
Di restoran khusus ini, aku terduduk di pojok ruangan sendiri sambil meminum dua botol wiski di depanku, aku menatap keluar jendela sambil melihat banyak kendaraan di sore ini serta anak-anak yang sedang bermain di taman dekat gedung pertemuan ini. Melihat kegembiraan anak-anak itu membuatku benar-benar sedih karena aku sama sekali tidak mendapatkan kegembiraan itu.
"Apa mereka membuatmu sedih Sani?" tanya tetua yang berdiri di depanku bersama dengan Fadil.
"Tidak juga tetua...maaf aku sedikit kasar dengan tetua dari kemarin..." gumamku pelan.
"Tidak apa, Fadil sudah memberitahukan padaku. Jadi kalian sekarang mafia elite?"
"Ya...guru Rendi yang memberikannya kepada kami tetua."
"Baguslah, memang kalian pantas mendapatkannya..." gumam tetua terduduk di depanku.
"Aku hanya ingin kekuasaan istimewa saja selain itu... aku tidak ingin yang lainnya."
"Tidak masalah, aku tahu apa yang dipikirkan Rendi itu. Dia menyuruhmu mencari beberapa barang karena suatu tujuannya Sani dan kamu tahu akan hal itu..." gumam tetua mafia menatap alat pelacakku yang aku genggam.
"Tapi Sani bingung tetua, mana yang Sani pilih mafia elite atau mafia tertinggi?"
"Ya kamu bisa menjalankan dua-duanya, yang penting jangan beritahu apapun yang kamu ketahui di mafia elite dan juga rencanamu saat pertemuan mafia Amerika, ya sama halnya yang kamu lakukan sekarang ini. Saat ini musuh licik dan tidak bisa di percaya seperti dulu. Aku tahu mereka sekarang sedang berpihak pada musuh tapi aku hanya percaya padamu Sani Shin..."
"Mmm terimakadih tetua..." desahku meminum wiskiku. Tiba-tiba ada pelayan yang mengantarkan beberapa makanan ke atas meja lalu pergi.
"Kamu tidak makan?"
"Saya sudah kenyang tetua, tetua makan saja dulu..." gumamku pelan.
"Kamu masih saja tidak suka makan Sani."
"Ya memang begitulah saya tetua..." desahku pelan.
"Ngomong-ngomong kata Fadil apa benar akan ada pertempuran nanti malam saat semua mafia bertemu mafia elite?"
"Ya kemungkinan besar tetua."
"Pertempuran apa?"
__ADS_1
"Ya... tetua lihat saja nanti. Yang penting tetua terus berada di lingkup bawahanku saja."
"Haish jangan bilang kamu akan melakukan hal bodoh lagi Sani?"
"Tidak juga tetua, hanya ingin bermain-main saja."
"Ya sudah terserah kamu, asalkan kamu tidak terluka."
"Baik tetua."
"Oh ya, apa rencanamu di setujui oleh Rendi?"
"Belum tahu tetua, guru hanya bilang rencana yang bagus saja."
"Padahal rencana yang kau berikan kepadaku jika dilihat memang tidak masuk akal."
"Pertempuran di perang yang akan datang juga tidak masuk akal tetua. Sama halnya perang dunia seperti dulu."
"Ya aku tahu, ini benar-benar rumit dan aku percaya tentang hal itu."
"Aku tidak tahu apa aku bisa melakukannya atau tidak tetua, dengan penyakitku yang benar-benar sudah menggerogoti tubuhku...aku tidak tahu apa aku berhasil bertahan hidup."
"Otaknya masih bermasalah, dia didiagnosis akan menjadi orang yang benar-benar pelupa apalagi bekas benturan di kepalanya saat itu membuat otaknya tambah bermasalah!" ucap Fadil serius.
"Apa tidak ada obatnya?"
"Kata dokter sih tidak, tapi aku tidak tahu. Lagi pula selain itu aku tidak akan bisa bertarung di pertempuran nantinya, entah kak Ray akan menolongku atau tidak tapi aku benar-benar tidak bisa melakukan apapun."
"Loh kenapa bisa," tanya tetua mafia terkejut.
"Kepalaku terasa sangat pusing dan badanku seperti tidak ada tenaga sama sekali, aku tidak meminum obat akhir-akhir ini karena obatnya dibawa kak Ray dan dia benar-benar sibuk akhir-akhir ini."
"Jadi ucapan di catatanmu benar-benar prediksimu bukan rencana anak kecilmu?" tanya Fadil terkejut.
"Ya itu prediksiku, tapi tergantung Ray akan menyelamatkanku atau tidak. Jangan membantuku kak Fadil, jaga saja tetua mafia jangan jaga aku..." gumamku meminum wiskiku.
__ADS_1
"Apa kau gila? Kamu kan..."
"Anggap saja ini perintah, lagi pula aku ingin tahu bagaimana kak Ray jika bertarung. Kalau dia hebat...kita akan diuntungkan, betul kan tetua?" gumamku pelan.
"Mmm jadi kamu hanya ingin menguji Ray saja?"
"Ya...aku tahu dia mengajari anakku tapi aku belum tahu bagaimana dia bertarung dan dia selalu menyuruhku menutup mataku jika dia sedang bertarung jadi aku ingin tahu saja apalagi dia membuat kesalahan denganku, aku ingin membuat perhitungan dengan dia!" gerutuku kesal.
"Di goda wanita adalah hal yang biasa di alami pria mafia Sani dan kau juga sama, jadi kau jangan seperti anak kecil!" protes Fadil dingin.
"Ya perasaan wanita berbeda dengan pria kak Fadil, kamu menganggap itu hal biasa tapi aku tidak. Aku sudah lelah dengan permainan pria, aku sudah dewasa, aku ingin mencari jodoh yang tepat untukku saja, kehilangan tiga anak disaat aku tidak berdaya membuatku benar-benar sakit..." desahku menatap wiski yang aku genggam di tanganku.
"Tetua tahu apa yang kamu alami Sani, apapun yang kamu lakukan tetua tahu maksud dan tujuanmu, aku dulu juga gurumu, sebagai guru aku juga mengerti apa yang dialami muridnya jadi lakukan sesukamu, asal kamu tidak sering terluka seperti dulu apa kamu mengerti?" tanya tetua mafia serius.
"Yaah aku mengerti tetua..." desahku pelan.
"Waktu sudah hampir malam, pertemuan di dalam ruangan masih saja ada dan kali ini mafia dari negara lain juga datang. Kalau prediksimu benar berarti mereka akan bertarung karena dendam mereka yang tidak terbalas!"
"Tidak hanya itu tetua..." gumamku pelan.
"Tidak hanya itu?" tanya tetua mafia terkejut.
"Ya, mafia dari negara lain pasti akan meminta tolong pada tetua mafia untuk memihak mereka apalagi mereka tahu kalau kebanyakan mafia Amerika sudah memihak pada sekutu jadi tetua jangan sampai salah keputusan kalau tidak, pasti mafia dari negara lain akan menganggap tetua sebagai penghianat. Ini jawaban yang bisa tetua gunakan..." gumamku memberikan secarik kertas untuknya.
"Astaga kamu juga sudah membuat jawaban itu juga? Bagaimana kamu bisa memprediksi itu semua? Apa mafia elite yang membicarakannya?" tanya tetua mafia terkejut.
"Tidak, hanya pikiran yang terlintas di otakku saja tetua. Tetua sudah aku anggap guruku dan kakekku sendiri sama seperti guru Rendi jadi, aku tidak ingin anda bernasib sama dengan ayah saja..." gumamku meminum wiskiku.
"Oh ya aku mengerti, semoga tuan Shin segera ketemu ya Sani...tetua kembali ke pertemuan, tenangkan saja pikiranmu biar Fadil yang menggantikanmu sementara..." gumam teua meninggalkanku bersama dengan Fadil.
"Yaaah baiklah tetua..." desahku kembali meminum wiskiku. Aku menatap keluar jendela lagi dan melihat seorang anak yang digendong oleh ayahnya keluar dari taman bermain, walaupun aku dulu tidak mendapatkan kasih sayang tapi hanya ayah yang masih terlihat menyayangiku dan sesekali mengajakku bermain jadi kehilangan ayah membuatku sangat sedih.
"Hmmm sebenarnya dimana ayah berada? Kalau masih hidup ayah terkurung dimana? Kenapa ayah tidak memberitahuku?" gumamku pelan
"Dan ibu...maafkan Sani yang tidak tahu kalau ibu sudah lama tiada, kalau ibu masih hidup...pasti Sani tidak akan menderita dengan ibu-ibu tiri itu. Tapi ibu...Sani bingung... kenapa ayah dan ibu tiri benar-benar menjaga Sani dari pembantaian itu? Dan sebelum pembantaian itu ayah dan ibu tiri sangat mencintaiku berbeda dengan sebelumnya?" gumamku pelan sambil menatap gelas wiskiku lagi.
__ADS_1
"Astaga aku ngomong sendiri lagi...lama-lama kau jadi gila Sani!" gerutuku menghabiskan wiskiku dan berjalan pergi dari restoran.
Di malam ini aku berharap aku bisa bertemu dengan Bintang dan bertemu dengan Han mata ke mata agar aku bisa mencari informasi keberadaan ayah, ya semoga rencanaku bisa berhasil kalau tidak aku pasti benar-benar mati ditangan Han atau bahkan Bintang.