
Zee keluar dari kamar mandi dan tidak melihat Zhio berada di ruangan itu, Zee pun duduk di sofa dan melihat makanan yang ada di atas meja.
" Abang " ucap Zee saat Zhio masuk dengan membawa segelas teh hangat.
" Abang tadi keluar sebentar belikan kamu teh hangat, di minum sekarang ya biar tubuh kami enakan "
" Makasih Bang " benar saja setelah meminum teh yang di bawa Zhio, badan Zee terasa hangat.
" Abang, lebih baik kita ke UGD sekarang. Teman - teman di sana pasti membutuhkan kita "
" Semua sudah di tangani Zee, kamu tidak perlu khawatir. Sekarang kamu harus fokus sama diri kamu sendiri, kamu juga salah satu korban dari kecelakaan itu jadi kamu harus banyak istirahat "
" Iya bang, tapi benar kan semua sudah baik - baik saja sekarang " Zee masih saja memikirkan para korban yang mengalami kecelakaan tadi karena ia merasa khawatir dengan kondisi mereka.
" Sudah Zee, kamu tenang saja ya "
" Syukurlah bang, oh iya bang..Dokter Celin..bagaimana keadaan nya, tadi Dokter Celin juga ada di sana? "
" Tadi dia masih belum sadarkan diri Zee, sekarang belum tau kabarnya gimana? Kevin sedang menangani nya "
" Kita lihat Dokter Celin sekarang ya bang " Zee ingin beranjak dari duduknya namun Zhio menahan lengan Zee dan meminta Zee untuk kembali duduk.
" Abang kan sudah bilang kalau kamu harus pikirkan diri kamu dulu sekarang, bukan hanya Celin atau orang lain yang mengalami kecelakaan itu Zee. Lihat, kamu juga. Berjalan saja kamu susah, lagipula Celin sudah di tangani, kamu tidak perlu khawatir "
" Baiklah bang "
" Sekarang kamu makan ya " Zhio mengambil makanan yang ada di meja lalu menyuapi Zee.
" Biar aku aja bang " Zee menolak untuk di suapi oleh Zhio.
" Abang yang suapin, kamu duduk dan diam saja. Tidak ada penolakan "
Jika Zhio berkata seperti itu, maka apalah daya Zee. Zee pun menurut dan membuka mulutnya. Sesendok nasi pun masuk, Zhio tersenyum melihat Zee. Zhio pun terus menyuapi Zee hingga makanan nya habis.
" Sekarang kita pulang ya, kamu harus istirahat Zee. Tapi kalau kamu bermalam di rumah abang dulu gak apa kan Zee? "
" Di rumah abang, kenapa harus ke rumah abang? "
" Zhea sama Bulan besok baru pulang kan? Abang gak bisa biarin kamu tidur sendirian di rumah dengan keadaan kamu seperti ini. Dan abang juga gak mungkin temenin kamu dan bermalam di rumah kamu Zee. Kalau di rumah abang ada Bunda, Ayah, dan juga Tasya "
" Tapi bang..gak apa kok aku sendirian bang, aku baik - baik aja "
" gak Zee, sekarang memang baik. Bagaimana nanti, kalau tengah malam kamu perlu apa - apa atau tiba - tiba kepala kamu pusing atau ada badan kamu yang sakit gimana Zee? "
" Insyaallah gak bang, abang tenang aja ya "
" gak Zee, pokoknya kamu tidur di rumah abang "
" Tapi bang.."
" Sekarang kita pulang ya, sudah larut malam. Kamu harus istirahat "
__ADS_1
" Tapi bang.. gak enak sama orang tua abang "
" Kamu tenang aja Zee, ayo berdiri abang gendong "
" eh...eh..gak perlu bang, aku bisa jalan sendiri. Malu di liat orang bang " Zhio hanya tersenyum mendengar ucapan Zee, dan seperti biasa tanpa aba - aba Zhio langsung menggendong Zee.
" Abang.... !! " teriak Zee saat tubuh nya sudah berada di gendongan Zhio.
" Abang turunin " Zhio tidak menghiraukan ucapan Zee dan melangkah keluar dari ruangan.
Di luar suasana cukup ramai, Zee yang awalnya memberontak akhirnya memilih diam, melingkarkan kedua tangan nya di leher Zhio dan juga membenamkan wajah nya di didada Zhio. Zee tidak ingin melihat mereka yang pastinya saat ini memperhatikan Zhio dan juga dirinya, dan pastinya saat ini mereka sedang membicarakan Zhio dan juga Zee. Entahlah, apa yang harus Zee jelaskan nanti kepada mereka.
Berbeda dengan Zee, Zhio tidak sama sekali malu ataupun peduli dengan sekelilingnya. Bahkan senyum terus terukir di wajahnya, apalagi melihat wajah Zee yang memerah karena menahan malu. Dimata Zhio, Zee terlihat begitu menggemaskan.
Entah karena efek obat yang tadi di berikan kepada nya, Zee malah tertidur di dalam mobil dan tidak sadar kalau mobil mereka sudah berada di depan rumah Zhio.
Mendengar suara mobil, Bunda Hesty dan juga Tasya bergegas keluar dan menemui Zhio dan Zee. Sebelumnya Zhio sudah memberitahu Bunda Hesty dan meminta ijin kepada Bunda nya itu untuk membawa Zee ke rumah mereka. Ya semua sudah Zhio jelaskan kepada Bunda, dan tentu saja Bunda tidak menolak sama sekali. Ia justru khawatir dengan kondisi Zee, dan juga sebenarnya Bunda sangat ingin bertemu dengan wanita yang sudah meluluhkan hati anak nya.
" Abang..dimana kak.. "
" Shuttt..."
Zhio memberi isyarat kepada Tasya untuk tidak berisik, karena Zee sedang tertidur..
" Zee nya tidur Bun, abang gak enak bangunin nya " ucap Zhio setelah membuka pintu mobil dan ia melihat ke arah Bunda. Bunda Hesty celingukan mencoba melihat dengan jelas wajah calon menantu nya itu.
" Ya udah, abang gendong aja bawa ke kamar. Pelan - pelan biar Zee nya gak bangun " pinta Bunda, dan perlahan Zhio menggendong Zee dan membawa nya ke kamar Tasya.
" Jadi kak Zee apa aja yang terluka bang, gak ada yang serius kan? " tanya Tasya.
" Gak ada dek alhamdulillah "
" Syukur alhamdulillah, Zee nya udah makan bang? "
" Sudah bun,tadi sebelum ke sini abang udah paksa Zee buat makan "
" Ya udah kalau gitu abang bersih - bersih aja dulu, ada Tasya sama bunda yang jagain Zee "
" Ya bun, titip Zee ya "
" Ihh..abang..kayak kak Zee barang aja di titip - titip, tenang bang, gak usah abang minta juga Tasya sama Bunda pasti jagain kak Zee "
" Bawel " ucap Zhio lalu mencubit lengan Tasya.
" Aduh..abang sakit " ucap Tasya sembari mengelus - elus tangan nya yang sebenarnya tidak terlalu sakit, hanya Tasya saja yang berlebihan. Bunda hanya bisa tersenyum melihat kedua anak nya itu.
" Gimana Bunda? kak Zee orang nya cantik kan? ciehh..bunda..udah ketemu calon mantu " ejek Tasya.
" Iya Tasya, wanita pilihan abang memang cantik " ucap Bunda sembari menatap Zee yang sedang tertidur pulas.
Setelah mandi dan berganti pakaian, Zhio kembali ke kamar Tasya untuk melihat keadaan Zee. Bunda Hesty dan juga Tasya masih setia menunggu di sana, Zhio menghampiri Zee dan duduk di samping Bunda.
__ADS_1
" Bagaimana kecelakaan nya bisa terjadi bang, dari yang bunda dengar kalau ada mobil truck yang remnya blong terus nabrak. Bunda ngeri banget baca berita nya bang, bersyukur sekali Zee selamat "
" Iya bun, bahkan tadi Zee sibuk membantu para korban di tempat kejadian. Sampai - sampai lupa dan gak sadar kalau dia juga terluka " Zhio berbicara sembari menatap Zee dan juga sesekali menatap ke arah bunda Hesty.
" Masyaallah, mulia sekali hati mu Zee " batin bunda Hesty.
" Oh ya Bun, Celin juga jadi korban dalam kecelakaan itu bun "
" Maksud abang kak Celin? " tanya Tasya.
" Iya dek, Celin luka nya cukup parah. Ya semoga aja gak kenapa - kenapa "
" Semoga aja bang, aamiin " ucap Bunda dan Tasya bersamaan.
Dritt..dritt..dritt...ponsel Zhio berbunyi.
Zhio segera mengangkat telepon, dan ternyata itu telepon dari rumah sakit yang meminta Zhio untuk segera mengoperasi salah satu pasien yang mengalami kecelakaan tadi.
" Siapa bang ? " tanya Tasya.
" Dari rumah sakit dek, ada pasien yang perlu di operasi dan abang diminta untuk mengoperasi nya sekarang "
" Ya udah kalau gitu abang pergi aja sekarang " ucap Bunda.
Zhio terdiam sejenak lalu menatap Zee, rasanya Zhio tidak ingin pergi. Ia ingin tetap di rumah dan memantau kondisi Zee. Zhio masih saja khawatir mengenai kondisi Zee yang sebenarnya tidak perlu terlalu di khawatirkan karena memang Zee tidak mengalami luka yang serius.
Melihat putra nya, Bunda paham jika putra nya ini merasa berat untuk meninggalkan wanita yang ada di depan nya. " Abang gak perlu khawatir , ada Bunda dan Tasya yang jaga Zee. Ada orang yang sangat penting dan perlu abang selamatkan sekarang " ucap Bunda sembari mengelus lembut pundak Zhio.
" Kalau gitu abang berangkat ya bun, titip Zee. Zhio gak tau pulang jam berapa bun, kalau sudah selesai nanti Zhio akan segera pulang. Ini obat sudah Zhio siapkan takut nya nanti Zee tiba - tiba demam atau pusing bun. Sudah Zhio kasih keterangan di masing obatnya, terus jangan lupa nanti sediakan air minum ya bun takut nanti kalau Zee tengah malam bangun dan pengen minum " jelas Zhio panjang lebar kepada Bunda Hesty, Bunda Hesty tersenyum mendengar penjelasan putra nya itu.
Sebegitu cinta putra nya ini kepada Zee, sehingga sekhawatir itu dan sedetail itu mempersiapkan semua nya untuk Zee.
" Iya abang, tenang aja. Bunda ingat pesan abang "
" Ya bun, ya udah Zhio berangkat. Assalamu'alaikum "
" Waalaikumsalam " jawab Tasya dan Bunda Hesty bersamaan.
Zhio berhenti di depan pintu kamar, " nanti hubungi Zhio kalau ada apa - apa ya bun "ucap Zhio sebelum akhirnya pergi.
Bunda Hesty dan juga Tasya saling pandang dan tak lama saling tersenyum.
" Abang perhatian banget sama kak Zee ya Bunda "
" Iya sayang, abang kamu lagi..apa sih itu namanya, gicin ya..gicin, gila cinta "
" gicin , gila cinta , aneh deh bunda. Bukan gicin bun tapi yang sering di bilang orang itu bucin "
" Nah..ia bener itu..bucin.. Hehehee.. " ucap Bunda sembari terkekeh, dan Tasya juga juga ikut tertawa melihat bunda Hesty.
Bersambung..
__ADS_1