Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Meminta penjelasan (lagi)


__ADS_3

Dengan penuh perhatian, Zhio membuka pintu mobil nya dan mempersilahkan Zee untuk masuk kemudian setelah Zee masuk ia kembali menutup pintu mobil dengan perlahan. Kini mereka sudah di dalam mobil dan dalam perjalanan pulang kerumah Zee. Di rumah Zhea dan Bulan sudah menunggu, Zhio sudah memberi tahu kepada mereka kalau Zee sudah bisa pulang dan mereka tidak perlu repot - repot menjemput Zee karena Zhio yang akan mengantar nya pulang.


" Zee " Zhio memanggil, membuat suasana hening yang sempat terjadi beberapa saat menjadi pecah seketika.


" Iya kenapa bang? " Zee menoleh ke arah Zhio yang sedang fokus menyetir mobil nya.


" aku mau melanjutkan pertanyaan ku yang tadi sempat ketunda " Zhio menoleh ke arah Zee sekilas lalu setelah itu kembali fokus menyetir mobil nya.


Zee mengerutkan kedua alisnya, pertanyaan apa? Zee mencoba mengingat - ingat. " Mengenai surat yang pernah aku kasih ke abang? memang nya ada apa lagi bang?"


" Hmm.. waktu itu kamu memberikan surat itu kepada siapa? "


" Surat nya aku titipkan sama Mawar, abang sudah terima suratnya kan? Mawar yang ngasih kan bang? kenapa abang tanya lagi sama Zee? "


Zhio benar - benar terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Zee, " Jadi Zee menitipkan nya kepada Mawar, tapi kenapa Celin yang memberikan surat itu kepada ku, dia juga mengatakan kalau Zee yang sudah menitipkan nya. Apa Celin berbohong? "


" Bang " Zee mencoba membangunkan Zhio dari lamunan nya.


" Hah.. maaf Zee " Zhio tersadar lalu menatap Zee.


" Memang nya ada apa sih bang? dari tadi tanya surat itu terus "


Zhio kembali diam, ia harus segera menyelesaikan permasalahan ini. Seperti nya sudah terjadi kesalahpahaman, Zhio pun berniat untuk membawa Zee ke rumah nya sebentar. Ia ingin menunjukkan surat itu kepada Zee, Zhio masih menyimpan surat itu.


" Zee, mampir ke rumah ku sebentar boleh? kamu gak pa-pa kan? soal nya ada barang ku yang mau di ambil "


" Oh ya bang, Zee gak pa-pa kok " Zee menganggukkan kepala nya, Zee merasa Zhio memang aneh sekali hari ini.


Zhio pun mengubah arah menuju ke kediaman nya, sesampai di rumah Zhio mempersilahkan Zee masuk dan menunggu nya di ruang tamu.

__ADS_1


" Tunggu sebentar ya Zee, aku ke kamar dulu " Zhio segera ke kamar nya, namun sebelum itu ia meminta bibi untuk membuat kan teh hangat untuk Zee "


" Dimana ku taruh ya surat itu " Zhio menggaruk - garuk kepalanya, sudah tiga tahun lama nya. Zhio memang masih menyimpan surat itu, tapi ia lupa menyimpan nya di mana. Zhio membuka lemari nya, mencoba mencari surat itu, semua laci di lemari juga di periksa oleh Zhio.


" Silahkan di minum teh nya Mbak " Bi Asih menyodorkan secangkir teh hangat untuk Zee.


" Terima kasih ya Bi, jadi ngerepotin " Zee menyambut hangat teh pemberian Bi Asih dan langsung menyeruput nya.


" Sama - sama Mbak, oh ya Mbak Zee gimana kabar nya? Mba Tasya cerita kalau Mba Zee lagi sakit "


" Alhamdulillah sudah baikan Bi, oh ya kok keliatan nya sepi Bi. Orang rumah pada kemana? " tanya Zee, rumah Zhio memang terlihat sepi. Yang ia lihat hanya Bi Inah saja, dan Zhio yang sekarang ada di kamar nya.


" Bapak sama ibu lagi keluar Mbak, kalau Mbak Tasya belum pulang sekolah " jelas Bi Asih, Zee hanya manggut - manggut sembari tersenyum.


" Bi, lagi masak gak sekarang. Ntar asyik ngobrol sama saya, ayam goreng Bi Asih gosong lagi " ucap Zee sambil terkekeh.


" Hahaha.. Mbak Zee ingat aja, Bi Asih lagi gak masak kok Mbak. Kalau gitu Bibi kedapur dulu ya Mbak " Bi Asih tertawa, dan setelah itu ia kembali ke dapur.


" Maaf Zee, lama ya nungguin nya " Zhio duduk di samping Zee.


" Gak kok bang, gimana udah ketemu barang yang mau abang ambil? "


" Ini barang nya Zee " Zhio menunjukkan sebuah amplop kecil kepada Zee.


" Loh, ini apa bang? "


" Ini surat yang waktu itu kamu kasih ke aku " Zhio membuka amplop nya, lalu memberikan surat itu kepada Zee, Zee membuka surat itu lalu membaca nya. Zee membulatkan kedua mata nya begitu membaca isi surat itu.


" Bang, kenapa isi suratnya seperti ini? surat yang aku berikan kepada abang isi nya mengenai permintaan maaf ku karena gak bisa datang di hari terakhir bakti sosial, permintaan maaf juga karena gak sempat mengucapkan salam perpisahan sama abang, dan juga terakhir ucapan Terima kasih karena abang sudah menolong ku waktu itu "

__ADS_1


" Tapi Zee tulisan di surat ini persis sekali dengan tulisan mu "


Zee kembali melihat surat itu, memperhatikan tulisan nya. Tulisan nya memang mirip sekali dengan tulisan Zee.


" Tulisan nya memang mirip sekali bang, tapi Zee ingat kalau waktu itu aku menulis nya pakai bolpoint warna hitam bang, surat ini bolpoint nya warna biru, jelas bukan aku yang menulis surat ini bang " jelas Zee lalu ia menatap Zhio.


" Ternyata selama ini aku di bohongi oleh Celin, berarti selama ini adalah ulah Celin " batin Zhio.


" Bang, abang kenapa belum jawab pertanyaan ku? jadi selama ini abang mengira aku ya yang udah nulis surat itu? Mawar kan yang memberikan surat nya sama abang, gak mungkin kalau Mawar mengganti surat ini bang " gantian Zee yang kini meminta penjelasan dari Zhio.


" Bukan Zee, bukan Mawar yang memberikan surat ini kepada ku, tapi Celin "


" Hah... Celin.. maksud abang Dokter Celin, kenapa bisa bang? aku menitipkan surat itu kepada Mawar, bukan Dokter Celin "


" Iya Zee,abang percaya. Jadi cerita awalnya itu begini.. " Zhio pun mulai bercerita, Zee hanya bisa geleng - geleng kepala. Ia tidak menyangka jika Celin yang sudah mengubah isi surat nya, dan sebenarnya bukan hanya Zee yang tidak menyangka akan hal itu. Zhio pun juga begitu.


" Maafkan aku ya Zee, dan benar karena surat itulah aku bersikap dingin dan mencoba menjauh dari kamu. Ya seperti isi surat ini, kamu menyuruh ku untuk tidak menggangu dan menjauh dari kamu . Aku benar - benar minta maaf Zee, aku juga gak mengira bisa bertemu kamu lagi sekarang. " Zhio merasa bersalah sekali dengan Zee, selama ini ia sudah salah paham dan bahkan berpikir tidak baik mengenai Zee.


" Gak perlu minta maaf bang, ini bukan salah abang. Yang penting sekarang semua sudah jelas " ucap Zee sembari tersenyum kepada Zhio.


" Aku akan meminta penjelasan lagi kepada Celin setelah ini, dia harus menjelaskan nya semuanya. Celin jahat sekali, aku jadi semakin tidak suka dengan nya "


" Sudah bang, biarkan saja. Kalau gitu kita pulang yuk Bang. Zhea dan Bulan pasti sudah menungguku dari tadi "


" Baiklah Zee "


Zhio mengantar Zee pulang, sepanjang perjalanan mereka selingi dengan obrolan - obrolan hangat. Zee senang dan merasa lega, kini berbicara dengan Zhio lebih berasa nyaman. Tidak ada rasa takut lagi, abang Zhio sudah kembali seperti dulu. Zhio juga merasakan hal yang sama, bahkan Zhio sangat bahagia karena ternyata surat itu bukanlah Zee yang membuat nya. Zee tidak pernah sama sekali ingin Zhio menjauh dari nya.


**Bersambung..

__ADS_1


Akhirnya semua jelas ya.. 😊


Jangan lupa like nya readers.. kritik dan saran nya juga jangan lupa yahh.. 😘**


__ADS_2