
Zee merasa sangat lelah dan langsung menuju kamarnya setelah pulang dari Rumah sakit. Walaupun di rumah sakit ia masih bisa tidur, tapi tetap saja Zee tidak bisa tidur dengan tenang. Terlebih ia sedang memikirkan adiknya Zhea.
Zee langsung berbaring di tempat tidur begitu sampai di kamarnya. Ia belum membicarakan hal ini kepada suaminya Zhio.
Melihat istrinya yang terlihat lelah , Zhio diam-diam kembali kerumah dan masuk perlahan ke kamar mereka. Melihat Zee berbaring , Zhio perlahan naik ke atas tempat tidur dan langsung memeluk Zee. Walaupun sulit bangkit sendiri dari kursi rodanya, tapi Zhio kini sudah mulai terbiasa melakukannya sendiri.
Zee terkejut dan reflek membalikkan badan , ia terkejut karena seseorang memeluknya.
" Abang "
Zee tersenyum melihat suaminya yang ternyata diam-diam datang dan memeluknya.
" Bukannya Abang sudah berangkat ? kenapa kembali ? "
Zee memeluk erat suaminya, berada dalam pelukan sang suami membuatnya nyaman.
Zhio mencium kening Zee dan mengelus lembut pipi Zee.
" Abang kangen sama kamu "
Zee tersenyum, " baru aja ketemu, udah kangen " jawab Zee dengan nada sedikit manja.
" I LOVE YOU " ucap Zhio.
" I LOVE YOU " jawab Zee.
Zhio menarik tengkuk leher Zee dan mencium manis bibir Zee.
" Kayaknya Abang gak kerja hari ini " ucap Zhio di sela-sela ciuman mereka.
" Kenapa ? "
" Abang pengen di sini aja nemenin kamu "
Zee tersenyum lalu kembali mencium Zhio, dan setelahnya mereka saling berpelukan.
__ADS_1
" Abang, kemarin Zhea cerita kalau Abang Kevin ngajakin dia nikah "
Karena Zhio sudah tahu terlebih dahulu, jadi Zhio tidak terkejut mendengarnya. Dan Zhio justru senang karena ia tidak perlu lagi bercerita hal ini kepada Zee.
" Benarkah ? ini kabar bahagia " ucap Zhio, berpura-pura kalau ia baru saja tahu akan hal ini.
Zhio memperhatikan wajah Zee yang tidak menampakkan rasa bahagia melainkan kekhawatiran.
" Kamu gak senang yang ? " tanya Zhio.
" Bukannya gak senang bang, aku cuma khawatir " ucap Zee.
" Apa yang kamu khawatirkan, Zhea nya mau di ajak nikah sama Kevin ? " tanya Zhio.
" Zhea siap bang untuk menikah, asalkan bapak sama ibuk merestui "
" Zhea hebat juga, terus apa yang kamu khawatirkan ? " tanya Zhio.
" Menurut Abang ? apa Zhea gak terlalu muda untuk menikah ? apalagi kan dia baru mau lanjut sekolah lagi ? "
" Aku takut kalau nantinya Zhea menyesal karena menikah terlalu buru-buru bang. Abang ngerti kan maksud aku ? "
Sebagai seorang kakak , tentu ada sedikit kekhawatiran di hati Zee.
Zhio mengelus lembut pipi Zee, ia mengerti kalau Zee mengkhawatirkan sang adik. Kalaupun sekarang posisinya di balik, seandainya Tasya yang berada di posisi Zhea, dan Zhio di posisi Zee. Pasti Zhio akan merasakan hal yang sama.
" Abang ngerti maksud kamu sayang, serahkan semua nya sama Allah. Allah maha tau segalanya dan yang terbaik untuk setiap hambanya, Zhea umurnya bukannya hampir 19 tahun kan ? menurut Abang dia sudah cukup dewasa, Zhea pasti sudah berpikir panjang mengenai hal ini. Abang juga yakin kalau Kevin pasti bisa membimbing Zhea dengan baik "
Zee diam memikirkan penjelasan Zhio, ia terus menatap wajah sang suami.
" Sebagai kakak , kita hanya bisa terus mengingatkan Zhea. Dan mendukung semua keputusannya , selagi itu tidak merugikannya dan masih di jalan yang benar "
Mendengar penjelasan Zhio, membuat Zee merasa tenang.
" Makasih ya bang, aku sekarang udah gak khawatir lagi. Abang benar, sebagai seorang kakak, kita harus mendukung keputusan Zhea. Lagipula calon suami Zhea kan bang Kevin, kita semua sudah kenal bang Kevin, dan in syaa Allah bang Kevin pasti bisa membimbing Zhea dengan baik "
__ADS_1
" Maa syaa Allah, Abang senang dengarnya yang. Jangan khawatir ya, kita semua harus saling mendukung satu sama lain "
Zhea tersenyum sembari mengangguk-anggukkan kepalanya. Zhio mengeratkan pelukannya kepada Zee dan mencium lembut kening istrinya.
" Kamu udah kasih tau bapak sama ibuk, yang ? " tanya Zhio.
" Belum bang, kalau gitu aku telepon sekarang deh "
Zhio kembali menarik Zee kedalam pelukannya saat Zee ingin beranjak mengambil ponselnya.
" Abang " Zee tersenyum menatap Zhio.
" Jangan lewat telepon yang, lebih baik bicara langsung. Kita pulang dan temui bapak dan ibu "
" Iya benar juga ya bang, berarti kita harus berangkat hari ini bang. Karena Lusa bang Kevin dan orangtuanya mau kerumah ketemu bapak dan ibu "
" Ya udah kalau gitu nanti siang kita kerumah bapak "
" Tapi bang, berarti aku harus ijin dulu ni bang dua hari. Dan Abang , Abang gak apa kan kalau libur kerja dulu ? "
" Gak masalah sayang, kan Abang bosnya "
Zee menepuk pelan dada Zhio, " Dasar sombong " ucap Zee sembari terkekeh.
Zee terlihat sangat menggemaskan di mata Zhio. Zhio kembali menarik Zee kedalam pelukannya dan ingin mencium bibir manis sang istri.
" Berarti aku harus siapkan pakaian kita bang, Zhea juga harus aku kasih tau biar siap-siap kerumah bapak. Bunda juga harus di kasih tau berita ini "
Zhio menelan ludah saat bibir mereka ingin menyatu namun Zee tiba-tiba berbicara dan menahan Zhio yang sudah siap menciumnya.
" Sayang " ucap Zhio.
" Aku siap-siap dulu ya bang, Abang juga "
Zee beranjak dari tempat tidur. Dan meninggalkan Zhio , Zhio hanya bisa tersenyum melihat sang istri yang tampak sibuk.
__ADS_1