
Kevin terlihat sangat lelah setelah melakukan tindakan operasi kepada salah satu pasiennya yang memakan waktu sekitar tiga jam lamanya. Kevin memilih pulang setelah kerumah setelah pekerjaannya usai.
Setelah membersihkan diri, Kevin memilih untuk beristirahat di kamarnya. Rasa lelah bahkan mengalahkan rasa lapar di perutnya.
Kevin mulai memejamkan kedua matanya, namun ketika terpejam wajah Zhea muncul dan membuat Kevin kembali membuka kedua matanya.
Kevin meraih ponselnya di atas nakas, ia lupa bahwa sejak dari rumah sakit tadi ia belum sama sekali menyentuh ponselnya. Kevin mengecek semua pesan dan panggilan yang masuk.
" Tidak ada "
Kevin menaruh kembali ponselnya, ia lalu mengusap kasar wajahnya.
" Sudah hampir sebulan, kenapa Zhea tidak menghubungiku "
Kevin terlihat frustasi karena sudah hampir sebulan Zhea tidak menghubungi nya, padahal ia yakin Zhea pasti sudah membaca surat darinya, surat dimana Kevin juga menuliskan nomor ponselnya disana. Berharap Zhea akan menghubunginya.
" Seharusnya aku saja yang langsung meminta nomor ponselnya kepada Zhea, sekarang aku harus bagaimana ? apa aku harus meminta kepada Zhio, atau Zee, atau Tasya ? oh..tidak "
Kevin tampak berpikir bagaimana caranya ia bisa menghubungi Zhea, sudah hampir sebulan ini ia juga belum bertemu Zhea, ia tidak tau kabar Zhea sekarang, dan sebenarnya Kevin merindukan Zhea, ingin melihat senyum manis Zhea.
Kevin tersenyum setelah mendapat ide, ia kembali mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Tasya.
" Assalamualaikum, iya bang Kevin , apa kabar bang Kevin tumben telepon Tasya ? "
Seperti biasa, Tasya sudah terlebih dahulu mencecar Kevin dengan berbagai pertanyaan.
" Alhamdulillah, kabar Abang baik. Kamu sendiri gimana ? "
" Alhamdulillah baik juga bang "
" Syukurlah, oh ya Tasya gimana sekolah Sya, kamu mau lanjut ke perguruan tinggi mana nih "
" Oh itu..Tasya mau lanjut study ke luar negeri bang "
" Wah..luar negeri, tempat yang bagus Sya "
" Iya bang, ayah sudah siapkan semua. In syaa Allah bulan depan aku dan Zhea akan berangkat ke Korea untuk ngelanjutkan study kami "
Uhuk..uhuk..uhuk....
Kevin tersedak, padahal ia tidak memakan atau meminum sesuatu. Kevin tersedak karena terkejut saat Tasya menyebut nama Zhea.
" Loh, Abang kenapa ? "
" gak..gak..gak pa-pa Sya, jadi Zhea bareng sama kamu kuliah di luar negeri juga ? "
" Iya bang, in syaa Allah "
Kevin terdiam dan larut dalam pikirannya sendiri.
" Bang.."
" Bang Kevin "
" Eh..iya Sya, ya udah kalau gitu nanti Abang telepon lagi ya. Salam sama semua orang di rumah "
__ADS_1
" siap bang Kevin, salam juga sama om dan Tante "
" Iya Sya "
Sambungan telepon Kevin dan Tasya terputus.
" Aku harus bagaimana ? "
Kevin terus berpikir, rasanya tidak rela kalau Zhea harus pergi begitu saja.
" Zhio..ya, hanya Zhio yang bisa membantuku "
Kevin segera bergegas , ia mengambil jaket dan kunci motornya. Kevin pergi ke kantor Zhio dengan mengendarai motor gedenya.
Tidak butuh waktu lama Kevin sampai di kantor Zhio.
" Zhio nya ada di dalam ? " tanya Kevin kepada sekretaris Zhio.
" Sebentar ya Dokter Kevin "
Sekretaris Zhio mencoba menghubungi Zhio dan memberi tahu bahwa Kevin datang untuk menemuinya.
" Anda di persilahkan masuk Dok "
" Baik Terima kasih "
Kevin masuk kedalam ruang kerja Zhio, Pak Niko yang berada di dalam memilih keluar setelah Kevin masuk, Pak Niko mengerti pasti ada hal pribadi yang ingin di bicarakan Kevin kepada Zhio.
" Hei Vin, apa kabar "
" Baik Zhi, bagaimana denganmu ? "
" Seperti yang kamu lihat, aku baik "
" Syukurlah "
" Apa ada sesuatu yang mau kamu omongin ? wajah kamu keliatan gusar Vin "
Karena sudah bersahabat lama, Zhio sangat mengenali Kevin.
Kevin menarik nafas panjang, ia siap untuk menceritakan dan mengutarakan isi hatinya kepada Zhio.
" Aku, aku menyukai Zhea "
Zhio membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Kevin.
" jangan bercanda Vin " Zhio terkekeh.
" Aku serius Zhi "
" Kamu suka sama Zhea ? adik ipar aku ? "
Zhio kembali meyakinkan Kevin.
" Iya, aku serius Zhi "
__ADS_1
" Bagaimana bisa Vin ? "
Zhio masih tidak yakin kalau Kevin sahabatnya benar-benar menyukai Zhea.
" Iya bisa saja Zhi, rasa suka dan cinta bisa datang kapan saja kan ? "
" Bagaimana dengan Celin ? "
" Zhio, kenapa kamu malah membahas Celin. Aku sudah melupakan Celin. Aku serius Zhio, aku benar-benar menyukai Zhea, kamu merestuiku kan Zhi , please Zhi "
" Kenapa meminta restu kepadaku Vin, aku bukan orangtuanya Zhea ? " Zhio justru tertawa melihat keseriusan Kevin.
" Ya , maksudku kamu kan sahabat dan sekaligus kakak iparnya Zhea. Jadi aku mau meminta restumu terlebih dahulu Zhi "
" Iya, aku merestui kamu "
Kevin tersenyum lalu memeluk Zhio.
" Makasih Zhi, makasih "
" Lalu sekarang ? apa Zhea tau kalau kamu menyukainya ? apa kalian sudah berpacaran atau gimana ? "
Kevin melepas pelukannya dari Zhio.
" Itu Zhi, aku..aku belum sempat menyatakan rasa cintaku ini ke Zhea. Dan berita buruknya, Tasya memberitahuku kalau mereka akan melanjutkan pendidikan di luar negeri, apa benar itu Zhi ? "
" Ya benar Vin , bulan depan rencananya mereka akan berangkat ke Korea "
" Terus aku harus bagaimana Zhi, bantu aku Zhi "
Kevin duduk di lantai lalu memohon kepada Zhio, ia meminta Zhio agar membantunya mencari cara agar ia bisa bertemu Zhea dan mengatakan cintanya kepada Zhea.
" Aku akan bantu kamu Vin, dan aku akan mengirim nomor ponsel Zhea ke kamu. Mungkin kamu bisa menghubunginya terlebih dahulu "
" Dan Zee, bagaimana dengan Zee ? kamu bakalan cerita ke Zee ? "
" Ya, aku bakalan cerita dengan Zee, aku gak pernah menyembunyikan apapun dari istriku Vin. Tapi ya mungkin gak sekarang aku ceritanya, coba kamu hubungi Zhea dulu dan kamu bisa atur waktu untuk ketemu sama dia. Dan setelah bertemu jangan lupa kabari aku "
" Tapi Zhi, apa tidak terlalu buru-buru kalau aku langsung minta ketemu sama Zhea ? "
" Terus gimana ? bulan depan Zhea sudah berangkat ke Korea. Kamu mau memendam cinta kamu lagi, seperti kamu memendam cinta kamu dulu sama Celin. Paling tidak kamu sudah beritahu Zhea, apapun nantinya keputusan Zhea, kamu harus menerimanya Vin "
" Zhio, kenapa bawa-bawa nama Celin lagi "
Zhio terkekeh melihat Kevin yang kesal karena Zhio kembali menyebut nama Celin dalam pembahasan mereka.
" Iya, iya, kamu lucu Vin. Kenapa kamu jadi galau gini "
" Aku cuma gak bisa berpikir sekarang Zhi "
" Tenang, aku bakalan bantu kamu. Lebih baik kamu pulang, coba hubungi Zhea, dan cari waktu biar bisa ketemu sama Zhea. Aku Carikan kamu tempat yang bagus untuk ketemu Zhea. Nanti aku atur tempatnya dimana "
" Baiklah Zhi, kalau begitu aku pulang. Makasih banyak Zhi "
" Iya sama - sama Vin "
__ADS_1
Kevin akhirnya pulang, dan dirumah ia kembali bingung. Kevin tampak mondar-mandir sembari memegangi ponselnya. Kevin masih berpikir mencari kata-kata yang bagus untuk mengirim pesan kepada Zhea.