
Aku berjalan melewati gedung ini tanpa menggunakan jubahku sama sekali, aku sudah meminta bawahanku untuk membawa jubahku dan hanya mengawasiku dari jauh saja agar terlihat aku tidak membawa senjata apapun, walaupun begitu aku masih membawa jarumku yang aku sembunyikan di dalam gelang yang aku pakai.
Dengan segelas wiski di tanganku aku berjalan menyusuri lorong dengan santai tanpa menimbulkan kecurigaan sama sekali, tapi tidak aku duga...aku bertemu dengan Han tepat di ujung lorong lantai tujuh. "Han disini? Sejak kapan dia meninggalkan pertemuan?" gumamku pelan hati. Aku mencoba berjalan melewatinya dan seperti rencanaku, Han akan menahanku agar bisa mengobrol denganku.
Han mendorongku sambil menatapku dingin, tatapannya seperti sangat dendam apalagi dari kemarin saat di pertemuan aku selalu menyalahkan dia dan memojokkannya seakan-akan apa yang aku katakan itu benar padahal faktanya aku mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Apa maumu sebenarnya Sani?" tanya Han dingin.
"Aku tidak ingin apapun, lepasin aku!" gerutuku berpura-pura kesal.
"Kau dari kemarin menyalahkanku? Apa itu rencanamu?" tanya Han dingin.
"Rencana ya? Aku tidak ingin merencanakan apapun, aku juga...uuggghh.." rintihku pelan saat Han menahan tubuhku kuat.
"Aku bertanya serius kepadamu Sani Li!"
"Sudah aku katakan kan, aku tidak akan menganggap keluarga Li sebagai keluargaku!" gerutuku kesal.
"Mau tidak mau...ibumu adalah ibuku juga dan kita saudara tiri jadi kau tetap keturunan Li!"
"Sudah aku katakan kan, aku berbeda dengan Rina apalagi Sina aku tinggal di keluarga Shin dan aku memang keturunan Shin!" gerutu kesal.
"Aku tidak peduli, kau tetap keluarga Li!"
"Apa maumu sebenarnya!" gerutuku kesal.
"Seharusnya aku bertanya padamu, apa maumu sebenarnya memojokkan aku di pertemuan itu?"
"Heeh memojokkan ya? Tidak juga, aku hanya mengucapkan faktanya, apa itu salah!" teriakku kesal.
Di salah satu ruangan aku mendengar beberapa orang berbicara dengan keras di balik pintu yang terbuka,di ruangan itu memang ada tiga orang bawahanku yang aku suruh menjadi orang biasa agar Han mengajakku menjauh dari gedung untuk memancing Bintang datang sekaligus mengabarkan Ray jika aku dibawa oleh musuh. Saat tiga bawahanku menatap kami, Han langsung menarikku pergi dari lorong itu.
"Ikut aku!" gerutu Han terus menarikku masuk ke dalam lift. Tangan Han terus menggenggam tanganku sangat kuat bahkan sampai tanganku benar-benar memerah.
Sama dengan rencanaku kalau Han benar-benar mengajakku keluar gedung dan masuk ke dalam hutan yang ada di belakang gedung. Dengan tatapan dinginnya, Han mendorongku ke pohon dan menatapku dingin.
"Kenapa kamu mengajakku ke hutan?" gerutuku kesal.
"Tidak ada orang lain yang mendengar pembicaraan kita saja."
"Apa yang kau inginkan sebenarnya?" tanyaku kesal.
"Aku yang harusnya bertanya seperti itu! Kau kenapa memojokkanku?"
"Sudah aku bilang kan aku mengucapkan fakta, lalu kenapa?" tanyaku dingin.
"Fakta ya? Hahaha apa kau ingin menindasku Sani Li?"
__ADS_1
"Sudah ku bilang aku bukan Sani Li!" gerutuku kesal.
"Aku tidak peduli, aku bertanya padamu...apa kau ingin menindasku?" tanya Han menatapku dingin.
"Menindasmu ya? Hahaha, aku hanya ingin...membunuhmu karena kau sudah membunuh Satria dan anak kembarku Han, aku sangat dendam padamu!" gerutuku kesal.
"Itu kejadian sudah lama, tidak mungkin kau masih mengungkitnya!"
"Satria anakku...dan Satria juga anakmu...kau kira aku akan diam saat anakku dibunuh ayahnya sendiri? Apa kau kira aku akan diam Han? Tidak aku tidak akan membiarkan itu!!" teriakku kesal.
"Aku sudah minta maaf padamu kan!"
"Apa kau kira dengan meminta maaf akan mengembalikan tiga anakku apalagi Satria? Haaah? Mereka memang sudah tenang tapi mereka mati Han dan kau membunuhnya! Kau tahu, betapa hancurnya aku mengingat Satria selalu menjagamu agar aku tidak membunuhmu bahkan Satria masih memikirkanmu dan memintamu untuk datang ke makamnya, apa kau kira hatiku tidak hancur melihat Satria kecilku selalu kau siksa dan berakhir mati mengenaskan disaat aku tidak bisa berbuat apapun Han!" teriakku kesal dan Han hanya terdiam menatapku.
"Satria masih mengingatmu Han, dia menginginkan untuk dimakamkan di atas tebing tempat kau dan Satria berlatih di masa lalu agar kau selalu datang menjenguknya dan kau...apa kau datang menengok makamnya Han? Apa kau melakukannya? Kau ayahnya, kau seharusnya memenuhi pesan terakhirnya kau tahu!!" teriakku kencang, aku tidak menyangka aku bisa mengucapkan semua pikiran yang ada di dalam otakku yang belum aku sampaikan kepada Han sebelumnya, aku mencoba untuk tidak menangis tapi tetap saja aku tidak bisa menahan air mataku.
Melihatku menangis Han hanya terdiam dan memelukku erat, pelukannya seperti pelukan seseorang yang sangat menyesal dan aku juga mendengar sesenggukan Han di telingaku. Di heningnya hutan malam ini berada di pelukan Han benar-benar membuatku tidak berdaya lagi, aku selalu tidak sanggup membunuhnya apalagi melukainya, walaupun aku berusaha untuk melakukannya tapi...aku benar-benar tidak bisa melakukannya apapun kepada Han.
"Maa...Maafkan aku...aku belum bisa datang ke makam Satria, aku...aku berada di bawah pengawasan musuh, aku...aku tidak bisa melakukan apapun, walaupun aku berusaha menghindar tapi...aku...aku benar-benar tidak berdaya Sani..." gumam Han pelan.
"Kehilanganmu membuatku benar-benar depresi dan kau tahu kan Lia selalu menempel padaku. Aku ingin melepaskan pengawasannya dariku tapi...tapi aku tidak bisa...aku tidak bisa melakukannya. Semua yang aku lakukan bahkan membunuh Satria adalah rencana pria itu, aku selalu menolak...tapi...dia selalu berkata akan membunuhmu dan keluargaku yang membuatku harus melakukannya. Aku akui aku...aku bukan ayah yang baik Sani...aku bukan ayah yang baik untuk Satria...aku mencintai Satria melebihi siapapun, saat aku akan membunuhnya...aku meminta maaf kepadanya dan benar-benar tidak bisa melakukannya tapi Satria...Satria yang menancapkan pedangku dengan tangannya dan mengatakan untuk menjagamu Sani...aku...aku sedih jika teringat itu...aku benar-benar sedih Sani!!" teriak Han memelukku sangat erat.
"Pria itu? Siapa yang kamu maksud pria itu?" tanyaku pelan.
"Pria dibalik sosok pria yang bernama Bintang, dan kamu tahu kan Bintang itu siapa?"
"Bintang? Jadi ada orang lain yang ada di balik Bintang?" tanyaku terkejut.
"Berbeda? Kenapa bisa berbeda?" tanyaku terkejut.
"Aku memberitahukannya padamu juga akan percuma, kamu tidak akan percaya..." gumam Han melepaskan pelukannya dan mengusap air matanya yang sudah membasahi pipi.
"Hmmm baiklah aku percaya padamu jadi beritahu aku Han!"
"Tidak perlu, kamu nanti...mmmpphh..." tanpa berpikir panjang aku mencium Han yang membuatnya terkejut.
"Sudah beritahu aku! Kalau kamu memberitahukanku, aku akan menganggapmu kakakku bagaimana?"
"Kamu...kamu menciumku?" tanya Han terkejut.
"Beritahu aku...aku mohon..."
"Mmm ba...baiklah aku akan memberitahukanmu..." desah Han terduduk di tanah.
"Peperangan kali ini benar-benar berbeda dengan peperangan sebelumnya dan akan di kuasai lima kelompok besar, mafia pusat yang dipimpin Fiyoni dan Victory, mafia rahasia yang dipimpin Wahyu dan Feri, mafia tersembunyi yang dipimpin Sino dan Boy, mafia elite yang dipimpin Ray dan Soni, dan satu lagi... mafia misterius yang dipimpin Bintang dengan pria itu."
"Pria itu? Siapa maksudmu pria itu?" tanyaku penasaran.
__ADS_1
"Pria yang merupakan keturunan dari keluarga Li dan keluarga Khun. Namanya Alan, entah dia marga mana tapi Alan itu sering berseteru dengan Ray dan dengan Hans tapi... saat bertarung dengan Hans, Hans kalah dan ya kami keluarga Li menjadi budak Alan. Jadi...jadi aku harus melakukan apapun yang disuruh olehnya..." desah Han pelan.
"Kenapa bisa seperti itu?" tanyaku terkejut.
"Entah aku sendiri tidak mengerti, ibu meninggal juga bukan kesalahan ibu tirimu saja tapi juga...kesalahan Alan. Itulah kenapa Soni sangat membenci Alan dan ibu tirimu."
"Kamu tahu kalau kakak itu wakilnya Ray?" tanyaku terkejut.
"Ya, aku memang tahu. Hanya aku yang tahu, Hans atau ayah tidak tahu akan hal itu. Bahkan kamu terikat dengan Ray pun sebenarnya...aku tahu..." desah Han pelan.
"Kamu...kamu tahu?" tanyaku terkejut.
"Ya, ikatan kalian berdua...siapa yang tidak tahu Sani."
"Oh begitu ya..." desahku bersandar di pohon.
"Walaupun begitu...aku mencintaimu Sani, aku menganggapmu istriku."
"Menganggap istri ya? Kalau ibuku adalah ibumu juga jadi kamu adalah kakak tiriku dan tidak mungkin juga kita menikah Han apalagi...aku sekarang terikat kontrak dengan Ray jadi kontrakmu denganku juga ikut lenyap..." gumamku pelan.
"Ya aku tahu kok, tapi...aku sekarang terikat dengan Lia gara-gara Alan itu...aaah menyebalkan!!" gerutu Han kesal.
"Lia juga cantik dan hebat, kenapa juga kamu terlihat kesal seperti itu? Apalagi kamu juga sudah punya anak bukan?" gumamku pelan.
"Iya aku punya juga kok, tapi dia berbeda denganmu Sani." desah Han pelan.
"Berbeda? Berbeda apanya?"
"Ya, kamu lebih lembut dari pada Lia dan...ya intinya kamu berbeda dengan Lia."
"Ya sudahlah, itu semua sudah terjadi lagi pula kamu nampak bahagia dengan Lia."
"Aku sama sekali tidak bahagia dengannya, sama sekali tidak bahagia. Aku lebih bahagia denganmu Sani."
"Hmmm lalu apa maumu?" tanyaku serius.
"Aku hanya ingin kembali seperti dulu...andaikan Satria masih hidup...aku akan sangat bahagia Sani. Aku ingin bersama denganmu kembali."
"Aku terikat dengan Ray dan kamu terikat dengan Lia, bagaimana aku bisa bersamamu lagi!" protesku kesal.
"Aku tidak peduli...aku akan merebutmu Sani, selamanya kamu milikku!" teriak Han beranjak dari tempat duduknya dan menatapku serius.
"Selamanya kamu milikku Sani, aku akan merebutmu lagi. Lihat saja nanti!" gerutu Han pergi meninggalkanku.
"Heeei!!" teriakku kesal tapi Han tidak memperdulikanku.
"Astaga memang keras kepala si Han ini!" gerutuku kesal.
__ADS_1
"Lagi pula saat ini...aku benar-benar tidak punya rasa denganmu Han...aku...aku sudah mencintai Ray..." gumamku pelan.
Aku terduduk di tanah dan menundukkan kepalaku, walaupun masih ada sedikit rasa cinta kepada Han tapi rasa benciku mengalahkan itu semua dan rasa cinta itu semakin lama semakin memudar seiring rasa sakit yang teramat sangat ini. Walaupun tidak seperti yang diharapkan tapi bertemu Han membuatku tahu identitas seseorang dibalik Bintang itu. Kalau begitu...aku harus mencari pria yang bernama Alan itu sebelum Ray menemukannya dan berakhir sama dengan keluarga Li.