
" Bang Zhio? " Batin Zee.
" Lepaskan dia!! " sekali lagi Zhio meminta Satria untuk melepaskan Zee.
" Kamu lagi!! lebih kamu pergi sekarang, tidak usah ikut campur "
" Aku tidak akan pergi sebelum kamu melepaskan dia "
" Dia istriku, terserah ku ingin berbuat apa saja dengan nya. Aku bilang kamu pergi sekarang!!! " bentak Satria.
" Istri ?? astaga, berarti lelaki ini suami Zee. Lelaki yang tadi sore kami temui di warung, bersama dengan seorang wanita. Dan pastinya wanita itu adalah selingkuhan nya. Benar saja kata ibu - ibu itu, mereka memang tidak punya malu " Zhio tersenyum tipis sembari menatap Satria.
" Aku tau dia istrimu, tapi aku juga tidak akan diam kalau kau melakukan kekerasan kepada nya. Itu sungguh di luar batas, dan aku bisa memenjarakan mu " Tegas Zhio, dan membuat Satria semakin kesal.
" Cihhh.. berani sekali kau!! " Satria melepas pegangan tangan terhadap Zee, dan kini ia bersiap untuk menyerang Zhio. Namun, dengan sigap Zhio dapat menghindari pukulan dari Satria. Dan Satria sempat terhuyung, ya mungkin karena efek mabuk. Membuat Satria juga tidak bisa menjaga keseimbangan.
Satria berbalik badan, dan ia kembali ingin menyerang Zhio. Mengarahkan pukulan nya kepada Zhio. Namun, seketika Zee menghalangi nya. Zee berdiri di depan Zhio, dan merentangkan kedua tangannya.
" Cukup!! lebih baik Mas pergi sekarang, atau aku akan teriak "
" Sial, kau berani membela nya Zee!! Berarti memang benar, dia itu selingkuhan mu kan ? Selama ini ternyata kau selingkuh di belakang ku "
" Jangan membalikkan fakta Mas, kau masih juga tidak sadar dengan apa yang kamu lakukan. Jangan membalikkan keadaan Mas. Pergi sekarang!! "
Satria semakin kesal mendengar ucapan Zee, bahkan Zee lebih membela Zhio dari padanya.
" Aku bilang pergi!! atau aku teriak sekarang ,dan semua warga pasti akan datang. Aku akan katakan kalau Mas sudah menyakiti ku, dan mereka pasti akan melaporkan Mas ke polisi " Zee kembali menyuruh Satria pergi dan mengancam Satria begitu melihat Satria mendekat.
Satria terdiam sejenak, kalau sampai Zee teriak dan warga mendengar. Pasti para warga akan datang dan melihat mereka. Apalagi melihat sudut bibir Zee yang sedikit berdarah, pasti mereka akan percaya kalau aku sudah menyakiti Zee. " Ahh sial " umpat Satria.
" Baiklah aku akan pergi, dan kau!! aku akan membuat perhitungan dengan mu " ucap Satria sembari menunjuk ke arah Zhio.
Satria segera pergi dari hadapan Zee dan Zhio. Zee bernafas lega, dan ia berbalik badan menghadap Zhio.
" Abang gak pa - pa? " tanya Zee.
" Kamu gak seharusnya mengkhawatirkan ku Zee, kamu terlihat tidak baik sekarang " ucap Zhio.
" Aku baik - baik saja Bang, maaf ya Bang " Zee menundukkan kepalanya.
" Untuk apa meminta maaf Zee, ini bukan salah mu . Dan kenapa kamu membiarkan nya pergi. Dia sudah melakukan kekerasan kepadamu, seharusnya dia kita laporkan kepolisi "
" Biarkan saja Mas, sepertinya dia sedang mabuk. Dan tidak sadar dengan apa yang dia lakukan "
" Tidak sadar? apapun alasan nya itu tidak bisa di benarkan Zee "
" Sudahlah bang, biarkan saja. Terima kasih ya Bang sudah menolong Zee. Abang beneran gak pa-pa kan, omongan Mas Satria tadi gak usah di ambil hati ya Bang "
" Aku sudah bilang, tidak usah khawatir dengan ku. Lihat, bibir kamu berdarah " Zhio berusaha menyentuh bibir Zee yang terluka, tapi Zee segera memalingkan wajahnya.
" Nanti juga sembuh kok Bang "
__ADS_1
Zhio menghela nafas panjang, Zee selalu berusaha tegar. " Aku tau perasaan nya saat ini pasti takut sekali, dan pasti luka di sudut bibir nya itu. Pasti sakit!! "
" Apa benar dia suami mu Zee? " Zhio memberanikan diri bertanya, padahal tidak perlu Zee jawab pun Zhio juga sudah tau. Hanya saja ia ingin mendengar langsung dari Zee.
" Benar Bang "
" Bukannya dia yang kita temui tadi sore di warung itu? "
" Iya Benar juga Bang, hmm.. Zee balik ya Bang, sekali lagi Terima kasih sudah menolong Zee "
" Sama - sama Zee "
Zee segera pergi dari sana, ia pergi meninggalkan Zhio seorang diri. Zee mempercepat langkahnya agar cepat sampai di rumah. Sepanjang jalan ia hanya menunduk, ia tidak mau orang lain melihat luka yang ada di sudut bibirnya.
" Aku bisa lihat ketakukan mu Zee, dan luka di sudut bibir mu itu.. rasanya pasti sakit. Apa selama ini dia sering melakukan kekerasan fisik kepadamu? lelaki brengsek, dengan mudahnya menyakiti perempuan. Apalagi Zee adalah istrinya, belum cukup dia menyakiti hati Zee. Sekarang fisik Zee ikut di sakiti oleh nya. Aku pun tidak akan tinggal main kalau kau berani mengulang hal itu lagi "
Zhio bergegas balik ke rumah Bidan Isti, tadi ia habis sholat magrib di masjid terdekat di desa sembari berjalan kaki. Selesai sholat Zhio berniat pulang dan mengambil jalan belakang, Zee lewat gang yang sama yang di lewati Zee. Zhio bisa melihat dua orang dari kejauhan, tampak lelaki dan seorang wanita.Karena penerangan di gang itu tidak terlalu terang, Zhio hanya melihat nya samar - samar saja.
Plakk.. terdengar suara tamparan yang keras, Zhio bisa mendengar suara itu. Dan lelaki itu terlihat menampar wajah wanita di depan nya. Zhio mempercepat langkahnya. Dan betapa terkejutnya Zhio begitu melihat mereka, seorang wanita yang di lihat Zhio adalah Zee. Dan laki - laki yang saat ini sedang mengunci kedua tangan Zee adalah laki - laki yang sore tadi di warung saat Zhio, Zee dan Mawar makan bersama di tempat itu.
Sesampai di rumah Bidan Isti, Zhio bergegas ke kamarnya. Zhio ingin mencari obat dan juga salep untuk mengobati luka di sudut bibir Zee.
" Dimana obat dan salep nya? " Zhio tampak berpikir sejenak.
" Celin !! " Zhio bergegas ke kamar Celin, ia ingat kalau salep dan obat itu Celin yang membawa nya.
Tok.. Tok.. Tok.. Celin... buka pintu nya!!
" Ada apa sih Zhio? pelan - pelan ketuk pintu nya bisa kan? "
" Tas obat? buat apa? apa ada yang mau di periksa? "
" Tidak ada, aku perlu sekarang "
" Oke tunggu sebentar " Celin kembali masuk kedalam untuk mengambil tas yang biasa berisi obat - obatan dan juga peralatan medis. Zhio bisa saja meminta kepada Bidan Isti, karena di rumah Bidan Isti juga ada
Tetapi Zhio tidak mau merepotkan Bidan Isti, lagian mereka juga membawa obat dan perlengkapan sendiri.
" Nih!! buat apa sih? " tanya Celin penasaran.
Zhio membuka tas obat itu, dan mencari salep dan beberapa obat pereda nyeri dan penenang. Zhio yakin Zee memerlukan itu. Dan setelah mendapatkan apa yang ia mau, ia mengembalikan kembali tas nya kepada Celin.
" Terima kasih " ucap Zhio.
" Sama - sama, emangnya buat siapa Zhio? " tanya Celin kembali.
" Bukan buat siapa - siapa, aku hanya ingin menyimpan nya " ucap Zhio lalu menghilang dari hadapan Celin. Celin mendengus kesal melihat Zhio yang cepat sekali pergi.
" Bidan Isti? " Zhio menghampiri Bidan Isti yang sedang sibuk di dapur.
" Iya, ada apa Dokter Zhio? Dokter Zhio sudah lapar? sebentar lagi makan malam nya siap "
__ADS_1
" Bukan Bu, hmm.. bolehkan saya meminjam sepeda motor ibu? "
" Oh.. boleh.. boleh Dok, silahkan saja. Kuncinya bergantung di dinding depan pintu kamar saya "
" Terima kasih Bidan Isti "
" Sama - sama Dokter "
Zhio bergegas mengambil kunci motor dan keluar dari rumah, Zhio sudah siap dan ingin menyalakan sepeda motornya. Namun Zhio baru ingat kalau dia tidak tau rumah Zee yang mana. Zhio memutuskan kembali kedalam rumah dan bertanya lagi kepada Bidan Isti.
" Bidan Isti maaf, apa Bidan tau di mana rumah Zee? "
" Rumah Zee? " Bidan Isti yang sedang sibuk seketika menghentikan aktivitasnya, ia seperti nya penasaran kenapa Zhio menanyakan rumah Zee.
" Iya, bisa beritahu saya? hmm... saya ada perlu sebentar dengan dia "
" Oh.. kalau rumah Zee dekat dari rumah saya, hanya berjarak 6 rumah, cat rumahnya berwarna peach, ada pohon beringin di samping rumahnya. Tapi.. sementara ini Zee tinggal di tempat nenek nya, dari rumah saya berjarak sekitar 10 rumah lagi. Agak Jauh dokter Zhio. Cat rumahnya berwarna putih, dan ada warung kecil di depan rumah itu, tapi warung itu sudah tidak pernah di pakai lagi " jelas Bidan Isti panjang lebar.
Tidak perlu bersusah payah mengingat apa yang di jelaskan oleh Bidan Isti, Zhio sudah bisa merekam semua itu di dalam ingatannya.
" Baiklah Terima kasih Bidan Isti "
" Sama - sama Dokter "
Zhio keluar dari dapur.
" Zhio, mau kemana? " tanya Celin yang baru keluar kamar.
" Mau jalan sebentar " ucap Zhio lalu melejit pergi.
Celin memantulkan bibirnya, dan ia melangkah menuju dapur menemui Bidan Isti.
" Bidan Isti, apa Bidan tau Zhio kemana? "
" Oh, Dokter Zhio mau kerumah Zee. Katanya ada perlu sesuatu, tadi Dokter Zhio bertanya kepada saya dimana Rumah Zee "
" Zee? wanita itu lagi. Ada hubungan apa sih Zhio dengan wanita itu? terus salep dan obat tadi buat apa? "
Celin terdiam, ia memikirkan Zhio.
****
Sesampai di rumah, Zee langsung masuk ke kamar mandi. Di kamar mandi ada sebuah kursi kecil, dan di sana Zee duduk sembari menangis. Hanya air mata saja yang keluar, Zee mencoba menahan suara nya. Ia tidak ingin ada yang mendengar isak tangis nya di kamar mandi.
Hiks.. Hiks.. Hiks..
" Tidak puas kah kau menyakiti hatiku Mas? melihat mu seperti tadi membuat ku takut, sakit Mas.. sakit.. " Zee menangis sembari mengelus - elus pipinya yang masih terasa perih akibat tamparan Satria yang cukup keras.
Zee tidak bisa menahan air matanya, sosok Satria begitu menakutkan bagi nya, sorotan mata yang dulu penuh cinta saat memandang Zee. Kini sudah berubah menjadi sorotan mata yang mengerikan. Ia tidak habis pikir dengan apa yang ada di pikiran Satria saat ini, kenapa masih menginginkan nya, sudah jelas dia berselingkuh, bahkan sekarang wanita itu sudah resmi menjadi istrinya. " Apa masih belum cukup? menginginkan ku hanya untuk di sakiti? " batin Zee.
Zee terus saja menangis, ia ingin menenangkan dirinya. Dan menangis terus hingga air mata itu habis. Perasaan takut, sakit, dan juga merasa tidak enak kepada Zhio kini tertanam menjadi satu. Takut melihat Satria yang bak nya seperti seorang psikopat, sakit karena luka hati dan fisik, dan juga tidak enak dengan Zhio. Zhio yang tidak tau apa - apa harus terseret dalam masalah rumah tangga nya, apalagi tadi Satria sempat mengancam - ancam Zhio. Tapi di balik itu Zee bersyukur karena Zhio datang di waktu yang tepat, karena kalau tidak, ia tidak tau akan terjadi apa dengan nya.
__ADS_1
**Bersambung..
Jangan lupa like, vote, dan singgah di kolom komentar**..