Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Rujak serut


__ADS_3

Seperti yang di inginkan Zhio, Zhio akhirnya memboyong sangat istri untuk ikut bersamanya ke kantor tempatnya bekerjanya.


Setiba di kantor, Zhio dan Zee menjadi pusat perhatian para karyawan. Pasalnya bos mereka hari ini membawa seorang wanita cantik yang berjalan berdampingan dengannya. Bahkan Zhio tak melepas sedikit pun genggaman tangannya kepada sang istri sejak mereka berada di dalam mobil hingga masuk kedalam kantor.


Zhio tersenyum hangat saat beberapa karyawan yang menyapanya. Begitu pula dengan Zee yang juga ikut tersenyum ramah saat beberapa karyawan yang juga tersenyum kepadanya.


Karena berita mengenai pernikahan Zhio belum banyak yang mengetahuinya, jadilah beberapa karyawan begitu heboh saat ini. Karena mereka masih penasaran akan sosok Zee, sebagian dari mereka ada yang memuji kecantikan Zee, dan sebagian lagi banyak yang patah hati karena melihat bos mereka menggandeng seorang perempuan yang tentunya pertanda bahwa Bos mereka bukan berstatus single seperti yang mereka kira selama ini.


" Abang, aku jadi malu di liatin sama karyawan-karyawan abang " ucap Zee saat mereka sudah tiba di ruangan kerja Zhio.


" Malu,, kenapa malu sayang?? mereka itu ngeliatin kamu karena kamu cantik " ucap Zhio, mengelus lembut rambut sangat istri lalu mengecup kening Zee. Zee tersenyum mendapat perlakuan manis dari sang suami.


" Ruangan kerja abang besar sekali " ucap Zee sembari melihat sekeliling ruangan kerja Zhio.


" Ya sayang, coba kamu lihat ke sana. Di sana ada ruang khusus untuk istirahat, kamu mau kesana?? kamu bisa di istirahat di sana sayang sambil tiduran " ucap Zhio sembari menunjuk sebuah pintu yang di dalamnya terdapat kamar pribadi miliknya.


" Kamar?? " tanya Zee dan Zee berjalan ke arah kamar tersebut, di iringi Zhio di belakangnya.


Perlahan Zee membuka pintu kamar tersebut, dan benar didalam nya terdapat tempat tidur yang lumayan besar , sebuah nakas, lemari pakaian, dan juga kaca yang panjang dan cukup besar. Di dalam nya juga terdapat sebuah kamar mandi plus toilet yang juga cukup besar.


" Kalau aku jadi abang, aku jadi malas kerja bang. jadinya pengen tidur terus. Hahaha " ucap Zee sembari terkekeh, Zee duduk di atas ranjang sembari mengelus- elus ranjang yang begitu empuk.


Tok.. tok.. tok...


sebuah ketukan pintu membuat Zhio dan Zee melihat ke arah sumber suara.


" Permisi Tuan, maaf mengganggu " ucap Pak Niko.


" Oh Pak Niko, sebentar ya Pak " ucap Zhio.


" Sayang, sebentar abang keluar dulu ya " ucap Zhio dan di balas anggukan oleh Zee.


Zee merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, " Ya Allah nyaman sekali, rasanya aku ingin tidur aja. Tapi masih pagi, tidak baik untuk kesehatanku " ucap Zee sembari melihat jam yang melingkar di tangannya.


Selama hamil Zee memang tidak merasa mual dan muntah, tapi ia mudah sekali merasa lelah.


Zee berbaring sembari melihat ke langit-langit kamar, Seketika kedua mata Zee berkaca-kaca, Zee ingin menangis bukan karena bersedih. Ia begitu bahagia dan begitu banyak rasa syukur yang ia panjatkan kepada Allah atas semua yang ia dapatkan sekarang.


Setelah perceraianya dari Satria, tak pernah sedikit pun terbayang oleh Zee jika hidupnya akan sebaik dan sebahagia ini. Memiliki suami yang begitu sholeh, penyayang, perhatian , dan bisa menjadi anggota keluarga Xander yang terkenal dengan keluarga yang cukup kaya raya.


Kesedihan , penghianatan, dan kepahitan yang Zee alami terdahulu kini terbayar dengan sebuah kebahagiaan yang tak terbendung, bahkan sekarang Allah kembali mempercayakannya seorang anak yang kini tumbuh di dalam perutnya.

__ADS_1


" Bunda menangis bukan karena sedih ya nak, bunda menangis karena begitu bahagia " ucap Zee sembari mengelus-elus perutnya.


Zhio yang sudah selesai berbicara dengan Pak Niko, kembali lagi ke ruang pribadinya untuk menemui sang istri. Zee segera menghapus air matanya saat melihat kedatangan Zhio.


" Kamu kenapa sayang? " tanya Zhio.


Zee duduk dan menyandarkan tubuhnya di sandaran tempat tidur.


" Gak apa bang, abang kalau mau kerja, kerja aja. Aku gak apa sendirian di sini " ucap Zee.


" Kamu mau tidur sayang? " tanya Zhio.


" Gak bang, kan gak baik kalau tidur masih pagi begini. Apalagi aku lagi hamil " jelas Zee.


" Iya sayang, kalau gitu kamu temani abang aja ya di depan "


" Tapi bang, emangnya aku gak ganggu, abang pasti banyak kerjaan kan "


" Gak sayang, justru abang senang di temenin sama kamu. Makanya abang ajak kamu ke sini "


Zhio menggandeng sang istri keluar dari ruang pribadi mereka, Zhio sudah menyediakan kursi di samping tempat duduknya.


" Kamu temanin abang di sini ya, nanti kalau kamu capek bilang sama abang. Kalau udah lewat jam 11 baru boleh tidur "


Zhio memulai pekerjaan nya, sebelah tangannya sibuk menandatangi berkas-berkas yang cukup tebal. Dan sebelah tangannya lagi mengenggam tangan Zee.


" Setiap hari abang harus tanda tangan sebanyak ini? " tanya Zee.


" hmm.. ya begitulah yang "


" Abang gak baca dulu berkas-berkas nya, langsung di tandatangani aja " ucap Zee saat melihat Zhio dengan cekatan dan cepat menandatangi berkas-berkas yang ada di depannya.


" Gak sayang " ucap Zhio dengan tersenyum manis kepada sang istri.


Zee pun dengan setia menemani sang suami, sesekali mereka bercanda gurau.


Tok.. tok.. tok..


" Masuk " ucap Zhio.


" Permisi Tuan " ucap Pak Niko yang datang dengan mememba dua kantong plastik yang cukup besar.

__ADS_1


" Saya taruh di sini Tuan " ucap Pak Niko lalu menaruh kantong plastik itu di atas meja.


" Baik, Terima kasih Pak Niko "


" Sama-sama Tuan "


Zhio beranjak dari duduknya dan menggandeng Zee untuk beralih duduk di sofa. Zhio membuka kantong plastik yang ada di depan mereka dan mengeluarkan semua isinya.


Zee terkejut melihat banyaknya cemilan yang Zhio keluarkan dari kantong plastik tersebut. Tentunya cemilan-cemilan sehat untuk ibu hamil, ada juga dua kotak susu ibu hamil yang siap minum.


" Ini semua abang yang beli? " tanya Zee.


" Iya sayang, tadi abang suruh Pak Niko yang beliin buat kamu. Hmm.. mana ya pesanan abang tadi? " ucap Zhio membuka-buka kantong plastik mencari sesuatu yang Zee tidak tau.


" Emangnya abang pesan apa? " tanya Zee.


" Nah.. ini dia " ucap Zhio saat memperlihatkan dua gelas rujak serut yang di dalamnya terdapat ice cream. Terlihat jika Zhio begitu senang melihat rujak serut tersebut dan ingin segera melahap nya.


Zee terkekeh melihat Zhio, " Abang suka makan rujak serut ini? " tanya Zee.


" Iya sayang, abang tu biasanya gak suka makan ginian. Tapi gak tau nih kenapa abang suka banget sama rujak serut ini, waktu itu sekretaris abang beli ini yang, abang liat kok kayaknya seger dan enak gitu. Jadi abang minta beliin sama dia, dan ternyata rasanya enak " ucap Zhio sembari mengunyah rujak serut yang sudah tak sabar lagi ia makan.


" Ayo sayang cobain " Zhio menyodorkan sesendok rujak serut kepada Zee, Zee pun dengan senang hati menerima suapan dari sang suami.


" Enak ya bang " ucap Zee.


" Iya sayang, kamu jangan banyak-banyak makannya ya nanti sakit perut. Kalau abang gak apa banyak-banyak" ucap Zhio.


" Sama aja bang, abang juga gak boleh banyak-banyak nanti perutnya sakit "


" Kalau abang sakit, kan ada kamu yang ngobatin "


" abang... gak boleh ngomong kayak gitu, malah mau sakit "


" Hahaha.. abang bercanda sayang, iya habis dua gelas ini abang berhenti deh makan rujak serut nya "


" Dua gelas?? ihh abang "


" Hahaha... "


Zhio terkekeh, ia senang melihat sang istri yang memarahinya. Zee terlihat begitu menggemaskan di mata Zhio.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2