
"APA?? PENCURI?? "
Semua orang terkejut, dan menatap ke arah Zee.
" Zee, dia bukan pencuri. Dia Dokter, nama nya Dokter Zhio. Dokter yang di tugaskan untuk melakukan bakti sosial di tempat kita " Bidan isti menjelaskan kepada Zee sembari tersenyum.
" Astaga.. jadi aku.. salah.. " Batin Zee, kedua pipi nya terlihat memerah karena menahan malu.
Celin menghampiri Zhio, dan memarahi Zee karena sudah berani mengatai Zhio sebagai pencuri.
" Saya minta maaf Pak Dokter, saya benar - benar tidak tahu " Zee memajukan langkah nya dan berdiri di depan Zhio dan Celin. Zee menundukkan kepalanya seraya meminta maaf kepada Zhio.
Belum sempat Zhio menjawab, Pak Bayu tiba - tiba datang. Dan mengajak Celin dan juga Zhio ke dalam ruangan nya. Letak puskesmas dan kantor desa hanya bersebelahan, maka dari itu Pak Bayu bisa secepat itu datang dan menemui Zhio dan Celin. Zhio tersenyum tipis menatap Zee yang masih saja tertunduk.
Dan setelah Zhio dan Celin tidak ada di sana, barulah Zee mengangkat kepalanya dan bisa bernafas lega. Zee kembali merutuki kebodohan nya, ia bodoh karena tadi tidak berpikir panjang dulu dan menuduh orang sembarangan.
" Bidan isti, saya minta maaf !! "
" Gak masalah Zee, bukan sama ibu kamu harus minta maaf, tapi sama dokter Zhio "
" Ya Bu, nanti saya akan minta maaf lagi sama dia " Bidan isti hanya tersenyum kepada Zee, dan setelah itu Zee masuk ke ruang obat dimana Mawar sudah menunggu nya.
Zee membantu Mawar merapikan obat - obat yang terlihat berantakan, apalagi setelah kejadian perkelahian nya dengan Zhio tadi. Ya lebih tepatnya Zee yang menyerang Zhio.
" Kak Zee, Dokter Zhio itu ganteng ya kak? idaman banget deh kak " Mawar bercerita sembari senyum - senyum kepada Zee, sedangkan Zee tidak mendengar apa yang di ceritakan oleh Mawar.
" Kak Zee kok bisa ngatain dia pencuri sih kak, dokter ganteng gitu di bilang pencuri. Aneh kak Zee nih " Mawar kembali mengajak Zee bercerita.
" Ya Allah, aku malu sekali kepada dokter Zhio. Apalagi tadi aku sempat tendang paha nya, pasti sakit deh. Kalau dia gak mau maafin aku gimana ya? nama nya Pak dokter juga gak asing buat aku, kayak pernah dengar tapi di mana ya? " banyak sekali pertanyaan yang ada di pikiran Zee saat ini.
" Jadi gimana tadi urusan kakak di pengadilan? " kali ini Mawar kembali bertanya, namun Zee tidak menghiraukan nya.
" Kak Zee.. "
" Kak Zee.. "
" KAK ZEE !!!! " panggil Mawar cukup keras, dan berhasil membangunkan Zee dari lamunan nya.
" Mawar, kenapa keras - keras gitu ngomong nya "
" kakak sih di ajak ngomong dari tadi gak dengar, bengong terus "
Zee tersenyum tipis kepada Mawar yang sudah dalam mode kesal, melihat Mawar yang terlihat kesal, Zee langsung saja memeluk Mawar. Mawar sudah seperti adik sendiri buat Zee, dan di puskesmas selain Bidan isti, Mawar juga termasuk salah seorang yang di percaya oleh Zee. Zee juga merasa nyaman jika bercerita dengan Mawar.
__ADS_1
" Jangan cemberut dong, ntar muka nya jelek. Tu liat "
" Biarin, Kak Zee sih cuekin aku dari tadi "
" Iya Maaf, maafin aku yahh "
" Gak ah malas "
" Ya udah, padahal habis dari sini aku pengen beli es dawet buatan Bang Joni. Enak kayaknya panas - panas gini " goda Zee.
" Es dawet? aku ikut kak? aku juga mau!! "
" Eh, gak jadi marah nih "
" Gak.. hahahaha... "
" Hahahaha..Kamu tu mudah banget sih di rayu "
Zee dan Mawar tertawa bersama, Zee sudah tau caranya merayu Mawar. Dan benar saja Mawar tidak bisa menolak kalau mengenai es dawat kesukaan nya. Mawar juga tidak sungguh - sungguh marah kepada Zee.
Zee dan Mawar tidak sadar jika di balik pintu ada seseorang yang memperhatikan mereka. Zhio sejak tadi tidak berkedip memandang wajah Zee, apalagi melihat Zee tersenyum. Zee terlihat semakin cantik. Zhio sudah balik sejak tadi dari ruangan Pak Bayu. Dan ia tak sengaja lewat di depan ruangan obat, dan Zhio kembali melihat Zee.
" Zee!! ternyata benar ini desa tempat tinggal mu. Tidak di sangka setelah hampir 16 tahun kita bertemu lagi, kepribadian mu tidak berubah Zee. Dan bahkan sekarang kamu terlihat semakin cantik "
Sesuai dengan janji Zee, sepulang bekerja Zee akan mengajak Mawar membeli es dawet. mereka memilih untuk minum di sana. Kebetulan Yuni juga ada di sana, dan langsung saja Yuni menemui Zee dan duduk di depan Zee.
" Hei... kamu Zee kan? " sapa Yuni dengan senyum sinis nya.
" Iya, ada apa ya? "
" Aku Yuni "
" Yuni, apa wanita ini selingkuhan nya Mas Satria? "batin Zee.
" Kamu tau aku siapa? mau aku bantu mengingatkan? "
" Tidak perlu, aku tau kamu siapa " ucap Zee dengan tenang.
" Dia tau aku siapa? kenapa dia tidak marah kepadaku? Dia masih bisa tenang. padahal aku ingin melihat ekspresi wajah nya kalau tau aku ini selingkuhan suaminya " batin Yuni.
" Baguslah!! oh ya aku punya berita penting buat kamu "
Yuni mendekatkan wajahnya kepada Zee, dan membisikkan sesuatu di telinga Zee.
__ADS_1
" Aku hamil!! dan sebentar lagi aku akan menikah dengan suami kamu " bisik Yuni. Yuni yakin kali ini Zee akan marah, dan Yuni sangat menunggu momen itu.
" Hanya itu berita penting nya?" Zee bertanya sembari tersenyum ramah kepada Yuni, dan perkiraan Yuni kembali meleset.
" Kenapa kamu hanya berbisik, kenapa tidak berbicara keras saja, kalau perlu berteriak, agar semua orang di sini bisa tau semua aib dan dosa kamu. Agar semua orang tau kalau kamu sedang hamil anak dari suami orang. Wah hebat!! " ucap Zee sembari bertepuk tangan. Suara Zee juga cukup keras, sehingga semua orang di sana menatap mereka termasuk Mawar yang masih belum mengerti.
Yuni tidak menyangka jika Zee berkata seperti itu, bahkan Zee tidak terlihat marah atau sedih, Zee malah membuat nya malu di depan semua orang.
" Heii... apa maksud mu Hah!! kamu ingin mempermalukan aku di depan semua orang? seharusnya kamu sadar diri, kenapa suami kamu bisa selingkuh, pasti banyak kekurangan dari kamu " Yuni berbicara cukup keras, kali ini ia yang malah tersulut emosi.
" Bukan Aku, tapi kamu sendiri!! kenapa? marah? bukannya seharusnya aku ya yang marah!! memang aneh ya jaman sekarang, PELAKOR lebih berani dari pada istri sah. Bahkan dengan berani menilai sendiri kekurangan orang lain " Zee sengaja menekankan kata pelakor agar Yuni dan semua orang di situ mengerti maksud Zee.
Yuni kembali emosi, dan semua orang di sana mulai berbisik dan menggunjing satu sama lain. Yuni yang melihat itu merasa risih, dan ia langsung pergi dari sana meninggalkan Zee dan juga Mawar.
" Dasar, wanita sialan " umpat Yuni.
Zee menarik nafas panjang, Zee lega akhirnya Yuni pergi. Dan apakah Zee kuat mendengar jika Yuni hamil ? tidak, Zee hanya berpura - pura kuat. Ia benar - benar terkejut mendengar Yuni mengatakan itu, ya walaupun Zee tidak tau apakah itu benar, atau hanya akal - akalan Yuni saja untuk membakar emosi Zee. Tapi tetap saja Zee terkejut, urusan perceraian nya dengan Satria saja belum selesai. Kini sudah di hadapkan dengan berita buruk lagi.
" Kak Zee, kak Zee gak pa - pa? " tanya Mawar.
" Iya Mawar, aku baik - baik saja "
" Kak, apa mba Yuni itu... " Mawar tidak melanjutkan ucapan nya, ia mengerti jika Zee pasti sudah tau maksud dari pertanyaan nya.
" Benar Mawar, aku sebenarnya tidak tau wanita selingkuhan suami ku itu seperti apa. Tapi setelah dia memperkenalkan dirinya tadi, aku jadi tau ternyata dia orang nya "
" Kalau berita mengenai Mba Yuni yang akan menikah itu sudah tersebar Mba di tempat ku, tapi kalau calon suami nya. Aku gak tau kalau itu adalah suami Kak Zee "
Mawar tinggal di kampung sebelah, sama dengan Yuni. Mawar sebenarnya sudah mendengar desas desus mengenai Yuni yang akan segera menikah. Namun Mawar tidak terlalu menghiraukan nya. Dan ia juga tidak tau jika ternyata calon suami Yuni itu adalah suami Zee.
" Sudahlah Mawar, biarkan saja "
" Iya Kak, Kak Zee yakin baik - baik saja? "
" Tenang saja Mawar, aku masih kuat. Dan kita juga harus kuat menghadapi wanita ular seperti dia "
Mawar terkekeh mendengar Zee mengatakan jika Yuni itu wanita ular, dan Mawar mengagumi sikap Zee yang bisa kuat dan sabar menghadapi semua masalah nya. Padahal Mawar sendiri tau jika tidak mudah berada di posisi Zee.
**Bersambung..
Tetap stay tune.. 😊
jangan lupa singgah di kolom komentar ya...,😘**
__ADS_1