
Bunda Hesty menghampiri Zhio yang tengah duduk sendirian di teras rumah mereka.
" Abang.. "
" Bunda.. "
Bunda Hesty duduk di samping Zhio, ia melihat raut kesedihan di wajah anaknya.
" Lagi mikirin apa bang ? "
Zhio tersenyum, lalu menarik tangan ibunya dan mengelus lembut tangan ibunya dengan lembut.
" Zhio berangkat dua hari lagi Bun, jaga Zee untuk Zhio ya Bun "
Bunda tersenyum, " Tanpa kamu minta, Bunda pasti jagain Zee , Zee kan anak bunda juga , apalagi Zee sedang mengandung cucu bunda, bunda pasti menjaga mereka dengan ekstra "
Bunda Hesty menepuk-nepuk pundak Zhio, Tanpa anaknya bercerita, Bunda Hesty bisa merasakan betapa kekhawatiran anaknya kepada istrinya Zee.
" Makasih ya Bun, semoga saja apa yang Zhio rencanakan berjalan dengan lancar, dan Zhio bisa segera pulang "
" Aamiin.. aamiin..bunda selalu doakan yang terbaik buat Abang "
" Iya Bun, hmm..setidaknya sekarang, bunda gak LDR lagi sama ayah "
Zhio kini menggoda ibunya, karena setelah Zhio pergi ke luar negeri, perusahaan akan kembali di ambil alih oleh ayah Xander, seperti yang kalian tahu saat ini Ayah Xander sedang memegang perusahaan di luar kota, karena Zhio akan pergi untuk sementara, maka Ayah Xander akan kembali ke perusahaan lama dan menetap di rumah.
" Bener juga bang..jadi Bunda punya banyak waktu deh buat bikin adek kamu "
Zhio membulatkan kedua matanya mendengar ucapan bunda Hesty, lalu setelah nya Zhio dan Bunda Hesty tertawa bersama.
" Bunda cuma bercanda, Abang...sudah cukup ada kamu dan Tasya, sekarang bunda cuma pengen cucu yang banyak dari kamu dan juga Tasya "
" Bunda..bunda..ya Bun, tenang aja nanti setelah cucu bunda lahir, Zhio akan kembali giat berusaha untuk memberikan cucu lagi buat Bunda "
Kini giliran Bunda Hesty yang membulatkan kedua matanya mendengar celotehan Zhio.
" hahaha...gak Bun, Zhio cuma bercanda "
" Abang..Abang..pinter banget ngelawak "
" Kan bunda yang ajarin "
__ADS_1
" Hahaha... "
Zhio dan Bunda Hesty kembali tertawa bersama, Zhio membawa Bunda Hesty kedalam pelukannya.
" Zhio sayang sama bunda, terima kasih atas semuanya Bun, terima kasih udah jadi ibu dan teman yang baik untuk Zhio "
Bunda tersenyum lalu menepuk - nepuk pelan dada Zhio.
" Bunda juga sayang banget sama Abang, sama kamu dan juga Tasya "
" Ngomong - ngomong..gimana kabar adek ya Bun, sekarang dia jarang banget hubungi Zhio "
" Bunda selalu telepon adek kamu tiap hari , dan kamu tau gak bang, kata adek dia selalu pulang sore bahkan malam karena banyaknya tugas kuliah, setiap di telepon pasti dah ngomel-ngomel sendiri, dan cerita kalau dia capek karena seharian nguras otak buat belajar "
" Yang bener Bun...adek..adek.."
" Bunda kangen banget sama adek kamu bang , makannya pasti gak teratur di sana, bisa gak adek kamu jaga diri dan kesehatan nya di sana "
Terlihat kekhawatiran di wajah bunda Hesty, Tasya adalah anak perempuan nya satu-satunya, tentu Bunda sangat menghawatirkan kesehatan anaknya di sana, terlebih mengingat Tasya adalah anak yang ceroboh.
" Tasya sudah dewasa Bun, dia pasti bisa jaga kesehatan dan dirinya di sana, Zhio yakin suatu saat adek akan menjadi wanita yang sukses, seperti keinginan ayah dan bunda , dan dia akan menjadi penerus keluarga Xander "
" Iya nak, kamu benar. Adek kamu anak yang cerdas, hanya saja sifatnya yang ceroboh kadang bikin bunda khawatir. Untung saja ada Zhea juga di sana "
Di sela-sela pembicaraan Zhio dan Bunda Hesty, Zee datang dengan membawa segelas susu di tangannya.
" Abang..Bunda.."
" Zee, kenapa gak di minum susu nya ? " tanya bunda.
" Ini baru mau di minum Bun, tadi Zee lagi cari Abang Zhio, ehh ternyata di sini "
" Ya udah, minum susunya sekarang ya. Bunda mau ke kamar dulu. Cucu Oma,, maa syaa allah, sehat - sehat, jadi anak Sholeh, anak cerdas, anak pandai, murah rejekinya ya cucu Oma " ucap Bunda Hesty sembari mengelus lembut perut Zee dan terakhir mencium perut Zee sebelum Bunda Hesty kembali ke kamarnya.
" Sini sayang.." Zhio meminta Zee duduk di sampingnya.
Zee meminum susunya dan di bantu oleh Zhio, selalu Zhio lakukan, Zee tidak perlu repot memegangi gelas, ia hanya perlu membuka mulutnya dan meminum susu tersebut sampai habis. Seperti itulah perhatian kecil yang sering Zhio perlihatkan kepada Zee. Hal kecil yang mampu membuat Zee begitu cinta dengan Zhio.
" Maaf ya yang, semenjak Abang sakit seperti ini. Abang udah gak bisa bikinin kamu susu secara langsung di dapur "
Biasanya Zhio selalu membuatkan susu untuk Zee, Zhio menyeduh susu sendiri di dapur tanpa bantuan pembantu mereka. Namun semenjak kecelakaan itu, Zhio tak bisa lagi membuat susu hamil untuk Zee karena keadaan Zhio yang masih sulit untuk berjalan.
__ADS_1
" Abang gak salah bang..udah ya gak usah minta maaf terus, tau gak ini tuh udah mungkin ratusan kali Abang minta maaf sama aku. Cuma bikin susu aja bang, gak masalah "
Zee menghabiskan susunya , setelahnya ia merebahkan kepalanya di dada sang suami.
" Nyaman sekali " batin Zee saat berada di dalam pelukan Zhio.
Zhio pun merasakan hal yang sama , dan mungkin untuk beberapa bulan ini Zhio tidak akan merasakan pelukan hangat dari istrinya lagi.
" Sayang.. "
" Iya bang.. "
" Abang mau pergi ke luar negeri "
" Ke luar negeri, Abang ada pekerjaan di sana ? "
" Iya yang "
" Abang pergi sama siapa ? kenapa tidak minta orang lain saja bang yang pergi ke sana ? "
" Abang berangkat sendiri, nanti di sana ada anak buah Abang yang sudah menunggu "
" Apa pekerjaan nya sangat penting ? " tanya Zee sembari mendongakkan kepalanya melihat wajah sang suami.
" Iya sayang "
" Baiklah lah bang, kalau sudah menyangkut pekerjaan Abang. Aku gak bisa apa-apa " ucap Zee sembari memanyunkan bibirnya.
CUP...
Zhio menundukkan kepalanya dan langsung mengecup bibir manis sang istri.
" Ihh...Abang.."
Zee melihat sekeliling rumah, Zee takut kalau ada yang melihat saat Zhio mencium bibirnya. Zhio tersenyum melihat wajah ketakutan Zee.
" Gak ada orang yang "
" Hufff..syukurlah..Abang ihh nakal " ucap Zee lalu kembali menyandarkan kepalanya di dada sang suami.
" Nanti aku siapin semua keperluan Abang, cuma untuk beberapa hari aja kan bang ? "
__ADS_1
Zhio tidak menjawab pertanyaan Zee, ia hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya. Zee tidak tahu kalau Zhio pergi bukan untuk beberapa hari saja, dan Zhio tidak berani mengatakan hal yang sebenarnya kepada Zee.
" Maafin Abang ya sayang, Abang janji akan kembali secepatnya " batin Zhio, kedua mata Zhio tampak berkaca-kaca, Zhio berusaha untuk menahan bendungan air matanya karena takut jikalau Zee melihat ia menangis.