Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 194 : Kembali sadar


__ADS_3

Aku benar-benar merasa bersalah menikah dengan Lyraen tapi disisi lain aku dijodohkan oleh orang tuaku di kehidupan yang lalu yang membuatku benar-benar tidak bisa menghindarinya dan dikehidupan saat ini juga aku tidak menyadari hal itu jika wanita tadi tidak mengatakannya padaku.


Disaat pikiranku benar campur aduk memikirkannya tiba-tiba aku merasa dadaku terasa sakit dan aku susah untuk bernafas tapi tidak lama kemudian aku terbangun dan berusaha untuk bernafas sebisa mungkin.


"Huuuhh... Huuuhhh..." desahku terus berusaha bernafas.


"Raelyn kamu sadar?" Ucap Ravaro terkejut dan tiba-tiba seseorang memelukku dari samping, aku menoleh ke kiri dan melihat Raelan memelukku erat.


"Astaga anakku ayah sangat khawatir denganmu!"


"Aku tidak apa-apa ayah jangan khawatir..." desahku pelan dan mencoba tersenyum pelan.


"Kamu pingsan selama seminggu bagaimana ayah tidak khawatir!" Ucap Raelan kesal.


"Seminggu ya... Padahal Raelyn hanya sebentar bertemu Sani Shin ayah."


"Sani Shin?" Tanya Raelan bingung dan aku menceritakan semuanya kepada Raelan.


"Hmmm ya dokter bilang kalau kamu keguguran tapi yang membuat bingung dokter kenapa kamu bisa tidak sadarkan diri padahal biasanya tidak..." gumam Ravaro pelan.


"Jadi mantan kekasihmu itu jodohmu?" Tanya Raelan menatapku serius.


"Ya ayah benang merah jodohku terhubung dengannya dan..."


"Kamu hampir kehilangan nyawamu karena dia dan kau percaya dengan hal mistis seperti itu!" Protes Raelan kesal.


"Ayah, percaya atau tidak aku sudah terikat dengannya dan jika aku tidak mendapatkan maaf darinya aku tidak bisa berinkarnasi, apa ayah ingin membuatku menderita!" Ucapku kesal.


"Tapi ayah tidak merestui jika kau..."


"Ayah aku mohon, Valentino orang yang baik jika dia benar-benar jodohku maka dia pasti bisa menjagaku ayah!" Ucapku pelan dan Raelan hanya menghela nafasnya pelan.


"Baiklah ayah akan mengijinkanmu bertemu dengannya tapi jika kau terluka atau terbunuh maka ayah yang akan membunuhnya dengan tangan ayah sendiri!" Ucap Raelan kesal dan pergi keluar dari ruang perawatan.


"Haish kamu kenapa ngotot ingin bertemu dengannya Raelyn?" Tanya Ravaro pelan.


"Kak jika Valentino jodohku dan aku tetap menikah dengan Lyraen maka kasihan kak Raesya dia tidak akan menikah dan aku juga akan berakhir tragis seperti kehidupan pertama bahkan aku akan susah untuk inkarnasi kak.." gumamku pelan.


"Hmmm nanti kakak akan mencoba untuk memenangkan ayahmu."

__ADS_1


"Baik kakak terimakasih..." gumamku pelan dan Ravaro pergi meninggalkanku.


"Hmmm..." desahku kembali berbaring dan menatap langit-langit kamar.


"Oh ya Sani aku kemarin menemukan sebuah kertas di jubahmu tapi kosong!" Ucap Fadil memberiku kertas itu.


"Kertas? Mmm kak Fadil ada lilin?" Tanyaku pelan.


"Ada..." gumam Fadil mengambil sebuah lilin di meja dan memberikannya kepadaku, aku menghidupkan lilin itu dan mendekatkan kertas itu yang membuat sebuah tulisan muncul di kertas itu.


"Jika kamu ingin terlepas dari ikatanku maka temui aku di pulau tersembunyi di wilayah bayangan..." gumamku pelan.


"Pulau tersembunyi?" Tanyaku menatap Fadil bingung.


"Kamu mendapatkan kertas itu dari mana?"


"Valentino. Dia yang memberikannya. Kak Fadil tolong carikan lokasinya segera ya!"


"Baiklah, apa kamu ingin melepaskan ikatan itu?"


"Tidak, aku ingin berbicara dengannya jadi tolong ya kak Fadil."


"Oh ya, bagaimana kak Fadil bisa masuk ke wilayah bayangan?" Tanyaku penasaran dan Fadil menunjukkan sebuah lencana mafia bayangan yang dia bawa.


"Dengan ini."


"Oh begitu, kak Fadil masih saja cerdik ya..." gumamku tersenyum dan Fadil hanya tersenyum dingin ke arahku dan terduduk di sofa kamar.


"Kak Fadil, kemana Lyraen?" Tanyaku bingung.


"Entah, tidak ada kabar tentang mereka semenjak kamu kembali kesini."


"Kenapa?"


"Entah tidak tahu, aku tidak bisa memantau keadaannya, Ravaro memintaku menjaga Raelan jadi ya mau tidak mau aku melakukannya."


"Begitu ya... Terimakasih sudah menjaga ayahku kak Fadil..." Gumamku pelan dan Fadil hanya tersenyum kearahku.


"Ooh ya kamu mau makan?"

__ADS_1


"Tidak, aku tidak berselera."


"Apa karena kau kehilangan bayimu?"


"Ya tapi aku tidak bisa menyalahkan Valentino apalagi aku juga merasa bersalah padanya kak Fadil."


"Jangan salahkan dirimu terus, tidak semuanya kamu yang salah Sani."


"Hmmm hidupku benar-benar rumit kak Fadil..." gumamku pelan dan kembali berbaring.


"Semua orang akan memiliki hidup yang rumit Sani, tidak ada hidup yang mulus"


"Memang tapi kan... Haish susah menjelaskannya padamu kak Fadil."


"Sudah tidak perlu dipikirkan, jika ucapan wanita itu benar pasti hidupmu akan bahagia apalagi umurmu masih sangat muda."


"Yaah benar juga, aku ingin memperbaiki hidup tapi tetap saja tidak mulus banyak sekali cobaannya.."


"Yaah namanya juga hidup ya seperti ini."


"Kak Fadil saat di sana aku mencari tahu benang merah kak Fadil kan tapi kok tidak ketemu ya."


"Benarkah? Tapi aku tidak tertarik masalah wanita sih."


"Tapi kan kak Fadil harus punya istri!"


"Menjagamu saja sudah membuatku kesusahan apalagi menjaga wanita lain."


"Tapi kan..." ucapku pelan.


"Jangan khawatir, jodoh tidak akan kemana... Mau keujung duniapun jika waktunya bertemu jodoh maka aku akan segera menikah."


"Hmm ya benar sih..." desahku pelan.


"Ya sudah istirahatlah, jika besok kamu sudah membaik maka aku akan mengajakmu pergi mencari pulau itu..." gumam Fadil tersenyum kearahku yang membuatku sangat terkejut.


"Benarkah? Baiklah terimakasih kak Fadil!" Ucapku senang dan memejamkan kedua mataku.


Walaupun Raelan menentangku tapi aku harus meminta maaf kepada Valentino apalagi dia juga mantan kekasihku dan juga jodohku jadi tidak mungkin aku terus mungkin aku terus membiarkan aku masuk ke dalam lubang rasa bersalah terus menerus.

__ADS_1


__ADS_2