Kawin Kontrak Mafia

Kawin Kontrak Mafia
Episode 65 : Gagal Membalaskan Dendamku


__ADS_3

Setelah aku benar-benar kenyang di suapin Ray dan Ray juga aku suapin, Ray kembali memelukku dan mengusap lembut rambutku. Viu menatapku dingin dan terlihat serius.


"Jadi apa keputusanmu?" gumam Viu serius.


"Mmmm...baiklah, tapi aku ada syarat untuk kalian..." gumamku pelan.


"Apa itu?" tanya Ray penasaran.


"Aku akan bekerja sama dengan kalian tidak secara langsung."


"Maksudmu?" tanya Viu terkejut.


"Ya...aku akan bekerjasama dengan kalian tapi jangan sampai musuh atau mafia lain mengetahuinya jadi anggap saja kita bermusuhan tapi sebenarnya kita bersekutu."


"Mana bisa begitu!" protes Viu kesal


"Ya ini keputusanku sendiri, kalau tetua mafia atau yang lainnya tidak menerima pasti mereka menolak mentah-mentah kak Viu, kalaupun aku menolak juga aku tidak bisa terlepas dari pantauan ataupun genggaman kak Ray jadi percuma saja aku menolak." gumamku pelan sambil menghidupkan handphoneku dan membaca pesan dari Victory.


Aku sudah mendapatkan batu kristal itu, oh ya Sani aku dengar perjalanan kapal ini kembali di perpanjang sampai nanti malam jadi kita tuntaskan semuanya dulu tugas kita -Victory.


Kamu dimana? - Victory.


Dia restoran ruang VVIP dengan kak Viu dan kak Ray, kenapa? -Sani.


Aku ke situ ya - Victory.


Tidak usah, jangan sampai ada yang tahu masalah batu kristal itu. - Sani.


Tenang saja bukan masalah itu -Victory


Tooookkk...Toookkk...Toookkk...


"Masuk!" teriak Viu dingin dan muncul Victory yang berdiri di depan pintu, melihat Ray memelukku emmbuat Victory sedikit terkejut.


"Ada apa?" tanyaku pelan.


"Eee...mmm..." gumam Victory mendekatkan bibirnya di telingaku.


"Kamu ngapain disini?" bisik Victory pelan.


"Tidak ada, ada apa Victory?" tanyaku santai.


"Kamu tidak lihat kedua suamimu bersama dengan wanita lain?"


"Biarlah aku tidak peduli..."


"Han juga disini tahu! Kenapa kamu santai disini?"


"Biarlah"


"Sani ketiga anakmu tewas terbunuh..." bisik Victory membuatku tertawa.


"Tenang saja mereka..."


Kriinngg...Kriiinngg...


Terdengar bunyi handphoneku berdering keras yang membuatku menghentikan ucapanku, aku melihat Fadil meneleponku bahkan riwayat panggilannya memenuhi layar handphoneku.


"Halo kak Fadil..." gumamku pelan.


"Halo Sani, kamu dimana?"


"Aku ada pertemuan, ada apa kak Fadil?"


"Sani, beberapa minggu yang lalu saat kamu terluka parah dan kedua suamimu sibuk mengurusmu. Keluarga Li datang ke markas Fiyoni dan membunuh semua orang yang ada di dalamnya termasuk...ketiga anakmu dan juga Putri terluka!!" ucap Fadil serius.


"APA? Kenapa bisa baru tahu!!" protesku berdiri di samping Ray.


"Tadi aku menyuruh Caca dan Cici mengecek keadaan mereka dan ternyata mereka sudah hampir membusuk, saat Cici mengecek kamera pengawas ternyata terjadi sehari setelah Fiyoni menyembunyikannya ke markasnya."


"Siapa yang melakukannya?" teriakku kesal. Melihatku marah keempat pria di depanku hanya terdiam sambil menatapku.


"Seluruh mafia yang bersekutu dengan keluarga Li dan yang membunuh kedua anakmu dan juga Satria adalah... Han Li..."


"Han...Li...!" ucapku terkejut, aku benar-benar tidak percaya Han saat ini tidak lagi melukai Satria tapi membunuhnya dengan tangannya.


"Sani tenangkan dirimu, kita dalam tugas."


"Aku tidak peduli, aku akan membalasnya kak Fadil!"

__ADS_1


"Sani dengar, kita masih ada satu tugas lagi. Kita harus melakukannya, sebelum tugas itu selesai terserah kamu mau mengamuk atau membakar kapal ini terserah kamu. Apa kamu mengerti?" gumam Fadil serius.


"Tapi kak...Hmmm baiklah..." desahku menutup telepon itu dan terduduk lemas di samping Ray.


"Ada apa istriku?" tanya Ray bingung.


"Istri?" gumam Victory terkejut.


"Ya dia suami asli Sani..." gumam Soni yang membuat Victory terkejut.


"A...aku gagal... aku gagal..." gumamku meneteskan air mata air mataku.


"Ada apa adikku?" tanya Soni khawatir.


"Kak...kak Soni, aku sangat sedih!!" teriakku memeluk erat Soni.


"Ada apa? Ceritalah kepadaku."


"Kak Soni... Han...Han..."


"Han kenapa?" tanya Soni bingung.


"Han... Han membunuh ketiga anakku kak Soni."


"Membunuh? Bukannya mereka ada di markasmu?"


"Fiyoni memindahkannya ke markasnya setelah aku terluka saat markasku di serang kak Soni, aku tidak tahu akan hal itu. Aku baru tahu tadi kak Fadil meneleponku."


"Kan aku sudah mengatakannya padamu tapi kamu tidak percaya..." gerutu Victory berdiri di belakangku.


"Kapan kejadiannya?"


"Tepat sehari setelah aku terluka, Fiyoni memindahkan mereka dari markasku padahal markasku lebih aman dari pada markas siapapun ...tapi...tapi..."


Krriiiinngggg


Terdengar suara telepon lagi yang ternyata Fadil yang meneleponku.


"Sani pertarungan sudah dimulai, keadaan yang sangat memanas di aula. Disini ada Han dan Hans juga!" ucap Fadil serius.


"Ya, tunggu sebentar..." gumamku menutup teleponku dan beranjak pergi, belum saja sampai pintu Ray menggenggam erat tanganku bingung.


"Aku...aku harus membalaskan dendamku, aku harus membalaskan dendamku!" protesku kesal.


"Diluar ada pertarungan anak kecil, kamu jangan ikut-ikut."


"Tapi aku ingin balas dendam, aku mohon izinkan aku melakukannya suamiku..." gumamku pelan.


"Hmmm baiklah, jangan sampai terluka ya!"


"Baik...makasih suamiku..." gumamku memberikan kode kepada Victory dan memegang senjataku


Di aula aku melihat banyak tamu yang saling menyerang bahkan banyak tamu yang tergeletak di lantai.


Melihat Han terduduk di kursi balkon lantai dua membuatku sangat kesal. Aku melukai tamu yang memakai topeng merah, biru, dan abu-abu yang menghalangiku sesuai tugas tetua mafia.


Dengan cepat aku menaiki balkon lewat tangga sambil menggenggam senjataku yang berlumuran darah. Melihatku menargetkan Han, Lia dan para wanita dengan cepat menghalangiku tapi karena aku benar-benar marah maka halangan apapun tidak akan menghentikanku.


Setelah melukai mereka yang menghalangiku, aku berjalan ke arah Han dan menatapnya kesal.


"Tidak aku sangka ya kita bertemu lagi istriku."


"Istri ya? Hahaha, kau sangat lucu sekali mantan suamiku yang menyebalkan!" gerutuku kesal.


"Lucu, apa yang lucu? Hah? Apa??" tanya memegang kedua pegangan tangan di kursi Han.


"Sani mundurlah dia..." teriak Sino dibelakangku kencang.


"Dia yang mengusai kapal sekarang Sani lebih baik kita mundur!" teriak Fiyoni di belakangku.


"Diam kalian! Apa kalian tidak tahu gara-gara kalian ketiga anakku tewas? Haaah? Apa kalian bodoh memindahkannya ketiga anakku ke markasmu, apa kalian bodoh!" teriakku sangat kesal.


Suara menggema di ruangan dan walaupun di saksikan Ray bersama ketiga kakak tiriku aku benar-benar tidak peduli.


"Kau tahu Han apa yang menjadi penyesalanku sekarang ini? Kenapa...kenapa tidak aku bunuh saja kau... kenapa aku tetap membiarkanmu hidup? KENAPA!" teriakku menarik kerah Han.


"Kenapa kau terlihat sangat marah kepadaku? Apa ini caramu membuktikan cintamu kepadaku tanpa diketahui orang lain?" sindir Han dingin.


"Cinta kepadamu ya? Tau tidak aku sangat muak kepada pria yang berjanji tapi ternyata dia yang mengingkari janjinya."

__ADS_1


"Janji? Apa pernah aku berjanji padamu?"


"Kau jangan membuatku sangat marah Haaaan!!" teriakku kesal, aku mengambil senjataku sambil mengarahkannya ke leher Han.


"Senjata ini..." gumam Han terkejut.


"Kenapa? Apa kau hanya terkejut melihat senjataku dari pada keadaan anakmu sendiri Han? Han kamu berjanji padaku akan menjaga Satria kan? Kenapa bisa kau membunuhnya bahkan membunuh dua anak kembarku saat aku terluka parah. Aku memang bukan istrimu dan kamu bukan suamiku, tapi aku ibunya dan kau ayah Satria Han kenapa kau selalu tega menyakiti Satria kenapa?" teriakku kesal, melihatku kesal Han hanya menghela nafas panjangnya.


"Aku mencoba mengajaknya bertemu tapi dia menolak dan membuatku naik darah. Aku tidak sengaja membunuhnya, aku kira kamu akan datang menolongnya."


"Tidak sengaja membunuhnya ya? Haah aku sudah muak perkataanmu seperti itu Han? Dengar ya, siapapun itu yang membunuh anak dan suamiku, tidak akan aku maafkan sampai kapanpun!!" teriakku mengayunkan senjataku.


Taaaaannggg


Terdengar suara pedangku tertahan oleh pedang panjang milik Hans, melihat Hans di depanku aku melukai sedikit Han dan melompat mundur.


"Beraninya kau menyakiti adikku!" teriak Hans menyerangku.


"Lalu? Apa aku peduli?" gumamku terus menyerang Hans sampai dia terjatuh di lantai.


"Ternyata hanya ini ya kemampuan pembunuh keluarga besar Shin? Lebih baik kalian berdua mati saja!" gerutuku mengayunkan pedangku.


Taaaannggg


Suara pedang yang menangkis kembali pedangku, pria itu menarik tanganku dan mengunci tanganku di belakang tubuhku.


"Si...siapa kau?" gerutuku melirik seorang pria menggunakan topeng di wajahnya.


"Kamu tidak perlu tahu, aku tunggu kau di perang mafia nantinya malaikat kecilku..." bisik pria itu mendorongku dan pergi membawa kedua kembar itu pergi.


"Kembali kau!" teriakku berusaha mengejar mereka tapi Ray menahan tubuhku dan memelukku erat.


"Jangan dikejar, dia bukan tandinganmu." gumam Ray pelan.


"Aku tidak peduli! Aku harus...hoooeekkk..." gumamku terus merasakan mual.


"Kamu sedang mengandung anak kita jadi kamu harus menjaga tubuhmu istriku."


"Mana bisa aku baru saja...hooeeeekkkk..."


"Kau tidak ingat kita semalam bermain berapa ronde istriku?" gumam Ray memasukkan kembali senjataku dan menggendongku.


"Apa itu berpengaruh?" tanyaku pelan.


"Pastilah, jadi kamu harus menjaga kesehatanmu apa kamu mengerti?"


"Tapi aku harus menemui tetua mafia dulu..." gumamku pelan.


"Baiklah, tapi aku akan menunggumu." gumam Ray menurunkanku dari atas kapal dan berjalan meninggalkanku.


"Kamu menunggu dimana?" tanyaku pelan.


"Di mobil milikku, jangan sampai kemalaman. Kamu harus menjaga kesehatanmu!"


"Ya aku mengerti..." desahku berjalan bersama dengan Victory melewati jalan rahasia kembali.


Seperti yang aku duga reaksi tetua mafia begitu senang dan berulang kali berterimakasih kepadaku. Karena kemungkinan aku akan mengandung, aku meminta cuti agar aku bisa mengurus anakku dengan baik dan untungnya di setujui oleh para tetua apalagi hal kerjakerasku beberapa bulan ini.


"Hmmm..." desahku menutup pintu rahasia itu dan berjalan menyusuri lorong.


"Sani...apa benar kamu istrinya pria tadi?" tanya Victory masih tidak percaya.


"Yaa...awalnya aku tidak percaya tapi kenyataannya aku dijodohkan dengan dia jadi mau bagaimana lagi."


"Jadi kamu mengajukan cuti karena kau hamil dan ayahnya adalah musuh kita?" gumam Victory serius.


"Ya bisa dibilang begitu, tapi nanti coba aku ajak dia kerjasama mungkin dia akan mau bekerjasama dengan kita Victory. Oh ya nikmati liburanmu yang panjang ya!" gumamku melangkahkan kakiku meninggalkan Victory.


"Oke...kalau sudah melahirkan kabari kami ya!" teriak Victory pergi dengan bawahannya sedangkan aku pergi dengan Fadil, walaupun Fadil yang baru tahu benar-benar sangat syok tapi dia hanya terdiam, dia tidak ingin mengurusi urusanku apalagi aku sedang berduka saat ini.


"Kamu susah selesai sayang?" tanya Ray menatapku santai.


"Ya... mmm sayang boleh tidak aku membawa wakilku bersama denganku?"


"Tidak masalah, aku juga kenal Fadil benar kan Fadil?" gumam Ray dingin.


"Ya sangat kenal jadi jangan heran kalau kami akan bertengkar Sani.." gumam Fadil dingin.


"Semoga kalian tidak bertengkar di depanku." desahku terduduk di samping Ray dan Ray kembali memelukku erat.

__ADS_1


Gagal membunuh orang yang membunuh keluarga besar dan anakku membuatku sangat kesal dan benar-benar tertekan, tapi karena muncul seorang pria bertopeng disaat aku melawan Han dan Hans membuatku penasaran dengan identitas pria itu.


__ADS_2