
Setelah kejadian semalam tubuhku langsung demam, dikarenakan aku sedang demam membuatku tidak mengikuti pertemuan dan hanya berbaring di dalam kamar sedangkan Fadil menjaga Ray selama pertemuan berlangsung.
"Apa yang kau inginkan?" Ucapku dingin saat muncul Han di dalam kamar.
"Aku ya? Hanya ingin bertanya sesuatu kepadamu..." gumam Han menekan kedua pipiku dengan tangannya.
"Apa?"
"Bagaimana kamu bisa melepaskan kontrakku denganmu!" Ucap Han dingin.
"Sudah waktunya saja."
"Sudah waktunya? Kontrak kita sudah sangat lama jadi tidak mungkin kalau..."
"Itu takdir kau tahu!"
"Takdir ya? Kau selalu saja merubah takdirmu Sani!"
"Lalu kenapa? Ini hidupku jadi ya suka-suka aku melakukan apa lagi pula hal ini tidak ada urusannya denganmu!" Ucapku menepis tangan Han.
"K-Kau!!" Gerutu Han kesal, Han memasukkan sesuatu di mulutnya dan langsung menciumku yang membuatku terkejut, rasa pahit di mulutku saat obat itu mengenai mulutku membuatku terkejut.
"K-kau...." ucapku pelan dan Han tersenyum dingin kearahku.
"Jika aku tidak bisa mendapatkanmu maka... Lebih baik kau mati bersamaku Sani Shin!" Ucap Han dingin.
"K-Kau memberiku racun langsung dan..."
"Sani!! Siapa kau!!" Teriak Fadil terkejut dan Han langsung pergi kabur.
"Heeii tunggu!!" Teriak Fadil berusaha mengejar Han sedangkan aku benar-benar tidak percaya.
"Raelyn! Raelyn kau tidak apa?" Tanya Ray menatapku khawatir dan aku hanya terdiam.
"Raelyn jawab! Wajahmu memucat dan..." gumam Ray khawatir tapi belum sampai aku mendengar ucapan Ray tubuhku sangat lemas dan kesadaranku menghilang.
Aku merasakan jantungki yang berhenti berdetak tapi aku masih merasakan angin sepoi-sepoi mengenai tubuhku.Tidak lama aku merasa ada seseorang yang menyentuh pipiku yang membuatku membuka mata, aku melihat sekitarku dan melihat Sani yang menatapku sambil menekan pipiku.
"Haaahh... Haaahh..." desahku terkejut.
"Hai kita bertemu lagi Sani!"
"Padahal Sani itu namamu..." ucapku pelan dan menyentuh dadaku yang tidak terasa berdetak.
"Apa aku mati... Lagi?" gumamku pelan.
"Antara iya dan tidak, kau tidak sadar karena racun yang diberikan Han tapi kali ini kau masih sedikit terselamatkan."
"Yaah aku tahu kalau itu, ngomong-ngomong kenapa kau disini sendiri?"
"Seperti biasa aku menunggu seseorang."
"Memangnya tidak bosan apa?"
"Ya lumayan sih, hmmm tidak aku sangka kau bisa berhubungan dengan pria yang bernama Ray."
__ADS_1
"Mmm memang kenapa?"
"Tidak ada, di kehidupan ini seharusnya kamu berjodoh dengan Rayan."
"Rayan?" Tanyaku bingung.
"Rayan namaku..." gumam seorang pria di depanku, aku mengangkat wajahku dan melihat seorang pria tampan mirip Ray didepanku.
"Rayan? Kenapa kamu bisa mati?" Tanyaku pelan saat melihat benang merah ditanganku terhubung dengan Rayan membuatku terkejut. Apa dia benar-benar jodoh yang dijodohkan denganku? Batinku.
"Aku kembaran Ray, aku mati ketika melindungi Ray di tengah badai salju, aku kira Ray akan mati tapi ternyata kamu menyelamatkannya ya, terimakasih..."
"Kamu... Kembarannya?"
"Ya, aku Kim Rayan Valentine..." gumam Rayan mengarahkan tangan kanannya kearahku dan aku langsung menjabat tangannya.
"Aku... Kim Raelyn Valentina Shin..." gumamku pelan dan pria itu tersenyum manis ke arahku.
"Eehh mmm ada apa?"
"T-tidak ada hanya senang melihatmu tumbuh dewasa istriku..." gumam Rayan pelan.
"I-istri?"
"Ya, kamu seharusnya istriku tapi karena aku mati jadi aku meninggalkanmu. Maaf ya istriku... Nantinya jika ada inkarnasi kembali aku akan mencarimu dan menikahimu tapi untuk kehidupan yang dibuat ini kamu harus bisa menjaga dirimu dan tolong jaga adikku ya..." gumam Rayan mencium keningku dan tersenyum kearahku.
"Kehidupan yang dibuat?" Tanyaku bingung.
"Ya pria yang bernama Valentino bersama pria yang bernama Randy yang melakukan ritual terlarang itu yang membuat kamu kembali ke masa lalu."
"Karena aku sudah mati dari kita kecil."
"Oh benarkah? Maaf ya aku tidak bisa menyelamatkanmu dan hanya menyelamatkan Ray..."
"Tidak apa, ini bukan salahmu istriku hanya takdir saja."
"Apa karena suamiku sudah mati dan benang merah ini masih mengikat kita membuatku sering dipermainkan?" Tanyaku pelan, Rayan tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Benar, karena benang merahmu terikat denganku yang sudah mati membuat diseumur hidupmu tidak akan menemukan pria yang bisa menjadi suamimu yang terbaik dan..."
"Rayan! Aku tidak tahan aku ingin ikut."
"Tidak bisa, takdirmu untuk hidup masih panjang!" ucap Rayan serius.
"Tapi Rayan aku sudah tidak tahan lagi aku..."
"Raelyn dengar inkarnasi bisa datang kapan saja jika sudah waktunya, seharusnya jika aku mati benang merah ini putus tapi benang merah ini tidak putus sama sekali."
"Rayan apa kamu bisa berinkarnasi seperti anakku Satria?"
"Mungkin saja aku..."
"Dia bisa tapi dia menolak!" Ucap Sani kencang.
"Kau!! Huusstt!!" Ucap Rayan membungkam mulut Sani.
__ADS_1
"Rayan kenapa kamu menolak?" Tanyaku pelan.
"Hmmm aku sangat menyayangi adikku, aku tidak bisa membuatnya bersedih, aku..."
"Tapi kamu membuatku bersedih Rayan!! Kau membuatku menderita dengan cobaan ini!"
"M-maafkan aku isriku aku..."
"Kau sangat jahat Rayan! Kau tidak membuatku bahagia kau sangat jahat!!" rengekku kencang.
"I-istriku jangan menangis, maafkan aku!!" Ucap Rayan memelukku erat tapi aku terus menerus menangis.
"Rayan kamu sangat jahat kamu mmpphhh..." Rayan mencium bibirku yang membuatku terkejut.
"Rayan!!!" Teriak Sani kencang yang membuat Rayan terkejut.
"M-maaf Raelyn aku... Aku..." gumam Rayan pelan, benang merah kami bersinar terus meredup lagi.
"Kalian berciumanlah lagi agar kehidupan kembali berinkarnasi!"
"Haaah berinkarnasi? Maksudnya?" Tanyaku bingung.
"Selama kamu tidak sadar terjadi perang mafia yang sangat hebat dan ada yang mencoba membunuhmu diam-diam saat Ray lengah dan Fadil tewas."
"Fadil... Tewas?" Tanyaku terkejut.
"Ya lihaat!" Ucap Sani serius dan terlihat Fadil yang bersimbah darah di atas tanah.
"S-siapa yang membunuhnya?" Tanyaku serius
"Musuh yang pasti apalagi tanpa kamu Fadil akan bingung harus seperti apa."
"Katakan siapa?" Tanyaku serius.
"Randi dan Valentino yang melakukannya."
"Kenapa Valentino yang..."
"Valentino dan mafia yang lainnya bekerja sama dengan musuh."
"Tapi kenapa Fadil tidak ada disini dan..."
"Fadil memang sudah mati, jika kamu mati maka kau akan menghilang sama seperti Fadil, lagipula kau juga berhasil dibunuh mereka."
"Di..bunuh!!" Teriakku terkejut dan melihat kedua tanganku yang sedikit memudar.
"Tunggu! Aku kan baru disini kenapa..." ucapku terkejut melihat tayangan di dunia melalui air ajaib di depan ini.
"Kan aku sudah bilang beberapa jam disini sama saja beberapa hari di dunia bukan? Jadi cepatlah kalian berciuman agar kita bisa berinkarnasi di kehidupan yang baru!" Ucap Sani serius yang membuatku terkejut.
"Raelyn jangan dengarkan ucapan Sani!"
"Sani cepat!!"
"Raelyn jangan nan.. Mmpmmpphh..." aku terus mencium Rayan yang membuatnya terkejut.
__ADS_1
Aku harus mengubah hidupku!! Batinku, melihat Fadil yang mati dengan tragis membuatku sangat dendam, apapun yang terjadi aku harus membalaskan dendam kematianku dan Fadil. Aku berharap aku bisa membalaskan dendam semua dendamku di kehidupan lainnya! Batinku dan semakin lama aku merasa jiwaku semakin hilang.