
Selama beberapa menit, pria asing itu dan Ray saling bertatapan bahkan beberapa kali banyak orang yang melerainya tapi mereka benar-benar tidak memperdulikannya.
"Astaga kalian berdua bisa tidak santai gitu!" ucap seorang wanita kesal.
"Ya! Pertemuan tidak akan selesai!" teriak wanita lain kesal tapi mereka berdua sama sekali tidak memperdulikan.
"Haish kalau tidak segera di lerai pasti akan berhari-hari mereka seperti itu!" gerutu Fadil kesal.
"Emang kenapa seperti itu?" tanyaku penasaran.
"Ya kamu akan tahu nantinya, tapi biarkanlah asalkan tidak bertarung saja..." gumam Soni santai tapi tiba-tiba pria itu dan Ray mengambil senjata mereka dan bertarung di tengah ruang pertemuan.
Suara pedang yang saling bertemu dan suara gaduh orang-orang di sekitarku benar-benar membuat kepalaku pusing, apalagi aku sudah dua kali tidak sadarkan diri selama beberapa bulan. Karena benar-benar mengganggu akhirnya aku memutuskan melerai mereka, aku mengambil senjataku dan mengarahkannya ketengah-tengah senjata mereka yang membuat pertarungan mereka berdua terhenti.
"Sani?" ucap Ray terkejut tapi aku hanya terdiam menatap mereka berdua dengan dingin.
"Sani mundurlah, nanti kau terkena pedang mereka!" teriak Soni kencang tapi aku hanya terdiam dan melepaskan tudung kepala jubahku dengan pelan.
"kalau kalian ingin bertarung... lawan aku..." ucapku dingin, aku mengurai rambutku yang membuat pria asing di sampingku terkejut, dia menjatuhkan senjatanya dan menarik tanganku yang membuatku terkejut.
"Astaga... aku sangat merindukanmu adikku!" ucap pria itu senang sambil terus memelukku erat.
"Eehhh a-adik?" tanyaku bingung.
"Hei dia adikku!" protes Soni kencang tapi pria itu tidak memperdulikannya.
"Mundurkan pertemuan ini, aku ada urusan dengan adikku!" ucap pria itu dingin dan menarikku keluar dari ruangan itu.
"Eehh... tu...tunggu dulu... kau mau membawaku kemana?" tanyaku terkejut tapi dia itu tetap menarikku pergi, tiba-tiba tanganku satunya digenggam erat seseorang yang membuat langkahku terhenti.
"Heeiii dia istriku! Beraninya kau membawa istriku!" Protes Ray kesal.
"Dia adikku, kau tidak perlu ikut campur urusanku dengan adikku!"
"Dia istriku! Kau tidak berhak membawanya pergi dariku!"
"Dia adik kandungku! Aku berhak melakukannya!" protes pria itu yang membuatku terkejut.
"A-adik kandung?" tanyaku bingung, aku melepaskan genggaman tangan Ray dan membuka topeng di wajah pria itu, tampan... hanya wajah itu yang terlihat dimataku. rambut lurus, mata merah, dan sebuah anting di telinga kanan yang membuatku teringat seseorang tapi tidak ingat dimana dan siapa.
"K-kamu... kamu kakakku?" tanyaku bingung dan pria itu tersenyum pelan.
"Ya, aku kakak kandungmu. Seibu dan seayah."
"Ta...tapi bagaimana bisa? Aku memiliki kakak?" tanyaku penasaran.
"Ceritanya panjang, apa kamu tidak mengingatku?" tanya pria itu serius.
"Kau menghilang selama bertahun-tahun bagaimana Sani ingat tentangmu?" gumam Fadil santai, Fadil berjalan kearah kami bersama dengan Soni.
"Yaaah aku tahu kok, aku juga bersalah meninggalkan sendirian adik kecilku di keluarga Shin..." gumam pria itu santai.
"Ciihh gara-gara kau juga adik kecilku menderita!" protes Soni dingin.
"Benarkah? Katakan, siapa yang membuatmu menderita adikku?" tanya pria itu menatapku serius.
__ADS_1
"Mmm a-ada banyak dan aku..." gumamku pelan, walaupun belum yakin dia kakak kandungku tapi mengingat ayah yang ditembak membuatku sangat sedih.
"Ada apa? Ceritakanlah kepada kakak."
"K-kakak... a...ayah di tembak oleh Tian di depanku dan a-aku... tidak bisa menyelamatkannya, kakak bantu aku selamatkan ayah!" rengekku pelan.
"Ayah? Maksudmu tuan Shin?"
"Ya, dia di culik Tian dan..."
"Dia bukan ayahmu."
"Eehh a... apa?" tanyaku terkejut.
"Ayah kita anak pertama di keluarga Shin dan ayah yang kamu maksud adalah ayah dari Soni dan saudara-saudaranya yang merupakan anak kedua..." jelas pria itu yang membuatku benar-benar terkejut.
"A...apa kakak yakin?" tanyaku terkejut.
"Ya, untuk apa aku menipumu. Namaku Alvaro Putra Shin adik kembarku bernama Elvaro Putra Shin dan nama ayah kita bernama Valo Shin."
"Alvaro? Valo Shin? Tapi kenapa aku seperti tidak pernah mendengar nama itu?" tanyaku bingung.
"Karena kamu tidak pernah tahu nama kami apalagi namaku, saat kamu kecil kamu selalu memanggilku kakak tampan."
"Ka...kakak tampan? Tunggu sebentar aku pernah mengenal sebutan itu!" ucapku terkejut, aku ingat kalau aku dulu sering memanggil seseorang dengan sebutan kakak tampan di waktu kecil.
"Ya kamu sering memanggilku dengan panggilan itu."
"Tapi kakak... kenapa informasi dari kakak dan dari kak Soni berbeda?" tanyaku bingung.
"Tidak ya!" Protes Soni kesal.
"Kalau begitu, apa namaku Sani?"
"Ya memang namamu Sani dan ayah yang memberikan nama itu."
"Kalau yang di culik ayahnya kak Soni lalu dimana ayahku?" tanyaku penasaran.
"Ada, ayah masih hidup kok."
"Benarkah? Bisakah aku bertemu ayah!" ucapku terkejut.
"Bisa saja, ngomong-ngomong apa ibu dibunuh dia?" tanya pria itu menatap Soni dingin.
"Mmm i-itu..."
"Ya memang aku membunuhnya!" ucap Soni dingin.
"Haish sudah kuduga..." desah pria itu pelan.
"Memangnya kenapa kak? Aku tidak mengerti..."
"Ya ayah kita dengan Soni berbeda tapi ibu kita sama lagipula ayah kita ada banyak."
"Kakak juga sama sepertiku?" tanyaku terkejut.
__ADS_1
"Kan sudah aku katakan, aku kakak kandungmu apa kamu tidak mengerti?"
"Tidak, aku saja bingung dengan diriku sendiri apalagi aku tidak mengerti sebenarnya aku itu dari keluarga mana saja..."
"Hmmm nanti tanyakan saja kepada ayah biar jelasnya..." gumam pria itu pelan, aku menatap Ray dan Ray langsung menarikku lalu memelukku erat.
"Sudahlah, biarkan istriku beristirahat. Dia beberapa bulan tidak sadar..." gerutu Ray dingin.
"Tidak sadar? Kenapa?"
"Dia terkena racun milik Tian ditambah dia menyaksikan ayah ditembak mati oleh Tian!" ucap Soni dingin.
"Tian? Anak yang tidak dianggap itu?"
"Ya, siapa lagi bukan karena dia."
"Oh..."
"Kau hanya berkata oh saja!" protes Soni kesal.
"Yaahh tidak juga sih, aku ingin memberitahukan kalian sesuatu tapi nanti sajalah biarkan adik kecilku istirahat, sebelum kembali pertemuan temui aku dahulu..." gumam pria itu berjalan pergi.
"Mari sayang, kamu harus banyak istirahat. Wajahmu sangat pucat..." gumam Ray menggendongku pergi.
"Benarkah? Aku merasa baik-baik saja."
"Haish kamu selalu saja seperti itu sayang."
"Oh ya Kak Ray, apa benar yang dikatakan pria tadi?" tanyaku penasaran.
"Ya, dia kakak kandungmu. Namanya Alvaro Putra Shin, dia memiliki kembaran yang bernama Elvaro Putra Shin. Alvaro dan Elvaro itu kembar."
"Lalu kalau ayah?"
"Ya ayahmu bernama Valo Shin, sebenarnya aku juga tahu cerita keluarga Shin tapi aku tidak pernah menceritakan kepadamu karena ada Soni."
"Benarkah? Ceritakan padaku kak Ray!" ucapku serius.
"Nanti ya setelah kamu istirahat, biar Alvaro saja yang menceritakannya."
"Mmm ngomong-ngomong kenapa kak Ray dengan kakakku terlihat seperti memiliki dendam?" tanyaku pelan.
"Karena... masalah masa lalu saja..." gumam Ray membuka kerah pakaiannya.
"Minumlah..."
"Tidak mau."
"Kenapa?"
"Lagi tidak ingin saja."
"Wajahmu sangat pucat tahu! Jadi minumlah!" gerutu Ray memelukku erat dan aku menggigit leher Ray pelan.
"Sudah istirahatlah dulu istriku.." gumam Ray pelan sedangkan aku hanya terdiam memikirkan semuanya, aku tidak mengerti apapun jadi mengetahui informasi seperti itu membuatku benar-benar terkejut.
__ADS_1