Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Bulan


__ADS_3

Zee pulang kerumah neneknya sembari menghapus - hapus bekas ciuman Satria yang melekat di bibirnya. Ia merutuki dirinya karena hampir saja terbuai dengan ciuman yang di berikan oleh suaminya tadi.


" Bagaimana Bunda? ayah bilang apa? " Bulan langsung bertanya begitu melihat Zee datang.


" Kenapa gak Bulan aja yang sendiri tanya sama ayah? "


" Gak ah Bun, Ayah jahat "


" Kok Bulan bilang gitu? "


" Ayah memang jahat kan Bun, Ayah udah punya cewek lain di luar sana "


" Huss.. gak boleh ngomong gitu, Ayah kamu gak jahat. Tadi Ayah bilang kalau dia ada di rumah aja seharian, tadi Bunda ke rumah, Ayah juga baru aja bangun tidur "


" Ihh yang benar Bun, tapi cowo yang tadi siang itu mirip betul sama Ayah "


" Mungkin kamu salah lihat nak, jangan berfikir yang jelek tentang Ayah ya "


" Baik Bun "


Zee terpaksa berbohong kepada Bulan, karena ia tidak mau Bulan tau perbuatan buruk Ayah nya di luar sana, bahkan selingkuh dengan wanita lain. Zee tidak mau Bulan membenci Satria, karena bagimanapun Satria adalah Ayahnya.


" Kalau gitu ntar malam kita tidur di rumah ya Bun, kasian Ayah di tinggal sendirian terus "


Zee bingung, ia harus bilang apa kepada Bulan. Ia mau kembali ke rumahnya, asalkan Satria sudah tidak ada lagi di sana. Tapi sepertinya Satria tidak mau apalagi tadi Satria bilang kalau dia tidak mau berpisah dengan Zee.


" Kalau Bulan mau pulang, Bulan aja yang duluan. Bunda masih ingin lama - lama di rumah nenek "


" Kenapa gitu Bun? kenapa gak bareng aja "


" Mungkin ini saatnya " batin Zee.


" Bulan, Bunda gak mungkin kembali ke rumah lagi sekarang. Kalau Ayah sudah tidak ada di rumah kita, baru Bunda bisa pulang "


" Lo Bun, kenapa begitu Bun? Bulan gak ngerti "


" Bulan, Bunda minta maaf ya nak. Bunda benar - benar minta maaf. Bunda.. Bunda tidak akan bisa hidup bersama Ayah lagi "

__ADS_1


" Maksud Bunda? Bunda.. Bunda mau pisah sama Ayah? " kedua mata Bulan mulai berkaca - kaca, walaupun masih sembilan tahun, tapi Bulan sudah mengerti apa yang di maksud dengan Zee.


" Iya nak, maafkan Bunda. Bunda harus melakukan ini, Bulan jangan sedih ya, walaupun Bunda sama Ayah tidak bisa bersama lagi, tapi kasih sayang Bunda untuk Zee tidak pernah berkurang "


Zee berusaha untuk tidak menangis di depan Bulan, ia ingin terlihat tegar. padahal sebenarnya hati Zee sangat sakit saat ini. Karena ia juga pernah mengalami yang di alami anaknya, saat Bapak dan ibu nya mengatakan jika mereka akan berpisah. Ia juga tau jika Bulan pasti sedih sekali mendengar Zee mengatakan ini.


Bulan meraih jemari tangan Zee, lalu menciumi punggung tangan Bunda nya. Bulan terlihat tegar, dan dia juga berusaha untuk tidak menangis di depan Zee.


" Bunda, Bulan sayang banget sama Bunda, sayang banget Bun. Bunda pasti gak tahan kan sama Ayah, karena selama ini Ayah gak pernah bikin Bunda bahagia kan? " Zee terkejut dengan penuturan Bulan.


" Bulan, bukan seperti itu nak. Bunda bahagia, Bunda sama Ayah memang tidak bisa lagi bersama nak "


" Bunda gak bisa bohongi Bulan, Bulan tau Bun. Bulan bisa liat gimana sikap Ayah sama Bunda selama ini, Ayah cuma menyayangi Bulan tapi tidak menyayangi Bunda. Ayah juga gak pernah perhatian sama Bunda. Dan yang Bulan liat tadi siang itu, itu memang Ayah kan Bun. Kenapa Bunda harus bohong, dan malah melindungi kesalahan Ayah? Bulan tau kalau itu memang Ayah Bun "


Zee tidak kuasa menahan bendungan air mata nya, Zee menarik Bulan dan membawa Bulan kedalam pelukannya. Bulan bahkan lebih tegar dari yang Zee kira, bahkan senyuman paksa dan kebahagiaan yang palsu yang Zee perlihatkan kepada Bulan ketika mereka bersama dengan Satria itu semua tidak luput dari perhatian Bulan. Bulan tau jika itu semua hanya terpaksa. Zee tidak bisa berbohong, Bulan bisa lihat dari sikap Ayahnya yang memang selalu dingin terhadap Bunda nya.


" Maafkan Bunda ya nak maafkan Bunda " hanya itu ungkapan kata yang terus keluar dari mulut Zee.


" Bunda gak perlu minta maaf, Bunda gak salah. Ayah yang salah "


" Tidak Bulan, jangan berbicara seperti itu. Bunda tidak mau Bulan membenci Ayah "


Zee melepas pelukannya, lalu menangkup wajah Bulan dan menatap wajah anaknya. Ternyata Bulan juga ikut menangis, ya anak mana yang tidak sedih jika tau kedua orang tua nya akan berpisah.


" Terima kasih ya Bulan, Bunda sangat menyayangi Bulan " Zee kembali memeluk Bulan, Bulan juga semakin mempererat pelukannya kepada Zee. Bulan bahkan bisa bersikap lebih dewasa. Zee merasa bersyukur sekali karena Tuhan telah mengaruniai Zee seorang anak yang begitu hebat, walaupun dulu kehadirannya dalam waktu yang salah, dan bahkan Zee sempat marah ketika Bulan hidup di dalam rahim nya.


Di dalam bukan hanya Bulan dan Zee yang sedang berpelukan dan menangis, di luar Zhea dan nenek juga sama. Diam - diam mereka mendengar percakapan Bulan dan Zee, mereka begitu terharu dengan semua jawaban dan semangat yang Bulan berikan kepada Zee.


*****


" Assalamu'alaikum " seperti yang Bulan katakan, ia akan bermalam di rumah. Dan pastinya tidak bersama dengan Bunda nya.


" Waalaikumsalam " jawab Satria.


Bulan menghampiri Satria yang sedang duduk di sofa menonton televisi, Bulan meraih tangan Ayahnya dan mencium punggung tangan Satria.


" Dimana Bunda? "

__ADS_1


" Bunda tidak ikut Yah " Bulan menjawab pertanyaan Ayahnya sembari berjalan menuju kamar.


" Bulan, Ayah ingin bicara " Bulan menghentikan langkahnya, berbalik badan dan duduk di samping Satria.


" Kamu tau kalau Bunda ingin berpisah dari Ayah "


" Tau "


" Tau, apa Bunda sudah memberitahumu? "


" Sudah Yah "


" Terus, kamu mau? "


" Tidak Yah " senyum mengembang di wajah Satria, ia merasa ada Bulan yang akan mendukungnya agar Zee tidak jadi berpisah dengan nya.


" Kalau begitu bantu Ayah ya, bujuk Bunda agar mau kembali kerumah kita dan tidak jadi berpisah dengan Ayah "


" Kalau itu Bulan tidak bisa Yah "


" Kenapa tidak bisa? katanya kamu gak mau Ayah sama Bunda pisah "


" Benar Yah, anak mana yang mau kedua orang tua nya pisah. Pasti tidak mau. Tapi Bulan akan mendukung apapun keputusan Bunda, kalau Bunda bahagia, Bulan juga bahagia "


" Apa maksud mu Bulan? kenapa berbicara seperti itu? "


" Ayah tanyakan saja sendiri dengan hati Ayah, selama ini Bunda tidak pernah Bahagia bersama Ayah, Ayah tidak pernah


perhatian kan kepada Bunda, hanya kepada Bulan saja. Ayah juga jarang tersenyum kepada Bunda. Ayah tidak menyayangi Bunda kan. Bulan bisa melihat itu Yah, Ayah kira Bulan tidak memperhatikan nya selama ini "


Satria membulatkan kedua matanya, anaknya ini memang terkenal cerdas, bahkan saat ini Satria dibuat mati kutu oleh anaknya sendiri.


Merasa kesal dengan Ayahnya, Bulan beranjak dari duduknya lalu kembali kedalam kamar. Namun sebelum membuka pintu kamar. Ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Satria.


" Terlebih lagi dengan apa yang Bulan liat tadi siang, Hal itu benar - benar menyakitkan Bulan, terlebih lagi Bunda. Pantaskah Ayah masih ingin Bunda kembali? Bunda berhak untuk bahagia Yah " Bulan masuk ke kamar nya setelah mengeluarkan ayat terakhir, yang sangat menusuk hati Satria. Dan membuat Satria benar - benar tidak berkutik karena ucapan anaknya sendiri.


**Bersambung..

__ADS_1


jangan lupa like, vote, kritik dan sarannya teman - teman... 😘**


__ADS_2