Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 58 : Tersadar


__ADS_3

Aku membuka kedua mataku dan melihat aku berada di ruang yang sangat gelap, aku menatap sekitarku dan melihat ayah, ibu dan Rina disiksa oleh sekelompok orang yang memakai topeng dan jubah hitam, aku berlari ke arah mereka mencoba melindungi mereka.


"Ayah...Ibu...Rina!! Kenapa...kenapa kalian bisa..." teriakku kencang, aku terkejut kenapa Rina juga disiksa di ruang gelap ini.


"Nak pergilah!!" teriak ibu mencoba menahanku.


"Tidak...aku tidak mau!"


"Sani pergilah, jangan hiraukan kami bawa adikmu pergi!" ucap ayah terkejut.


"Adik? Adik yang mana?Aku tidak punya adik!"


"Dia adikmu, bawa dia pergi Sani!" teriak ayah kencang sedangkan Rina hanya menangis.


"Tidak, aku tidak punya adik!"


"Dia adikmu nak, dia adik kembarmu!"


"Tidak, aku tidak percaya...aku..."


"Diamlah kalian! Kalian hanya sampah, mending kalian mati saja!" ucap seorang pria berjubah itu membunuh mereka bertiga dengan sekejab.


"TIDAAAAKKK!!!" teriakku kencang sambil terbangun dari tidurku.


Aku terduduk dan menatap disekelilingku ternyata aku berada di ruang perawatan. Aku menatap Sino dan Fiyoni berdiri menatapku terkejut, Sino mengusap punggungku lembut.


"Apa kamu bermimpi buruk?" gumam Sino pelan.


"Iya...aku...bermimpi buruk kak Sino...aku...aku..." gumamku pelan.


"Tenang sayang, ada kami disini jadi jangan khawatir." bisik Sino pelan dan aku menganggukkan kepalaku pelan


"Kak Sino...kepalaku sakit...aku sangat pusing..."


"Tidak apa, nanti juga sembuh. Tapi kamu ingat tentang apapun kan?" tanya Sino serius, aku mengangguk pelan dan Sino menghela nafas panjang sambil tersenyum.


"Syukurlah, kami sangat mengkhawatirkanmu." desah Fiyoni pelan.


"Memangnya kenapa?"


"Kepalamu terbentur dan kekurangan banyak darah, darah Sino tidak bisa mencukupinya. Tapi untungnya Rina mau mendonorkan sedikit darahnya padamu."


"Rina?" gumamku terkejut, aku ingat mimpiku tadi membuatku takut. Aku menggenggam erat tangan Sino.


"Ada apa sayang?"


"A...aku..." gumamku pelan, tiba-tiba ada seorang wanita yang berdiri di depanku. Rambut terurai dengan pita merah di rambutnya, tangannya menggenggam keranjang buah dan tersenyum ke arahku.


"Mmm ka...kakak..." gumam Rina pelan, aku terdiam dan menyembunyikan kepalaku di pelukan Sino.


"Kakak, apa kakak tidak ingat denganku?" tanya wanita itu pelan, aku sebenarnya tahu wanita itu Rina tapi aku hanya diam.


"Aku Rina kak... Apa kakak tidak ingat?" tanya Rina pelan.


"Aku tahu...kenapa kamu disini?" tanyaku dingin


"Aku mengkhawatirkan kakak."


"Mngkhawatirkanku? kenapa juga kamu mengkhawatirkanku?"


"Kakak itu kembaranku jadi..."


"Oh benarkah? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu kembaranku?" tanyaku dingin.


"Mmm i...itu karena...ayah tidak...mmm tidak memperbolehkannya."


"Tidak? Kenapa?" tanyaku dingin.


"Kita kembar tapi kita tidak sedarah, tuan Li ayahku sedangkan tuan Shin ayahmu, walaupun kita kembar tapi DNA kita berbeda."


"Itu namanya tidak kembar!" protesku kesal.

__ADS_1


"Kita kembar kakak, kita..."


"Kembar itu kalau kita sedarah, kita berbeda segalanya jadi tidak mungkin kalau..." gerutuku kesal, ingin aku memarahi Rina tapi Sino memelukku sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Kalian kembar sayang, jadi dia benar adik kembarmu..." bisik Sino di telingaku.


"Tapi kak Sino!!"


"Itu kenyataannya sayang, dia adik kembarmu. Dimimpimu ayah dan ibumu berkata demikian juga kan?" bisik Sino pelan.


"Kenapa kak Sino tahu?" tanyaku terkejut.


"Kamu tadi berteriak memanggil ayah, ibu dan Rina bagaimana aku tidak tahu sayang.." gumam Sino yang membuatku terdiam mengaguk pelan.


"Baiklah terserah, lagi pula keluarga Li musuhku." gerutuku dingin.


"Kakak mau membunuh keluarga Li? Dan membunuh ayah juga?" tanya Rina terkejut.


"Iya, lalu kenapa?"


"Tapi kan dia ayahmu juga kak!"


"Ayahku tuan Shin bukan tuan Li!" protesku kesal.


"Tapi dia juga termasuk ayahmu kak! Walaupun kakak ikut keluarga Shin tapi kakak juga termasuk keluarga Li apalagi ibu keluarga Li asli!" protes Rina kesal.


"Aku tidak peduli, kamu mau memihakku sebagai kakak kembarmu atau kamu memihak mereka keluarga Li itu terserah padamu." gumamku melepaskan pelukanku dari Sino.


"Ka...kakak mengakuiku?" tanya Rina terkejut.


"Itu tergantung, bahkan mungkin aku juga menganggapmu sebagai musuhku."


"Aku tidak ingin bermusuhan denganmu kakak."


"Ya itu tergantung kamu maunya seperti apa, aku muak dengan keluarga Li kalau kau tidak suka denganku maka silahkan pergi."


"Aku menyukaimu kakak, aku tetap menganggapmu kembaranku."


"Oh ya Rina, kamu bilang ada jadwal kuliah siang kan?" gumam Fiyoni mencairkan suasana.


"I...iya kak Fiyoni."


"Ya sudah lebih baik kamu segera berangkat, kamu bisa menjenguknya kapanpun Rina."


"Mmmm baiklah... kakak aku berangkat dulu ya..." gumam Rina pergi dari kamar.


"Kamu sangat jahat kepada adik kembarmu ya Sani..." sindir Fiyoni tersenyum dingin kearahku.


"Aku tidak peduli, aku sangat dendam."


"Kamu masih saja menakutkan Sani...oh ya aku ada rapat, aku harus segera ke rapat itu..." gumam Fiyoni berjalan pergi.


"Fiyoni bawa ini..." gumam Sino melempar sesutu kepada Fiyoni dan Fiyoni kembali berjalan keluar kamar.


"Apa itu?"


"Tidak ada apa-apa kok."


"Apa yang kamu sembunyikan kak Sino?"


"Tidak ada serius."


"Aku tidak suka rahasiaan!" gerutuku kesal.


"Itu sampel darah mu yang terkena racun, Fiyoni sedang meneliti kandungan apa yang ada di racun itu dan obat penawar apa yang bisa menyembuhkannya."


"Apa aku terkena racun?" tanyaku terkejut.


"Ya tepat di lehermu, tapi untungnya obat penawarmu bisa menawarnya walaupun harus menunggu berhari-hari sampai kamu sadar."


"Oh... begitu ya, sumpah aku sangat dendam kepada mereka!" gerutuku kesal.

__ADS_1


"Ya aku mengerti sayang, mungkin kalau aku di posisimu pasti aku akan dendam juga." gumam Sino mengusap lembut rambutku.


"Hmmm..." desahku menarik tangan Sino dan memeluknya erat.


"Disaat aku tidak ingin bertemu mereka berdua kenapa sih mereka berdua kembali dan merusak ketenangan markasku..." gerutuku kesal.


"Ya seperti itulah musuh sayang, kamu juga tahu akan hal itu kan."


"Ya aku akui sih aku sangat lengah dengan mereka dan tidak peduli tentang mereka, tapi...aaah ya sudahlah pusing..." gerutuku meremas pakaian Sino.


"Sudahlah sayang, istirahatlah nanti biar bawahanku yang akan mencari tahu keberadaan markas mereka jangan khawatir."


"Baiklah..." desahku mengalah.


"Oh ya, jangan lupa minum obatmu sayang!"


"Nanti saja."


"Kamu harus minum sekarang, wajahmu masih sangat pucat tahu!" gerutu Sino menyerahkan obat kepadaku


"Hmm baik-baik aku akan meminumnya." gumamku meminum obat tersebut dan berbaring kembali.


"Haaah aku sangat benci minum obat!" gerutuku kesal.


"Kalau sudah sembuh tidak minum obat sayang."


"Hmmm ya aku tahulah kak Sino."


"Oh ya sayang beberapa hari lagi kamu akan menghadiri pesta jadi kamu nanti..."


"Aku mau ikut!"


"Tapi kamu belum sembuh sayang."


"Aku sudah baikan, aku harus ikut."


"Kenapa kamu memaksakan ikut?"


"Kamu kira aku tidak tahu pesta apa itu?" gerutuku menatap mata Sino serius.


"Tapi kan kamu..."


"Aku diundang ya! Kamu kira aku tidak diundang. Kamu mau bermain wanita? Kalau iya, ya sudah aku tidak ikut." protesku menunjukkan undangan yang diberikan Victory kepadaku, Sino membaca undangan itu dan terkejut.


"Baiklah, kalau mau ikut ya ikutlah tapi aku dengan Fiyoni akan mencari informasi jadi jangan mengganggu kami apa kamu paham."


"Terserah kau saja!" gerutuku membelakangi Sino.


"Sayang jangan ngambek dong."


"Bodo amat, uruslah urusanmu kalau begitu jangan gangguin urusanku nantinya..." gerutuku kesal.


"Sayang jangan gitu dong, jangan ngambek-ngambek nanti cantiknya hilang loh!" gumam Sino terus membujukku.


"Bodo amat!" gerutuku membuka pesan dari tetua mafia tertinggi.


"Sani, carilah informasi tentang seseorang, nanti tanyakan kepada Victory oh ya nantinya kamu berangkat dengan Victory. Jangan sampai ketahuan kalau kamu datang ke pesta itu untuk mencari informasi. Selain itu saat pelelengan jangan beli apapun kecuali batu kristal langka, tapi kalau kamu ingin beli untuk dirimu sendiri tidak masalah yang penting kamu jangan sampai tidak mendapatkan batu kristal itu!" gumamku dalam hati membaca pesan dari tetua.


"Oh astaga sungguh membuatku pusing!" gerutuku meletakkan kembali handphoneku.


"Pusing kenapa sayang."


"Tidak ada apapun kok kak Sino..." desahku memejamkan kedua mataku.


"Apa kamu masih sakit kepala?"


"Sedikit, tapi tidak apa...aku ingin istirahat dulu..." gumamku pelan, Sino memelukku dari belakang yang sedikit membuat merasa tenang.


"Yahh sayang tidurlah, aku akan menemanimu..." bisik Sino pelan.


"Ya terimakasih kak Sino.." gumamku menatap lampu di sampingku.

__ADS_1


"Pesta itu akan ada tetua mafia dan pasti banyak mafia yang datang, aku harus menahan diriku walaupun ada musuhku yang menghadirinya...haish menyebalkan, tapi kalau bisa aku bertemu dengan ketua itu terlebih dahulu dengan undangan yang aku dapatkan itu.." gumamku dalam hati.


__ADS_2