
Aku terus menatap lencana di tanganku dengan serius, aku benar-benar tidak percaya dan aku sangat terkejut mengetahui kebenarannya.
"Apa kamu baru menyadarinya?" tanya Xiao Min serius.
"Ya...aku baru tahu, tapi...kenapa bisa aku?"
"Ya mana kami tahu, mungkin karena pencapaianmu selama hidupmu. Semua orang memang mencintaimu karena kamu berbeda dengan wanita lain. Bahkan banyak yang berlomba-lomba mendapatkanmu, Han juga sama kan?"
"Han?"
"Kamu masih mencintai Han?" tanya Xiao Min serius.
"Mencintai Han? Buat apa aku mencintainya!" gumamku kesal.
"Benarkah tapi kamu terlihat..."
"Aku tidak peduli kakak!" gerutku kesal.
"Haaah sudahlah... jadi apa itu yang kak Viu ingin bicarakan kepadaku?" tanyaku meletakkan gelasku di meja.
"Ada banyak hal, tapi nampaknya kau terlihat ingin mengajukan pertanyaan."
"Yaa benar, aku ingin bertanya padamu... Kenapa kak Viu membunuh keluarga kita?" tanyaku dingin.
"Membunuh keluarga...kita? Hahaha sejak kapan aku menganggap Shin itu keluarga? Hanya Xiao Min yang menganggapnya keluarga." gumam Viu tertawa dingin.
"Aku tidak peduli juga kamu menganggapnya atau tidak, yang pasti... kenapa kak Viu melakukannya?" tanyaku serius.
"Melakukannya atau bukan, tanyalah kepada si tua Li itu, dia yang melakukannya. Aku tidak mau berurusan dengan kalian dan Ray juga berfikiran sama...aku sudah muak!" gerutu Viu dingin.
"Maksudnya Tuan Li ya? Eeh tunggu dulu Ray? Siapa dia?" tanyaku terkejut.
"Kamu tidak mengenalnya?" tanya Viu terkejut.
"Tidak... aku tidak..." gumamku mengecilkan nadaku dan terkejut melihat seorang pria tampan muncul di belakang kedua kakak tiriku.
"Siapa yang memanggil namaku?" gumam pria itu dingin. Tatapan matanya terlihat sangat menakutkan seperti tatapan pria yang menguasai seluruh dunia mafia ini. Saat aku menatapnya serius aku menyadari kalau dia pria yang dulu pernah aku sukai saat di akademi.
"Oh kebetulan sekali, kau ingat siapa dia Sani?" gumam Xiao Min serius.
"Dia?" gumamku terkejut.
"Siapa wanita ini?" tanya pria itu menatap Viu dingin.
"Dia Sani Shin, ketua umum organisasi mafia tertinggi."
"Sani Shin ya? Seperti pernah mendengarnya..." gumam pria itu menarik tanganku dan mendorongku ke tembok.
"Ka..kamu apa yang kamu lakukan?" protesku kesal.
"Tunggu dulu, sepertinya aku mengenalinya..." gumam pria itu menggigit leherku kuat.
"Uuuggghhh sa...sakit..." rintihku pelan.
"Ka...kamu Sani?" tanya pria itu menatapku dengan darah yang menempel di bibirnya.
"Kan aku sudah bilang dia Sani Shin."
"Aku tidak percaya, dia sudah lama menghilang dan..."
"Uuggghhh lepasin, sakit tahu!" protesku kesal.
__ADS_1
"Siapa kamu?"
"Aku Sani Shin, ketua mafia penguasa gelap..." gumamku pelan.
"Tunggu dulu..." gmam pria itu mengambil lencana yang aku taruh di saku dan menatapnya.
"Astaga kamu benar-benar Sani Shin? Tidak aku sangka!" teriak pria itu memelukku erat sambil terus menggigitku.
"Ka..Kakak tolong aku!" gumamku memohon.
"Ray, kau mau membunuh adikku!" protes Xiao Min kesal.
"Eeeh ma...maaf..." gumam pria itu melepaskan pelukannya yang membuatku jatuh ke lantai.
"Uuuhhhuukkk...uuhhhuukkk...kau ingin membunuhku ya!!" protesku kesal.
"Hei kau masih saja sama seperti dulu ya Sani!" gerutu Ray mengarahkan pedangnya ke leherku.
"Lalu kenapa? Aku dari dulu memang seperti ini..." desahku berusaha berdiri.
"Kamu kenapa menggigitku?" tanyaku dingin.
"Kamu tidak ingat kalau Ray dulu suka menghisap darahmu?" ucap Xiao Min serius.
"Menghisap darahku?" tanyaku terkejut, Ray menarik tanganku dan kembali menggigitku.
"Ya...aku dari dulu sangat suka darahmu yang istimewa itu Sani Shin..."
"Posisi ini... oh ya aku baru ingat, kamu masih saja seperti dulu ya kak Ray..." desahku pelan.
"Aku tidak akan berubah jika denganmu wanitaku.."
"Aku sudah punya suami kak Ray, kamu masih saja..."
"Tunggu dulu... apa?" gumamku terkejut
"Ya nama panjang Ray adalah Ray Khun, dia kakak Sino dan Fiyoni." ucap Viu santai, Ray memberiku lencananya dan tertulis Ray Khun ketua umum organisasi mafia bayangan.
"Ba...bayangan... bukannya mafia bayangan itu mafia yang sangat kejam?" tanyaku terkejut.
"Memang benar, kami sangat kejam dan sangat rahasia wanitaku, hanya kau dan kedua adikku yang bodoh itu yang tahu tentang identitasku."
"Be...benarkah?" tanyaku tidak percaya.
"Astaga, kenapa aku bisa tidak tahu apapun sih!" gumamku pelan.
"Kamu yang terlalu nyaman di tempat tidurmu sambil menonton kartun dan tidak pernah mau mengenal lebih jauh tentang mafia lainnya ya akibatnya seperti itu!" sindir Viu dingin.
"Menjadi wanita biasa tanpa memikirkan apapun itu yang aku inginkan!" gerutuku kesal, Ray mengangkat kedua tanganku sambil menatapku dingin.
"Tapi...aku menginginkanmu menjadi wanita yang kuat gadis kecilku..." gumam Ray menciumku yang membuatku terkejut.
"Ray beraninya kau bermesraan dengan adikku di depanku!" gerutu Viu kesal.
"Eeh ternyata kamu menganggap dia adikmu ya? Tumben banget kamu menganggapnya adikmu bukannya kamu menganggapnya musuhmu ya?" sindir Ray kembali menciumku.
"Melihatmu seperti itu membuatku kesal tau!" protes Viu dingin.
"Kau disuruh menikah dengan sepupuku tapi kamu tidak mau."
"Idiih menikah dengan dia? Lebih baik aku menikah adikku sendiri dari pada menikahi sepupumu."
__ADS_1
"Menikahi wanitaku? Heeeh kau kira aku akan mengizinkanmu memilikinya? Sampai kapanpun Sani milikku..." gumam Ray kembali menciumku.
"Tu...tunggu dulu! Aku tidak mengerti ucapan kalian!" protesku berusaha melepaskan genggaman tangan Ray.
"Dengar ya sayang, kamu milikku yang seharusnya menikah denganmu itu adalah aku tahu!"
"Ke...kenapa? Bukannya..."
"Yang dikatakan Ray benar, sebenarnya kamu menikah dengan Ray." ucap Soni berjalan di belakang Ray.
"Ka...kakak? Kak Soni ada disini?" tanyaku terkejut
"Aku wakil mafia Ray bagaimana aku tidak disini."
"Astaga aku bingung apa yang terjadi, demi Tuhan aku tidak mengerti apapun, sebenarnya apa yang terjadi?" tanyaku serius.
"Ternyata benar dugaanmu Soni kalau adikmu lebih polos dari pada kedua adik bodohku itu..." gumam Ray melepaskan genggamannya.
"Baiklah aku akan memberitahukanmu dari awal apa yang terjadi sebenarnya istriku tersayang..." gumam Ray duduk di sofa sambil terus memelukku erat.
"Dahulu kala... ada ayahmu dan ayahku bersahabat, kedua ayah kita sepakat untuk menikahkan masing-masing anaknya saat ibuku dan nyonya Shin hamil. Tapi ternyata ibuku melahirkan aku dan nyonya Shin melahirkan Soni itu. Karena perjanjian yang tidak bisa di batalkan lagi, akhirnya ayahmu menikahi nyonya Min dan melahirkan dua kakak tirimu yang menyebalkan itu..."
"Hei!!!" protes Viu kesal.
"...Karena masih melahirkan bayi laki-laki akhirnya ayahmu menikah dengan wanita kembar dari keluarga Li, yang satu bernama Tia Li dan Ria Li. Tia Li itu adalah nama ibumu sedangkan Ria Li nama ibu adik tirimu. Tia Li melahirkan anak kamu dan Rina sedangkan Ria Li melahirkan anak peremuan yang bernama Sina. Dari kecil Sina dan Rina di bawa oleh keluarga Li karena tuan Li meminta kedua anak mereka untuk menikah Hans dan Han sedangkan ibumu menolaknya dan berkata kalau kamu dan Rina yang akan dinikahkan dengan Hans dan Han..."
"..Tapi karena ayahmu telah melakukan perjanjian dengan kami keluarga Khun akhirnya dengan diam-diam ayahmu dan ayahku menjodohkan masing-masing pasangan untuk kami bertiga. Aku dijodohkan denganmu, Sino dijodohkan dengan Rina dan Fiyoni dijodohkan dengan Sina. Sebenarnya bukan dijodohkan sih... lebih tepatnya... kamu terikat kontrak denganku istriku tersayang... Ya begitulah ceritanya." jelas Ray menatapku dingin.
"Ta...tapi kata Kak Sino cincin ini..." gumamku menatap cincin di tanganku.
"Itu cincin pasangan dengan milikku, jika cincin itu di gabungkan pada saat aku marah kamu akan..."
"Uuuggghhhh...sa...sakit..." rintihku kesakitan, aku merasakan rasa sakit yang luar biasa di jantungku saat Ray menggenggam erat tanganku.
"Ya itulah yang kamu rasakan, cincin ini berguna untuk menghukum istri kami kalau dia mengecewakan kami tapi kalau cincin ini didekatkan pada saat aku sedang tidak marah maka kamu tidak merasakan apapun.." gumam Ray kembali mempraktikkannya.
"Oh begitu ya..." desahku pelan.
"Maafkan aku Sani, aku tidak tega mengatakan yang sebenarnya terjadi kepadamu. Aku takut kamu marah dan kecewa jika tahu apa yang sebenarnya terjadi di keluarga Shin. Keluarga Shin itu sangat rumit Sani jadi akan susah kalau kamu tahu apa yang terjadi sebenarnya." gumam Soni serius.
"Mmm tidak masalah kakak, aku tidak menyalahkan kakak. Walaupun sangat terkejut sih tapi aku sekarang mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Mmm kalau begitu wanita yang bersama dengan kak Sino dan Fiyoni itu?" tanyaku terkejut.
"Ya mereka Rina dan Sina, mereka menggunakan topeng pastinya kamu tidak tahu identitas mereka."
"Bukan itu kak Ray... kalau keluarga Li disini berarti..."
"Ya Han dan Hans juga ada disini, itulah yang ingin aku katakan dengan Viu tapi tidak aku sangka aku benar-benar bertemu denganmu istriku tersayang. Sudah muak aku melihatmu dengan banyak pria, mulai hari ini kamu milikku seutuhnya." ucap Ray serius.
"Tapi kak Ray... Uuuggghhh..."
"Aku bersungguh-sungguh Sani Shin!" gerutu Ray kesal.
"Ba...baiklah aku mengerti..." gumamku menundukkan kepalaku.
"Kamu jangan terlaku kasar dengan adikku Ray!" protes Soni kesal.
"Baik-baik maaf aku salah..." desah Ray mengangkat kepalaku dan menciumku lembut.
"Kamu milikku Sani Shin, apa kamu mengerti?" ucap Ray menatapku serius dan tanpa berkata apapun aku hanya menganggukkan kepalaku pelan.
"Baguslah kalau kamu mengerti..." desah Ray pelan, aku menatap cincinku dan aku memang benar-benar terkejut mendapatkan infromasi yang sebelumnya tidak aku tahu sebelumnya.
__ADS_1
Jadi selama ini saat di akademi kalau Ray selalu cuek dan dingin kepadaku dan selalu menolak cintaku jika ada orang tapi dia selalu memperhatikanku bahkan tidak segan memelukku jika hanya ada aku dan Ray saja itu kerena kami terikat kontrak? Aku menatap leherku di kaca depanku dan melihat ada sebuah tanda hitam di leherku dan leher Ray. "Janji jiwa istimewa? Apa yang dikatakan Ray sungguh benar adanya?" gumamku dalam hati.