Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 143 : Bertemu Raechan


__ADS_3

Selama beberapa hari aku benar-benar tidak bisa tidur, bukan karena ruangannya yang kumuh tapi ada banyak pikiran yang tercampur aduk di otakku. Aku berusaha menelepon Alvaro tapi Alvaro tidak mengangkatnya hanya mengirimiku pesan singkat kalau dia sedang rapat.


Tookk...tookkk... toookkk


Suara ketukan pintu yang mengagetkanku, aku berduduk dsn melihat sebuah pintu kecil di bawah pintu ruangan ini.


"Permisi nona, ini makanan anda..." ucap seorang wanita memasukkan nampan ke dalam ruangan ini dan menutup pintu kecil itu kembali.


"Makanan ya..." desahku menatap isi dari piring itu dan ternyata makanan yang berbau tidak enak dan benar-benar aku seperti diracun oleh Rhys dengan makanan busuk.


"Ciiiihhh siapa yang sudi memakan itu!" Gerutuku kesal dan berjalan ke arah balkon. Aku sebenarnya tidak benar-benar terkurung tapi aku memang tidak ingin keluar sama sekali.


Selama beberapa hari ini aku hanya melamun menatap langit-langit ruangan dan melamun menatap langit biru di balkon ruangan, entah sampai kapan aku melakukan hal bodoh ini tapi aku memilih tidak melakukan apapun dan hanya berpikir rencana yang harus aku lakukan, aku sebenarnya bingung antara cinta atau tugas.


Kriiinngggg....


Tiba-tiba ponselku berbunyi dan saat aku menatap layar ternyata Alvaro yang meneleponku. Aku segera mengangkat telepon itu dan ingin menanyakan beberapa hal kepada Alvaro.


"Halo ada apa adikku?"


"Aku mau bertanya kak."


"Tentang apa?"


"Tentang sesuatu hal yang aku tidak ketahui."


"Tentang apa?"


"Kakak, apa ayah dan ibu membunuh keluarga Rhys?"


"Bukan, ayah dan ibu membunuh orang tua Rhys!" Ucap Alvaro dingin.


"Membunuhnya? Kenapa?"


"Karena Rhys membunuh Lani dan Ryhan menbunuh beberapa keluarga besar kita!"


"Eehhh lalu kenapa..."


"Orang tua Rhys yang menjadi dalangnya dan pasti kamu dijadikan tahanan kan?"


"Yaaah bagaimana kakak tahu?"


"Hanya menebaknya, tapi kau jangan lengah adikku! Ingat tugasmu!"


"Tapi kakak, aku dengannya terikat pernikahan kontrak!"


"Kakak tahu, tapi itu tugasmu jadi utamakan tugasmu!" Ucap Alvaro dingin dan mematikan teleponnya.


"Eeeeehh astaga...." desahku memasukkan ponselku, aku tidak menyangka Alvaro begitu memperdulikan tugasku dari pada keselamatanku.


Dari balkon ini aku melihat Rhys dan Ryhan sedang duduk di gazebo dengan seorang wanita cantik, entah apa yang mereka bicarakan tapi dari wajah mereka nampak kalau mereka terlihat serius membicarakan sesuatu.


"Apa yang mereka bicarakan ya?" Gumamku pelan.

__ADS_1


"Ya sudahlah, biarkan saja..." gumamku kembali menatap langit di atasku dan kembali melamun memikirkan rencanaku. Disaat aku asik melamun, tiba-tiba ada seseorang yang berdiri di sampingku dan menatapku dingin.


"Kenapa kau tidak pernah makan?" Tanya Rhys menatapku dingin.


"Tidak ingin."


"Tidak ingin? Apa kau ingin mati?"


"Yaah dan kau juga ingin aku mati kan?"


"Tidak juga."


"Oh benarkah? Kalau begitu lain kali jangan memberikanku makanan busuk pasti akan membuatku lama untuk mati, lebih baik kau memberikanku sebotol racun langka atau memakai pedangmu pasti akan mudah aku untuk mati."


"Apa maksudmu?"


"Apa maksudku?" gumamku menatap Rhys dingin.


"Kau setiap hari memberikanku makanan busuk dengan aroma yang sangat tidak sedap di tambah ruangan yang benar-benar kumuh dan... ya sudahlah aku hanya tahananmu jadi aku tidak berhak memprotes hal itu..." gumamku pelan dan membuang mukaku. Melihat ucapanku membuat Rhys berjalan masuk ke dalam ruangan sedangkan aku hanya terdiam menatap langit di atasku.


"Kamu memakannya?" Tanya Rhys menatapku dingin, aku tersenyum dingin dan berpura-pura sedih.


"Tentu saja, dan membuatku sakit perut karenanya kau tahu! Kalau kamu ingin membunuhku langsung aja bunuh aku dari pada kau membunuhku dengan memberikan makanan basi!" Ucapku dingin.


"Kalau begitu aku antar kau ke dokter!"


"Tidak perlu, aku hanya tahananmu buat apa kau memperdulikanku?"


"Tidak mau, aku tidak apa-apa kok."


"Tapi tadi katanya kamu sakit perut..."


"Sudah aku bilang aku tidak apa ya tidak apa-apa! Apa kau tidak mengerti!" Protesku kesal.


"Oh baiklah... kenapa kau tidak pernah keluar?"


"Aku hanya seorang tahanan, untuk apa aku harus keluar?"


"Terserah kau sajalah!" Ucap Rhys dingin dan berjalan pergi.


"Ciihh hanya seperti itu saja? Menyebalkan!" Gerutuku kesal.


Hari ini tepat dua minggu aku menjadi tahanan organisasi tertinggi sekaligus tahanan Rhys, hidup di tempat yang kumuh dan kotor tidak membuatku risih sama sekali malah dengan adanya aku disini membuatku merasa sangat tenang dan benar-benar tanpa beban sama sekali.


"Enak kali kau hidup santai ya Raelyn!" Ucap seorang pria yang berdiri menyandar di balkon, aku menatap pria itu dan ternyata pria itu adalah Raechan. Raechan adalah wakil ketua organisasi tersembunyi.


"Eehh Raechan? Bagaimana kau bisa disini?" Tanyaku terkejut, Raechan berjalan kearahku dan mengangkat daguku tinggi.


"Tentu saja aku hanya merindukanmu."


"Merindukanku?" Tanyaku bingung.


"Ya benar sekali."

__ADS_1


"Oh ya kenapa kamu menghilang bertahun-tahun?"


"Aku ya? Apa tetua tidak mengatakannya padamu?"


"Tidak, memangnya apa yang kamu lakukan?" Tanyaku dingin. Raechan menunjukkan sebuah lencana ketua organisasi kemiliteran mafia yang membuatku terkejut.


"K-kamu? Bagaimana bisa kamu masuk ke kemiliteran mafia?" Tanyaku terkejut, kemiliteran mafia adalah organisasi tertinggi diantara semua organisasi dan aku baru ingat kalau aku juga tahanan organisasi kemiliteran mafia saat aku kecil karena pelanggaran disiplin mafia.


"Itu butuh perjuangan bertahun-tahun tapi tidak aku sangka kau ternyata tahanan organisasi kemiliteran mafia ya..." gumam Raechan mengusap pipiku lembut.


"I-itu..."


"Kenapa kamu terlihat gugup dan berbicara saja sampai terbata-bata?" Ucap Raechan menatap gelang di tanganku dan tanda di leherku.


"Ckckck kau belum menebus hukumanmu di organisasi kemiliteran mafia malah kamu menjadi tahanan organisasi tertinggi? Kau memang suka berbuat ulah ya Raelyn..." ucap Raechan dingin dan aku hanya terdiam menatap Raechan yang menatapku dengan tatapan dinginnya. Aku benar-benar tidak menyangka Raechan menjadi ketua organisasi kemiliteran mafia bahkan dia benar-benar berubah berbeda dengan Raechan yang aku kenal dulu sebagai wakil ketuaku.


"Kenapa kau hanya terdiam Raelyn? Apa kedatanganku mengejutkanmu?"


"Yaaah begitulah, jadi kau datang kemari untuk menangkapku?"


"Hahaha, tentu saja... tidak. Aku memiliki tujuanku sendiri..." gumam Raechan mengangkat tangan kananku dan menggenggamnya. Di tangannya terlihat sebuah benang merah yang terhubung dengan benang merah di tanganku bahkan benang merah di tanganku sendiri terdapat dua cabang yang menghubungkan benang merah Raechan dengan Rhys.


"Kenapa bisa... benang merah jodoh ini terhubung di kedua pria? Apakah jodohku mereka?" Gumamku dalam hati.


"Apa yang kamu lamunkan?" Tanya Raechan menatapku serius.


"Eeehh mmm memangnya apa tujuanmu?" Tanyaku serius.


"Tujuanku ya... hanya... menginginkanmu."


"Eeehh? G-gimana? Aku tidak mengerti..." Ucapku terkejut


"Aku hanya menginginkanmu... hanya itu."


"Maksudnya bagaimana aku tidak mengerti dan... mmmppphhh..." Raechan menciumku yang membuatku sangat terkejut, disaat Raechan menciumku aku merasa tanda di leherku terasa sangat sakit.


"Aaauugghh sakit..." rintihku pelan.


"Ckckck ternyata bereaksi yah tanda itu..." gumam Raechan pelan dan menggigit leherku yang terdapat tanda itu dengan kuat.


"A-apa yang kau lakukan?" Rintihku pelan tapi Raechan sama sekali tidak memperdulikannya, bibirku dibungkam dengan tangannya yang membuatku merasakan rasa sakit ditambah rasa panas yang luar biasa di leherku.


Selama beberapa menit menahan sakit dan air mataku menetes di sudut mataku ini, Raechan melepaskan gigitannya dan menatapku dengan tatapan anehnya.


"Kau benar-benar sangat manis Raelyn..." gumam Raechan kembali menciumku dan terus mengusap lembut pipiku sedangkan aku hanya terdiam menahan sakit di leherku.


"Oh ya aku harus pergi..." gumam Raechan menatap jam tangan miliknya.


"Aku nantinya akan menjemputmu Raelyn..." gumam Raechan dan pergi menghilang.


"Haaah... haaahh..." desahku mengatur nafasku, aku segera pergi ke kamar mandi dan melihat leherku, aku benar-benar terkejut terdapat dua tanda yang memiliki pola yang berbeda di leherku.


"Astaga... apa yang harus aku lakukan..." gumamku pelan, aku tidak menyangka kalau aku akan bertemu dengan pria yang aku sukai dulu bahkan dua pria yang sangat dekat denganku kini mengikatku yang membuatku merasa seperti terpenjara.

__ADS_1


__ADS_2