Ketika Rasa Itu Mulai Hilang

Ketika Rasa Itu Mulai Hilang
Zee Yang Dulu..


__ADS_3

" Zhio.. zhio.. bangun...!! " teriak Celin mencoba membangunkan Zhio yang masih tertidur. Padahal jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Berulang kali Celin mengetuk pintu, namun Zhio tidak mendengar nya. Bahkan Celin juga sudah menghubungi ponsel Zhio, dan Zhio masih saja terlelap.


" Nih anak kenapa belum bangun sih, bukan nya semalam paling duluan masuk kamar!! " omel Celin.


Sekitar satu jam lama nya menunggu, akhirnya Zhio keluar dari kamar. Zhio sudah bersiap, dan tampak gagah dengan jas putih nya yang sudah ia pakai. Dan celin pun melempar senyum manisnya kepada Zhio. Awalnya Celin ingin memarahi dan mengomeli Zhio, namun melihat ketampanan Zhio, membuat hati Celin luluh dan tidak jadi marah.


" Kenapa sepi? Bidan Isti mana? "


" Bidan Isti sudah terlebih dahulu ke puskesmas Zhi, kamu sih dari tadi di bangunin gak bangun - bangun. Kamu begadang ya semalam? emangnya ngapain sih? bukan nya kamu sendiri ya yang bilang sama aku buat siapin diri untuk hari ini. Tapi kamu nya malah gak siap dan kesiangan gini "


Tanpa menjawab pertanyaan Celin, Zhio langsung saja pergi dan keluar dari rumah. Celin mendengus kesal, karena lagi - lagi Zhio tidak menghiraukan ucapan nya.


Puskesmas sudah tampak ramai, dan yang mereka tunggu - tunggu sejak tadi adalah kehadiran Zhio dan Celin. Semua orang di sana menatap kagum kepada Celin dan Zhio, terutama kaum hawa yang begitu mengagumi ketampanan Zhio. Bukan hanya dari kalangan muda, para ibu - ibu di sana juga terlihat tebar pesona di depan Zhio.


Semua warga sibuk mengagumi ketampanan Zhio, sedangkan yang sedang di kagumi tampak biasa saja. Dan sekarang ia terlihat sedang mencari seseorang. Begitu masuk kedalam Puskesmas, lelaki itu duduk di tempat kerja nya. Tetapi mata dan pikiran nya tidak fokus, ia sedang mencari seseorang yang membuat nya tidak bisa tidur tenang semalaman. Dan hal itulah yang membuat Zhio harus bangun kesiangan hari ini.


" Aku kedalam sebentar " pamit Zhio kepada Celin yang duduk di sampingnya, karena pasien sudah mulai berdatangan, Celin tidak menghiraukan Zhio. Ia hanya menjawab dengan menganggukkan kepalanya.


Tujuan Zhio adalah gudang obat, dan begitu sampai di sana yang di tunggu - tunggu tidak terlihat.


" Kemana dia? apa dia tidak turun kerja hari ini? " batin Zhio bertanya - tanya keberadaan Zee.


Zhio merasa kecewa, padahal ia sangat ingin tau keadaan Zee sekarang. Dan begitu berbalik badan, tak sengaja Zee dan Zhio bertabrakan. Zee yang sedang dari toilet berniat untuk ke gudang obat, dan Zee saat itu sedang berjalan sembari menunduk. Ia tidak melihat jika Zhio ada di depan nya.


" Ma..af! " ucap Zee begitu mendongakkan kepala nya dan melihat Zhio di depan nya.


Zhio bernafas lega, yang di tunggu - tunggu nya sejak tadi sekarang berada di hadapan nya.


" Maaf Dokter, saya tidak sengaja! Hmm.. apa Dokter membutuhkan sesuatu? " tanya Zee.


" Hmm.. hmm... aku.. aku.. butuh obat hipertensi " ucap Zhio asal, tidak mungkin ia bilang kalau tujuan nya ke sana adalah mencari Zee.

__ADS_1


Dengan sigap Zee masuk ke dalam gudang, dan mengambil beberapa strip obat hipertensi, padahal dalam hati Zee bertanya - tanya. Karena semua obat sudah Zee siapkan di depan bersama Mawar, termasuk obat hipertensi. Lalu kenapa Dokter Zhio malah meminta lagi obat nya, dan kenapa juga harus repot - repot ke gudang. Kalaupun obat itu sudah habis, dia bisa meminta Mawar untuk mengambil nya.


" Obat nya biar saya saja yang bawa Dok, Dokter ke depan saja. Pasti banyak pasien yang sedang menunggu "


" Hmmm... baiklah " Zee dan Zhio berjalan berdampingan menuju ke ruang depan, dan Zhio sesekali melirik kearah Zee.


" Sepertinya dia baik - baik saja, tidak terlihat sedih. Tapi.. Zee memang pintar sekali menyimpan kesedihan nya di depan orang, tidak mungkin kalau dia baik - baik saja sekarang " batin Zhio.


" Kamu dari mana saja Zhio ? aku kewalahan ni " omel Celin. Celin kesal karena Zhio tidak kunjung keluar dari tadi, sedangkan pasien semakin banyak. Dan Celin semakin kesal karena melihat Zhio yang keluar bersama Zee.


Zhio tidak menghiraukan Celin, dan dengan sigap ia memeriksa pasien yang kini ada di depan nya. Zhio tampak ramah dan juga tidak lupa menebar senyum kepada pasien nya.


" Ibu, tekanan darah ibu tinggi sekali !! apa ibu memang punya riwayat tekanan darah tinggi sebelumnya? " tanya Zhio kepada ibu - ibu yang umurnya sekitar 40 tahunan lebih yang kini ada di depan nya.


" Tidak Pak Dokter, mungkin ini semua gara - gara Pak Dokter " ucap Ibu itu santai, sembari tersenyum manis kepada Zhio.


Zhio mengernyitkan dahi nya, ia tampak bingung dengan jawaban yang di lontarkan oleh ibu itu.


" Ya gara - gara Pak Dokter, tekanan darah saya gak kuat Pak Dok, langsung tinggi melihat ketampanan Pak Dokter. Hahahaha.... " ibu itu dengan santai nya merayu Zhio, dan membuat semua orang di sana tertawa. Dan Zhio juga ikut tertawa dengan celotehan pasien nya ini.


Dengan sabar Zhio memeriksa satu persatu pasien yang datang, dan diam - diam Zee juga memperhatikan Zhio. Ia menatap kagum kepada Zhio yang terlihat sangat ramah dan sabar menghadapi pasien dengan berbagai tingkah laku yang berbeda - beda.


Zee menundukkan kepalanya begitu Zhio juga melirik kearah nya, dan Zee ketahuan sedang memperhatikan Zhio. Zhio tersenyum tipis melihat itu, ia senang karena diam - diam Zee juga memperhatikan nya.


Dan sekitar pukul 1 siang, pasien sudah tampak sepi. Celin dan petugas lain sudah terlebih dahulu makan siang dan beristirahat sebentar, dan sekarang hanya menyisakan Zhio dan juga Zee yang belum. Karena memang mereka saling bergantian, agar tetap bisa melayani pasien. Awalnya Celin menyuruh Zhio untuk makan siang dan beristirahat terlebih dahulu,namun karena kebanyakan pasien mau nya di periksa oleh Zhio. Mau tidak mau Celin lah yang terlebih dahulu makan siang dan beristirahat.


" Kak Zee, gantian sekarang giliran kakak makan siang.Nasi kotak nya udah siap di belakang kak " ucap Mawar dan di balas anggukan oleh Zee, karena Zee juga sudah lapar dan lelah, Zee pun langsung ke dalam dan menuju pantry yang ada di puskesmas itu. Walaupun puskesmas nya tidak terlalu besar, tapi untuk fasilitas ruangan semua lengkap. Mulai dari toilet, gudang obat, pantry, ruang rawat, ruang periksa, semua tersedia. Hanya beberapa alat medis saya yang masih kurang.


Zhio tersenyum begitu melihat Zee yang datang, dan Zee juga membalas senyuman Zhio. Zhio senang sekali, karena punya kesempatan untuk berdua saja dengan Zee.


Zee mengambil nasi kotak yang ada di meja, dan duduk di depan Zhio, hening terasa di antara mereka. Dan sesekali Zhio dan Zee saling tatap dan kemudian melempar senyum.

__ADS_1


Zhio bingung harus memulai pembicaraan darimana, Zhio ingin sekali menanyakan keadaan Zee sekarang, terlebih mengenai masalah yang di hadapi Zee semalam. Tapi rasanya tidak mungkin, karena Zhio merasa tidak pantas untuk menanyakan itu, apalagi itu adalah hal pribadi Zee. Zhio juga ingin bertanya kepada Zee mengenai dirinya, apakah Zee masih ingat dengan nya. Tapi sepertinya tidak, karena semenjak bertemu Zee seperti biasa saja. Dan sepertinya Zee sudah lupa dengan nya.


" Zhi !! " panggil Celin, dan sontak saja membuat Zee dan Zhio menoleh ke sumber suara.


" Ada apa Bu Dokter? " tanya Zee.


" Aku memanggil Zhi.. Zhio.. bukan kamu " ucap Celin ketus. Begitu selesai memeriksa pasien nya, Celin bergegas ke pantry, karena ia ingin menemui Zhio. Dan Celin kesal karena melihat Zee bersama Zhio sekarang.


" Kenapa? " tanya Zhio dengan nada dingin.


" Ada pasien tu di depan "


" Kamu gak liat aku lagi makan " ucap Zhio.


" Pasien nya mau di periksa sama kamu "


" Ya sebentar "


" Cepat, jangan lama - lama di sini " ucap Celin sembari milirik ke arah Zee dan kembali ke depan untuk memeriksa pasien lain.


Zhio menarik nafas panjang, belum sempat berbincang dengan Zee. Ia sudah harus memeriksa pasein lagi.


" Susah ya jadi Dokter tampan, banyak yang mau minta di periksa " ucap Zee sembari terkekeh, dan ucapan Zee itu membuat Zhio membulatkan kedua matanya dan menatap Zee. Ia tidak menyangka jika Zee berkata seperti itu. Padahal sejak awal pertemuan mereka, Zee terlihat selalu menghindar dan tidak berbicara banyak kepada Zhio, dan nada bicara nya juga sangat formal. Tapi kali ini sangat berbeda, Zee berbicara dengan Zhio seperti seorang teman. Zee sudah kembali seperti Zee yang dulu Zhio kenal.


" Apa dia sudah ingat dengan ku? " batin Zhio.


**Bersambung...


Tetap stay tune ya readers... 😊


like, vote, dan kritik saran nya jangan lupa... 😘

__ADS_1


Biar author tambah semangat nulis nya 😁**


__ADS_2