Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Kecelakaan


__ADS_3

Setelah berhari-hari menjalani ujian , hari ini Zee bisa menarik nafas segar karena ujiannya telah usai. Tinggal menunggu hasilnya yang akan di umumkan Minggu depan.


" Kayaknya istri Abang hari ini senang banget "


Zee senyum-senyum sendiri sembari memasangkan dasi di leher Zhio.


" Ujian aku udah selesai bang, tinggal nunggu hasilnya aja Minggu depan "


" Alhamdulillah, Abang doain semoga istri Abang lulus dengan hasil yang memuaskan "


" aamiin....makasih bang "


" Sama-sama sayang, oh ya karena kamu udah selesai ujian, gimana kalau besok kita jalan-jalan " ajak Zhio.


" Jalan-jalan, Abang mau ajak aku kemana ? " tanya Zee semringah.


" Rahasia dong, Abang pengen ajak istri Abang ke suatu tempat yang bikin istri Abang bahaaaagiaa... "


Zee tertawa melihat Zhio , " Abang lucu " ucap Zee.


" Semoga Abang bisa selalu melihat tawa kamu seperti ini " ucap Zhio.


" Ihh Abang, kok ngomong gitu. Ya udah kita turun yuk bang, aku udah masak dan bikinin sarapan untuk Abang "


" Ayo sayang "


Zhio dan Zee keluar dari kamar dan pergi menuju ruang makan untuk sarapan bersama.


****


" Zee " panggil Amira , Amira sudah menunggu kedatangan Zee di parkiran kampus mereka.


Padahal Zee sudah sangat senang karena ujiannya selesai dan mendapat cuti dua hari , namun tiba-tiba saja siang harinya Zee mendapat kabar dari Amira bahwa dosen pembimbing mereka meminta untuk segera ke kampus karena ada beberapa hal yang ingin di sampaikan.


" Kamu ke sini sama siapa Zee ? " tanya Amira.


" Tadi di antar sama Pak Ujang , sebenarnya hal apa sih yang mau di sampaikan sama Bu Dewi ? " tanya Zee.


" Gak tau juga Zee, aku aja sebel nih, udah enak mau nyantai bobok siang, eh dapat kabar kalau di suruh ke kampus " omel Amira.


" Ya udah kalau gitu kita masuk aja " ajak Zee dan di balas anggukan oleh Amira.


Zee berjalan terlebih dahulu dari Amira, Zee ingin menyeberang dan tidak melihat kalau di sebelah kirinya ada sepeda motor yang melintas.


" ZEE........!! " teriak Amira.


Pengendara sepeda motor membunyikan klakson sepeda motornya dengan keras, dan ia mengerem mendadak. Zee menoleh ke sebuah kiri dan reflek menunduk sembari memegang perutnya.


" Zee...." teriak Amira dan segera menghampiri Zee.

__ADS_1


Untung saja pengendara sepeda motor sempat mengerem mendadak dan tidak hampir menabrak Zee, walaupun sebenarnya jarak antara sepeda motor dan Zee saat ini sangatlah dekat.


" Zee, kamu baik-baik saja kan. Ya Allah syukurlah Zee, hampir aja kamu ketabrak " ucap Amira.


Zee hanya diam, jantungnya saat ini berdetak begitu kencang , perasaan Zee merasa tidak enak sekarang.


" Aku..aku baik-baik aja Amira " ucap Zee.


Pengendara sepeda motor yang hampir menabrak Zee turun dari motornya.


" Mbaknya gak apa kan ? lain kali tolong kalau mau nyebrang hati-hati mba , hampir saja saya tabrak, untung saya bisa rem mendadak "


" i..iya..Mas, maaf..maaf saya salah " ucap Zee terbata-bata.


Pendengara sepeda motor tersebut kembali ke motornya lalu pergi meninggalkan Zee dan Amira.


" Kita ke kantin dulu ya, aku belikan minum " ajak Amira. Zee hanya diam dan mengikuti Amira.


" Sudah tenang kan sekarang ? " tanya Amira , merasa khawatir dengan Zee, bukan hanya Zee yang saat ini merasa seperti terkena serangan jantung akibat insiden tadi, tapi Amira juga merasakan hal yang sama.


" Sudah Amira , terima kasih " ucap Zee lalu memeluk Amira, entah mengapa perasaan Zee merasa tidak tenang, Zee jadi teringat akan suaminya Zhio.


Setelah tenang, Zee dan Amira menuju kelas mereka dan bertemu Bu Dewi. Dan dua jam kemudian mereka keluar dari kelas, Zee masih merasa tidak tenang, ia pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi suaminya Zhio.


" Zee, aku mau ke toilet bentar ya. Kamu tunggu di sini " ucap Amira dan di balas anggukan oleh Zee.


"Assalamualaikum , istri Abang tersayang "


" Wa'alaikumussalam , Abang masih di kantor ? " tanya Zee.


" Masih yang, kamu udah pulang ? "


" Sudah bang, baru aja keluar kelas "


" Ya udah kalau gitu Abang jemput ya, kamu tunggu di sana "


" Iya bang, oh ya bang , aku boleh minta sesuatu gak ? "


" apa yang ? "


" aku bisa gak minta beliin nasi Padang yang jualan di dekat kantor Abang "


" Oh nasi Padang kesukaan kamu , ia sayang ntar Abang mampir bentar ke sana "


" Baik bang, terima kasih "


" Sama-sama yang, tungguin Abang ya. Assalamualaikum "


" Wa'alaikumussalam "

__ADS_1


Zee menutup sambungan teleponnya, dan tak lama Amira datang.


" Zee, kamu udah di jemput ? atau mau pulang bareng aku ? " ajak Amira.


" Bang Zhio lagi di jalan jemput aku, kamu duluan aja Amira "


" Oh ya udah, kalau gitu aku duluan ya Zee. Gak apa kan ? soalnya aku mau bantuin ibu nyetrika di rumah, banyak laundryan tetangga yang belum kelar "


" Iya gak apa Amira, bang Zhio udah di jalan juga. Salam sama kedua orangtua kamu ya "


" Iya Zee, nanti aku sampaikan . Aku duluan ya "


" Iya Amira "


Setelah Amira pergi, Zee memilih untuk menunggu Zhio di depan pintu gerbang kampus, Zee menunggu Zhio sembari memainkan ponselnya.


Awalnya Zee masih biasa saja menunggu Zhio, namun setelah setengah jam kemudian, Zhio tak kunjung datang. Zee pun mencoba menghubungi Zhio namun Zhio tidak bisa di hubungi.


Perasaan Zee pun semakin tidak nyaman, Zee melihat ke kiri dan kanannya, berharap suaminya datang untung menjemput. Namun tak tampak sekalipun, mobil Zhio saja tidak terlihat dari kejauhan.


Karena Zhio tidak bisa di hubungi, Zee mencoba menghubungi Pak Niko. Dan perasaan Zee semakin tidak tenang saat Pak Niko mengatakan bahwa Zhio sudah berangkat sejak setengah jam lalu.


" Ya Allah, lindungi suamiku " batin Zee.


Zee pun kembali sabar menunggu kedatangan Zhio sembari mencoba menenangkan dirinya sendiri dan mencoba untuk berpikir positif.


Tak terasa hampir dua jam Zee menunggu , Zee pun mencoba menghubungi Bunda Hesty. Namun saat ingin menghubungi Bunda Hesty, sebuah mobil datang dan berhenti di depan Zee. Zee sangat tau mobil yang ada di depannya mobil siapa, dan itu adalah mobil yang biasa di bawa oleh Pak Ujang, bukan mobil Zhio.


" Pak Ujang " ucap Zee, Zee pun membatalkan niatnya untuk menghubungi Bunda Hesty.


" Mbak Zee " ucap Pak Ujang dengan raut wajah sedih.


" Bapak ke sini mau jemput aku ? Bang Zhio mana Pak, bang Zhio ya yang nyuruh Pak Ujang biar jemput aku ? " tanya Zee.


" Maaf mbak Zee, sebelumnya mbak Zee tenang ya, jangan panik " ucap Pak Ujang.


" Tenang gimana pak, apa yang terjadi " Kedua mata Zee berkaca-kaca, Zee merasa ada suatu hal buruk yang terjadi di balik ucapan Pak Ujang.


" Pak Zhio..Pak Zhio mengalami kecelakaan , dan sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit "


Seketika air mata Zee pecah, Zee tertunduk dan sekujur tubuhnya terasa lemah, untung saja Pak Ujang dengan sigap menopang tubuh Zee.


" Bang.. Zhio.. " ucap Zee, Zee berusaha berdiri tegak dan mencoba menguatkan dirinya.


" Kita kerumah sakit sekarang pak, ayo sekarang Pak Ujang " ucap Zee dan langsung masuk kedalam mobil.


Di dalam mobil Zee kembali menangis , bahkan menumpahkan segala airmatanya. Terjawablah semua perasaan yang tidak nyaman di hati Zee. Zee terus menangis sembari beroda semoga suaminya Zhio baik-baik saja.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2