."
"Mmmm ketiga wakilmu itu apa dari keluarga Kim ayah?"
"Ya, mereka kakak kandungku yang dulu menganggap aku tidak salah karena memang kejadian itu adalah jebakan keluarga untuk membunuhku."
"Tapi kenapa mereka takut pada ayah?" Tanyaku penasaran.
"Kamu tahu kan Raedgar seperti apa?"
"Raedgar? Maksud ayah Redgar? Si Saputra?"
"Yaah namanya Raedgar, dia dulu adik kembarku. Dia yang sangat disayang karena dulu dia tidak menunjukkan penyakit yang di deritanya sedangkan penyakit ayah dari kecil sudah sering kambuh tapi ya untuk di umur segini sudah sedikit berkurang penyakit ayah..." gumam Raelan pelan, aku menatap dua lubang kecil di bawah bibirnya.
"Apa ayah melukai kulit ayah agar ayah bisa meminum darahmu sendiri?" Tanyaku serius.
"Yaaah benar, bagaimana kamu tahu?"
"Di bawah bibir ayah itu ada dua lubang kecil.
"Oh mmm ya ayah menggigitnya dengan taring ayah agar penyakit ayah tidak menyakitkan dan memalukan saja..." Gumam ayah pelan.
"Kenapa ayah tidak mencariku?"
"Tidak, ayah tidak mau menyakiti anak ayah sendiri."
"Tapi kan ayah..."
"Tenang saja untuk saat ini ayah belum membutuhkannya tapi nanti kalau ayah membutuhkannya apa kamu mengijinkannya?" Tanya Raelan menatapku serius.
"Tentu saja ayah, sekarang juga tidak masalah."
"Tidak ayah tidak membutuhkannya sekarang..." gumam Raelan menarikku menaiki tangga.
"Eehh ayah, mau kemana?"
"Ayah kan sudah bilang kamu harus tidur istirahat kenapa kamu malah keluyuran!"
"Aku tidak bisa tidur dan aduuhh..." rintihku saat Raelan mendorongku di atas tempat tidur.
"Dan kau masih saja menerapkan kebiasaanmu tidak tidur? Apa kau ingin sakit?" Tanya Raelan menekan kedua tanganku dengan erat.
"Tapi ayah, Raelyn tidak terbiasa tidur dan..."
"Kau harus membiasakanya, sudah kamu tidurlah!" Ucap Raelan berbaring di sebelahku dan memelukku erat.
__ADS_1
"Tapi ayah..."
"Tidak ada tapi-tapi!"
"Hmmm baiklah..." desahku memejamkan kedua mataku.
Tiba-tiba aku merasakan ada angin yang berhembus menghembus mengenai wajahku. Aku membuka kedua mataku dan melihat langit yang sangat terang menyilaukan kedua mataku, aku terbangun dan menatap sekitarku yang terlihat sepi tidak ada siapapun sama sekali.
"Ini dimana?" gumamku pelan. Aku berjalan menyusuri jalanan dan tidak menemukan siapapun.
"Eehh Sani?" Ucap seorang wanita di belakangku, aku menoleh ke belakang dan melihat Sania berjalan kearahku.
"Sania? Eehh kenapa aku bisa ada disini?" Tanyaku terkejut.
"Tenang saja, hanya sementara saja. Ngomong-ngomong kamu sudah bertemu dengan kakak kandungmu?"
"Sudah, kenapa kamu dulu tidak memberitahukanku kalau Ravaro juga ada!" Protesku kesal.
"Loh kan kau sudah bertemu dengan dia."
"Kan aku kira kalau dia Revaro!"
"Nama dia memang Ravaro tapi banyak yang salah mengira dia Revaro apalagi dia mati di waktu kecil dan Revaro menghilang jadi banyak yang menganggap kalau yang meninggal itu Revaro bukan Ravaro."
"Oh begitu ya... mmm apa Raelan itu ayah kandungku?"
"Raelan? Siapa Raelan?"
"Itu raja kerajaan Arsy, apa dia ayahku?"
"Entah, aku tidak tahu."
"Sani, aku sudah mati oke. Aku tidak mungkin tahu apa yang terjadi. Apalagi setelah dua wanita mengucapkan mantra terlarang membuat waktu kembali berjalan mundur."
"Benarkah?" Tanyaku terkejut.
"Pastilah, kehidupan menjadi berubah dan sangat berbeda."
"Kenapa bisa?"
"Itu mantra yang terlarang dilakukan dan hanya orang-orang tertentu yang bisa melakukannya dengan syarat harus dilakukan tiga orang dan harus menumbalkan seseorang tapi dua orang itu menumbalkan hewan dan hanya dilakukan dua orang jadi ritual itu menjadi tidak sempurna, aku saja bingung kenapa bisa ritual itu berhasil."
"Oh begitu ya, lalu apa ibu masih hidup di kehidupan ini?" Tanyaku penasaran.
"Tidak, dia dibunuh dan aku kira Ravaro akan melakukan hal yang sama seperti dulu tapi ternyata dia tidak melakukan apapun dan hanya menatap kematian ibu dari jauh."
"Kapan dibunuhnya?" tanyaku penasaran.
"Saat kau berumur delapan tahun."
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
"Oh ya Sani, di kehidupan ini kamu harus sangat berhati-hati. Walaupun kamu tahu hal yang dari dulu kau ingin tahu di kehidupan yang sekarang tapi kau harus berhati-hati dengan orang-orang di kehidupan yang lalu."
"Aku tahu kok."
"Kau juga harus berhati-hati dengan pria yang bernama Raelan itu."
"Eehh kenapa?"
"Dia salah satu pria misterius yang menakutkan, dia termasuk tiga raja mafia terkuat di seluruh mafia.
__ADS_1
"Oh mmm benarkah? Apa mereka sangat kuat?" Tanyaku pelan.
"Yah raja memiliki kemampuan yang diluar nalar, jika marah pastinya dia akan bisa membantai semua mafia sendirian dengan mudah... ya seperti dibantu oleh makhluk tak kasat mata."
"Benarkah? Apa sepertiku?"
"Ya bisa dibilang seperti itu."
"Benarkah? Lalu raja yang lain?" Tanyaku penasaran.
"Sama sih, intinya ketiga raja itu sama kuatnya. Kalau kamu bisa meluluhkan salah satu raja pasti kamu bisa membalaskan semua dendammu!"
"Benarkah? Mmm ide yang bagus..." gumamku pelan.
"Oh ya dimana ibu?"
"Ibumu? Dia tidak ada disini."
"Kenapa?" tanyaku terkejut.
"Yaaah dia langsung lenyap jika mati karena dia sudah berinkarnasi sekali dan dia langsung mati."
"Kalau kamu?"
"Sudah aku bilang kan aku tidak bersedia berinkarnasi."
"Oh mmm begitu ya..." desahku pelan.
"Sania... apakah lucu kalau aku menikah dengan ayahku sendiri?"
"Hei apa kau gila? Kau mau menikahi laki-laki tua yang..."
"Dia masih muda dan hanya selisih kurang lebih lima tahun denganku."
"Walaupun begitu itu adalah hal yang sangat gila! Apa kau mau melakukannya?"
"Entahlah, aku tidak mau sih."
"Ayah yang mana yang kau maksud?"
"Ayahku dari keluarga Kim... Kim Raelan Permata..."
"Astaga Raelan itu? Dia ayahmu?" Tanya Sania serius.
"Ya, kak Ravaro yang mengatakannya padaku."
"Astaga ini bencana!"
"Eehh emang kenapa?" Tanyaku terkejut
"Ya kan dia pria yang menakutkan."
"Mmm tidak begitu sih..." gumamku memejamkan kedua mataku.
"Tidak begitu bagaimana? Kalau kau terluka bagaimana?"
"Mmm jangan khawatir, aku sudah biasa terluka kok..." gumamku pelan.
"Ya sudahlah, aku hanya bisa mengingatkanmu Sani!" Ucap Sania pelan dan saat aku membuka mataku ternyata aku kembali ke dalam kamar.
Di sebelahku terlihat Raelan yang sedang tertidur pulas sambil terus memelukku, aku menghela nafas panjang dan memainkan kancing jubahnya. Memiliki ayah yang sangat tampan dan ditakuti semua orang ini membuatku tenang dan juga was-was, aku sangat takut dia marah kepadaku dan dia akan melakukan hal yang sama seperti keluargaku yang lainnya.
__ADS_1